<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>langitselatan.com &#187; Kalender</title>
	<atom:link href="http://langitselatan.com/category/astronomi-praktis/sistem-kalender/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://langitselatan.com</link>
	<description>media astronomi indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 23:25:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal 1430 H</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/08/20/penentuan-awal-ramadhan-dan-syawal-1430-h/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/08/20/penentuan-awal-ramadhan-dan-syawal-1430-h/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 03:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[hijriyah]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[hisab]]></category>
		<category><![CDATA[idul fitri]]></category>
		<category><![CDATA[kalender islam]]></category>
		<category><![CDATA[rukyat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2069</guid>
		<description><![CDATA[Penentuan awal masa shaum dan Idul Fitri biasanya ditentukan oleh pengamatan Hilal, sabit Bulan tipis yang nampak oleh mata bugil pada langit senja di kaki langit Barat sesaat setelah Bulan melewati fase konjungsi atau dalam bahasa arab dikenal sebagai Ijtimak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/hilal.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-2071" style="margin: 10px;" title="hilal" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/hilal.jpg" alt="hilal" width="200" height="150" /></a>Penentuan awal masa shaum dan Idul Fitri biasanya ditentukan oleh pengamatan <a href="http://langitselatan.com/2007/10/06/mengenal-hilal/" target="_blank">Hilal</a>, sabit Bulan tipis yang nampak oleh mata bugil pada langit senja di kaki langit Barat sesaat setelah Bulan melewati fase konjungsi atau dalam bahasa arab dikenal sebagai Ijtimak. Pada fase ini Bulan tidak dapat terlihat dari Bumi karena permukaan yang nampak dari bumi tidak mendapat sinar Matahari atau yang juga kita kenal sebagai fasa Bulan Baru.   Acuan Visibilitas hilal ini memberi implikasi perbedaan setiap <a href="http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/" target="_blank">bulan islam</a> bisa terdiri dari 29 hari atau 30 hari.<span id="more-2069"></span>Untuk mengamati penampakan Hilal di penghujung senja di ufuq Barat, ada beberapa kaidah yang sebaiknya diketahui secara umum, yakni:</p>
<ol>
<li> Langit cerah atau cukup cerah  berawan tipis</li>
<li> Waktu pengamatan telah melewati waktu konjungsi/ijtimak</li>
<li> Waktu penampakan hilal umumnya dalam senja nautika  (jarak zenith Matahari sekitar  95 atau 96 derajat)</li>
<li> Pada saat Matahari terbenam dan bahkan Matahari mencapai jarak zenith sekitar  95 atau 96 derajat posisi Bulan masih harus di atas ufuq . Penampakan hilal umumnya dalam langit senja nautika ketika kedudukan Matahari  mencapai  5 atau 6 derajat di bawah ufuq atau di bawah horizon Barat. Senja nautika diantara senja sipil dan senja astronomi..</li>
<li> Ukuran luas sabit Bulan sedemikian rupa sehingga bisa cukup terang dan mudah dideteksi oleh mata bugil manusia.</li>
</ol>
<p>Dalam penentuan awal Bulan Ramadhan,  Syawal dan Dzulhijjah, Indonesia menganut sistem Hisab Rukyat. Hisab merupakan sistem penentuan dengan melakukan perhitungan matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan untuk mengetahui dimulainya awal bulan dan Rukyat merupakan penentuan yang dilakukan dengan mengamati visibilitas hilal.  Pengamatan yang dilakukan bisa menggunakan teleskop ataupun mata bugil setelah matahari terbenam. Hal ini dikarenakan ukurannya yang sangat tipis dan intensitas cahaya hilal yang jauh lebih redup dari Matahari. Jika hilal bisa terlihat, maka itulah awal bulan baru. Seandainya tidak, awal bulan baru dapat ditetapkan untuk mulai keesokan harinya.</p>
<p><strong>Awal Ramadhan 1430 H</strong><br />
Konjungsi Matahari-Bumi -Bulan akan terjadi pada hari Kamis, 20 Agustus 2009 pukul 17:01 wib. Kedudukan B Kedudukan Bulan pada saat Matahari terbenam pada tanggal 20 Agustus 2009, sekitar 1 hingga 3 derajat di bawah ufuq.</p>
<p>Pada tanggal 20 Agustus 2009 secara umum di wilayah Indonesia Bulan  terbenam beberapa menit mendahului Matahari.  Aturan penetapan awal Bulan berdasarkan kriteria bila konjungsi atau ijtimak berlangsung sebelum maghrib (sebelum Matahari terbenam) tidak bisa dipergunakan untuk memprediksi adanya hilal.  Bila aturan itu dipergunakan pada kasus pencarian hilal awal Ramadlan 1430 H bisa keliru (Bulan sudah terbenam, disangka masih di atas ufuq), tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam adalah  sekitar -2 derajat (di bawah ufuq) tidak selamanya selalu di atas ufuq.</p>
<p>Pada tanggal 21 Agustus 2009 posisi tinggi Bulan saat matahari terbenam  sudah mencapai  sekitar 10 derajat  dan  luas sabit Bulan sudah mencapai sekitar 2 %.  Dapat disimpulkan, awal Ramadhan 1430 H akan jatuh pada tanggal 21 Agustus 2009 dan Sabtu 22 Agustus 2009 akan menjadi shaum pertama.</p>
<p>Untuk penentuan awal Ramadhan, Departemen Agama akan melakukan sidang istbat hari Kamis, 20 Agustus 2009,  dan pelaksanaan <a href="http://bosscha.itb.ac.id/hilal/index.php" target="_blank">pengamatan Hilal</a> juga akan dilaksanakan dari beberapa lokasi di Indonesia oleh tim astronomi dari Bosscha dan juga rekan-rekan astronom amatir yang ada di Indonesia.</p>
<p><strong>Penentuan Awal Syawal 1430 H</strong><br />
Ijtimak akhir Ramadhan 1430 H bertepatan dengan tanggal 19 September pukul 01:44 wib. Posisi Bulan dan Matahari saat terbenam setelah ijtimak, bulan berada cukup tinggi sekitar 4 hingga 5 derajat  di atas ufuq. Berdasarkan kondisi ini, diperkirakan Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 20 September 2009.</p>
<div id="attachment_2457" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/hilal19sept.jpg"><img class="size-full wp-image-2457" title="hilal19sept" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/08/hilal19sept.jpg" alt="Posisi Bulan setelah ijtimak pada tanggal 19 September 2009. Sumber : Stellarium" width="550" height="391" /></a><p class="wp-caption-text">Posisi Bulan setelah ijtimak pada tanggal 19 September 2009. Matahari terbenam lebih dahulu, dan bulan mencapai tinggi sekitar 5 derajat. Sumber : Stellarium</p></div>
<p>Pada tanggal 19 September 2009 secara umum di wilayah Indonesia Bulan terbenam beberapa menit setelah Matahari terbenam. Pada tanggal 19 September 2009  tinggi Bulan mencapai 5 derajat 22 menit pada saat Matahari terbenam jam 17:51 wib dan luas sabit Bulan hampir mencapai 1%, sedang pada tanggal 20 September 2009 tinggi Bulan menjadi 17 derajat 41 menit (lebih dari 15 derajat) dan luas sabit bulan telah mencapai 4%.</p>
<p>Jadi bisa disimpulkan hilal awal Syawal 1430 H walaupun sulit masih mempunyai kemungkinan untuk bisa dirukyat dari wilayah Indonesia.  Bulan mempunyai posisi beda deklinasi  lebih dari 5 derajat dari Matahari,  jarak busur Bulan dan Matahari cukup besar dan berpeluang untuk bisa dirukyat.</p>
<p>Hasil pengamatan hilal 19 September 2009 akan ikut menentukan apakah Ramadhan 1430 H terdiri dari 29 hari atau 30 hari.  Bagi yang berpandangan posisi Bulan sudah cukup memenuhi kriteria tanda awal Bulan Syawal 1430 H maka awal Syawal 1430 H jatuh pada 19 September 2009 setelah maghrib dan shalat Ied 1430 H pada hari Ahad tanggal 20 September 2009.</p>
<p>Sidang itsbat direncanakan akan diselenggarakan tanggal 19 September 2009. Rukyatul hilal Nasional melibatkan beberapa ahli astronomi tersebar dibeberapa titik pengamatan di seluruh wilayah Indonesia (Kupang, Ternate, Semarang, Ujung Pandang, CondroDipo, LhokNga  Aceh dan Observatorium Bosscha) dan rukyatul hilal para ahli rukyat dari ormas Islam maupun pemburu Hilal. <a href="http://bosscha.itb.ac.id/hilal/index.php" target="_blank">Hasil pengamatan Hilal</a> mereka menjadi pertimbangan dalam menetapkan awal Syawal 1430 H.</p>
<p>Sumber : <a href="http://bosscha.itb.ac.id/hilal/images/document/Ramadhan_1430H.pdf" target="_blank">RAMADHAN 1430 H 29 ATAU 30 HARI ? </a> oleh Dr. Moedji Raharto, KK Astronomi – FMIPA ITB<br />
Tayangan Hilal dapat dinikmati di website <a href="http://bosscha.itb.ac.id/hilal/index.php" target="_blank">Hilal</a>, Observatorium Bosscha</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/08/20/penentuan-awal-ramadhan-dan-syawal-1430-h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak Ada Kiamat di Tahun 2012</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/02/24/tidak-ada-kiamat-di-tahun-2012/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/02/24/tidak-ada-kiamat-di-tahun-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 07:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
				<category><![CDATA[AstroPraktis]]></category>
		<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat 2012]]></category>
		<category><![CDATA[Maya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1358</guid>
		<description><![CDATA[Hmm... sepertinya banyak juga yah penggemar kiamat 2012. Ada apa sehingga manusia sangat tertarik dan percaya dengan mudah pada isu-isu seperti ini?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hmm &#8230; sepertinya banyak juga ya penggemar <a href="http://langitselatan.com/2008/06/24/planet-x-pada-kiamat-2012-bukan-planet-nibiru/" target="_blank">kiamat 2012</a>. Ada apa sebenarnya, sehingga manusia sangat tertarik dan percaya dengan mudah pada isu-isu seperti ini?<span id="more-1358"></span></p>
<p>Katanya, dunia akan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012! Runutan angka yang menarik yang membuat Anda langsung terperangah dan menggumam, “Ah benar juga &#8230; pasti bener nih beritanya”. Lantas, tanpa telaah lanjut, Anda pun berkata kiamat tinggal 3 tahun lagi. Atau kalau Anda tak percaya teori kiamat, Anda langsung berkomentar, “Cuma Tuhan yang tahu kapan kiamat”, “Ah kamu musyrik &#8230;”, atau &#8220;Itu info disebarkan oleh orang tak beragama&#8221;.  Sekali lagi, semua informasi hanya ditelan tanpa ditelaah.</p>
<div id="attachment_1362" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-1362" title="chichenitza" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/chichenitza.jpg" alt="Piramida peninggalan suku Maya. kredit : whoyoucallingaskeptic.wordpress.com" width="200" height="150" /><p class="wp-caption-text">Piramida peninggalan suku Maya. kredit : whoyoucallingaskeptic.wordpress.com</p></div>
<p>Nah, karena dunia akan kiamat sebentar lagi, berhentilah merencanakan hidup, karier Anda, tak usah lagi berpikir untuk punya rumah, segeralah menikah sebelum kiamat, dan pastikan Anda bisa bersenang-senang menikmati hidup sebelum kiamat. Atau, segeralah bertobat. Jangan sampai saat kiamat Anda malah belum bertobat. Tiga tahun lagi lho!.</p>
<p>Kata sebagian orang, mungkin ini pembahasan yang aneh. Hampir setiap saat kita mendengar tentang berbagai teori kiamat &#8230; dan kenyataannya kita masih ada di sini. Belum ada satu teori pun yang kebenarannya terbukti. Tapi, kenapa 2012 begitu penting?</p>
<p>Katanya, kalender Maya akan berhenti tahun 2012, dan kemudian jadi semacam agama dan kepercayaan baru, mengalahkan kepercayaan yang ada di masyarakat. Mengabaikan semua alasan saintifik dan pada akhirnya membawa masyarakat pada kekhawatiran baru. Lupakan Nostradamus, Y2k, dan semua prediksi kiamat lainnya, karena sekali lagi menurut ramalan 2012, planet X akan kembali dan menghancurkan Bumi.</p>
<p>Ok &#8230; kita berhenti dulu di sini dan mari kita telaah setiap alasan yang muncul tentang kiamat 2012 ini. Dan bagi Anda para penggemar nubuat Kalender Maya, saya punya berita buruk untuk Anda semua. Tidak akan ada kiamat di tahun 2012 &#8230;  dan ini alasannya, silakan disimak.</p>
<p><strong>Kalender Maya</strong></p>
<div id="attachment_1363" class="wp-caption alignleft" style="width: 205px"><img class="size-full wp-image-1363" title="mayan-calendar" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/mayan-calendar.jpg" alt="Kalender Maya" width="195" height="208" /><p class="wp-caption-text">Kalender Maya</p></div>
<p>Apa itu kalender Maya? Ini merupakan kalender yang disusun oleh sebuah peradaban yang dikenal dengan nama Maya pada kisaran 250-900 M. Bukti kehadiran peradaban Suku Maya ini bisa dilihat dari sisa kerajaannya di hampir semua bagian selatan Meksiko, Guatemala, Belize, El Savador, dan sebagian Honduras.</p>
<p>Dari bukti-bukti sejarah, masyarakat suku Maya memang memiliki kemampuan menulis yang baik dan juga kemampuan untuk membangun kota dan perencanaan kota. Dalam hal membangun, Suku Maya terkenal dengan bangunan piramida dan berbagai bangunan besar lainnya. Tak hanya itu, dalam kebudayaan, peradaban suku Maya memberi pengaruh yang sangat besar pada kebudayaan Amerika Tengah. Pengaruh itu bukan hanya dalam hal peradaban namun juga dalam hal populasi pribumi di area tersebut. Sampai saat ini, sejumlah Suku Maya masih tetap ada dan meneruskan tradisi mereka yang telah berumur ribuan tahun itu.</p>
<p>Suku Maya dalam kehidupannya menggunakan beberapa kalender berbeda. Bagi mereka, waktu merupakan penghubung dengan lingkaran spiritual. Kalender memang digunakan untuk hal-hal praktis seperti untuk kehidupan sosial, pertanian, perdagangan dan berbagai keperluan administratif. Namun dipercaya ada elemen religi yang besar di dalamnya yang memberi pengaruh. Bagi suku Maya, setiap hari memiliki ruh pelindung yang berbeda sehingga setiap hari memiliki fungsi yang berbeda pula. Sangat berbeda dengan kehidupan modern dengan kalender Gregorian yang hanya menetapkan kalender sebagai waktu yang terkait dengan hal-hal administratif, kehidupan sosial dan keperluan ekonomi.</p>
<p>Kebanyakan kalender Maya memiliki rentang waktu pendek.</p>
<ul>
<li>Kalender Tzolk&#8217;in berakhir dalam 260 hari</li>
<li>Kalender Haab’ memberi perkiraan 1 tahun Matahari yakni 365 hari.</li>
</ul>
<p>Suku Maya kemudian menggabungkan kedua kalender ini membentuk<em> “Calendar Round”</em>, siklus yang akan berakhir setelah 52 Haab (sekitar 52 tahun atau kisaran panjangnya satu generasi). Di dalam <em>“Calendar round” </em>terdapat <em>Trecena</em> ( siklus 13 hari) dan <em>Veintena</em> (siklus 20 hari). Tampaknya, sistem siklus ini berlaku dengan mempertimbangkan jumlah hari dalam 52 tahun adalah 18980 hari.</p>
<p>Untuk bangsa Maya, sains dan agama adalah satu. Mereka membangun sistem matematika dan astronomi yang cukup impresif, terkait dengan kepercayaan mereka. Pencapaian dalam hal matematika bisa dilihat pada notasi posisi dan penggunaan angka nol. Dalam astronomi, mereka secara akurat menghitung tahun Matahari, melakukan kompilasi tabel posisi bulan dan Venus, serta memprediksi Gerhana Matahari. Suku Maya juga memiliki penanggalan untuk “siklus Venus” yang cukup akurat. Kalender Venus ini dibuat berdasarkan lokasi Venus di langit malam. Hal yang sama tampaknya juga dilakukan pada planet-planet lainnya.</p>
<p>Sistem <em>“Calendar Round”</em> ini memang sangat baik untuk mengingat hari kelahiran atau periode keagamaan. Namun, untuk merekam sejarah, kalender ini tak bisa dijadikan patokan karena tak dapat merekam kejadian yang lebih tua dari 52 tahun.</p>
<p><strong>Akhir Perhitungan Panjang = Akhir Dunia?</strong></p>
<div id="attachment_1364" class="wp-caption alignright" style="width: 174px"><img class="size-full wp-image-1364" title="mayan_cosmos" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/mayan_cosmos.jpg" alt="Alam semesta menurut suku Maya. Kredit : edwardtbabinski.us" width="164" height="164" /><p class="wp-caption-text">Alam semesta menurut suku Maya. Kredit : edwardtbabinski.us</p></div>
<p>Karena tak bisa merekam kejadian sejarah yang lebih tua dari 52 tahun, Suku Maya punya solusi lain. Dengan metode yang cukup inovatif, mereka bisa memperluas jangkauan <em>“Calendar Round”</em> yang tadinya cuma 52 tahun itu.</p>
<p>Sampai di titik ini, kalender Maya akan tampak sangat kuno, bahkan bisa dikatakan dibuat hanya berdasarkan kepercayaan religi, siklus bulan, kalkulasi matematika dengan siklus atau unit 13 dan 20 sebagai dasar perhitungan disertai campuran kepercayaan mitologi. Satu-satunya prinsip kalender yang memiliki korelasi dengan kalender modern hanyalah Haab yang mengenali panjang tahun Matahari yakni 365 hari. Sebagai jawaban atas penanggalan yang lebih panjang, Suku Maya membuat sistem penanggalan <em>“Long Count”</em> atau “Perhitungan Panjang”, kalender yang akan berakhir setelah 5126 tahun.</p>
<p>Sistem penanggalan Maya untuk <em>“Long Count”</em> ini memang menarik, dan secara numerik dapat diprediksi dan bisa dengan akurat menunjuk pada penanggalan dalam sejarah. Penanggalan ini bergantung pada basik perhitungan dengan unit 20. Kalender modern saat ini menggunakan dasar perhitungan dengan unit 10.</p>
<p>Nah bagaimana perhitungannya?</p>
<p>Tahun dalam <em>“Long Count”</em> kalender Maya, dimulai dari 0.0.0.0.0. Tiap angka 0 merepresentasikan angka 0-19, dan setiap angka merepresentasikan perhitungan hari-hari suku Maya.</p>
<p>Untuk hari pertama, kalendernya akan seperti ini : 0.0.0.0.1 dan pada hari ke-19 akan menjadi 0.0.0.0.19. Jika mencapai angka 20, kalendernya akan jadi : 0.0.0.1.0. Perhitungan ini akan menunjukkan 0.0.1.0.0 untuk satu tahun dan 0.1.0.0.0 untuk kisaran 20 tahun dan 1.0.0.0.0 utuk kisaran 400 tahun. Maka, penanggalan 2.10.12.7.1 akan melambangkan penanggalan untuk hari ke-1 di bulan ke-7 dan tahun 1012.</p>
<p>Lantas, apa hubungannya dengan akhir dunia?</p>
<p>Suku Maya sangat terobsesi dengan waktu. Pemahaman dan prediksi berbagai siklus waktu akan memberi mereka kemampuan untuk mengadaptasinya dalam kehidupan di dunia. Menurut kosmologi bangsa Maya, dunia ini telah diciptakan 5 kali dan dihancurkan 4 kali. Dalam skala yang sementara, berbagai hari di dalam satu tahun dianggap cocok untuk aktivitas tertentu, sedangkan sebagian lainnya merupakan ketidakberuntungan.</p>
<p>Nah, menurut kepercayaan suku Maya, sesuatu yang buruk akan terjadi jika kalender <em>“Long Count”</em> berakhir. Berbagai pembagian dilakukan para ahli, namun karena suku Maya mendasarkan perhitungan numerik pada siklus 13 dan 20, maka bisa jadi hari terakhir kalender mereka adalah 13.0.0.0.0. Kapankah itu? Angka 13.0.0.0.0 merepresentasikan 5126 tahun dan <em>“Long Count”</em> ini berawal pada 0.0.0.0.0 yakni 11 Agustus 3114 SM  menurut penanggalan Gregorian.</p>
<p>Nah, dengan demikian, kalender Maya akan berakhir 5126 tahun kemudian, yakni 21 Desember 2012.  Inilah yang jadi dasar pemikiran tentang kiamat di tahun 2012.</p>
<p><strong>Akhir Dunia</strong></p>
<div id="attachment_1365" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-1365" title="moon_formation" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/02/moon_formation.jpg" alt="Ilustrasi tabrakan yang terjadi. Kredit : NASA" width="200" height="148" /><p class="wp-caption-text">Ilustrasi tabrakan yang terjadi. Kredit : NASA</p></div>
<p>Sepertinya, saat sesuatu itu berakhir, termasuk ketika perhitungan kalender kuno berakhir, masyarakat cenderung berpikir pada kemungkinan ekstrem bahwa peradaban juga akan ikut berakhir. Entah dengan cara apa dunia akan berakhir. Berbagai argumentasi bermunculan, antara lain Bumi akan ditabrak oleh sebuah planet, asteroid, atau entah bencana apalagi. Intinya, jika kalender ini berakhir maka Bumi akan tersapu dan hancur.</p>
<p>Ahli arkeologi dan juga orang-orang yang keahliannya pada hal mitologi percaya bahwa akan ada era pencerahan yang muncul jika 13.0.0.0.0 tiba. Dan ini juga tidak berarti akan kiamat atau apa pun. Tidak ada bukti yang menunjukkan dunia akan berakhir. Bahkan, jika memang ada, maka suku Maya bisa dikatakan berhasil memprediksikan sebuah keajaiban religius.</p>
<p>Mitos terus berkembang, bahkan film <em>Indiana Jones and the Kingdom of Crystal Skull</em> sepertinya dibuat berdasarkan mitos suku Maya. Dikatakan, 13 tengkorak kristal akan dapat menyelamatkan kemanusiaan dari kiamat. Mitos di film ini mengatakan jika ke-13 tengkorak kuno ini tidak diletakkan bersama pada waktu tertentu, Bumi akan bergeser dari sumbunya. Menarik memang untuk sebuah film, bisa meraih penontonnya yang mudah percaya pada mitos &#8230;.</p>
<p>Tak hanya itu. Mitos yang berkembang mengatakan bahwa Bumi akan dihancurkan oleh tabrakan Planet X, tabrakan meteorit, dihisap lubang hitam, dibunuh oleh flare Matahari, Bumi hancur oleh ledakan sinar gamma dari sistem bintang, datangnya zaman es yang lebih cepat dan pergeseran kutub magnet.  Bahkan setiap prediksi disertai bukti-buktinya sendiri. Dan pada akhirnya begitu banyak pengikut kiamat 2012 ini. Sayangnya tak satu pun argumentasi yang diberikan itu bisa dibuktikan kebenarannya.</p>
<p>Fakta yang ada menyatakan Nubuat Kiamat Suku Maya murni berdasarkan kalender yang memang tidak didesain untuk menghitung penanggalan setelah 2012. Hal ini disebabkan karena suku Maya mendasarkan perhitungan pada siklus 13 dan 20.</p>
<p>Arkeo-astronom Maya bahkan masih memperdebatkan masalah kalender “<em>Long Count</em>” ini. Pertanyaannya, apakah kalender ini akan kembali ke 0.0.0.0.0 setelah 13.0.0.0.0 atau akan terus berlanjut sampai 20.0.0.0.0 (sekitar 8000M) dan kemudian kembali ke 0.0.0.0.0?</p>
<p>Mengutip kata-kata Karl Kruszelnicki dalam &#8220;<em>Great Moments in Science</em>&#8220;:</p>
<blockquote><p>“ &#8230; ketika Kalender mengakhiri siklusnya, ia akan berputar kembali ke siklus berikutnya. Dalam masyarakat modern, setiap tanggal 31 Desember tidak diakhiri dengan akhir dunia, namun dilanjutkan oleh siklus berikut yakni 1 Januari.  Karena itu, 13.0.0.0.0 dalam kalender Maya akan diikuti oleh 0.0.0.0.1 atau 22 desember 2012, yang hanya menyisakan beberapa hari untuk berbelanja keperluan Natal.”</p></blockquote>
<p>Siklus kalender Maya boleh berakhir, namun siklus baru akan kembali berulang &#8230; dan membawa hari baru bagi penghuni Bumi.</p>
<p style="text-align: left;">Sumber : <a href="http://www.universetoday.com/2008/05/19/no-doomsday-in-2012/" target="_blank">Universe Today</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/02/24/tidak-ada-kiamat-di-tahun-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>341</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vernal Equinox</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/03/20/vernal-equinox/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/03/20/vernal-equinox/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 04:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tri L. Astraatmadja</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[equinox]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2008/03/20/vernal-equinox/</guid>
		<description><![CDATA[Pada tahun ini, 2008, matahari melewati Titik Vernal Equinox hari Kamis, tanggal 20 Maret. Bagi kawan-kawan yang berada di Pontianak pukul 12.48 siang waktu setempat, sinar matahari jatuh tegak lurus terhadap tanah, hingga bayangan yang dihasilkan sangat kecil.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_left" style="width:250px;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Earth-lighting-equinox_EN.png" target="_blank"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/03/800px-earth-lighting-equino.jpg" alt="Sumber : Wikipedia" align="left" width="250" /></a><br style="clear:both" /><span>Sumber : Wikipedia</span></div></p>
<p>Bumi kita bergerak mengelilingi matahari, sehingga menimbulkan kesan semu bahwa matahari&#8211;dari sudut pandang kita di Bumi&#8211;bergerak mengelilingi. Gerak semu ini ditandai dengan perubahan posisi matahari setiap hari.</p>
<p>Benda langit selalu berubah posisinya, terbit di timur dan tenggelam di barat. Ini adalah gerak yang diakibatkan oleh rotasi Bumi&#8211;perputaran Bumi pada porosnya&#8211;sehingga harus dibedakan dengan gerak Bumi mengelilingi matahari.</p>
<p>Bintang-bintang letaknya sangat jauh sehingga praktis posisinya tidak banyak berubah seiring dengan bergeraknya Bumi mengelilingi matahari, oleh karena itu justru posisi mereka bisa kita jadikan patokan. Indikasi revolusi Bumi&#8211;perputaran Bumi mengelilingi matahari&#8211;ada pada matahari dan planet-planet di sekitar Bumi. Posisi matahari setiap hari berubah-ubah relatif terhadap bintang-bintang di belakangnya. Bulan ini matahari bisa berada di rasi A, bulan depan di rasi B. Namun demikian, gerakan ini selalu teratur.</p>
<p>Bila dilacak, gerakannya sepanjang tahun akan mengikuti garis yang kita namakan garis ekliptika. Garis ekliptika ini berpotongan dengan garis ekuator langit, yaitu garis yang memotong bola langit menjadi dua bagian&#8211;belahan utara dan belahan selatan.</p>
<p>Perpotongan dua garis ini&#8211;ekliptika dan ekuator langit&#8211;disebut titik equinox. Saat matahari berada di titik ini, maka lamanya siang dan malam akan sama yaitu masing-masing 12 jam. Titik yang dilewati matahari dalam perjalanannya dari selatan ke utara langit, terjadi pada bulan Maret, dinamakan Titik Vernal Equinox. Titik yang dilewati matahari dalam perjalanannya dari utara ke selatan langit, terjadi pada bulan September, dinamakan Titik Autumnal Equinox. Vernal Equinox terjadi sekitar tanggal 21-23 Maret setiap tahunnya, tidak pernah sama karena Bumi sendiri membutuhkan waktu 365.25 hari untuk mengitari matahari.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_left" style="width:150px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/03/tugu-khatulistiwa.jpg" alt="Tugu Khatulistiwa, titik nol. Sumber : pontianak.go.id" align="left" width="150" /><br style="clear:both" /><span>Tugu Khatulistiwa, titik nol. Sumber : pontianak.go.id</span></div></p>
<p>Titik vernal equinox disebut juga Titik Aries, dan merupakan titik acuan bagi koordinat langit. Seluruh koordinat bintang, dalam sistem ekuatorial, dihitung dari titik ini.</p>
<p>Pada tahun ini, 2008, matahari melewati Titik Vernal Equinox hari Kamis, tanggal 20 Maret. Bagi kawan-kawan yang berada di garis ekuator, misalnya di Pontianak (sudah waktunya kita mendaftar kota-kota di Indonesia yang berada di khatulistiwa), pada pukul 12.48 siang waktu setempat, matahari akan berada persis di atas kepala dan sinar matahari jatuh tegak lurus terhadap tanah. Jadi bayangan yang dihasilkan akan kecil sekali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/03/20/vernal-equinox/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Hilal</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/10/06/mengenal-hilal/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2007/10/06/mengenal-hilal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Oct 2007 01:03:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[hilal. kalender islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/10/06/mengenal-hilal/</guid>
		<description><![CDATA[Penentuan awal bulan Puasa dan Idul Fitri ditentukan oleh adanya pengamatan Hilal, yaitu sesaat ketika Bulan melewati fase konjungsi (dalam bahasa Arab: Ijtimak), yaitu ketika Matahari-Bumi-Bulan berada pada satu garis lurus. Pada saat sekitar ijtimak, Bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari Bumi tidak mendapatkan sinar matahari, sehingga dikenal istilah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penentuan awal bulan Puasa dan Idul Fitri ditentukan oleh adanya pengamatan Hilal, yaitu sesaat ketika Bulan melewati fase konjungsi (dalam bahasa Arab: Ijtimak), yaitu ketika Matahari-Bumi-Bulan berada pada satu garis lurus. Pada saat sekitar ijtimak, Bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari Bumi tidak mendapatkan sinar matahari, sehingga dikenal istilah Bulan Baru.  Pada petang pertama kali setelah ijtimak, Bulan terbenam sesaat sesudah terbenamnya matahari. Ijtimak merupakan pedoman utama penetapan awal bulan dalam Kalender Hijriah.</p>
<p>Hilal itu sendiri, saat bulan teramati, tepat sesaat setelah ijtimak, Bagaimana hilal ditentukan? Hilal ditentukan menggunakan dua metode, yaitu Hisab &amp; Rukyat.<span id="more-234"></span></p>
<p>Hisab, adalah menentukan posisi berdasarkan perhitungan, yaitu dari menghitung posisi Matahari dan Bulan terhadap Bumi. Posisi Bulan Baru penting karena menjadi penanda dimulainya penanggalan pada bulan yang baru (Tanggal 1 Kalender Hijriah).</p>
<p>Rukyat adalah penentuan posisi Bulan Baru berdasarkan pengamatan, yakni bulan sabit pertama tampak sesaat setelah ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan pengamatan.  Rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari, pertama kali sesaat setelah ijtimak (Pada waktu Bulan di ufuk Barat dan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada saat tersebut di lokal tersebut memasuki tanggal 1. Tetapi bisa terjadi selang waktu ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, sehingga secara teori, pendaran iluminasi cahaya Bulan tidak cukup teramati, karena masih terlalu suram dibandingkan semburat cahaya sekitar (pendaran cahaya Matahari terbenam).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2007/10/06/mengenal-hilal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Hari dengan Sistem Penanggalan Hijriah</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Sep 2007 09:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[Hijriah]]></category>
		<category><![CDATA[kalender islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/</guid>
		<description><![CDATA[Kita perhatikan bahwa hari raya Islam setiap tahunnya tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama, pada kalender yang kita gunakan sehari-hari. Bulan puasa tahun ini lebih cepat sekitar sebelas hari daripada tahun lalu. Bulan puasa tahun ini juga akan lebih lambat sekitar sebelas hari daripada bulan puasa tahun depan.
Dari tahun ke tahun dengan akumulasi perbedaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita perhatikan bahwa hari raya Islam setiap tahunnya tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama, pada kalender yang kita gunakan sehari-hari. Bulan puasa tahun ini lebih cepat sekitar sebelas hari daripada tahun lalu. Bulan puasa tahun ini juga akan lebih lambat sekitar sebelas hari daripada bulan puasa tahun depan.</p>
<p>Dari tahun ke tahun dengan akumulasi perbedaan sekitar sebelas hari tiap tahunnya, misalnya, hari raya haji tidak selalu datang pada musim yang sama. Kadang hari raya haji terjadi pada musim panas dengan sinar matahari yang terik, kadang terjadi pada musim dingin yang menggigil. Mengapa terjadi perbedaan sekitar sebelas hari antara penanggalan Islam dengan penanggalan yang kita gunakan sehari-hari, yang resmi digunakan oleh dunia internasional?<span id="more-202"></span></p>
<p>Perbedaan ini bukan karena jumlah bulan yang berbeda antara penanggalan Islam dengan penanggalan sehari-hari. Pada prinsipnya jumlah bulan dalam kedua sistem penanggalan adalah sama. Keduanya memiliki duabelas bulan dalam satu tahunnya. Tahun dalam kalender yang digunakan sehari-hari atau penanggalan masehi diawali dengan Januari dan berakhir dengan Desember. Tahun dalam penanggalan Islam atau Hijriah diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Diantaranya terdapat bulan Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dan Dzulko’dah.</p>
<p>Lantas apa yang membuat penanggalan Islam lebih cepat daripada penanggalan masehi? Pada penanggalan Islam pergantian bulan barunya adalah berdasarkan pada penampakan hilal, yaitu bulan sabit terkecil yang dapat diamati dengan mata telanjang. Hal ini tidak lain disebabkan penanggalan Islam adalah penanggalan yang murni berdasarkan pada siklus sinodis bulan dalam sistem penanggalannya (lunar calendar), yaitu siklus dua fase bulan yang sama secara berurutan.</p>
<p>Satu bulan dalam sistem penanggalan Islam terdiri antara 29 dan 30 hari, sesuai dengan rata-rata siklus fase sinodis Bulan 29,53 hari. Satu tahun dalam kalender Islam adalah 12 x siklus sinodis bulan, yaitu 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik. Itulah sebabnya kalender Islam lebih pendek sekitar sebelas hari dibandingkan dengan kalender masehi dan kalender lainnya yang berdasarkan pada pergerakan semu tahunan matahari (solar calendar). Karena ini pula bulan-bulan dalam sistem penanggalan Islam tidak selalu datang pada musim yang sama. Selain itu, dalam jangka waktu satu tahun masehi bisa terjadi dua tahun baru hijriah. Contohnya seperti yang terjadi pada tahun 1943, dua tahun baru hijriah jatuh pada tanggal 8 Januari 1943 dan 28 Desember 1943.</p>
<p>Perbedaan antara penanggalan hijriah dengan penanggalan masehi yang kita gunakan sehari-hari tidak berhenti disitu saja. Terdapat pula perbedaan pada pergantian harinya. Kita ketahui bahwa hari baru pada penanggalan masehi berawal pada jam 00.00 malam hari. Itu pula sebabnya orang sering mengucap selamat ulang tahun pada tengah malam jam 00.00 saat pergantian hari, dengan harapan ucapan tersebut menjadi ucapan pertama pada awal hari jadinya seseorang.</p>
<p>Dalam penanggalan Hijriah hari baru berawal setelah Matahari terbenam dan berlangsung sampai saat terbenamnya Matahari keesokan harinya. Misalnya, hari pertama dimulai sejak matahari terbenam hari sabtu dan berakhir sampai matahari terbenam pada hari minggu. Hari kedua dimulai sejak matahari terbenam hari minggu sampai matahari terbenam keesokan harinya, hari senin. Begitu seterusnya. Ketujuh hari dalam penanggalan Hijriah memang tidak dinamai, melainkan dinomori. Ketujuh hari tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Yawm al ‘ahad		: 	hari pertama</li>
<li>Yawm al ‘ithnayn	: 	hari kedua</li>
<li>Yawm ath thalatha	: 	hari ketiga</li>
<li>Yawm al ‘arba’a	: 	hari keempat</li>
<li>Yawm al khamis	: 	hari kelima</li>
<li>Yawm al jum’a		: 	hari keenam</li>
<li>Yawm as sabt		: 	hari ketujuh</li>
</ul>
<p>Untuk keperluan sipil sehari-hari, misalnya untuk negara-negara Islam yang memakai penanggalan Hijriah sebagai kalender resminya,  penanggalan ini didasarkan pada perhitungan (hisab). Bulan terdiri dari 29 dan 30 hari secara bergantian. Dimulai dengan bulan Muharram yang terdiri dari 30 hari, disusul dengan Shafar 29 hari, kemudian Rabiul awal 30 hari dan seterusnya secara bergantian sampai bulan Dzulhijjah. Tetapi khusus untuk bulan terakhir ini jumlah hari bisa 29 atau 30 hari. Untuk tahun kabisat, bulan Dzulhijjah terdiri dari 30 hari. Untuk tahun basithoh (biasa), bulan Dzulhijjah terdiri dari 29 hari. Sehingga jumlah hari dalam tahun kabisat akan menjadi 355 hari.</p>
<p>Untuk keperluan keagamaan, misalnya untuk menentukan awal hari puasa atau hari raya, pergantian bulan pada penanggalan Hijriah tetap diwajibkan dengan dasar pengamatan hilal (rukyah). Pengamatan hilal ini pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan sumpah suci pengamat berikut saksi. Di Indonesia kita kenal Badan Hisab Rukyat, bersama-sama dengan Departemen Agama, yang bertugas mengamat hilal di suatu tempat khusus. Ilmuwan, dalam hal ini ahli ilmu falak dan astronom, tidak ketinggalan. Karena dapat  atau tidak terlihatnya hilal dapat diprediksi dengan perhitungan yang sudah menjadi santapan sehari-hari mereka.</p>
<p>Tetapi kadang suatu organisasi Islam punya acuannya sendiri dalam persoalan hilal ini. Satu dengan lainnya kadang tidak sejalan. Oleh karena itu tidak mengherankan sering terdapat perbedaan dalam memulai ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri, misalnya. Hal yang seringkali terjadi di tanah air. Walaupun demikian, hendaknya persoalan ini tidak menjadi pembeda yang dapat meresahkan umat.</p>
<p><strong>Sejarah</strong><br />
Sistem penanggalan Islam (1 Muharram 1 Hijriyah) dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah, atas perintah Tuhan. Oleh karena itulah kalender Islam disebut juga sebagai kalender Hijriah. Di barat kalender Islam biasa dituliskan dengan A.H, dari latinnya Anno Hegirae. Peristiwa hijrah ini bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Jadi penanggalan Islam atau Hijriah (1 Muharram 1 Hijriah) dihitung sejak terbenamnya Matahari pada hari Kamis, 15 Juli 622 M.</p>
<p>Walaupun demikian, penanggalan dengan tahun hijriah ini tidak langsung diberlakukan tepat pada saat peristiwa hijrahnya nabi saat itu. Kalender Islam baru diperkenalkan 17 tahun (dalam perhitungan tahun masehi) setelah peristiwa hijrah tersebut oleh sahabat terdekat Nabi Muhammad sekaligus khalifah kedua, Umar bin Khatab. Beliau melakukannya sebagai upaya merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Kadang sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.</p>
<p>Kalender dengan 12 bulan sebetulnya telah lama digunakan oleh Bangsa Arab jauh sebelum diresmikan oleh khalifah Umar, tetapi memang belum ada pembakuan perhitungan tahun pada masa-masa tersebut. Peristiwa-peristiwa penting biasanya hanya dicatat dalam tanggal dan bulan. Kalaupun tahunnya disebut, biasanya sebutan tahun itu dikaitkan dengan peristiwa penting yang terjadi pada masa itu. Misalnya tahun gajah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Setelah banyak persoalan muncul akibat tidak adanya sistem penanggalan yang baku, dan atas prakarsa Khalifah Umar, diadakanlah musyawarah dengan tokoh-tokoh sahabat lainnya mengenai persoalan penanggalan ini. Dari sini disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan nama-nama keduabelas bulan tetap seperti yang telah digunakan sebelumnya, diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah.</p>
<p>Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun, tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam. Peritiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota muslim pertama. Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam tidak akan kemenangan atau kejayaan Islam, tetapi mengingatkan pada pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awal Ramadhan 1428H</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/05/awal-ramadhan-1428h/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2007/09/05/awal-ramadhan-1428h/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 08:33:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ddewa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[hilal]]></category>
		<category><![CDATA[kalender islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/05/awal-ramadhan-1428h/</guid>
		<description><![CDATA[Hilal sebagai penentu awal bulan Ramadhan, bulan suci umat Islam pada tahun ini dilaporkan tidak dapat dilihat dari kawasan Indonesia. Berikut ini kutipan dari Rukyatul Hilal Indonesia:
Ijtimak/konjungsi awal bulan Ramadhan 1428 H jatuh pada
Selasa, 11 September 2007 Pukul 19:44 WIB / 20:44 WITA / 21:44 WIT / 12:44 GMT
Ijtimak terjadi saat matahari dan bulan berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hilal sebagai penentu awal bulan Ramadhan, bulan suci umat Islam pada tahun ini dilaporkan tidak dapat dilihat dari kawasan Indonesia. Berikut ini kutipan dari <a href="http://http://rukyatulhilal.org/visibilitas/1428/ramadhan.html" title="Rukyatul Hilal Indonesia" target="_blank">Rukyatul Hilal Indonesia</a>:</p>
<blockquote><p><span class="q">Ijtimak/konjungsi awal bulan Ramadhan 1428 H jatuh pada</span><br />
Selasa, 11 September 2007 Pukul 19:44 WIB / 20:44 WITA / 21:44 WIT / 12:44 GMT</p>
<p>Ijtimak terjadi saat matahari dan bulan berada pada jarak paling dekat, sehingga menghasilkan fase bulan baru atau bulan mati. Hilal menurut hadis Nabi adalah sabit bulan yang pertama kali terlihat dengan mata setelah terjadi ijtimak.<br />
Garis ketinggian hilal di kawasan Indonesia pada hari Ijtimak menunjukkan rata-rata ketinggian hilal antara minus 2,5° sampai dengan minus 4° dibawah horison saat matahari terbenam di masing-masing lokasi. Melihat kondisi tersebut hilal tidak mungkin dapat dirukyat pada hari dan tanggal terjadinya ijtimak.</p></blockquote>
<p>Beberapa tahun terakhir selalu terjadi perbedaan pendapat antar ormas-ormas Islam dan pemerintah mengenai penentuan awal dan akhir Ramadhan. Pada tahun ini, kecil kemungkinan terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan awal Ramadhan dengan melihat berbagai kriteria hilal yang ada.</p>
<p>Sebagian besar kriteria hilal menunjukkan tanggal 13 September 2007 sebagai awal Ramadhan, kecuali kriteria Saudi yang menyimpulkan 1 Ramadhan 1428H jatuh pada tanggal 12 September 2007.</p>
<p>Pemerintah Indonesia menggunakan kriteria Imkanur Ruhyah yang menyimpulkan awal bulan Ramadhan adalah <strong>13 September 2007</strong>.</p>
<p>Mutoha sebagai anggota tim BHR DIY menyatakan :</p>
<blockquote><p>&#8220;kurangnya pemahaman terhadap perkembangan ilmu falak <font face="Georgia">sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut hilal baik yang sengaja salah maupun yang tidak disengaja</font>&#8220;</p></blockquote>
<p><span id="more-196"></span> Mutoha pun menyatakan bahwa Saudi memakai kriteria Rukyatul Hilal dengan dasar laporan dari seseorang tanpa melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap laporan tersebut. Hal ini memang dapat berbuah menjadi kontroversi dalam penentuan awal bulan Ramadhan karena setiap orang bisa saja melaporkan hal yang berbeda karena masing-masing punya persepsi yang berbeda tentang hilal.</p>
<p>Salah satu kriteria hilal yang menunjukkan 13 September 2007 sebagai awal Ramadhan adalah kriteria yang diperoleh dari pertemuan Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanur Rukyah dengan</p>
<blockquote><p> Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:<br />
(1)· Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas  horison tidak kurang dari 2° dan<br />
(2). Jarak  lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau<br />
(3)· Ketika  bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas ijtimak berlaku.</p></blockquote>
<p>Karena syarat tersebut tidak dapat dipenuhi dikarenakan bulan pada saat ijtimak yang berada di bawah ufuk, maka bulan Syaban 1428H digenapkan menjadi 30 hari sesuai tuntunan syariah.</p>
<p>Pemerintah resmi menentukan tanggal 11 September sebagai tanggal Rukyatul Hilal, sedangkan menurut kriteria Danjon tanggal Rukyatul Hilal jatuh pada tanggal 12 September. Penentuan dengan kriteria Danjon akan menunggu hasil pengamatan dari pos-pos pengamatan Rukyatul Hilal di Indonesia pada tanggal tersebut.</p>
<p>Sumber:  http://rukyatulhilal.org/visibilitas/1428/ramadhan.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2007/09/05/awal-ramadhan-1428h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalender Masehi</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/06/08/kalender-masehi/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2007/06/08/kalender-masehi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jun 2007 14:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[kalender masehi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/06/08/kalender-masehi/</guid>
		<description><![CDATA[Tiap tanggal 1 Januari orang-orang di berbagai belahan dunia akan bersorak sorai merayakan pergantian tahun. Setelah 365 hari yang telah kita lalui, kita akan menyambut 365 hari yang baru. Harapan-harapan dilambungkan untuk menyongsong hari yang  baru. Doa-doa diucapkan. Tahun baru tlah tiba!
Namun, di balik kegembiraan tahun baru, pernahkah  terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiap tanggal 1 Januari orang-orang di berbagai belahan dunia akan bersorak sorai merayakan pergantian tahun. Setelah 365 hari yang telah kita lalui, kita akan menyambut 365 hari yang baru. Harapan-harapan dilambungkan untuk menyongsong hari yang  baru. Doa-doa diucapkan. Tahun baru tlah tiba!</p>
<p>Namun, di balik kegembiraan tahun baru, pernahkah  terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan seputar kalender? Misalnya, tahukah anda mengapa satu tahun lamanya 365 hari dan setelah itu datang tahun baru membawa 365 hari yang baru, atau tahukah anda sejak kapan kalender yang kita gunakan sekarang ini mulai digunakan pertama kalinya dan siapa yang menciptakannya?<span id="more-84"></span></p>
<p>Setiap tahunnya kita lalui 365 kali pergantian hari (dan 366 hari jika tahun kabisat) yang terbagi ke dalam 12 bulan. Dimulai dengan Januari, diakhiri dengan Desember. Diantaranya terdapat Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober dan November.</p>
<p>Pada duabelas bulan tersebut, setiap harinya istimewa. Hari-hari tertentu merupakan sebuah perayaan atau peringatan bagi sekelompok orang. Di negara kita misalnya, setiap tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan negara kita. Setiap tanggal 25 Desember umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal. Pada tanggal 1 Januari, tahun baru kita rayakan. Jika digabungkan hari perayaan atau hari peringatan di seluruh dunia, kemungkinan besar setiap harinya merupakan hari perayaan atau peringatan.</p>
<p>Tanggal-tanggal seperti ini adalah bagian dari sistem penanggalan Gregorian atau lebih kita kenal di Indonesia sebagai sistem penanggalan masehi. Selain resmi digunakan sehari-hari di negara kita, sistem penanggalan Gregorian ini merupakan sistem penanggalan internasional.</p>
<p>Sistem penanggalan Gregorian adalah sistem penanggalan yang berdasarkan pada siklus pergerakan semu Matahari melewati titik vernal equinok dua kali berturut-turut, yang lamanya rata-rata adalah 365, 242199 hari. Revolusi Bumi mengelilingi Matahari tiap tahunnya mengakibatkan Matahari terlihat dari Bumi bergerak melintasi bola langit. Padahal, sebenarnya Bumi bergerak mengitari Matahari maka kita melihat Matahari diproyeksikan pada medan bintang yang berbeda-beda. Lintasan Matahari semu selama setahun ini kemudian disebut ekliptika.  Mudahnya, bayangkan saja bintang-bintang di langit. Bintang-bintang tampak terbit dan tenggelam setiap harinya. Hal ini tidak lain diakibatkan oleh rotasi Bumi terhadap sumbunya, bukan karena Bumi yang diam dan dikelilingi oleh bintang-bintang, seperti yang dikira orang-orang zaman dahulu selama berabad-abad.</p>
<p>Titik vernal equinok adalah titik semu pada lintasan ekliptika tempat Matahari melewati atau tepat berada pada garis ekuator langit (perpanjangan garis ekuator Bumi), yang terjadi sekitar tanggal 21 Maret. Sistem penanggalan dengan acuan Matahari seperti ini disebut juga solar calendar atau kalender syamsiah. Oleh karena penyesuaian dengan pergerakan semu Matahari inilah, satu tahun dalam kalender Gregorian lamanya 365 hari.</p>
<p>Tetapi, sistem penanggalan Gregorian dengan 365 hari seperti sekarang ini sebetulnya merupakan reformasi dari sistem penanggalan yang digunakan sebelumnya. Kalender Gregorian pada mulanya adalah kalender yang digunakan oleh bangsa Romawi kuno dan bukan berdasarkan pada siklus Matahari (solar calendar) seperti sekarang ini. Kalender aslinya dulu tidak terdiri dari duabelas bulan seperti sekarang, tetapi terdiri dari sepuluh bulan (Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintilis, Sextilis, September, October, November, December) dengan jumlah hari sepanjang tahun adalah 304 hari.</p>
<p>Permulaan tahun dalam kalender Romawi kuno dihitung sejak pendirian kota Roma pertama kalinya atau “from the founding of the city (of Rome)”, yang diterjemahkan dari bahasa Romawi “ab urbe condita”. Selain itu awal tahun atau tahun baru dirayakan setiap tanggal 1 Maret, bukan 1 Januari seperti sekarang.</p>
<p>Kemudian kalender ini dimodifikasi menjadi kalender yang terdiri dari 12 bulan dengan jumlah hari tiap bulannya masih menyesuaikan dengan siklus peredaran Bulan mengitari Bumi,  rata-rata adalah 29,5 hari. Raja Romawi, Numa Pompilius kemudian memperkenalkan Februari dan Januari diantara bulan Desember dan Maret. Dengan demikian didapat tahun yang lamanya 354 hari. Kemudian pada tahun 450 SM Februari dipindahkan ke posisinya sekarang ini, di antara Januari dan Maret.</p>
<p>Tetapi, tahun dengan 354 hari tidak sesuai dengan periode Bumi mengelilingi Matahari yang telah diketahui waktu itu, yaitu 365,242199 hari. Pada setiap akhir tahun kalender yang dimodifikasi tersebut tidak sesuai sekitar sebelas hari dengan pergantian musim, dan setelah tiga tahun perbedaan dengan musim ini menjadi sekitar sebulan. Untuk mengakali hal ini, kalender segera dikoreksi dengan menambahkan satu bulan  setiap dua tahun sekali. Tidak berapa lama kalender yang dikoreksi menimbulkan kebingungan dalam masyarakat Romawi kuno.</p>
<p>Pada 46 SM, Julius Caesar mereformasi kalender dengan memerintahkan bahwa panjang satu tahun haruslah 365 hari dan terdiri dari 12 bulan, berdasarkan pertimbangan dari seorang ahli astronomi dari Alexandria bernama Sosigenes. Ini  mengakibatkan beberapa hari harus ditambahkan pada beberapa bulan agar panjang tahun yang semula 354 hari dapat menjadi 365 hari. Ia juga menetapkan bahwa bulan-bulan yang berada pada urutan ganjil memiliki 31 hari dan bulan yang berada pada urutan genap memiliki 30 hari, dengan bulan Februarinya berjumlah 29 hari. Selain itu, pada tahun 44 SM bulan Quintilis diubah namanya menjadi Juli untuk menghormati Julius Caesar.</p>
<p>Dengan demikian, jumlah hari dalam beberapa bulan tidak lagi bersesuaian dengan siklus Bulan mengelilingi Bumi yang lamanya rata-rata 29,5 hari. Kalender Julian, demikian kalender ini disebut, tidak lagi bersifat lunar calendar (kalender Qamariyah) karena ketidaksesuaiannya dengan siklus Bulan.</p>
<p>Tetapi permasalahan tidak serta merta selesai setelah reformasi kalender Julian. Masih ada perbedaan sekitar seperempat hari antara kalender Julian dengan panjang tahun sebenarnya (pergerakan semu Matahari sepanjang tahun). Jika dibiarkan terus, dalam kurun waktu empat tahun kalender Julian akan mengalami akumulasi perbedaan sebesar satu hari. Dalam waktu beberapa puluh tahun, kalender Julian akan mengalami akumulasi perbedaan dengan musim lebih besar lagi. Dengan demikian, kalender Julian tidak lagi sesuai dengan pergantian musim, padahal tujuan utama reformasi Julian adalah menyesuaikan dengan musim. Reformasi Julian jadinya hanya menunda ketidaksesuaian tersebut, seperti yang terjadi pada kalender Romawi kuno, lebih lama saja.</p>
<p>Untuk mengakali perbedaan dengan musim tersebut, dengan pertimbangan lain lagi dari Sosigenes, setiap empat tahun sekali akan ditambahkan satu hari pada bulan Februari. Tahun seperti inilah yang kemudian kita kenal sebagai tahun kabisat. Maka, pada tahun kabisat tersebut Februari akan terdiri dari 30 hari sehingga jumlah hari satu tahunnya menjadi 366 hari.  Dengan begitu, panjang rata-rata tiap tahunnya adalah 365,25 hari dan menjadi cukup dekat dengan tahun sebenarnya yang panjang rata-ratanya 365,242199 hari.</p>
<p>Namun, Februari yang kita kenal sekarang terdiri dari 28 hari. Terdapat cerita menarik  mengenai perubahan Februari dari 29 hari menjadi 28 hari, meskipun tidak diyakini kebenarannya. Tahun 8 SM bulan Sextilis diganti namanya menjadi Augustus untuk menghormati kaisar Augustus yang memerintah Romawi setelah Julius Caesar. Pada masa kekuasaannya, ia mengambil satu hari dari bulan Februari untuk ditambahkan ke bulan Agustus, sehingga bulan Agustus pun kemudian terdiri dari 31 hari, bukan 30 hari lagi seperti sebelumnya. Dengan jumlah hari yang sama antara Juli dan Agustus, walaupun namanya dijadikan nama bulan setelah bulan Juli, ia tidak lagi merasa inferior terhadap Julius Caesar.</p>
<p>Setelah didapat panjang tahun rata-rata yang cukup dekat dengan panjang tahun sebenarnya dengan solusi tahun kabisat, rupanya panjang tahun ini belumlah cukup sangat akurat sehingga dalam kurun waktu yang cukup lama dapat tetap mengakibatkan ketidaksesuaian dengan musim. Dengan “kesalahan” yang besarnya hanya 0,007801 hari tiap tahunnya, dalam kurun waktu 128 tahun akan terdapat  ketidaksesuaian dengan musim (panjang tahun sebenarnya) sekitar satu hari.</p>
<p>Pada tahun 1582 kalender Julian telah memiliki ketidaksesuaian dengan musim sebesar 10 hari. Untuk mengatasi hal ini, Paus Gregorius XIII mengambil dua langkah. Pertama, ia memutuskan bahwa tanggal 4 Oktober tahun 1582 akan langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582, bukan tanggal 5 Oktober 1582. Kedua, untuk mencegah ketidaksesuaian dengan musim ini kembali terjadi, ia juga menetapkan bahwa tiga dari empat tahun abad (tahun yang berakhiran dengan 00, misalnya tahun 1600, 1700, dst) bukanlah tahun kabisat. Dengan peraturan tahun kabisat yang dulu, setiap empat tahun sekali, tahun yang habis dibagi empat akan menjadi tahun kabisat. Tetapi, dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Paus Gregorius ini maka tahun abad yang tidak habis dibagi 400 tidak akan menjadi tahun kabisat. Dengan demikian, tahun 1700, 1800, 1900 bukan tahun kabisat, sedangkan tahun 2000, yang habis dibagi 400, merupakan tahun kabisat.</p>
<p>Tetapi, peraturan dari Paus Gregorius ini tidak langsung diterapkan. Memang negara-negara dengan mayoritas umat Katholik dengan segera mengubah penanggalannya ke sistem penanggalan yang telah direformasi Paus Gregorius, tetapi tidak demikian pada negara-negara dengan mayoritas umat Kriten Protestan dan lainnya. Pada banyak negara kalender Julian masih digunakan, bahkan sampai tahun 1918 masih digunakan oleh Rusia. Sehingga dalam kurun waktu 1582-1918 tersebut, harus jelas penanggalan yang mana yang digunakan, yang Julian atau Gregorian. Demikianlah kisah kalender yang kita gunakan sehari-hari kini. Menarik mengetahui bahwa manusia dapat “mensiasati waktu”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2007/06/08/kalender-masehi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Kalender dan Penentuan Tanggal Minggu Paskah Secara Astronomi</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/03/sistem-kalender-dan-penentuan-tanggal-minggu-paskah-secara-astronomi/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2007/04/03/sistem-kalender-dan-penentuan-tanggal-minggu-paskah-secara-astronomi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 09:55:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[masehi]]></category>
		<category><![CDATA[paskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/03/sistem-kalender-dan-penentuan-tanggal-minggu-paskah-secara-astronomi/</guid>
		<description><![CDATA[Kalender adalah sistem penentu waktu yang memiliki arti sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana pada masyarakat petani, kalender diperlukan sebagai penentu waktu bercocok tanam, berdasarkan tanda-tanda alam, seperti posisi bintang di langit; masyarakat modern memerlukan kalender sebagai alat bantu yang penting dalam kehidupannya, seperti tanggal perayaan ulang tahun, jadwal libur dan bekerja, atau waktu membayar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Kalender adalah sistem penentu waktu yang memiliki arti sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana pada masyarakat petani, kalender diperlukan sebagai penentu waktu bercocok tanam, berdasarkan tanda-tanda alam, seperti posisi bintang di langit; masyarakat modern memerlukan kalender sebagai alat bantu yang penting dalam kehidupannya, seperti tanggal perayaan ulang tahun, jadwal libur dan bekerja, atau waktu membayar tagihan-tagihan.</p>
<p align="justify">Kalender modern yang kita gunakan saat ini disebut sebagai kalender masehi, dan deret waktu tahunannya, (tahun 1), diasumsikan dari tahun kelahiran Yesus Kristus. <span id="more-5"></span></p>
<p align="justify">Berdasarkan pembagian tersebut, sebelum tahun 1 disebut sebagai SM (Sebelum Masehi), BC (Before Christ), atau BCE (Before Common Era), dan sesudahnya sebagai M (Masehi), AD (Anno Dominii), atau CE (Common Era). Setiap tahun terbagi menjadi bagian-bagian yang disebut sebagai bulan, sejumlah dua belas bulan dalam satu tahun, dan tiap bulan terbagi antara 28-31 hari.</p>
<p align="justify">Berdasarkan ilmu astronomi, sistem kalender masehi ditetapkan dari peredaran Bumi mengelilingi Matahari, (sistem kalender solar). Jika matahari berada dari ufuk terbit, sampai terbenamnya disebut sebagai satu siang hari, dan kebalikannya dari terbenam sampai terbitnya lagi disebut sebagai satu malam hari. Tetapi tidak semua sistem kalender menerapkan sistem solar, sebagaimana kalender Islam, menerapkan sistem perederan Bulan mengelilingi Bumi (sistem lunar), atau sistem kalender Yahudi dan Babilonia menerapkan sistem kombinasi Bulan Matahari. Sistem-sistem ini sampai sekarang juga masih sering dipergunakan sebagai keperluan keagamaan.</p>
<p align="justify">Sistem kalender solar berjumlah 365 hari dalam satu tahun dan 366 hari untuk tahun kabisat. Dalam satu tahun terbagi menjadi 12 bulan, yang dinamai dari Januari, sampai Desember, dan tiap bulannya berjumlah antara 30-31 hari, kecuali Februari berjumlah 28 hari dan 29 hari untuk tahun kabisat. Penentuan tahun kabisat ini muncul karena pada kenyataannya Bumi mengelilingi Matahari dalam satu kali revolusinya (satu putaran penuh), selama 365,242199 hari (365 hari, 5 jam, 48 menit, 46 detik), sehingga untuk mengatasi permasalahan kelebihan hari tersebut, ditetapkan adanya tahun kabisat setiap empat tahun, yaitu pada tanggal 29 Februari, untuk tahun kelipatan empat (pada tahun biasa, seperti 1992, 1996, 2000), dan harus kelipatan 400 untuk tahun abad (contohnya tahun 2000, tetapi 1900 dan 2100 bukan, karena bukan kelipatan 400).</p>
<p align="justify">Kalender masehi telah digunakan semenjak jaman Romawi, dan mulai menerapkan sistem yang hampir serupa dengan sistem masehi, yang juga berdasarkan astronomi, semenjak Julius Caesar. Pada saat itu berdasarkan pengamatan astronomi, jarak satu tahun diterapkan sebesar 365,25 hari, lalu dibagi menjadi 12 bulan, dan sistem ini disebut sebagai kalender Julian, berdasarkan nama Julius Caesar. Tetapi karena perhitungan yang belum terlalu teliti, efek kumulatif kesalahan perhitungan menyebabkan sampai sekitar tahun 1500-an, kalender telah mengalami pergeseran sampai 10 hari. Untuk mengatasi permasalahn tersebut, pada tahun 1582 AD Paus Gregorius XIII, mengatur lagi penanggalan dengan mengubah dari tanggal 4 Oktober 1582 AD, keesokan harinya menjadi 15 Oktober 1582 AD, serta melengkapi perhitungan dengan menyatakan adanya sistem kabisat, untuk tahun kelipatan empat, dan harus kelipatan 400 untuk tahun abad. Meskipun sistem ini pada awalnya diterapkan pada negara-negara yang menganut agama Katholik, dan sistem kalendernya disebut sebagai kalender Gregorian, tetapi karena sistem ini cukup bagus dalam penentuan waktu, seiring perkembangan dunia, mulai menyebarkan dan diterapkan di seluruh dunia.</p>
<p align="justify">Bagi umat Kristiani, penentuan jatuhnya hari Paskah masih ditentukan berdasarkan sistem lunar. Penanggalan Paskah ditujukan untuk memelihara dan mengenang saat yang diharapkan sama, baik saat bulan purnama yang terjadi, musim yang sama, pada tiap tahunnya, dengan saat kebangkitan Yesus Kristus.</p>
<p align="justify">Secara ilmiah, jatuhnya hari minggu Paskah diperoleh berdasarkan perhitungan astronomi, yang telah dirumuskan dari Konsili Gereja (Katholik) di Nicaea tahun 325 AD. Kebangkitan Yesus Kristus ditetapkan terjadi di sekitar bulan purnama, sehingga hal tersebut diterapkan sebagai patokan. Alih-alih memanfaatkan bulan purnama penuh, yang membutuhkan pengetahuan tentang orbit bulan secara akurat, maka diperkenalkan suatu bulan imajiner, yang disebut sebagai bulan purnama ecclesiastic, yang tanggalnya telah diperhitungkan secara matematis. Kesulitan perhitungan bulan purnama adalah: pertama, penentuan terjadinya bulan purnama secara global, sebagai contoh, jika bulan purnama jatuh pada hari minggu di Sidney, tetapi masih hari Sabtu di London, bisa menyebabkan jatuhnya Paskah akan berbeda hari, dan yang kedua adalah kenyataan di alam menunjukkan bahwa orbit Bulan tidaklah selalu stabil, sebagaimana perhitungan matematis, karena ada faktor gangguan orbit, baik oleh Matahari, maupun planet-planet besar, sehingga sulit menentukan orbit Bulan secara tepat. Oleh karena itu bulan purnama eccelsiastic merupakan juga tanggal terjadinya bulan purnama, tetapi bukan berdasarkan pengamatan, tetapi didasarkan pada perhitungan matematis adanya bulan purnama, dan terjadi dalam paling tidak dalam selang tiga hari, sebelum atau sesudah bulan purnama yang sebenarnya. Berdasarkan Konsili tersebut, dan dari hasil perumusan astronomis-nya, maka Minggu Paskah dinyatakan sebagai:</p>
<p align="justify">â€œHari Minggu Pertama setelah adanya Bulan Purnama Ecclesiastic, dan bulan purnama tersebut terjadi pada atau sesudah titik balik musim semi (Vernal Equinox), secara astronomi ditetapkan tanggal 21 Maret.â€</p>
<p align="justify">Keterkaitan antara penentuan Minggu Paskah dan ilmu astronomi dapat dipahami sebagai berikut: pertama, bulan purnama ecclesiastic, merupakan pendekatan bulan purnama yang sebenarnya (bulan purnama astronomi), sehingga Minggu Paskah terjadi di sekitar bulan purnama astronomi, tetapi tidak ada keterkaitan dengan bulan purnama astronomi. Kedua, titik balik musim semi secara astronomi adalah satu hari ketika Matahari tepat berada sejajar dengan ekuator Bumi, sehingga panjang siang dan malam adalah sama, dan pada kenyataan di alam terjadi di antara tanggal 18-22 Maret, tetapi karena untuk penanggalan Minggu Paskah ditetapkan pada tanggal 21 Maret, maka penanggalan Paskah tidak lagi terkait dengan titik balik musim semi astronomi, dan dengan demikian maka penanggalan Minggu Paskah akan selalu sama untuk berbagai tempat di Bumi, bergantung pada zona waktu dunia.</p>
<p align="justify">Berikut ini ditampilkan tanggal hari MingguPaskah sampai dengan tahun 2010:</p>
<blockquote>
<p align="justify">March 31, 2002     April 20, 2003     April 11, 2004<br />
March 27, 2005     April 16, 2006     April 08, 2007<br />
March 23, 2008     April 12, 2009     April 04, 2010</p></blockquote>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em><strong><a href="http://nggieng.wordpress.com" title="nggieng">oleh : nggieng</a></strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2007/04/03/sistem-kalender-dan-penentuan-tanggal-minggu-paskah-secara-astronomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
