Flare Matahari dan Pengamatannya

Flare Matahari, sebuah istilah yang sudah bukan lagi monopoli kalangan akademisi yang bergelut dalam dinamika matahari. Frasa tersebut isudah menjadi istilah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat saat ini.

Klasifikasi Flare Matahari

Satu minggu terakhir ini, masyarakat Indonesia disuguhi banyak berita tentang tsunami matahari, flare atau ledakan Matahari dan bahkan sempat dibuat khawatir tentang lontaran materi korona yang dikabarkan dalam berbagai media akan menghantam Bumi.

Flare Matahari Kelas M Beraksi

Akivitas geomagnetik yang membawa fenomena indah Aurora akibat flare atau letupan Matahari kelas C yang terjadi tanggal 1 Agustus lalu memang telah berakhir. Berbagai foto indah dari bumi belahan utara dan selatan pun menjadi saksi keindahan langit akibat interaksi materi yang dilepas dari korona dengan medan magnet Bumi.

Apa itu Tsunami Matahari?

Beberapa hari yang lalu, ramai diberitakan di media mengenai adanya fenomena 'tsunami Matahari'. Menghebohkan? Bagi masyarakat awam, tentunya cukup menyentak perhatian, terlebih lagi, dikarenakan trauma akan bencana alam, kata 'tsunami' tentu membuat kebanyakan kita menjadi khawatir.

Gelombang Panas dan Fenomena Dog Days

Liburan hari Kemerdekaan Amerika Serikat (AS) tahun 2010 ini disambut dengan fenomena yang menyedihkan di AS khususnya bagian Timur Laut. Temperatur tinggi mencapai batas rekor di beberapa tempat. Masyarakat mengenalnya sebagai gelombang panas (heat wave).

Komet Penabrak Matahari

Para ahli Matahari dari University of California, Barkeley, menjadi saksi mata sekaligus pemotret pertama dari kisah tabrakan komet dan Matahari, dengan menggunakan STEREO kembar milik NASA. Para saksi mata dari Space Sciences Laboratory UC Barkeley juga berhasil melacak jejak komet saat ia mendekati Matahari dan memberikan estimasi waktu dan lokasi terjadinya tabrakan.

Angkor Wat, Kuil Matahari

Angkor Wat adalah sebuah kuil Hindu yang berada di kota Siem Reap, kota kecil di bagian utara Kamboja. Kuil ini bangun pada abad ke 11 pada masa pemerintahan Raja Suryavarman II.

Mencari Kerabat Sistim Tata Surya Kita

Sepanjang peradaban sejarah, manusia telah melakukan pengamatan benda-benda langit selama kurang lebih 5000 sampai 6000 tahun. Hal ini menandakan ketertarikan manusia dengan ilmu astronomi dan keingintahuan untuk mencari jawaban dari berbagai pertanyaan terutama yang berkaitan dengan kehidupan di tempat tinggal mereka, yaitu planet Bumi.