<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>langitselatan.com &#187; Asteroid</title>
	<atom:link href="http://langitselatan.com/category/sistem-keplanetan/tata-surya/asteroid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://langitselatan.com</link>
	<description>media astronomi indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 23:25:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menikmati Vesta Di Langit Malam</title>
		<link>http://langitselatan.com/2010/02/17/menikmati-vesta-di-langit-malam/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2010/02/17/menikmati-vesta-di-langit-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 07:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[Observasi]]></category>
		<category><![CDATA[vesta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=3406</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini, kita akan bisa menikmati pemandangan indah di langit. pemandangan itu bisa dinikmati dnegan binokuler ataupun mungkin kalau beruntung dengan mata bugil.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam ini, kita akan bisa menikmati pemandangan indah di langit. pemandangan itu bisa dinikmati dengan binokuler ataupun mungkin kalau beruntung dengan mata bugil.<span id="more-3406"></span></p>
<p>Tanggal 17 Februari 2010, Vesta, asteroid termasif kedua di sabuk asteroid akan mengalami oposisi. Di saat oposisi, Vesta akan berada pada arah sebaliknya dari matahari jika dilihat dari Bumi. Dengan kata lain, jika siang ini Matahari tepat berada di atas kepala kita, maka Vesta akan tepat berada di bawah kaki kita pada jarak 211.980.000 km. Pada saat itulah Vesta akan berada pada titik terdekat dengan Bumi.</p>
<div id="attachment_3409" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/02/vestamalamini.jpg"><img class="size-full wp-image-3409" title="vestamalamini" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/02/vestamalamini.jpg" alt="" width="500" height="388" /></a><p class="wp-caption-text">Asteroid Vesta di langit timur malam ini berada di rasi LEO. kredit : Stellarium</p></div>
<p>Di malam harinya, asteroid Vesta akan tampak di langit timur pada rasi Leo dengan kecerlangan 6,1 magnitud sehingga akan tampak oleh teleskop maupun binokuler. Bahkan jika memungkinkan Vesta akan bisa terlihat oleh mata bugil seandainya tidak ada polusi cahaya yang mengganggu.</p>
<p>Pada posisinya yang relatif dekat saat ini, setengah dari asteroid tersebut sudah pasti bermandikan sinar Matahari saat terlihat dari Bumi sehingga ia akan tampak terang. Selain itu, Vesta juga tidak segelap sebagian besar asteroid lainnya di Sabuk Utama Asteroid sehingga ia memantulkan lebih banyak lagi sinar matahari.</p>
<p><strong>Sekilas Tentang Vesta</strong></p>
<div id="attachment_3408" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/02/vesta.jpg"><img class="size-full wp-image-3408" title="vesta" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/02/vesta.jpg" alt="" width="200" height="174" /></a><p class="wp-caption-text">Asteroid Vesta yang dipotret Teleskop Hubble tahun 2007. Kredit : NASA</p></div>
<p>Vesta merupakan obyek termasif kedua di Sabuk Asteroid dengan diameter rata-rata sekitar 530 km dan memiliki massa pada kisaran 9% dari massa seluruh Sabuk Asteroid. Ditemukan oleh astronom Jerman Heirich Wilhelm Olbers pada tanggal 29 Maret 1807, asteroid ini langsung dinamakan menurut salah satu dewi bangsa Roma yakni dewi Vesta. Vesta di antara asteroid merupakan asteroid yang paling cerlang dan ia juga mengitari sumbunya hanya dalam waktu 5,34 jam.</p>
<p>Tahun 1994, Hubble Space Telescope berhasil memotret Vesta saat Vesta berada pada jarak 251 juta km dari Bumi. Asteroid yang satu ini memang unik, karena ia memiliki kondisi geologi yang berbeda dari asteroid besar lainnya dan merupakan satu-satunya yang memiliki area gelap dan terang seperti halnya wajah Bulan.</p>
<p>Citra  yang diambil Hubble mengungkapkan dunia yang berbeda di Vesta. Di sana terdapat aliran lava yang sudah tua dan kolam raksasa yang juga dalam sebagai akibat tabrakan. Dengan demikian tampaklah sub-permukaan atau selubung dari asteroid ini. Permukaan Vesta juga menunjukkan kondisi geologi yang mirip dengan yang ada di planet kebumian seperti Mars dan Bumi.  Sementara  itu, hasil spektroskopi pengamatan landas Bumi mengindikasikan keberadaan area basalt yang menunjukkan pernah ada aliran lava di permukaan asteroid tersebut.  Menarik sekaligus mengejutkan karena ada asteroid yang memiliki interior  cair seperti di Bumi. Ini juga sekaligus menjadi kontradiksi dengan keyakinan umum kalau asteroid merupakan pecahan batuan dingin yang tersisa dari pembentukan planet di masa lalu.</p>
<p>Diperkirakan Vesta merupakan hasil pengelompokan materi-materi kecil yang didalamnya juga terdapat sisa radioaktif yang kemudian menyatu di inti. Radioaktif (isotop Alumunium-26) ini diperkirakan berasal dari ledakan supernova di dekat Tata Surya dan isotop panas tersebut kemudian melebur inti sehingga asteroid ini menjadi lebih berat, memiliki materi yang lebih rapat di pusat dan batuan yang ringan di permukaan. Struktur seperti ini memang umum untuk planet-planet kebumian. Nah, setelah Vesta terbentuk tampaknya batuan yang meleleh itu kemudian mengalir ke permukaan asteroid tersebut.  Diperkirakan proses ini terjadi lebih dari 4 milyar tahun lalu, dan sejak saat itu permukaannya tidak mengalami perubahan kecuali jika terjadi tabrakan meteorit.</p>
<p>Dalam perjalanan hidupnya, Vesta mengalami kehilangan 1% massa dalam tabrakan yang terjadi 1 milyar tahun yang lalu. Saat itu cukup banyak pecahan Vesta yang jatuh ke Bumi sebagai Howardite Eucrite Diogenite (HED) meteorit. HED ini merupakan meteorit yang kaya dengan bukti dan sumber dari batuan asteroid. Di antara tabrakan yang dialami vesta, ada satu atau lebih tabrakan yang tampaknya menyobek sebagian keraknya sehingga tampaklah selubung olivine yang diyakini ada di didalam selubung Bumi.  Tak pelak asteroid Vesta ini menyimpan begitu banyak cerita dari evolusi yang panjang dan kompleks dari Tata Surya.</p>
<p>Karena itu, cobalah malam ini nikmati Vesta di langit malam seandainya cuaca di Indonesia tidak hujan dan berawan.</p>
<p>Clear Sky.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2010/02/17/menikmati-vesta-di-langit-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Puing &#8211; Puing Tabrakan Asteroid</title>
		<link>http://langitselatan.com/2010/02/06/jejak-puing-puing-tabrakan-asteroid/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2010/02/06/jejak-puing-puing-tabrakan-asteroid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 17:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[awan oort]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk kuiper]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=3385</guid>
		<description><![CDATA[Tanda X misterius berhasil dilihat oleh teleskop Hubble. Tanda X ini terbentuk dari debu yang tampaknya merupakan sisa tabrakan dua asteroid.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanda X misterius berhasil dilihat oleh teleskop Hubble. Tanda X ini terbentuk dari debu yang tampaknya merupakan sisa tabrakan dua asteroid. <span id="more-3385"></span>Sejak dahulu area disekitar sabuk asteroid memang sudah diduga merupakan daerah yang diisi oleh berbagai kejadian tabrakan asteroid. Namun tabrakan asteroid itu sendiri belum pernah terlihat. Sampai saat ketika Hubble mengenali jejak tanda X tersebut.</p>
<div id="attachment_3384" class="wp-caption aligncenter" style="width: 504px"><img class="size-full wp-image-3384   " title="leadkomet" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2010/02/leadkomet.jpg" alt="" width="494" height="200" /><p class="wp-caption-text">Asteroid serupa komet P/2010 A2. Kredit :NASA, ESA, &amp; D. Jewitt (University of California, Los Angeles).</p></div>
<p>Asteroid memang tak sebesar planet, namun jangan salah tabrakan antar dua asteroid merupakan tabrakan energetik yang berkekuatan tinggi. Tabrakan yang terjadi memiliki kecepatan rata-rata lebih dari 17702 km per jam atau setidaknya lima kali lebih cepat dari peluru senapan. Tabrakan kedua beda angkasa tersebut tetap saja menimbulkan kehancuran dasyat yang menyisakan serpihan debu.</p>
<p>Lantas asteroid apakah yang mengalami tabrakan itu?</p>
<p><strong>Inti Komet P/2010 A2</strong><br />
Dalam penglihatannya, Hubble berhasil memotret obyek yang mirip komet dan dikenal dengan nama P/2010 A2 yang ternyata ditemukan oleh program survei langit Lincoln Near-Earth Asteroid Research, atau LINEAR pada tanggal 6 Januari.  Dalam citra yang diambil Hubble pada tanggal 25 dan 29 Januari, tampak pola X yang kompleks dari struktur filamen di dekat inti.</p>
<p>Apa yang dilihat Hubble memang agak berbeda dari selubung debu halus yang ada di komet pada umumnya. Filamen yang dilihat Hubble ini terdiri dari debu dan kerikil yang agaknya baru saja terlepas dari inti. Sebagian di antaranya tersapu oleh tekanan radiasi sinar Matahari dan membentuk lintasan debu yang lurus. Di dalam filamen tersebut juga terdapat gumpalan debu yang terbentuk dari bagian yang sangat kecil dari obyek induknya.</p>
<p>Hubble dalam penglihatannya juga menunjukan keberadaan inti P/2010 A2 yang berada di luar halo debunya. Inti tersebut diperkirakan memiliki diameter 460 kaki (0,14km). Yang menarik, kondisi seperti ini tak pernah terlihat sebelumnya pada obyek serupa komet.<br />
<strong><br />
Tabrakan  Asteroid</strong><br />
Pada umumnya, komet berasal dari waduk es di Sabuk Kuiper atau awan Oort akan masuk ke bagian dalam Tata Surya. Saat ia mendekati Matahari, komet akan menjadi hangat dan es di dekat permukaan akan menguap serta melontarkan materi dari inti komet yang padat melalui jet (letupan berkecepatan tinggi).</p>
<p>Namun tampaknya komet P/2010 A2 memiliki asal yang berbeda. Komet tersebut mengorbit pada area yang hangat di bagian dalam  sabuk asteroid yang tetangganya adalah obyek batuan kering yang tidak memiliki materi yang mudah menguap. Dengan demikian, kemungkinan yang muncul untuk dapat menjelaskan ekor puing-puing yang dilihat Hubble berasal dari tabrakan dua benda dan bukan dari es yang menguap dari si komet.</p>
<p>Jika interpretasi ini benar maka yang terjadi adalah ada dua obyek asteroid tak dikenal yang mengalami tabrakan dan menyisakan puing-puing. Puing tersebut kemudian tersapu menjadi ekor yang terlihat di area teradinya tabrakan sebagai akibat dari tekanan sinar Matahari.  Dalam tabrakan ini, into P/2010 A2 bisa jadi merupakan sisa komet yang selamat. Tabrakan ini dikenali sebagai tabrakan berkecepatan hiper.<br />
<strong><br />
Filamen Yang Berbeda</strong><br />
Citra yang diambil Hubble juga menunjukan perbedaan pada penampakan filamen komet P/2010 A2 jika dibandingkan dengan citra komet lainnya yang sudah diambil Hubble. Dan tentunya kondisi ini sesuai untuk kondisi komet yang memiliki proses yang berbeda. Selain itu, asal mula tabrakan juga memiliki kecocokan dengan ketiadaan gas dalam spektrum yang terekam dengan teleskop landas Bumi.</p>
<p>Sabuk asteroid memiliki bukti yang berlimpah dari tabrakan yang terjadi di masa lalu yang sudah menghancurkan obyek awal yang akan membentuk planet menjadi serpihan-serpihan kecil. Dan apa yang terlihat menunjukkan kalau orbit P/2010 A2 juga cocok dengan asteroid yang ada di keluarga asteroid Flora yang terbentuk dari pecahan akibat tabrakan lebih dari 100 juta tahun lalu.</p>
<p>Salah satu pecahan tabrakan di masa lalu itu bahkan diperkirakan sudah menghantam Bumi 65 juta tahun lalu dan memicu terjadinya pemusnahan massal yang menghapus keberadaan dinosaurus di Bumi.</p>
<p>Walaupun ada banyak bukti tabrakan di sabuk asteroid, sampai saat ini belum pernah terlihat secara langsung terjadinya tabrakan antar asteroid.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber : NASA</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2010/02/06/jejak-puing-puing-tabrakan-asteroid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asteroid 2009 VA Melintasi Bumi</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/11/10/asteroid-2009-va-melintasi-bumi/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/11/10/asteroid-2009-va-melintasi-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[nea]]></category>
		<category><![CDATA[neo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2754</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah asteroid baru ditemukan dan dinamai 2009 VA, berukuran hanya 7 meter dan melewati Bumi pada jarak 14000 km dari permukaan Bumi tanggal 6 November 2009.  Asteroid ini merupakan asteroid ketiga terdekat yang diketahui mendekati Bumi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah asteroid baru ditemukan dan dinamai 2009 VA, berukuran hanya 7 meter dan melintasi Bumi pada jarak 14000 km dari permukaan Bumi tanggal 6 November 2009.  Asteroid ini merupakan asteroid ketiga terdekat yang diketahui mendekati Bumi. <span id="more-2754"></span></p>
<div id="attachment_2755" class="wp-caption alignleft" style="width: 309px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/11/2009va_s.gif"><img class="size-full wp-image-2755" title="2009va_s" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/11/2009va_s.gif" alt="Lintasan asteroid 2009 VA yang melewati Bumi 6 November lalu. Kredit : NEO JPL NASA" width="299" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Lintasan asteroid 2009 VA yang melewati Bumi 6 November lalu. Kredit : NEO JPL NASA</p></div>
<p>Dua asteroid lainnya adalah asteroid berukuran 1 meter 2008 TS26, yang melintas permukaan Bumi 6150 km tanggal 9 Oktober 2008 dan asteroid FU162 yang berukuran 7 meter dan melewati Bumi pada jarak 6535 km pada 31 Maret 2004. Secara umum, obyek seukuran 2009 VA akan melintas Bumi pada jarak terdekat sekitar 2 kali setahun dan menghantam Bumi setiap 5 tahun.</p>
<p>Asteroid 2009 VA ditemukan oleh Catalina Sky Survey sekitar 15 jam sebelum ia mendekat dan langsung teridentifikasi oleh Minor Planet center di Cambridge MA sebagai obyek yang akan segera mendekati Bumi. Hasil komputasi orbit yang dilakukan <em>Near-Earth Object Program Office</em> dari JPL menunjukan kalau asteroid ini tidak akan menabrak Bumi. Tapi 13 bulan lalu obyek yang lebih kecil 2008 TC3 ditemukan pada kondisi yang mirip namun dengan lintasan menuju Bumi dan kemungkinan tabrakan hanya dalam waktu 11 jam.</p>
<p>Sedangkan pada tanggal 8 Oktober 2009 jam 10.00 wib, terjadi ledakan bola api yang teramati sekaligus juga terekam di salah satu pulau di Indonesia. Kejadian tersebut tampak di Bone dan diperkirakan sebagai ledakan yang berasal dari asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi dengan diameter 10 meter. Sebagai akibat dari tekanan atmosfer, obyek tersebut meledak di atmosfer dengan kekuatan sekitar 50 kilo ton (setara dengan ledakan 110 juta pon TNT).  Kejadian ledakan bola api dengan magnitud seperti di Bone diperkirakan bisa terjadi satu kali dalam 2 &#8211; 12 tahun.</p>
<p>Secara umum, asteroid batuan tidak akan mengakibatkan kerusakan di permukaan Bumi kecuali diameternya sekitar 25 meter atau lebih.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber : Near Earth Object Program, NASA JPL</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/11/10/asteroid-2009-va-melintasi-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asteroid Pallas Ternyata Cikal Bakal Planet</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/10/15/asteroid-pallas-ternyata-cikal-bakal-planet/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/10/15/asteroid-pallas-ternyata-cikal-bakal-planet/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 11:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[Pallas]]></category>
		<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2643</guid>
		<description><![CDATA[Apakah Pallas - asteroid kedua terbesar yang ada di Tata Surya merupakan obyek di antara asteroid dan planet kecil atau dengan kata lain cikal bakal planet?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah Pallas &#8211; asteroid kedua terbesar yang ada di Tata Surya merupakan obyek di antara asteroid dan planet kecil atau dengan kata lain cikal bakal planet?<span id="more-2643"></span></p>
<div id="attachment_2645" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/Pallas.jpg"><img class="size-full wp-image-2645" title="Pallas" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/Pallas.jpg" alt="Asteroid Pallas. Kredit : Hubble" width="250" height="188" /></a><p class="wp-caption-text">Asteroid Pallas. Kredit : Hubble</p></div>
<p>Pertanyaan inilah yang coba diungkap oleh Britney E Schmidt mahasiswa program  Doktoral di <em>Department of Earth and Space Sciences</em>, UCLA dalam penelitiannya menggunakan citra asteroid Pallas yang dipotret Teleskop Hubble.</p>
<p>Jawabannya? Pallas, &#8211; seperti halnya Ceres dan Vesta merupakan obyek langka- adalah sebuah protoplanet.</p>
<p>Hasil ini memberi perspektif baru pada Pallas, obyek yang memang sangat menarik sekaligus yang baru pertama kali benar-benar diamati pada resolusi tinggi. Dari hasil citra resolusi tinggi yang diambil Hubble, diyakini Pallas sama sekali belum tersentuh sejak pembentukannya yang terjadi dalam beberapa juta tahun sejak Tata Surya terbentuk.</p>
<p>Diharapkan dengan meneliti Pallas, dapat diketahui juga bagaimana pembentukan Tata Surya. Bagaimanapun Pallas bukan sekedar penyusun planet. Ia adalah sumber informasi dan catatan yang tersimpan rapi dalam batuan seiring perjalanan waktu. Dan informasi inilah yang bisa digunakan untuk mempelajari pembentukan planet di Tata Surya.</p>
<p>Nama Dewi Yunani Pallas Athena inilah yang diberikan pada asteroid yang berada di sabuk utama asteroid di antara Jupiter dan Mars. Obyek masif tersebut cukup unik karea orbitnya berbeda dari asteroid lainnya dan memiliki sudut kemiringan  cukup tinggi.  Banyak hal menarik yang akan dipelajari melalui citra yang diberikan Hubble seperti, bagaimana bentuknya, bagaimana kondisi permukaannya, apakah ia memiliki kawah besar akibat tabrakan, atau apakah Pallas memiliki topografi yang khusus.</p>
<p>Dengan citra yang dihasilkan Hubble, Schmidt dan rekan-rekannya dapat melakukan perhitungan untuk mengetahui ukuran dan bentuk si asteroid. Terungkap juga kalau permukaan Pallas memiliki area gelap dan terang yang mengindikasikan obyek dengan kelimpahan air itu telah melalui perubahan internal seperti yang dialami planet pada umumnya.</p>
<p>Pallas ternyata bukan sekedar batuan besar yang terbentuk dari silikat hidrat dan es.</p>
<p>Kondisi ini menyebabkan Pallas lebih tampak sebagai planet. Keragaman warna dan bentuknya yang lingkaran memberikan indikasi kalau Pallas mungkin sebuah planet. Tapi muncul lagi pertanyaan lain. Apakah Pallas merupakan obyek dinamik atau ia memang sudah seperti itu sejak terbentuk? Menurut Schmidt, Pallas memiliki kemungkinan sebagai obyek dinamik.</p>
<p>Untuk pertama kalinya tampak kalau Pallas memiliki situs akibat tabrakan, meskipun Schmidt dan kawan-kawannya masih belum bisa menentukan apakah itu adalah kawah. Bagiannya yang lebih dangkal menunjukan ada sesuatu yang lain, yang mungkin justru memperlihatkan kalau Pallas memiliki keluarga kecil yang mengorbit di angkasa.</p>
<p>Saat ini tak banyak asteroid yang besar yang belum berubah sejak terbentuk yang tersisa. Ada memang beberapa namun rata-rata sudah hancur. Jadi keberadaan Pallas merupakan salah satu kunci untuk mencari tahu apa yang ada di balik permukaannya, sekaligus untuk menjawab pertanyaan bagaimana mungkin Pallas memiliki keluarga.</p>
<p>Ketika manusia berpikir tentang asteroid, mereka biasanya berpikir tentang batuan kecil mungil yang melayang di angkasa. Namun di antara asteroid tersebut, ada yang sangat dinamis secara fisik. Bahkan diperkirakan sekitar 5 juta tahun setelah Tata Surya terbentuk, Pallas mengalami dan melakukan sesuatu yang menarik. Apakah itu, tampaknya masih pelru penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan jawabannya.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber : UCLA Newsroom</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/10/15/asteroid-pallas-ternyata-cikal-bakal-planet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalkulasi Ulang Jejak Asteroid Apophis</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/10/11/kalkulasi-ulang-jejak-asteroid-apophis/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/10/11/kalkulasi-ulang-jejak-asteroid-apophis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 05:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[apophis]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2579</guid>
		<description><![CDATA[Menggunakan data terbaru yang didapat, para peneliti NASA menghitung ulang jejak sebuah asteroid besar yang selama ini diperkirakan akan memberi dampak berbahaya pada Bumi saat keduanya bertemu dalam jarak yang cukup dekat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menggunakan data terbaru yang didapat, para peneliti NASA menghitung ulang jejak sebuah asteroid besar yang selama ini diperkirakan akan memberi dampak berbahaya pada Bumi saat keduanya bertemu dalam jarak yang cukup dekat.<span id="more-2579"></span></p>
<div id="attachment_2581" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/apophis.jpg"><img class="size-full wp-image-2581" title="apophis" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/apophis.jpg" alt="Asteroid 99942 Apophis yang diperkirakan membahayakan Bumi. Kredit : NASA" width="200" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Asteroid 99942 Apophis yang diperkirakan membahayakan Bumi. Kredit : NASA</p></div>
<p>Asteroid itu adalah 99942 Apophis, salah satu <a href="http://langitselatan.com/2008/10/06/nea-yang-konon-katanya-mengancam-kehidupan-di-bumi/" target="_blank">Asteroid Dekat Bumi (Near Earth Asteroid / NEA)</a> yang diperhitungkan akan <a href="http://langitselatan.com/2008/04/17/nasa-mengungkap-nasib-apophis-dan-bumi/" target="_blank">bertemu Bumi pada tahun 2036</a>. Dalam perhitungan ulang, jejak Apophis menunjukkan penurunan kemungkinan dampak bahaya tersebut. Atau dengan kata lain kemungkinan terjadinya tabrakan saat Apophis mengalami pertemuan terdekat dengan Bumi semakin kecil.</p>
<p>Asteroid Apophis yang memiliki ukuran sekitar dua kali lapangan bola tersebut pada tahun 2004 diperkirakan akan memiliki kemungkinan tabrakan saat pertemuan dengan Bumi di tahun 2036 pada kisaran 1 : 45000.  Dalam kalkulasi berdasarkan data terbaru yang dikumpulkan Steve Chesley  dan Paul Chodas dari NASA <em>Jet Propulsion Laboratory</em> di Pasadena, Calif, kemungkinan terjadinya bahaya tabrakan pada Bumi turun dari 1: 45000 menjadi 1: 250000.</p>
<p>Data Apophis sebagian besar datang dari hasil pengamatan Dave Tholen dan kolaboratornya di <em>University of Hawaii’s Institute of Astronomy</em> di Manoa. Tholen melakukan pengamatan menggunakan teleskop 88 inch milik <em>University of Hawaii</em> yang terletak tak jauh dari puncak Mauna Kea.</p>
<p>Dalam pekerjaannya, Tholen melakukan perbaikan pengukuran dalam hal posisi asteroid yang ada di citra dan memberikan set data yang lebih presisi bagi perhitungan yang dilakukan Chesley dan Chodas. Selain data dari Tholen, data lainnya datang dari hasil pengamatan dengan menggunakan teleskop Bok 90 inch milik <em>Steward Observatory</em> di Kitt Peak, Arizona dan <em>Arecibo Observatory</em> di Puerto Rico.</p>
<p>Informasi yang tersedia ini menjadi penting karena bisa memberikan secercah cahaya akan orbit Apophis dan kaitannya dengan Bumi di abad ini. Apophis memang merupakan asteroid dekat Bumi yang terus dipantau pergerakannya. Bahka kalkulasi sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran bagi warga dunia.</p>
<p>Dalam perhitungan yang dilakukan, ditemukan juga pertemuan terdekat lainnya antara Apophis dengan Bumi di tahun 2068. Pada pertemuan tersebut, kemungkinan tabrakan yang bisa terjadi adalah 3: 1 000 000. Namun sebelum tahun 2068, ada 2 kali pertemuan antara Bumi dan Apophis yakni pada tahun 2029 dan 2036. Kedua pertemuan ini tentunya akan memberi implikasi pada jejak asteroid Apophis. Karena itu dibutuhkan data tambahan untuk dapat memperkirakan pertemuan di tahun 2068, dan diperkirakan ada penurunan dalam kemungkinan pertemuan keduanya.</p>
<p>Asteroid Apophis pada awalnya diperkirakan memiliki kemungkinan tabrakan dengan Bumi sekitar 2,7 % pada tahun 2029. Pengamatan lanjutan yang dilakukan menunjukkan kalau tabrakan itu tidak akan terjadi meskipun pada 13 April 2029, Apophis akan mendekati Bumi pada jarak 29450,99 km.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber : NASA</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/10/11/kalkulasi-ulang-jejak-asteroid-apophis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ditemukan Es di Asteroid!</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/10/11/ditemukan-es-di-asteroid/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/10/11/ditemukan-es-di-asteroid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 03:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2575</guid>
		<description><![CDATA[Pada pertemuan tahunan Divisi Planetary Sciences – American Astronomical Society tanggal 7 Oktober lalu, untuk pertama kalinya para astronom mengumumkan adanya penemuan sebuah asteroid yang mengandung air beku (es) di permukaannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada pertemuan tahunan Divisi Planetary Sciences – American Astronomical Society tanggal 7 Oktober lalu, untuk pertama kalinya para astronom mengumumkan adanya penemuan sebuah asteroid yang mengandung air beku (es) di permukaannya.<span id="more-2575"></span></p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_2576" class="wp-caption aligncenter" style="width: 566px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/leadasteroid.jpg"><img class="size-full wp-image-2576 " title="leadasteroid" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/leadasteroid.jpg" alt="Ilustrasi Sabuk Asteroid. Kredit: NASA" width="556" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi Sabuk Asteroid. Kredit: NASA</p></div>
<p><strong>Ternyata  Ada Lebih Banyak Es di ‘Luar Sana’</strong><br />
Analisa dari asteroid 24-Themis menunjukkan adanya bukti kandungan es serta senyawa organik yang tersebar luas di permukaan asteroid tersebut. Para ilmuwan mengatakan bahwa penemuan baru ini mendukung teori yang menyatakan bahwa asteroid membawa air dan senyawa organik untuk Bumi dalam keadaan awal, sehingga mendukung dalam menyediakan dasar-dasar pembentuk kehidupan bagi Bumi.</p>
<p>Berdasarkan reportase Rob Cowen dari Science News, Humberto Campins beserta koleganya  dari University of Central Florida di Orlando mencatat spektra dari asteroid 24-Themis dalam periode lebih dari 7 jam dan dapat mempelajari 84% dari periode rotasi spin-nya. Dengan menggunakan fasilitas Teleskop Inframerah milik NASA di Mauna Kea, Hawaii, dari penglihatan berbagai bagian permukaan asteroid tersebut spektra yang didapat menunjukkan adanya keberadaan es yang konsisten. Analisa dari cahaya Matahari yang dipantulkan asteroid tersebut juga menunjukkan bahwa kandungan senyawa organik, termasuk hidrokarbon aromatik polisiklik, CH2 dan CH3,  tersebar luas di permukaannya, tambah Campins.</p>
<p>Penemuan baru ini menguatkan observasi sebelumnya dari asteroid yang sama oleh dua orang astronom, Andrew S. Rivkin dari Laboratorium Fisika Terapan Universitas John Hopkins dan Joshua Emery dari Universitas Tennessee, yang juga menggunakan Fasilitas Teleskop Inframerah. Selama beberapa tahun, Rivkin dan Emery telah menemukan bukti adanya es pada suatu daerah di permukaan 24-Themis, tetapi tidak mempelajari asteroid tersebut lengkap dengan satu kali periode rotasinya. Penemuan kedua tim peneliti ini menunjukkan bahwa keseluruhan permukaan asteroid terselimuti oleh es.</p>
<p>Asteroid yang memiliki diameter rata-rata 160 km ini jarak rata-ratanya 3.2 kali dari jarak Bumi-Matahari. Menurut Campins pada jarak ini es  di permukaannya bisa menguap dengan mudahnya. Ini berarti, es di permukaannya terus-menerus terbarui, mungkin dari kandungan es di dalam batuannya.</p>
<p>Satu kemungkinan adalah terdapatnya es yang terkubur beberapa meter dibawah permukaan 24-Themis ini, dan ketika terhantam oleh puing-puing luar angkasa, es ini keluar ke permukaannya. Jika memang hal ini benar, maka dapat dikatakan bahwa terdapat sebagian asteroid yang menyerupai komet, yang dapat menjadi aktif tiba-tiba dan mengeluarkan materi ke luar angkasa ketika kandungan es-nya menguap terkena angin Matahari, tambah Campins.</p>
<p>Pilihan lainnya adalah suatu aksi yang mirip dengan penemuan air di Bulan baru-baru ini, ketika angin Matahari berinteraksi dengan benda batuan tanpa atmosfer untuk menghasilkan molekul H2O dan OH. Tanpa adanya atmosfer, benda ini akan terekspos kepada angin Matahari yang mengandung ion-ion hidrogen. Hidrogen dapat berinteraksi dengan oksigen di permukaan asteroid untuk menghasilkan molekul-molekul air.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber : Science News, Universe Today</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/10/11/ditemukan-es-di-asteroid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setengah Asteroid Setengah Komet, Apakah itu?</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/08/07/setengah-asteroid-setengah-komet-apakah-itu/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/08/07/setengah-asteroid-setengah-komet-apakah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 05:22:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[komet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1957</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah benda misterius yang melepaskan debu seperti sebuah komet namun memiliki orbit layaknya asteroid bisa jadi merupakan sebuah kelas klasifikasi baru di dalam Tata Surya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah benda misterius yang melepaskan debu seperti sebuah komet namun memiliki orbit layaknya asteroid bisa jadi merupakan sebuah kelas klasifikasi baru di dalam Tata Surya. <span id="more-1957"></span></p>
<p>Tahun 1996, astronom mengidentifikasi sebuah benda luar biasa yang mengorbit Matahari. Benda ini berada di antara Mars dan Jupiter, area yang dikenal memiliki sabuk asteroid. Saat ini, si benda yang diberi nama 133P ternyata memiliki deskripsi berikut : orbitnya merupakan orbit asteroid namun ia memancarkan debu seperti komet.</p>
<div id="attachment_1960" class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/mbc-panels1.jpg"><img class="size-full wp-image-1960" title="mbc-panels" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/mbc-panels1.jpg" alt="Foto-foto MBC yang sudah diketahui. Kredit : Henry Hsieh" width="400" height="421" /></a><p class="wp-caption-text">Foto-foto MBC yang sudah diketahui. Kredit : Henry Hsieh</p></div>
<p>Menarik kan? Benda ini bukanlah benda yang bisa ditemukan setiap saat. Ia merupakan obyek yang sangat jarang dan mungkin juga langka. Setelah pengamatan berabad-abad belum pernah ditemukan benda lain di sabuk asteroid yang memiliki kemampuan melepaskan gas dan debu layaknya komet.</p>
<p>Pertanyaannya, bagaimana objek ini ada disana? Menurut Henry Hsieh dari Queen University, Belfast, Irlandia Utara, hanya ada dua penjelasan untuk kejadian ini.  Yang pertama, 133P merupakan komet yang terperangkap dalam orbit serupa asteroid. jika demikian, butuh kombinasi yang besar dan juga tak biasa dari tolakan gravitasi dari planet saat komet ini melintas masuk di Tata Surya dari Sabuk Kuiper ataupun dari Awan Oort.</p>
<p>Bahkan menurut Henry Hsieh, ini adalah kejadian langka yang mungkin hanya terjadi sekali. Sehingga bisa dikatakan tak akan ada lagi kesempatan untuk melihat komet lain dalam orbit seperti ini.</p>
<p>Penjelasan kedua yang bisa diberikan, 133P merupakan asteroid yang memiliki bagian terbentuk dari es dan es tersebut kemudian sedang dilepaskan. Pelepasan es ini bisa disebabkan tabrakan dengan asteroid lain. Jika memang 133P merupakan asteroid, maka tentunya masih ada asteroid sejenis yang terbentuk dari es dan juga tengah melepaskan debunya. Dengan demikian kita bisa menemukan lebih banyak lagi objek yang serupa.</p>
<p>Dari 657 pengamatan terhadap 599 asteroid di sabuk asteroid Henr Hsieh berhasil menemukan objek serupa lainnya yang disebut 176P/LINEAR yang memancarkan debu.</p>
<p>Dan tampaknya misteri atas objek ini bisa dipecahkan. Tampaknya kemungkinan komet yang terperangkap bisa ditiadakan. Keduanya merupakan kelas baru dalam klasifikasi di Tata Surya yakni asteroid mirip komet yang sebagian komponen pembentuknya adalah es. Dan es tersebut akan terlepas saat objek tersebut mengalami tabrakan.</p>
<p>Menarik bukan? sebuah kelas baru yang mengisi klasifikasi asteroid. Nah apakah sebutannya? Komsteroids? Asteromets? atau Hsiehroids?</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.technologyreview.com/blog/arxiv/23942/" target="_blank">Technology Review</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/08/07/setengah-asteroid-setengah-komet-apakah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penemuan Asteroid yang Berpotensi Membahayakan Bumi</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/02/12/penemuan-asteroid-yang-berpotensi-membahayakan-bumi/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/02/12/penemuan-asteroid-yang-berpotensi-membahayakan-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 04:26:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fathonah Rahayu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1213</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah asteroid yang digolongkan berbahaya bagi bumi telah ditemukan. Robert Holmes, seorang astronom dari <em>Astronomical Research Institute</em> menemukan asteroid ini ketika melakukan pengamatan sebuah asteroid lain pada 31 Januari 2009. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah asteroid yang digolongkan berbahaya bagi bumi (<em>Potentially Hazardous Asteroid</em>/PHA) telah ditemukan. Robert Holmes, seorang astronom dari <em>Astronomical Research Institute</em> menemukan asteroid ini ketika melakukan pengamatan sebuah asteroid lain pada 31 Januari 2009. Pada saat itu Holmes sedang melakukan pengamatan lanjutan asteroid 2008 EV5. Holmes sendiri aktif mengoperasikan teleskopnya di Astronomical Research Institute, yang merupakan bagian dari program <em>NASA&#8217;s Near Earth Observation dan</em> proyek <em>Killer Asteroid</em>. Hanya dalam beberapa tahun, Holmes telah menemukan 250 asteroid, 6 Supernova, dan 1 komet. Selain itu dia juga memproduksi foto astronomi untuk kepentingan pendidikan dan keperluan publik.<span id="more-1213"></span></p>
<p align="center"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:540px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/2008ev5_movie.gif" alt="Citra area penemuan PHA 2009 BD81 (kiri). PHA 2008 EV5 di sebelah kanannya. Kredit : Robert Holmes" title="2008ev5_movie" width="540" height="230"  /><br style="clear:both" /><span>Citra area penemuan PHA 2009 BD81 (kiri). PHA 2008 EV5 di sebelah kanannya. Kredit : Robert Holmes</span></div></p>
<p>Beberapa jam setelahnya seorang guru dari <em>Ranger High School Texas</em> dan murid dari Bulgarian Academy of Science, K. Dankov, juga mengidentifikasi adanya asteroid ini. Penemuan objek yang juga tergolong sebagai NEO (Near Earth Object) ini juga telah dikonfirmasi oleh <em>Silver Spring Observatory, Sandlot Observatory</em>, dan <em>Magdalena Ridge Observatory</em>. Objek ini diduga sebagai objek yang memiliki kemungkinan menumbuk bumi setelah tahun 2042. Asteroid ini juga telah dimasukkan dalam daftar objek yang beresiko di website NASA/JPL dan sampai saat ini telah terdaftar 1015 PHA termasuk asteroid ini.</p>
<p align="center"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:540px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/2009bd81_orb_movie.gif" alt="Peta yang dibuat Holmes untuk menunjukan jejak 2009 BD81. Kredit : Robert Holmes" title="2009bd81_orb_movie" width="540" height="309" /><br style="clear:both" /><span>Peta yang dibuat Holmes untuk menunjukan jejak 2009 BD81. Kredit : Robert Holmes</span></div></p>
<p>Asteroid yang dinamakan 2009 BD81 ini akan mendekati bumi pada 27 Februari 2009 dan berada pada jarak tujuh juta km dari bumi. Pada tahun 2042 diperkirakan asteroid ini akan berada pada jarak 31.800 km dari bumi dan akan semakin mendekat pada tahun 2046. Data dari NASA/JPL menunjukkan 2009 BD81 termasuk asteroid berukuran kecil dengan diameter 0.314 km dan memiliki 10 kemungkinan tumbukan yang beresiko dalam kurun waktu 100 tahun dimulai dari tahun 2042. Akan tetapi Holmes juga menyatakan kemungkinan asteroid ini menumbuk bumi dalam rentang waktu 33 tahun ke depan sangat kecil. Pengamatan lebih lanjut sangat diperlukan agar pengetahuan tentang orbit asteroid ini dapat ditentukan dengan tepat.  </p>
<p align="left"><h7>Sumber : <a href="http://www.universetoday.com/2009/02/07/new-potentially-hazardous-asteroid-discovered/" target="_blank">Universe Today</a>, <a href="http://killerasteroidproject.org/" target="_blank">Killer Asteroid Project</a>.</h7></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/02/12/penemuan-asteroid-yang-berpotensi-membahayakan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Baru Mengukur Asteroid Kecil dan Jauh</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/02/06/teknik-baru-mengukur-asteroid-kecil-dan-jauh/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/02/06/teknik-baru-mengukur-asteroid-kecil-dan-jauh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 06:56:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[VLT]]></category>
		<category><![CDATA[VLTI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[Tim astronom dari Perancis dan Italia membangun metode baru untuk mengetahui ukuran dan bentuk asteroid yang sangat kecil atau yang sangat jauh untuk dapat diukur dengan teknik tradisional. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_left" style="width:340px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/phot-04a-09-fullres.jpg" alt="Impresi artis untuk asteroid Barbara. kredit : ESO" title="phot-04a-09-fullres" width="340" height="227" align="left"/><br style="clear:both" /><span>Impresi artis untuk asteroid Barbara. kredit : ESO</span></div></p>
<p>Tim astronom dari Perancis dan Italia membangun metode baru untuk mengetahui ukuran dan bentuk asteroid yang sangat kecil atau yang sangat jauh untuk dapat diukur dengan teknik tradisional. Dengan demikian akan semakin banyak asteroid yang bisa diketahui. Metode ini menggunakan kemampuan Very Large Telescope Interferometer (VLTI) milik NASA<span id="more-1194"></span></p>
<p>Pengetahuan akan bentuk dan ukuran asteroid sangat penting untuk dapat memahami kondisi awal Tata Surya. Informasi yang didapat penting untuk memahami bagaimana debu dan batu-batu kecil dapat menyatu membentuk obyek yang lebih besar dan bagaimana tabrakan-tabrakan yang terjadi menyatukan dan mengubah bentu obyek-obyek tersebut.</p>
<p>Pencitraan langsung dengan optik pada teleskop landas Bumi terbesar seperti Very Large Telescope (VLT) di Chile,  teleskop landas angkasa atau pengukuran merupakan metode ang sering digunakan dalam pengukuran asteroid.  Sayangnya, pencitraan langsung degan adaptive optik masih terbatas hanya untuk 100 asteroid terbesar di sabuk utama. Di sisi lain, pengukura radar lbih terkonsentrasi pada pengamatan asteroid dekat Bumi yang mengalami pertemuan terdekat degan planet kita ini. </p>
<p>Marco Delbo dari Observatoire de la Côte d&#8217;Azur, Perancis, memimpin studi untuk menemukan metode baru yang menggunakan interferometri untuk mengukur asteroid kecil dengan diameter sekitar 15 km di sabuk asteroid, yang jauhnya 200 juta km.  Bisa dikatakan kemampuan ini sama dengan mengukur ukuran bola tenis dari jarak ribuan kilometer. Teknik baru ini tidak sekedar menambah jumlah asteroid yang bisa diukur dan namun yang lebih penting lagi para peneliti akan bisa mengenal asteroid kecil yang secara fisik sangat berbeda dari asteroid besar yang sudah dikenal.</p>
<p>Pengukuran dengan teknik interferometrik mengkombinasi cahaya dari dua teleskop atau lebih. Dalam metode baru ini, para astronom menggunakan VLTI milik ESO dan mengkombinasikan 2 unit teleskop 8.2 meter VLT. Teknik ini memberi kemampuan penglihatan yang lebih tajam dengan kemampuan teleskop berdiameter sama dengan separasi antara kedua unit teleskop, yakni 47 meter. </p>
<p>Teknik ini kemudian diterapkan pada (234) Barbara di sabuk utama asteroid, yang memiliki  parameter yang tidak biasa. Walaupun letaknya sangat jauh, observasi yang dilakukan VLTI  berhasil mengungkap bentuk unik asteroid tersebut. Model yang sesuai, asteroid ini terbentuk dari dua buah objek dengan ukuran 37 dan 21 km yang terpisah pada jarak 24 km. Kedua bagian objek ini tampaknya saling tersusun seperti kacang raksasa atau bisa jadi keduanya adalah objek berbeda yang saling mengorbit.</p>
<p>Jika Barbara pada akhirnya terbukti sebagai asteroid ganda, maka dengan mengkombinasi pegukuran diameter dengan parameter orbit yang ada, astronom dapat mengukur kerapatan objek tersebut. </p>
<p>Keberhasilan membuktikan kemampuan teknik yang baru ini memberi ksempatan pada tim ini untuk memulai kampanye studi asteroid kecil.</p>
<p align="left">Sumber : <a href="http://www.eso.org/public/outreach/press-rel/pr-2009/pr-04-09.html" target="_blank">ESO</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/02/06/teknik-baru-mengukur-asteroid-kecil-dan-jauh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sabuk Asteroid di Saudara Kembar Tata Surya</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/10/28/sabuk-asteroid-di-saudara-kembar-tata-surya/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/10/28/sabuk-asteroid-di-saudara-kembar-tata-surya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 04:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[epsilon eridani]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk asteroid]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk kuiper]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=866</guid>
		<description><![CDATA[Astronom baru saja menemukan saudara kembar Tata Surya yang usianya jauh lebih muda. Saudara kembar itu adalah sistem keplanetan di bintang pada jarak 10.5 tahun cahaya di rasi Eridanus.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_left" style="width:225px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/10/epser.jpg" alt="Impresi dari sistem Epsilon Eridani diserta planet dan sabuk asteroidnya. Kredit : NASA/JPL-Caltech " width="225" height="120" align="left" /><br style="clear:both" /><span>Impresi dari sistem Epsilon Eridani diserta planet dan sabuk asteroidnya. Kredit : NASA/JPL-Caltech </span></div></p>
<p>Astronom baru saja menemukan saudara kembar Tata Surya yang usianya jauh lebih muda. Saudara kembar itu adalah sistem keplanetan di bintang pada jarak 10.5 tahun cahaya di rasi Eridanus. Ia adalah bintang dekat yang bisa dilihat dengan mata bugil. Epsilon Eridani sendiri masih sangat muda sekitar 850 juta tahun dan memiliki level aktivitas magnetik yang sangat tinggi dan angin bintangnya juga 30 kali lebih kuat,<span id="more-866"></span></p>
<p>Tahun 2000 ditemukan planet yang mengitari bintang ini dengan periode orbit 2502 hari dan berada pada jarak 3,4 SA dari sang bintang. Tahun ini para astronom menemukan keberadaan dua buah sabuk asteroid dan cincin es di bagian terluar, sehingga membuatnya terlihat sebagai sistem dengan cincin triple.</p>
<p>Sabuk dalam asteroid merupakan kembar virtual dari sabuk asteroid yang ada di Tata Surya, sementara sabuk luar asteroid memiliki materi materi 20 kali lebih banyak Keberadaan ketiga cincin materi ini berimplikasi bahwa planet yang tidak teramati itu menyembunyikan dan membentuk asteroid yang ada.</p>
<p>Saat ini Epsilon Eridani dan sistem keplanetan di dalamnya menunjukan kemiripan dengan Tata Surya saat seumuran dengan Epsilon Eridani. Sistem ini seperti sebuah perjalanan waktu kembali ke masa lalu Tata Surya saat ia masih muda. Tidak hanya itu, diperkirakan sistem tersebut sangat mirip dengan Tata Surya saat kehidupan pertama kali mengambil bentuk di Bumi.</p>
<p style="text-align: center;"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:500px;"><img title="epsilon-eridani" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/10/epsilon-eridani.jpg" alt="Perbandingan sistem Epsilon Eridani dan tata Surya. Kredit : NASA/JPL-Caltech " width="500" height="400" /><br style="clear:both" /><span>Perbandingan sistem Epsilon Eridani dan tata Surya. Kredit : NASA/JPL-Caltech </span></div></p>
<p>Sabuk asteroid di Tata Surya yang membentang di antara Mars dan Jupiter, pada jarak 3 SA dari Matahari memiliki massa total 1/20 massa Bulan. Sabuk asteroid di Epsilon Eridani yang ditemukan oleh Teleskop Spitzer milik NASA juga berada pada jarak 3 SA dari bintang induknya. Sabuk asteroid kedua di Epsilon Eridani ditemukan berada pada jarak 20 SA (lokasi dimana Uranus berada), dengan massa sebanding dengan massa Bumi.</p>
<p>Cincin ketiga yang berupa materi es membentang pada jarak 35 &#8211; 100 SA dari Epsilon Eridani. Waduk es yang mirip dnegan itu juga ada di Tata Surya yakni pada jarak yang kurang lebih sama dan kita kenal sebagai Sabuk Kuiper. Cincin es yang baru ditemukan di sistem bintang tetangga ini juga mengandung materi 100 kali lebih banyak dari Sabuk Kuiper.</p>
<p>Saat Matahari masih berusia 850 juta tahun, kalkulasi teori menunjukan Sabuk Kuiper memang tampak sama seperti yang ditemukan di Epsilon Eridani. Sejak saat itu materi di Sabuk Kuiper mengalami penyapuan keluar dari sistem ataupun masuk ke dalam planet dalam saat terjadinya tabrakan besar-besaran atau yang dikenal dengan Late Heavy Bombardment. Bisa jadi di masa depan Epsilon Eridani juga akan mengalami pembersihan dramatik yang sama seperti Tata Surya.</p>
<p>Epsilon Eridani memang memiliki kemiripan dengan Tata Surya saat muda, karena itu bisa jadi di masa depan ia akan memiliki evolusi yang juga mirip dengan evolusi Tata Surya.</p>
<p>Data Spitzer juga menunjukan adanya gap antara ketiga cincin di sekeliling Epsilon Eridani tersebut. Gap yang ada bisa dijelaskan dengan keberadaan planet yang secara gravitasi membentuk cincin tersebut, sama seperti yang terjadi di Saturnus.</p>
<p>Jika ada 3 buah planet dengan massa antara Neptunus dan Jupiter mengisi gap tersebut maka ini akan memberi sebuah pembuktian lebih lanjutan akan kemiripan Tata Surya deng Epsilon Eridani. Nah seperti yang diketahui saat ini Epsilon Eridani memiliki sebuah planet yang berada pada jarak 3.4 SA dan mengitari bintang induknya dengan orbit yang sangat eksentrik dengan eksentrisitas 0.7. Temuan terbaru ini membuang kemungkinan orbit seperti itu, karena tentunya planet sudah membensihkan sabuk dalam asteroid jauh-jauh hari melalui gangguan gravitasi. Planet kedua pastinya tengah bersembunyi dekat dengan sabuk luar asteroid, dan planet ketiga bisa jadi berada pada jarak sekitar 35 SA dekat dengan tepi dalam Sabuk Kuiper di Epsilon Eridani.</p>
<p>Studi dan pengamatan lanjutan diharapkan dapat mengungkap dunia yang saat ini masih tersembunyi itu termasuk juga menemukan planet terrestrial yang berada di sebelah dalam sabuk asteroid tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Sumber: <a href="http://www.cfa.harvard.edu/press/2008/pr200822.html" target="_blank">CfA Press Release</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/10/28/sabuk-asteroid-di-saudara-kembar-tata-surya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
