<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>langitselatan.com &#187; Planet</title>
	<atom:link href="http://langitselatan.com/category/sistem-keplanetan/tata-surya/planet/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://langitselatan.com</link>
	<description>media astronomi indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 23:25:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ketika Mars Kembali Mendekati Bumi di Tahun 2010 (Dan Bukan Yang Hoax)</title>
		<link>http://langitselatan.com/2010/01/19/ketika-mars-kembali-mendekati-bumi-di-tahun-2010-dan-bukan-yang-hoax/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2010/01/19/ketika-mars-kembali-mendekati-bumi-di-tahun-2010-dan-bukan-yang-hoax/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 09:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Observasi]]></category>
		<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[bulan]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>
		<category><![CDATA[mars hoax]]></category>
		<category><![CDATA[oposisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=3289</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang lalu, mungkin ada yang masih ingat, ketika ramai dibicarakan bahwa Mars akan mendekati Bumi dengan ukuran sebesar Bulan, tentunya tidak!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun yang lalu, mungkin ada yang masih ingat, ketika ramai dibicarakan bahwa Mars akan mendekati Bumi dengan ukuran sebesar Bulan,  tentunya tidak! <span id="more-3289"></span></p>
<div id="attachment_3290" class="wp-caption alignleft" style="width: 269px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/01/orbitmars.jpg"><img class="size-full wp-image-3290" title="orbitmars" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/01/orbitmars.jpg" alt="Oposisi Mars dilihat dari arah kutub. Kredit : ESA" width="259" height="215" /></a><p class="wp-caption-text">Oposisi Mars dilihat dari arah kutub. Kredit : ESA</p></div>
<p>Memang benar bahwa dalam lintasannya mengitari Matahari, baik Bumi dan Mars pada suatu ketika berada pada suatu posisi yang saling mendekat satu sama lain, karena lintasan Bumi, Mars, tidaklah merupakan lingkaran sempurna, tetapi berupa lintasan elips, dengan Matahari berada pada salah satu titik fokus elips.</p>
<p>Bumi bergerak mengitari Matahari lebih cepat daripada Mars, dan setiap 26 bulan, Bumi akan mendahului Mars melalui lintasan dalam, dan ketika itu, saat Matahar-Bumi-Mars berada pada segaris, dikenal sebagai oposisi Mars. Maka, oposisi Mars akan selalu terjadi setiap 26 bulan, dan biasanya di waktu oposisi tersebut maka, Bumi dan Mars berada pada posisi yang saling berdekatan.</p>
<p>Simulasi posisi Bumi-Mars &amp; Matahari dapat dilihat <a href="http://www.windows.ucar.edu/tour/link=/mars/mars_orbit.html" target="_blank">di sini</a>.</p>
<p>Jarak antara Bumi dan Mars tidak selalu sama setiap oposisi, karena orbit Mars yang sedikit lebih lonjong, maka jarak terdekat antara Bumi dan Mars tidak selalu tepat saat oposisi, tetapi selalu berada di sekitar waktu oposisi, yang berselisih beberapa hari dari waktu oposisinya. Dan biasanya, pada saat saling mendekat itu, maka Mars akan tampak cerlang dan cerlang, lebih kemerahan, kelihatan lebih jelas, baik diamati mempergunakan mata, binokular ataupun teleskop, tetapi yang pasti, tidak akan mencapai sebesar Bulan!</p>
<p>Oleh karena bentuk geometri yang unik itu, maka setiap terjadi jarak yang terdekat antara Bumi-Mars (yang berperiode 26 bulan itu), tidak akan pernah sama dari satu kejadian ke kejadian berikutnya. Pada kejadian oposisi Mars tahun 2003, yang dikenal sebagai peristiwa Mars dalam posisi paling dekat (sedekat-dekatnya) dengan Bumi, jarak yang terhitung sebagai terdekat adalah 55758006 km, dengan diameter tampak sekitar 25&#8243;; dan fenomena ini hanya bisa terjadi setiap 60 ribu tahun. Besarkah itu? Bagi yang beruntung mengamati saat itu, Mars masih tetap sama seperti Mars yang telah diamati nenek moyang kita, dengan mata telanjang, masih berupa noktah merah terang di langit. Bahkan dengan teleskop sekalipun, tidak banyak berubah kenampakannya, hanya, detilnya agak lebih tampak sedikit.</p>
<div id="attachment_3293" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/01/oposisimars.jpg"><img class="size-full wp-image-3293" title="oposisimars" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/01/oposisimars.jpg" alt="Mars jelang oposisi yang dipotret Hubble sejak tahun 1995 - 2007.Kredit : NASA/Hubble" width="500" height="333" /></a><p class="wp-caption-text">Mars jelang oposisi yang dipotret Hubble sejak tahun 1995 - 2007.Kredit : NASA/Hubble</p></div>
<p>Dan kemudian, di awal tahun 2010 ini, melalui siklus 26-bulan berikutnya (sesudah 2007), maka si merah kembali mendekat dengan Bumi! Di bulan Januari ini, Mars telah mencapai kecerlanganan mencapai sekitar -1 magnitudo, cukup terang teramati di langit sebagai suatu noktah merah yang jelas terlihat mempergunakan mata telanjang. Pada tanggal 27 Januari 2010, posisi terdekatnya mencapai 99 juta km, dengan diameter tampak sekitar 14&#8243;, lalu, oposisi Mars tercapai pada tanggal 29 Januari 2010, dengan magnitudo mencapai -1,28. Mars akan berada dalam kondisi yang sangat cerlang dengan magnitudo di sekitar -1, sampai dengan tanggal 14 Februari 2010, dan sesudah itu akan semakin meredup.</p>
<p>Lalu, bagaimana kita menemukan Mars? Mudah, di bulan-bulan ini, ketika sore, carilah ke arah terbit di timur, apabila ada sebuah noktah yang cerlang berwarna kemerahan, besar kemungkinan itulah dia. Apabila kita telah mengetahui tentang rasi-rasi di langit, (mempergunakan peta langit sangat membantu), atau mempergunakan peta bintang dari langitselatan , carilah rasi Cancer, maka disitulah ia berada!</p>
<p>Jadi, tunggu apa lagi? Apabila langit cerah, segeralah cari di mana sang Dewa Perang berada!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2010/01/19/ketika-mars-kembali-mendekati-bumi-di-tahun-2010-dan-bukan-yang-hoax/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Planet X?</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/10/12/apa-itu-planet-x/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/10/12/apa-itu-planet-x/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 16:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[AstroPraktis]]></category>
		<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[planet X]]></category>
		<category><![CDATA[pluto]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk kuiper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2590</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan, apa itu planet X? dari manakah ia datang? Apakah ia akan menghancurkan Bumi? Apakah planet X itu ada? Pertanyaan yang sama yang merebak seiring dengan isu adanya kehancuran di tahun 2012]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang ini ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan, apa itu planet X? dari manakah ia datang? Apakah ia akan menghancurkan Bumi? Apakah planet X itu ada? Pertanyaan yang sama yang merebak seiring dengan isu adanya kehancuran di tahun 2012.<span id="more-2590"></span></p>
<div id="attachment_2597" class="wp-caption alignright" style="width: 262px"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:EightTNOs.png"><img class="size-full wp-image-2597   " title="kbo" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/kbo.jpg" alt="Obyek Sabuk Kuiper yang sudah diketahui. Kredit : hubblesite" width="252" height="183" /></a><p class="wp-caption-text">Obyek Sabuk Kuiper yang sudah diketahui. Kredit : wikipedia, hubblesite</p></div>
<p>Jauh sebelum Pluto ditemukan, astronom dunia  terpikat untuk mencari kemungkinan keberadaan sebuah benda lain di luar orbit Neptunus. Pada tahun 1843, John Couch Adams mempelajari gangguan orbit yang terjadi di Uranus dan dari interaksi gravitasi ia menyimpulkan ada planet ke delapan yang mengganggu planet gas raksasa tersebut.  Hal ini jugalah yang membawa manusia pada pencarian planet ke delapan dan pada akhirnya menemukan Neptunus mengorbit Matahari pada jarak 30 SA.  Ternyata, Neptunus juga mengalami hal yang sama dengan Uranus. Ia mengalami gangguan orbit dan diperkirakan ada planet lain yang menggangu orbitnya seperti halnya Uranus.</p>
<p>Tahun 1930, Pluto ditemukan tengah bersembunyi di balik kegelapan di tepi Tata Surya. Dan segera pula diketahui kalau Pluto itu kecil, dan ia bukan planet X yang dicari. Maka pencarian pun diteruskan..</p>
<p>Selama 80 tahun terakhir, para astronom telah melakukan pencarian  apakah ada planet raksasa lainnya yang ada di luar Neptunus. Namun pada kenyataannya yang ditemukan adalah sejumlah obyek di sabuk Kuiper dan beberapa di antaranya sekarang didefinisikan sebagai planet katai.  Dan lagi-lagi tak ada planet X yang ditemukan. Bahkan si X ini justru disinonimkan dengan teori konspirasi, maupun hari kiamat. Dan juga dikaitkan dengan planet Nibiru, sebuah planet hipotetik dari bangsa Sumeria yang sebenarnya tak ada kaitannya sama sekali dengan istilah planet X yang sebenarnya.</p>
<p>Tak pelak setahun terakhir ini, isu kiamat 2012 merebak kencang. Ketakutan dan kekhawatiran muncul.. berbagai pertanyaan terlontar. Ada yang mengatakan ada sebuah planet mistis yang akan muncul di bagian dalam Tata Surya pada tanggal 21 Desember 2012.  Isu ini jelas-jelas menyesatkan bahkan ketakutan tentang planet X sama sekali tak beralasan.</p>
<p>Pada kenyataannya, <strong>planet X merupakan sebutan untuk  planet yang belum diketahui atau belum teridentifikasi, khususnya  untuk pencarian planet masif di luar orbit Neptunus, di era pre-Pluto (sebelum Pluto ditemukan)</strong>. Dan Planet X ini merupakan perjalanan pencarian yang luar biasa menyenangkan yang dialami para astronom dan mencapai puncaknya saat Pluto ditemukan.</p>
<p><strong>Pencarian Planet X</strong></p>
<div id="attachment_2592" class="wp-caption alignleft" style="width: 182px"><img class="size-full wp-image-2592" title="pluto" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/pluto.jpg" alt="Pluto. Kredit : NASA" width="172" height="180" /><p class="wp-caption-text">Pluto. Kredit : NASA</p></div>
<p>Sejak Percival Lowell menyatakan kalau ada planet lain di luar sana yang mengganggu orbit Neptunus, pencarian pada planet asing itu pun dimulai. Tahun 1930, saat  Clyde Tombaugh menemukan Pluto, bisa dikatakan penemuan ini membenarkan teori Lowell. Sayangnya di era 1970-an diketahui kalau Pluto terlalu kecil untuk dapat menimbulkan gangguan pada orbit planet, dalam hal ini planet gas raksasa seperti Neptunus.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu dan teknik yang makin berkembang, gangguan yang pernah diperkirakan ada pada orbit Neptunus ditemukan merupakan kesalahan dalam observasi. Karena itu tak lagi diperlukan keberadaan planet X, benda planet hipotetik tidak lagi diperlukan untuk diperhitungkan dalam gangguan orbit tersebut.  Tapi, pengamatan benda-benda di Sabuk Kuiper justru memperkuat kembali pencarian planet X dan X disini bermakna belum teridentifikasi.  Jadi yang dicari adalah sebuah benda yang belum diketahui dan belum diidentifikasi.</p>
<p>Sabuk Kuiper merupakan area di ruang angkasa di lingkungan Pluto. Di area ini terdapat banyak benda berupa es dan batuan yang berhasil diamati. Dengan perkembangan teknologi dalam observasi, berbagai benda kecil semakin mudah diamati di area  Tata Surya dan di sistem lainnya di luar Tata Surya. Saat ini para peneliti telah berhasil melakukan plot distribusi obyek Sabuk Kuiper (Kuiper Belt Object / KBO).</p>
<p>Dalam sebaran KBO dari 30 &#8211; 50 SA, pada kisaran jarak 50 SA sabuk Kuiper berakhir begitu saja. Kondisi ini dikenal dengan nama  Jurang Kuiper dan sangat sedikit obyek yang bisa diamati di balik titik ini. Dan diyakini kalau kondisi tersebut disebabkan keberadaan sebuah obyek yang lebih besar dari Pluto dan lebih kecil dari Bumi.  Sampai saat ini belum ada benda lain yang ditemukan di area tersebut namun Jurang tersebut memang ada setelah jarak 55 SA.</p>
<p>Para pencari planet X, mengindikasikan ada planet kecil yang mengorbit pada jarak 60 SA atau ada pula planet masif yang 50% lebih besar dari Jupiter berpatroli di angkasa pada jarak 1000 SA. Tapi tetap tidak ada bukti kuat untuk mendukung teori ini dan tidak ada hasil pengamatan yang bisa mengkonfirmasi keberadaan planet tak dikenal tersebut.</p>
<p>Lorenzo Iorio dari <em>National Institute of Nuclear Physics</em> di Pisa, Italia, menggunanakan data orbit dari pengamatan selama bertahun-tahun dan mencoba mengkalkulasi  jarak orbit terdekat bagi sebuah planet masif untuk mengorbit jika planet tak dikenal ini memang ada.  Dan jika planet ini ada dan berada cukup dekat, keberadaan gravitasinya pasti akan langsung terdeteksi dan bisa dengan mudah pula mendeteksi gangguan yang diakibatkan pada dinamika planet dalam.</p>
<p>Hasilnya, seluruh planet yang memiliki massa Mars dan lebih besar dari Mars telah ditemukan di Tata Surya. Hasil   komputasi Iorio menunjukkan jarak minimum untuk planet bermassa Mars,  Bumi, Jupiter dan juga bermassa Matahari bisa berada pada jarak 62 SA, 430 SA, 886 SA dan 8995 SA.  Sebagai perspektif, Pluto memiliki jarak rata-rata 39 SA.</p>
<p>Jika kita berandai-andai, katakanlah ada sebuah planet masif yang disebut planet X berpatroli di luar Pluto. Menurut para penggemar teori planet X dan kiamat, si planet X ini akan mengganggu orbit planet-planet di Tata Surya dan kemudian masuk dan menyebabkan kehancuran pada Bumi. Ternyata ada masalah lain yang menggagalkan teori tersebut.</p>
<p>Jika planet tak dikenal atau si planet X ini memang ada dengan ukuran yang cukup, katakanlah seukuran Pluto maka menurut David Jewitt obyek tersebut tentunya sudah bisa diamati saat ini jika ia mengorbit sampai jarak 320 SA dari Matahari. Dan di luar jarak itu tidak ada massa signifikan yang bisa ditemukan, jika massa Pluto dianggap signifikan.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_2591" class="wp-caption aligncenter" style="width: 566px"><img class="size-full wp-image-2591 " title="sedna-art" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/sedna-art.jpg" alt="Sedna, yang berada pada jarak 90 SA. Kredit : koleksi M.E Brown" width="556" height="225" /><p class="wp-caption-text">Sedna, yang berada pada jarak 90 SA. Kredit : koleksi M.E Brown</p></div>
<p>Dengan demikian, ide keberadaan planet X yang akan muncul tahun 2012 dan memiliki ukuran lebih besar dari Pluto dan berada pada jarak 75 SA jadi hal yang sangat aneh. Bagaimana tidak, saat ini obyek-obyek yang bahkan seukuran asteroid dan pluto pun sudah bisa dideteksi mulai dari jarak dekat Bumi sampai beberapa ratus Satuan Astronomi (SA).  Di antara obyek yang ditemukan pada jarak jauh itu ada pula Eris dan Sedna dan beberapa obyek tersebar lainnya. Dan sama seperti Pluto, Eris pun tidak masuk hitungan sebagai planet X, karena ia memang tidak cukup &#8220;besar&#8221;.</p>
<p>Rata-rata obyek di Sabuk Kuiper yang ditemukan memiliki massa yang tak jauh berbeda dari Pluto atau lebih kecil dari Pluto. <strong>Ingat:</strong> pencarian planet tak dikenal ini awalnya mengacu pada planet masif yang mengganggu orbit Neptunus.</p>
<p>Dengan demikian seandainya ditemukan obyek lain di luar orbit Pluto atau di area di luar Jurang Kuiper maka bisa dikatakan pengaruhnya pada area di bagian dalam Tata Surya akan sangat kecil bahkan untuk ribuan tahun ke depan. Mengapa?</p>
<p>Jawabannya sederhana, karena <strong>kita sudah menemukan semua planet masif yang lebih besar dari Mars di Tata Surya</strong>.  Pada akhirnya bisa dikatakan seluruh cerita tentang planet X yang dikaitkan dengan hari kehancuran atau kiamat hanyalah sebuah mitos dan kaitannya dengan Nibiru pun tak lebih dari sekedar mitos dari bangsa Sumeria.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber: </span><span style="color: #888888;"><a href="http://arxiv.org/abs/0904.1562" target="_blank">arXiv</a>, <a href="http://adsabs.harvard.edu/abs/1993AJ....105.2000S" target="_blank">NASA adsabs</a>, </span><span style="color: #888888;">Astroengine, Universe Today, M. Brown (Sedna and other KBO paper), Science@NASA.<a href="http://adsabs.harvard.edu/abs/1993AJ....105.2000S" target="_blank"></a><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/10/12/apa-itu-planet-x/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penemuan Cincin Terbesar di Saturnus</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/10/08/penemuan-cincin-terbesar-di-saturnus/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/10/08/penemuan-cincin-terbesar-di-saturnus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 18:19:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[cincin]]></category>
		<category><![CDATA[Iapetus]]></category>
		<category><![CDATA[Pheobe]]></category>
		<category><![CDATA[satelit]]></category>
		<category><![CDATA[saturnus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2566</guid>
		<description><![CDATA[Teleskop Landas Angkasa Spitzzer milik NASA berhasil menemukan sebuah cincin baru dan besar di Saturnus. Si cincin, saat ini terdeteksi sebagai cincin paling besar di planet bercincin tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teleskop Landas Angkasa Spitzzer milik NASA berhasil menemukan sebuah cincin baru dan besar di Saturnus. Si cincin, saat ini terdeteksi sebagai cincin paling besar di planet bercincin tersebut.<span id="more-2566"></span></p>
<div id="attachment_2568" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/ssc2009-19c_Sm.jpg"><img class="size-full wp-image-2568" title="ssc2009-19c_Sm" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/ssc2009-19c_Sm.jpg" alt="Cincin Saturnus yang baru dan yang terbesar. kredit : NASA / JPL-Caltech" width="550" height="440" /></a><p class="wp-caption-text">Cincin Saturnus yang baru dan yang terbesar. kredit : NASA / JPL-Caltech</p></div>
<p>Sabuk cincin yang baru, berada di daerah yang jauh dari sistem Saturnus dengan kemiringan orbit 27 derajat dari bidang cincin utama.  Bagian terbesar materi yang ada di dalam cincin ini berukuran 6 juta km jaraknya dari planet Saturnus dan membentang sampai sekitar 12 juta km. Salah satu satelit terjauh Saturnus yakni Pheobe berada di dalam cincin baru tersebut. Tampaknya materi utama yang membentuk si cincin berasal dari Pheobe.</p>
<p>Cincin baru Saturnus tersebut terhitung cukup tebal dengan tinggi vertikal 20 kali diameter planet. Seandainya kita memasukkan Bumi ke dalam cincin ini, ia akan bisa menampung 1 milyar Bumi di dalamnya. Cincin berukuran super tapi materi di dalamnya renggang. Ia terbentuk dari susunan partikel debu dan es.</p>
<p>Mata inframerah Spitzer berhasil melihat sinar dari partikel debu yang dingin. Penemuan ini diharapkan dapat memberi jawaban atas penampakan Iapetus yang aneh, dimana satu sisinya terang sedang sisi lainnya sangat gelap. Pola tersebut mirip dengan pola pada simbol yin-yang.  Iapetus ditemukan oleh astronom Giovanni Cassini pada tahun 1671 dan bebrapa tahun kemudian diketahui kalau satelit ini memiliki sisi gelap yang dikenal sekarang dengan nama Cassini Regio (area Cassini).</p>
<p>Keberadaan cincin baru ini diharapkan bisa memberi penjelasan bagaimana Cassini Regio terjadi. Cincin tersebut bergerak dalam arah yang sama dengan Pheobe sementara Iapetus dan sebagian besar satelit Saturnus bergerak dalam arah yang berlawanan. menurut para ilmuwan, sebagian materi debu dan gelap dari luar cincin bergerak masuk menuju Iapetus, menghantam bulan es itu seperti serangga di kaca mobil.</p>
<div id="attachment_2569" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/cincinsaturnus.jpg"><img class="size-full wp-image-2569" title="cincinsaturnus" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/cincinsaturnus.jpg" alt="Diagram Cincin terbaru Saturnus. Kredit : NASA/JPL-CAltech" width="550" height="440" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram Cincin terbaru Saturnus. Kredit : NASA/JPL-CAltech</p></div>
<p>Sejak lama para astronom sudah menduga hubungan antara satelit luar Saturnus, Pheobe dengan materi gelap di Iapetus. Namun baru sekarang ada bukti yang meyakinkan hubungan tersebut. Pheobe bergerak mengelilingi Saturnus di dalam sabuk debu yang terlempar saat terjadi tabrakan kecil dengan Komet &#8211; proses yang mirip di bintang yang dikelilingi piringan debu serpihan planet.</p>
<p>Cincin baru ini juga akan sulit dilihat dengan teleskop yang bekerja pada gelombang cahaya tampak. Partikel-partikelnya tersebar dan membentang melewati sebagian besar materi cincin ke arah mendekati Saturnus dan menjauh ke arah ruang antar planet.  Dengan demikian kecil kemungkinan partikel di cincin akan dapat memantulkan cahaya tampak. Partikel-partikel ini jaraknya berjauhan sehingga jika kita berada di dalam cincin, kita tidak akan menyadari keberadaan sabuk cincin.  Spitzer sendiri berhasil mengenali pijaran debu yang dingin dengan temperatur 80K.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber :<a href="http://www.spitzer.caltech.edu/Media/releases/ssc2009-19/release.shtml" target="_blank"> NASA Spitzer</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/10/08/penemuan-cincin-terbesar-di-saturnus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Es di Mars</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/09/28/es-di-mars/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/09/28/es-di-mars/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 15:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[Es]]></category>
		<category><![CDATA[Mars]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2519</guid>
		<description><![CDATA[Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA berhasil mengungkap keberadaan air beku yang tersembunyi di bawah permukaan area lintang tengah Mars. Pengamatan ini berhasil dilakukan setelah ada meteorit yang menggali kawah baru di planet merah tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mars Reconnaissance Orbiter</em> milik NASA berhasil mengungkap keberadaan air beku yang tersembunyi di bawah permukaan area lintang tengah Mars. Pengamatan ini berhasil dilakukan setelah ada meteorit yang menggali kawah baru di planet merah tersebut.<span id="more-2519"></span></p>
<div id="attachment_2521" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/09/mars.jpg"><img class="size-full wp-image-2521" title="mars" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/09/mars.jpg" alt="Citra kawah baru di Mars yang diambil dalam selang waktu berbeda. Kredit: NASA/JPL-Caltech/University of Arizona" width="550" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Citra kawah baru di Mars yang diambil dalam selang waktu berbeda. Kredit: NASA/JPL-Caltech/University of Arizona</p></div>
<p>Para ilmuwan yang mengendalikan instrumen di Orbiter menemukan adanya es terang yang terungkap pada 5 situs Mars dengan kawah baru yang memiliki kedalaman bervariasi antara 0.5 meter &#8211; 2,5 meter. Kawah ini tidak ada pada citra citra awal ari situs tersebut. Beberapa kawah tersebut menunjukan keberadaan lapisan tipis es di puncak materi gelap yang ada di bagian dasar kawah. Potongan terang itu menjadi gelap dalam beberapa minggu setelah pengamatan. Ini terjadi saat es yang tampak itu meguap ke dalam atmosfer Mars yang tipis. Salah satu kawah yang ada memliki materi yang dilihat itu dalam potongan yag cukup besar, sehingga Orbiter bisa mengenalinya sebagai air es.</p>
<p>Penemuan yang mengindikasi keberadaan air es di bawah permukaan Mars ini berada di antara kutub Utara dan ekuator Mars pada area lintang yang lebih rendah dari yang diharapkan jika mengacu pada iklim di Mars.</p>
<p>Keberadaan es ini bisa menjadi pertanda relik iklim yang lebih lembab di Mars beberapa ribu tahun yang lalu. Penemuan ini juga membawa para peneliti untuk mulai meneliti situs tabrakan baru untuk mencari es di lapisan bawah permukaannya.</p>
<p>Penelitian terhadap lebih dari 200 citra Mars memperlihatkan keberadaan spot gelap yang masih baru, yakni kawah yang dilingkupi debu. Pengecekan citra sebelumnya untuk area yang sama menunjukan kalau ini merupakan kawah baru. Ada sekitar 100 situs tabrakan baru yang sebagian besar lebih dekat ke ekuator dibanding area ditemukannya es.</p>
<p>Citra tanggal 10 Oktober 2008 menunjukkan terbentuknya kawah setelah 67 hari sebelumnya area yang sama dipotret.  Dan yang mengejutkan saat mengamati materi terang di dasar kawah tampaklah sesuatu yang bisa dikenali sebagai es.</p>
<p>Penemuan ini penting dalam kaitan pencarian unsur-unsur yang mendukung kehidupan di planet selain Bumi.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber : NASA<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/09/28/es-di-mars/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komet Terperangkap Jadi Satelit Jupiter</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/09/16/komet-terperangkap-jadi-satelit-jupiter/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/09/16/komet-terperangkap-jadi-satelit-jupiter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 06:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[jupiter]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2483</guid>
		<description><![CDATA[Pertengahan abad ke-20, Jupiter pernah memiliki satelit yang berasal dari Komet 147P/Kushida-Muramatsu yang tertangkap dalam oleh Jupiter. Satelit sementara ini bertahan dalam orbit yang tidak beraturan selama 12 tahun.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertengahan abad ke-20, Jupiter pernah memiliki satelit yang berasal dari Komet 147P/Kushida-Muramatsu yang tertangkap dalam oleh Jupiter. Satelit sementara ini bertahan dalam orbit yang tidak beraturan selama 12 tahun. <span id="more-2483"></span></p>
<div id="attachment_2484" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/09/hs-jupe.jpg"><img class="size-full wp-image-2484" title="hs-jupe" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/09/hs-jupe.jpg" alt="CItra Jupiter yang diambil saat tabrakan misterius bulan Juli 2009. Kredit : Hubble" width="200" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">CItra Jupiter yang diambil saat tabrakan misterius bulan Juli 2009. Kredit : Hubble</p></div>
<p>Fenomena terjadinya satelit sementara ini memang sangat sedikit dengan durasi keberadaan yang juga cukup singkat. Salah satunya adalah Kushida-Muramatsu yang mengorbit Jupiter ada tahun 1949-1961, dan merupakan komet dengan durasi terpanjang ketiga untuk berada pada sebuah planet.</p>
<p>Sebuah tim internasional yang dipimpin Dr Katsuhito Ohtsuka membuat pemodelan jejak 18 “quasi-Hilda komet”, atau objek yang berpotensi untuk ditangkap Jupiter dan menjadi satelit sementara di planet raksasa tersebut. Setelah masa tinggalnya di Jupiter, komet-komet ini akan meninggalkan Jupiter atau malah bergabung dengan kelompok objek Hilda di sabuk asteroid. Sebagian besar kasus penangkapan sementara komet ini merupakan kejadian saat si komet melakukan terbang lintas dan tidak menyelesaikan orbit keseluruhannya.</p>
<p>Data hasil pengamatan selama 9 tahun untuk melacak Kushida-Muramatsu  oleh tim Ohtsuka digunakan untuk menghitung ratusan kemungkinan jejak orbit si komet selama beberapa abad sebelumnya. Secara keseluruhan, Kushida-Muramatsu berhasil menyelesaikan 2 kali revolusi penuh Jupiter dan menempatkannya sebagai komet kelima yang diketahui sebagai benda yang terperangkap dalam orbit planet.</p>
<p>Asteroid dan komet sesekali bisa saja menyimpang atau terpecah sebagai akibat pasang surut yang ditimbulkan oleh medan gravitasi planet yang menangkap, atau malah akibat dari tabrakan dengan  planet. Salah satu korban yang paling terkenal adalah komet D/1993 F2 (Shoemaker-Levy 9), yang hancur berkeping-keping saat lewat di dekat Jupiter. Pecahan Shoemaker-Levy 9 inilah yang menabrak Jupiter di tahun 1994. Hasil perhitungan komputer juga menunjukan kalau Shoemaker-Levy merupakan komet quasi-Hilda sebelum tertangkap Jupiter.</p>
<p>Tapi Jupiter bukanlah Bumi, Jupiter adalah planet paling masif dengan gravitasi yang sangat besar sehingga ia menjadi planet yang lebih siap untuk menghadapi objek yang bergerak mendekatinya dibanding planet-planet lain. Selain itu tabrakan-tabrakan besar juga akan lebih banyak terlihat di Jupiter dibanding Bumi. Nah, untuk komet Kushida-Muramatsu, nasibnya tak akan sesial Shoemaker-Levy 9. Ia telah berhasil lolos dari si planet raksasa dan di masa depan dipekrirakan tak akan mengalami nasib yang sama dari Shoemaker-Levy 9.</p>
<p>Masih ingat tabrakan yang dialami bulan Juli 2009 lalu? Tabrakan yang menimbulkan noktah gelap pada Jupiter itu tampaknya disebabkan oleh objek dari kelompok yang sama dengan Kushida-Muramatsu. Dalam kejadian tersebut objek yang menabrak tersebut tidak mengalami gangguan akibat pasang surut.</p>
<p>Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan tabrakan-tabrakan seperti itu maupun terperangkapnya komet dalam orbit Jupiter akan lebih sering dialami. Tak hanya meneliti tentang Kushida-Muramatsu, tim ini juga berhasil mengkonfirmasi satelit Jupiter yang akan datang yakni, Comet 111P/Helin-Roman-Crockett, yang sudah mengorbit Jupiter 3 kali antara tahun 1967 dan 1985, sebagai bagian dari 6 putaran penuh yang harus dilakukan dan akan terjadi lagi pada tahun 2068 dan 2086.</p>
<p>Sumber : Europlanet</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/09/16/komet-terperangkap-jadi-satelit-jupiter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benda Apakah Yang Menabrak Jupiter ?</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/08/07/benda-apakah-yang-menabrak-jupiter/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/08/07/benda-apakah-yang-menabrak-jupiter/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 11:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[jupiter]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1964</guid>
		<description><![CDATA[Diawali dengan pertanyaan yang muncul, kebingungan sesaat, dan akhirnya lenyap.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diawali dengan pertanyaan yang muncul, kebingungan sesaat, dan akhirnya lenyap.<span id="more-1964"></span></p>
<p>Hari itu, tanggal 19 Juli 2009 seorang astronom amatir Anthony Wesley sedang memotret Jupiter dari observatorium di halamannya di Murrumbateman, Australia, saat sesuatu yang tak biasa tertangkap oleh matanya.</p>
<p>Perhatian yang awalnya ditujukan Anthony pada Bintik Merah Raksasa yang tampak cantik di horison Jupiter teralihkan pada noda gelap di area kutub selatan Jupiter.</p>
<p><em>Itu hanya badai gelap lainnya di Jupiter.</em></p>
<p>Itulah yang terlintas dalam benak Anthony. Namun ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikirannya. Tanda gelap itu menjadi teka teki yang berkecamuk dalam benak Anthony. Ada yang salah disana. Dan Anthony pun tak bisa berhenti untuk mencuri-curi waktu melihat pada  tanda gelap itu.</p>
<div id="attachment_1965" class="wp-caption aligncenter" style="width: 466px"><img class="size-full wp-image-1965" title="discovery_strip" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/discovery_strip.jpg" alt="Kutub Selatan berada di atas saat Anthony Wesley mengamati Jupiter 19 Juli 2009. kredit : Anthony Wesley" width="456" height="312" /><p class="wp-caption-text">Kutub Selatan berada di atas saat Anthony Wesley mengamati Jupiter 19 Juli 2009. kredit : Anthony Wesley</p></div>
<p>Pelan, rotasi Jupiter membawa noda gelap itu menghadap Bumi dan Anthony bisa mendapatkan kesempatan melihat tanda itu. Tak bisa bisa dipungkiri apa yang ia lihat kemudian membuatnya serasa disambar petir.</p>
<p>Tanda gelap itu sebuah tanda hasil tabrakan. Sesuatu telah menabrak planet raksasa tersebut. Anthony bisa mengenali bekas tabrakan itu, karena ia pernah melihat parut akibat tabrakan pecahan komet Shoemaker-Levy 9 yang menabrak Jupiter tahun 1994. Tapi ia harus meyakinkan dirinya dahulu sebelum meyakini semua adalah kenyataan. Setelah itu, Anthony mengirimkan pesan elektronik pada semua teman dan kolega di seluruh dunia. Dan hanya dalam beberapa jam, teleskop besar dan kecil pun diarahkan pada Jupiter untuk memotret akibat dari tabrakan tersebut.</p>
<div id="attachment_1966" class="wp-caption alignright" style="width: 223px"><img class="size-full wp-image-1966" title="212jupiter_med" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/212jupiter_med.jpg" alt="Citra sisa awan akibat tabrakan di Jupiter yang diambil tanggal 20 Juli oleh IRTF. Kredit :  NASA/JPL/Infrared Telescope Facility " width="213" height="181" /><p class="wp-caption-text">Citra sisa awan akibat tabrakan di Jupiter yang diambil tanggal 20 Juli oleh IRTF. Kredit :  NASA/JPL/Infrared Telescope Facility </p></div>
<p>Menurut Don Yeomans dari NASA JPL, tabrakan itu disebabkan oleh komet atau asteroid yang diameternya beberapa ratus meter. Jika benda yang mirip menabrak Bumi, maka akan ada kerusakan regional besar-besaran ataupun tsunami jika benda itu jatuh di lautan. Karena yang dibicarakan ini benda yang memiliki kekuatan 2000 mega ton.</p>
<p>Di tempat lain, sebuah keberuntungan juga menghampiri astronom di JPL, Glen Orton dan Leigh Fletcher yang dijadwalkan mengamati Jupiter pada tanggal 20 Juli 2009. Sehari setelah terjadinya tabrakan dengan menggunakan <em>Infrared Telescope Facility (</em>IRTF) milik NASA di Mauna Kea, Hawaii. Teleskop 3 meter itu mengungkap serpihan awan seukuran Mars melayang di antara awan Jupiter.</p>
<p>Objek yang menabrak Jupiter ini meledak di lapisan atmosfer teratas Jupiter dan hancur berkeping-keping. Apa yang terlihat kemudian hanyalah pecahan si pencabrak dan sejumlah aerosol asing yang terbentuk akibat guncangan kimiawi saat terjadinya tabrakan.</p>
<p>Tanggal 23 Juli, <em>Hubble Space Telescope</em> mengambil citra pertama dari lokasi peledakan. Hubble sendiri masih dalam tahap pengecekan dan kalibrasi dari misi perbaikan STS-125 pada bulan Mei. Namun bagaimanapun kejadian ini terlalu besar untuk dilewatkan. Dan seperti biasa citra yang diambil Hubble mendapatkan perhatian dan menjadi favorit dunia.</p>
<p>Hubble mengungkap arus pusaran yang besar dari abu gelap sisa tabrakan yang dorong-mendorong dengan badai alam di area dekat dengan atmosfer bagian atas Jupiter :</p>
<div id="attachment_1967" class="wp-caption aligncenter" style="width: 503px"><img class="size-full wp-image-1967" title="hs-2009-23-a-web_print_strip" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/hs-2009-23-a-web_print_strip.jpg" alt="Citra yang Jupiter yang diambil teleskop Hubble tanggal 23 Juli. Kredit : HST" width="493" height="365" /><p class="wp-caption-text">Citra yang Jupiter yang diambil teleskop Hubble tanggal 23 Juli. Kredit : HST</p></div>
<p>Puing-puing di awan terlihat tidak halus sebagai akibat tubulensi atmosferik. Angin kutub yang berhembus 25 meter per detik menyebabkan awan tersebut tersebar dan bertambah besar. Dengan demikian tak kan sulit melihat awan ini dengan teleskop kecil.</p>
<p>Jika melihat pada sifat tabrakan Komet Shoemaker-Levy 9 lima belas tahun lalu, bisa diperkirakan kalau “puing awan Wesley” akan tetap terlihat sampai beberapa minggu. Penelitian lanjutan pada awan ini bisa mengungkapkan pertanyaan terbesar saat ini:</p>
<p>Apakah yang telah menabrak Jupiter?</p>
<p>Menurut Yeomans, “Kami tak tahu. Dan tak seorang pun melihat benda tersebut sebelum tabrakan”.</p>
<p>Bahkan tak ada peringatan sebelumnya. Benda ini muncul ari dalam kegelapan, tak dikenal, dan tidak pernah dikatalogkan sebelumnya, dan -duer- sebelum orang lain sempat memotretnya ia kini sudah tinggal puing.</p>
<p>Komposisi kimia awan merupakan petunjuk penting dari sifat alami si penabrak. Pengamatan dari Bumi sedang dilaksanakan untuk mengungkpkan kandungan di awan. Jika spektrum yang dihasilkan memiliki tanda air, maka bisa diperkirakan si benda penabraka ini adalah komet es.</p>
<p>Jika tidak, bisa saja benda penabrak ini merupakan asteroid batuan atau logam.</p>
<p>Di saat yang sama, parut ini masih jadi misteri besar dan gelap. Sesuatu yang tak bisa membuat Anthony Wesley berpaling. Ia tetap mengamati Jupiter dengan teleskop 14,5 inch-nya dan mengabadikan awan yang terus mengembang ke bentuk yang menarik.</p>
<p>Katanya,”Aku membayangkan, apa yang akan terjadi selanjutnya?”.</p>
<p>Kredit : <a href="http://science.nasa.gov/headlines/y2009/03aug_whathitjupiter.htm" target="_blank">Science@NASA</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/08/07/benda-apakah-yang-menabrak-jupiter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Planet Raksasa di Tata Surya</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/03/18/planet-raksasa-di-tata-surya/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/03/18/planet-raksasa-di-tata-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 07:42:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[jupiter]]></category>
		<category><![CDATA[neptunus]]></category>
		<category><![CDATA[planet raksasa]]></category>
		<category><![CDATA[saturnus]]></category>
		<category><![CDATA[uranus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1454</guid>
		<description><![CDATA[Tata Surya atau sebuah sistem keplanetan dengan Sang Surya sebagai bintang induknya. Di dalam sistem tersebut, Matahari dikelilingi planet-planet yang menyertainya. Planet-planet di Tata Surya itu sendiri terbagi atas 2 kelompok besar yakni planet kebumian dan planet raksasa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tata Surya atau sebuah sistem keplanetan dengan Sang Surya sebagai bintang induknya. Di dalam sistem tersebut, Matahari dikelilingi planet-planet yang menyertainya. Planet-planet di Tata Surya itu sendiri terbagi atas 2 kelompok besar yakni planet kebumian (Merkurius, Venus, Bumi dan Mars) dan planet raksasa yang terdiri dari planet-planet gas seperti Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus.<span id="more-1454"></span></p>
<div id="attachment_1456" class="wp-caption alignleft" style="width: 165px"><img class="size-full wp-image-1456" title="gas_giants" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/03/gas_giants.jpg" alt="Planet raksasa di Tata Surya." width="155" height="200" /><p class="wp-caption-text">Planet raksasa di Tata Surya.</p></div>
<p>Di Tata Surya, Massa Matahari mengisi 99,8% keseluruhan massa sistem, sehingga massa total seluruh planet, asteroid dll hanya 0,2 %. Nah bisa dibayangkan betapa raksasanya si Matahari dibanding planet yang mengelilinginya. Dan dari kedelapan planet yang mengelilingi Sang Surya, Jupiter yang merupakan planet terbesar memiliki massa 2 kali lebih besar dari massa gabungan seluruh planet lainnya, yakni lebih dari 300 kali massa Bumi (massa Bumi 5,9 x 10<sup>24</sup> kg). Dari gambaran tersebut bisa dikatakan Tata Surya itu terdiri dari Matahari, Jupiter dan serpihan-serpihan batuan dan gas.</p>
<p>Serpihan terbesar di antara planet-planet tersebut adalah Saturnus dengan massa hampir 10 massa Bumi. Sama seperti Jupiter, Saturnus juga merupakan planet gas yang tersusun oleh hidrogen dan helium. Kedua planet memiliki inti elemen berat dengan massa lebih dari 10 massa Bumi.</p>
<p>Planet gas raksasa lainnya adalah Neptunus dan Uranus yang memiliki massa sekitar 1/6 massa Saturnus. Walau tergolong planet raksasa, kedua planet ini memiliki komposisi yang sedikit berbeda dari Jupiter dan Saturnus. Kalau Jupiter dan Saturnus didominasi oleh hidrogen dan helium, Uranus dan Neptunus justru didominasi oleh  air (H<sub>2</sub>O) dan amonia (NH<sub>3</sub>), metana (CH<sub>4</sub>) dan batuan, silikat dan logam yang terkondensasi pada suhu tinggi, dan dilapisi di bagian atas oleh atmosfer yang didominasi oleh H-He sekitar (1-4 massa bumi).</p>
<p>Keempat planet besar tersebut dikenal juga sebagai planet raksasa  dengan Jupiter dan Saturnus sebagai planet gas raksasa dan Uranus Neptunus merupakan planet es raksasa. Radius Jupiter dan Saturnus yang berada pada jarak 5 SA dan 10 SA, adalah ~70000km dan 60000 km smentara Uranus dan Neptunus hanya sekitar 25000 km. Meskipun disebut planet es raksasa, es di Uranus dan Neptunus yang berada pada jarak 20SA dan 30SA sebenarnya dalam kondisi cair dan tidak padat.</p>
<div id="attachment_1457" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1457" title="giant_gallery" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/03/giant_gallery-300x225.jpg" alt="giant_gallery" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Planet gas raksasa Jupiter dan Saturnus, disertai Planet es raksasa Uranus dan Neptunus. kredit : NASA</p></div>
<p>Planet-planet raksasa ini ternyata tak sendirian saat mengembara mengelilingi Matahari. Mereka disertai oleh satelit-satelit dalam jumlah yang cukup banyak. Jupiter saat ini diketahui memiliki 63 satelit, dengan 4 satelit terbesar yang dikenal sebagai Satelit Galilean yakni Io, Europa, Ganymede dan Callisto. Europa bahkan diperkirakan memiliki air dalam kondisi cair yang jadi salah satu indikasi adanya kehidupan. Di antara seluruh satelit, 47 diantaranya merupakan satelit kecil dengan diameter kurang dari 10 km.</p>
<p>Di Saturnus terdapat 61 satelit, dengan 34 satelit berdiameter &lt; 10km dan 14 satelit berdiameter &lt; 50km. Dari keseluruhan satelit, hanya 7 satelit yang cukup masif hingga mengalami keruntuhan dan mencapai kesetimbangan hidrostatik akibat gravitasinya. Satelit terbesar Saturnus, Titan memiliki atmosfer dan lautan metana. Titan juga diperkirakan memiliki kemiripan dengan Bumi purba.</p>
<p>Satelit di Uranus saat ini ada 27 buah, dengan Miranda, Ariel, Umbriel, Titania dan Oberon sebagai satelit terbesar di planet tersebut. Massa total kelima satelit ini hanya mencapai setengah dari massa Triton, satelit milik Neptunus yang juga merupakan satu-satunya satelit yang memiliki gerak retrograde (gerak berbalik). Gerak Triton membuktikan kalau ia ditangkap oleh orbit Neptunus dan bukan terbentuk di orbit tersebut. Neptunus yang memiliki 13 satelit ini diperkirakan menangkap Triton saat satelit yang diperkirakan dulunya adalah planet katai ini melintas terlalu dekat dengan Neptunus.</p>
<p>Jika orang berpikir bahwa hanya Saturnus yang memiliki <a href="http://langitselatan.com/2008/05/29/sejarah-cincin-di-tata-surya/" target="_blank">cincin</a>, maka itu adalah hal yang salah. Keempat planet gas di Tata Surya memiliki cincin yang mengitari tubuhnya.  Saat ini keempat planet ini memang masih didominasi oleh gas namun suatu hari ketika Matahari berevolusi bisa jadi keempat planet ini akan berevolusi juga menjadi planet kebumian yang bisa dihuni.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/03/18/planet-raksasa-di-tata-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidangan Pembuka Spektakuler Dari Saturnus</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/02/19/hidangan-pembuka-spektakuler-dari-saturnus/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/02/19/hidangan-pembuka-spektakuler-dari-saturnus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 13:16:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jeffteng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Observasi]]></category>
		<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[komet lulin]]></category>
		<category><![CDATA[saturnus]]></category>
		<category><![CDATA[titan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1328</guid>
		<description><![CDATA[Rekan-rekan di Indonesia, kita akan mendapatkan sebuah paket pengamatan lengkap sebagai hidangan santap malam pada tanggal 24 Februari 2009 ini. Hidangan utama kita malam itu adalah komet Lulin (yang sedang berada pada titik terdekatnya dengan Bumi). Namun jangan salah, sebelum hidangan utama disajikan, ada sebuah hidangan lain yang dihadirkan sebagai hidangan pembuka. Apakah itu?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekan-rekan di Indonesia, kita akan mendapatkan sebuah paket pengamatan lengkap sebagai hidangan santap malam pada tanggal 24 Februari 2009 ini.  Hidangan utama kita malam itu adalah komet Lulin  (yang sedang berada pada titik terdekatnya dengan Bumi). Namun jangan salah, sebelum hidangan utama disajikan, ada sebuah hidangan lain yang dihadirkan sebagai hidangan pembuka. Apakah itu?<span id="more-1328"></span></p>
<p>Tanggal 24 Februari, hidangan pembuka bagi para pengamat langit adalah kejadian transit 4 satelit Saturnus sebagai hidangan pembuka. Pembukaan transit yang dimulai dengan masuknya bayangan Titan menutupi permukaan Saturnus pada pukul 17:54 WIB. Sayangnya kejadian ini tidak dapat diamati dari Indonesia karena pada waktu tersebut Saturnus belum terbit dan Matahari belum terbenam. Kira-kira 40 menit kemudian piringan Titan akan masuk dan disusul dengan  Mima, Dione, dan Enceladus.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_1329" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><img class="size-full wp-image-1329" title="christopher-go1_strip" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/christopher-go1_strip.gif" alt="Transit Titan dan Saturnus pada 8 Februari 2009. Kredit : Christopher Go " width="450" height="197" /><p class="wp-caption-text">Transit Titan dan Saturnus pada 8 Februari 2009. Kredit : Christopher Go </p></div>
<p>Transit seperti ini terhitung langka karena hanya terlihat setiap 14-15 tahun sekali saat orbit satelit-satelit Saturnus nyaris tampak samping atau sejajar dengan ekuator (khatulistiwa) Bumi. Terakhir kali Teleskop Hubble menangkap transit satelit Saturnus terjadi pada tahun 1995-1996, yakni transit Titan dan Tethys dengan Saturnus dan yang berikutnya transit Mimas, Enceladus, Dione dengan Saturnus. Ini akan jadi pertama kalinya kita melihat dan menangkap 4 satelit yang mengalami transit dengan Saturnus.</p>
<p>Pengamat di Indonesia akan dapat menyaksikan sebagian dari kejadian ini mulai pukul 21:00 WIB dimana posisi Saturnus cukup tinggi untuk diamati (meskipun kurang ideal karena tetap dipengaruhi faktor dispersi atmosfir). Pada waktu ini, (semoga) Titan dan bayangannya masih dapat terlihat dengan menggunakan sebuah teleskop kecil.</p>
<p>Kejadian ini akan berakhir menjelang tengah malam, dan ini adalah saat yang cukup tepat untuk mencari menu utama &#8211;Komet Lulin.</p>
<p>Semoga langit cerah pada tanggal 24 Februari nanti.. Selamat berburu dan menikmati hidangan dari langit&#8230;</p>
<p>bon appetite!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/02/19/hidangan-pembuka-spektakuler-dari-saturnus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Bulan dan Cincin Saturnus Bertabrakan</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/11/15/saat-bulan-dan-cincin-saturnus-bertabrakan/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/11/15/saat-bulan-dan-cincin-saturnus-bertabrakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 10:25:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[cincin]]></category>
		<category><![CDATA[prometheus]]></category>
		<category><![CDATA[saturnus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[Satelit Prometheus perlahan-lahan bertabrakan dengan tepi dalam cincin F Saturnus. Satelit lonjong ini menarik aliran materi dari cincin dan kemudian meninggalkannya di balik kegelapan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satelit Prometheus perlahan-lahan bertabrakan dengan tepi dalam cincin F Saturnus. Satelit lonjong ini menarik aliran materi dari cincin dan kemudian meninggalkannya di balik kegelapan.<span id="more-878"></span></p>
<p style="text-align: center;"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:400px;"><img title="img002800-br500" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/11/img002800-br500.jpg" alt="Aliran materi yang terbentuk saat Prometheus mendekati cincin F Saturnus. Kredit : NASA" width="400" height="399" /><br style="clear:both" /><span>Aliran materi yang terbentuk saat Prometheus mendekati cincin F Saturnus. Kredit : NASA</span></div></p>
<p>Sekali dalam perjalanan 14,7 jam-nya mengorbit Saturnus, Prometheus (diameter 102 km) akan mencapai titik paling lonjong yang disebut apoapse dan berada jauh dari Saturnus, atau tepatnya berada dekat cincin F. Pada titik ini gravitasi Prometheus cukup kuat untuk membuat aliran materi keluar dari area inti cincin F.</p>
<p>Pada awalnya, materi berukuran debu ditarik menjauh dari cincin hingga tampak membentuk aliran yang menuju orbit Prometheus. Setelah beberapa waktu, aliran ini akan runtuh lebih cepat dan tertinggal jauh di belakang Prometheus karena materi di cincin F mengorbit Saturnus lebih lambat dari satelit tersebut. Aliran tersebut akan tampak lebih panjang dan membentuk terusan gelap.</p>
<p>Pembentukan aliran dan terusan ini terjadi dalam siklus berulang saat Prometheus mencapai apoapse. Setiap kali Prometheus mendekati cincin F ia akan membentuk aliran materi dari cincin F namun dari lokasi yang berbeda. Hal ini terjadi karena perbedaan periode orbit antara cincin dan Prometheus. Cincin F mengorbit Saturnus lebih lambat dari satelit tersebut menyebabkan terjadinya perbedaan garis bujur  3,2 derajat antara lokasi aliran materi satu dengan lainnya yang ditarik dari cincin saat satelit itu mendekat.</p>
<p style="text-align: left;"><h7>Sumber : NASA</h7></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/11/15/saat-bulan-dan-cincin-saturnus-bertabrakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cincin Gelap di Neptunus</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/10/25/cincin-gelap-di-neptunus/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/10/25/cincin-gelap-di-neptunus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 05:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>
		<category><![CDATA[cincin]]></category>
		<category><![CDATA[cincin tata surya]]></category>
		<category><![CDATA[jupiter]]></category>
		<category><![CDATA[neptunus]]></category>
		<category><![CDATA[saturnus]]></category>
		<category><![CDATA[uranus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=864</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita melanglang Tata Surya, di ujung terjauh dari planet-planet penghuni sistem ini ada Neptunus si planet raksasa terbesar ke-4 di dalam Tata Surya. Sama seperti planet raksasa lainnya di Tata Surya, Neptunus juga memiliki cincin. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_right" style="width:154px;"><img title="neptunus" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/10/neptunus.jpg" alt="Citra Neptunus yang diambil Voyager 2. Kredit : NASA" width="154" height="142" align="right" /><br style="clear:both" /><span>Citra Neptunus yang diambil Voyager 2. Kredit : NASA</span></div></p>
<p>Ketika kita melanglang Tata Surya, di ujung terjauh dari planet-planet penghuni sistem ini ada Neptunus si planet raksasa terbesar ke-4 di dalam Tata Surya. Sama seperti planet raksasa lainnya di Tata Surya, Neptunus juga memiliki cincin. Cincin debu tipis yang mengitari planet ini ditemukan tahun 1989 oleh Voyager 2. Neptunus dinamai menurut nama dewa laut Roma saudara dari Pluto dan Jupiter, ditemukan pada tanggal 23 September 1846 dari prediksi matematik bukan dari hasil observasi.<span id="more-864"></span></p>
<p>Sebagai planet terjauh yang juga memiliki cincin, cincin di Neptunus mirip dengan cincin Jupiter hampir tak terlihat jika dibanding cincin Saturnus atau Uranus. Sampai saat ini diketahui terdapat 5 cincin yang sudah terdeteksi dan diketahui data-datanya di Neptunus yakni dari yang terdekat adalah cincin Galle, LeVerrier, Lassell, Arago dan Adams. Satu cincin lemah lainnya yang belum diketahui namanya memotong orbit bulan Neptunus yakni Galatea. Selain Galatea, ada 3 satelit Neptunus lainnya yang juga mengorbit di area cincin yakni Naiad, Thalassa dan Despina.</p>
<p>Cincin di Neptunus pertama kali diketahui keberadaannya pada tahun 1846 saat William Lasell penemu Triton berpikir ia telah melihat busur cincin mengelilingi Neptunus. Tahun 1968, melalui okultasi bintang untuk pertama kalinya cincin Neptunus berhasil dideteksi namun maish belum disadari kalau itu sebuah cincin. Cincin di Neptunus baru dibuktikan keberadaannya saat Voyager 2 melakukan terbang lintas pada tahun 1989. Saat ini, untuk bisa melihat cincin terang di Neptunus yakni cincin Adams dan LeVerrier bisa dilakukan dengan teleskop landas bumi maupun landas angkasa seperti<em> Hubble Space Telescope</em>.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_left" style="width:224px;"><img title="neprings" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/10/neprings.jpg" alt="Citra cincin Neptunus yang diambil Voyager 2. Kredit : NASA" width="224" height="179" align="left" /><br style="clear:both" /><span>Citra cincin Neptunus yang diambil Voyager 2. Kredit : NASA</span></div></p>
<p>Cincin Neptunus memiliki partikel-partikel yang sangat gelap, seperti yang ditemukan di Uranus. Jumlah debu di dalam cincin Neptunus cukup tinggi antara 20-70%. Kelima cincin yang membusur mengelilingi planet Neptunus ini memiliki kondisi yang berbeda-beda. Cincin Galle dan LeVerrier yang merupakan cincin yang paling dekat dengan sang dewa laut ini memiliki kandungan debu yang cukup tinggi antara 40-70%. Keduanya juga merupakan cincin yang lemah, namun LeVerrier jauh lebih tipis dibanding Galle. Cincin ke-3 yang dinamai seperti nama penemu Triton, Lasell membentang lemah di antara LeVerrier dan Arago dengan kandungan debu hanya 20-40 %. Di bagian terluar, terdapat cincin Adams yang terdiri dari 5 busur terang yang dinamai mengikuti moto Revolusi Perancis yang terkenal yakni <em>Fraternité , Egalite 1, Egalite 2, Liberté, dan Courage.</em></p>
<p>Cincin Neptunus diduga kuat masih sangat muda dengan usia jauh lebih muda dari usia Tata Surya. Selain itu diperkirakan cincin planet ini terbentuk dari tabrakan satelit dalam di Neptunus yang kemudian membentuk sabuk di area tersebut. Sabuk inilah yang menjadi sumber debu bagi cincin yang membentang tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/10/25/cincin-gelap-di-neptunus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
