<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>langitselatan.com &#187; pramesti</title>
	<atom:link href="http://langitselatan.com/author/pramesti/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://langitselatan.com</link>
	<description>media astronomi indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 23:25:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ditemukan Es di Asteroid!</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/10/11/ditemukan-es-di-asteroid/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/10/11/ditemukan-es-di-asteroid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 03:53:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asteroid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=2575</guid>
		<description><![CDATA[Pada pertemuan tahunan Divisi Planetary Sciences – American Astronomical Society tanggal 7 Oktober lalu, untuk pertama kalinya para astronom mengumumkan adanya penemuan sebuah asteroid yang mengandung air beku (es) di permukaannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada pertemuan tahunan Divisi Planetary Sciences – American Astronomical Society tanggal 7 Oktober lalu, untuk pertama kalinya para astronom mengumumkan adanya penemuan sebuah asteroid yang mengandung air beku (es) di permukaannya.<span id="more-2575"></span></p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_2576" class="wp-caption aligncenter" style="width: 566px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/leadasteroid.jpg"><img class="size-full wp-image-2576 " title="leadasteroid" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/10/leadasteroid.jpg" alt="Ilustrasi Sabuk Asteroid. Kredit: NASA" width="556" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi Sabuk Asteroid. Kredit: NASA</p></div>
<p><strong>Ternyata  Ada Lebih Banyak Es di ‘Luar Sana’</strong><br />
Analisa dari asteroid 24-Themis menunjukkan adanya bukti kandungan es serta senyawa organik yang tersebar luas di permukaan asteroid tersebut. Para ilmuwan mengatakan bahwa penemuan baru ini mendukung teori yang menyatakan bahwa asteroid membawa air dan senyawa organik untuk Bumi dalam keadaan awal, sehingga mendukung dalam menyediakan dasar-dasar pembentuk kehidupan bagi Bumi.</p>
<p>Berdasarkan reportase Rob Cowen dari Science News, Humberto Campins beserta koleganya  dari University of Central Florida di Orlando mencatat spektra dari asteroid 24-Themis dalam periode lebih dari 7 jam dan dapat mempelajari 84% dari periode rotasi spin-nya. Dengan menggunakan fasilitas Teleskop Inframerah milik NASA di Mauna Kea, Hawaii, dari penglihatan berbagai bagian permukaan asteroid tersebut spektra yang didapat menunjukkan adanya keberadaan es yang konsisten. Analisa dari cahaya Matahari yang dipantulkan asteroid tersebut juga menunjukkan bahwa kandungan senyawa organik, termasuk hidrokarbon aromatik polisiklik, CH2 dan CH3,  tersebar luas di permukaannya, tambah Campins.</p>
<p>Penemuan baru ini menguatkan observasi sebelumnya dari asteroid yang sama oleh dua orang astronom, Andrew S. Rivkin dari Laboratorium Fisika Terapan Universitas John Hopkins dan Joshua Emery dari Universitas Tennessee, yang juga menggunakan Fasilitas Teleskop Inframerah. Selama beberapa tahun, Rivkin dan Emery telah menemukan bukti adanya es pada suatu daerah di permukaan 24-Themis, tetapi tidak mempelajari asteroid tersebut lengkap dengan satu kali periode rotasinya. Penemuan kedua tim peneliti ini menunjukkan bahwa keseluruhan permukaan asteroid terselimuti oleh es.</p>
<p>Asteroid yang memiliki diameter rata-rata 160 km ini jarak rata-ratanya 3.2 kali dari jarak Bumi-Matahari. Menurut Campins pada jarak ini es  di permukaannya bisa menguap dengan mudahnya. Ini berarti, es di permukaannya terus-menerus terbarui, mungkin dari kandungan es di dalam batuannya.</p>
<p>Satu kemungkinan adalah terdapatnya es yang terkubur beberapa meter dibawah permukaan 24-Themis ini, dan ketika terhantam oleh puing-puing luar angkasa, es ini keluar ke permukaannya. Jika memang hal ini benar, maka dapat dikatakan bahwa terdapat sebagian asteroid yang menyerupai komet, yang dapat menjadi aktif tiba-tiba dan mengeluarkan materi ke luar angkasa ketika kandungan es-nya menguap terkena angin Matahari, tambah Campins.</p>
<p>Pilihan lainnya adalah suatu aksi yang mirip dengan penemuan air di Bulan baru-baru ini, ketika angin Matahari berinteraksi dengan benda batuan tanpa atmosfer untuk menghasilkan molekul H2O dan OH. Tanpa adanya atmosfer, benda ini akan terekspos kepada angin Matahari yang mengandung ion-ion hidrogen. Hidrogen dapat berinteraksi dengan oksigen di permukaan asteroid untuk menghasilkan molekul-molekul air.</p>
<p><span style="color: #888888;">Sumber : Science News, Universe Today</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/10/11/ditemukan-es-di-asteroid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggali dan Memperkenalkan Kisah Langit Asia Pada Dunia</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/05/29/menggali-dan-memperkenalkan-kisah-langit-asia-pada-dunia/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/05/29/menggali-dan-memperkenalkan-kisah-langit-asia-pada-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 10:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Astrobudaya]]></category>
		<category><![CDATA[IYA2009]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[hala na godang]]></category>
		<category><![CDATA[nini anteh]]></category>
		<category><![CDATA[Rasi Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[waluku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1809</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa kita menyebut benda-benda langit itu dengan nama-nama asing seperti Jupiter, Saturnus, Mars, Pleiades, atau Orion? Bisakah kita menyebutnya dengan panggilan yang lebih khas “Indonesia”, seperti Respati, Batara Kala, Joko Belek atau Anggara, Lintang Kartika, Hala Na Godang atau Waluku?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa kita menyebut benda-benda langit itu dengan nama-nama asing seperti Jupiter, Saturnus, Mars, Pleiades, atau Orion? Bisakah kita menyebutnya dengan panggilan yang lebih khas “Indonesia”, seperti Respati, Batara Kala, Joko Belek atau Anggara, Lintang Kartika, Hala Na Godang atau Waluku?<span id="more-1809"></span></p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 261px"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs008.snc1/4439_84204852097_695887097_1995654_2970224_n.jpg" alt="Poster dari Langitselatan di Stars of Asia. kredit : Sze-leung Cheung" width="251" height="167" /><p class="wp-caption-text">Poster dari Langitselatan di Stars of Asia. kredit : Sze-leung Cheung</p></div>
<p>Dunia, termasuk kita sendiri sebagai orang Indonesia pada khususnya dan orang Asia pada umumnya, lebih mengenal akan dongeng atau mitologi dari Yunani dan Romawi. Kita lebih mudah menemukan Rasi Bintang Orion di langit sebagai seorang pemburu daripada menemukan bentuk pembajak (Waluku) ataupun bentuk naga raksasa (Hala Na Godang) pada wilayah rasi bintang yang hampir sama dengan Orion. Mungkin jika diminta untuk menceritakannya, kita lebih fasih untuk menceritakan kembali kisah Orion si Pemburu tersebut daripada kisah Hala Na Godang dari Tanah Batak atau kisah Waluku dan kegunaannya dalam pertanian bagi orang-orang zaman dulu di Tanah Jawa.  Sebagian besar dari kita mungkin sejak kecil telah akrab dengan buku-buku mitologi Yunani daripada, misalnya, mendengar dalang melakoni wayang yang sarat dengan kearifan lokalnya tersendiri atau tertarik mendengar nenek-kakek kita bercerita tentang bintang-bintang di langit. Contoh lain lagi, sebutan Mars atau Ares mungkin lebih akrab dengan kita daripada sebutan “Joko Belek”.</p>
<p>Hal ini mudah-mudahan bukan karena kita lebih mengagumi dan menghargai budaya bangsa lain daripada budaya bangsa sendiri. Hal ini mungkin juga disebabkan antaralain karena memang sumber-sumber kisah tersebut tidak mudah ditemui atau belum terdokumentasi dengan baik, masih tersebar-sebar. Kebanyakan kisah-kisah tentang langit dalam budaya Jawa, seperti Joko Belek, Lintang Banyak Angrem, Lintang Wulanjar Ngirim, dan lain sebagainya, diceritakan turun-temurun secara lisan sebagai cerita rakyat. Kalaupun ada buku yang memuat tentang kisah-kisah langit tersebut, jumlahnya minim sekali dan sudah usang, sulit ditemui karena memang tidak dicetak lagi. Barangkali tidak cukup menguntungkan dan tidak banyak orang yang mau peduli. Yang mengejutkan, beberapa buku penting berisikan cerita rakyat tentang langit ini ditulis dengan sangat baik oleh orang-orang Barat.</p>
<p>Kelangkaan sumber untuk kisah-kisah langit ini berlaku juga dalam budaya lainnya selain Jawa. Naskah-naskah kuno tentunya ada, tetapi seperti sudah bisa diduga, lebih sulit aksesnya untuk ditemui dan dipelajari karena memang ditulis dengan bahasa daerahnya masing-masing. Sebagian besar malah tidak bisa sembarangan dilihat oleh orang karena nilai kesakralannya. Selain langkanya atau sulitnya menemukan dokumen tertulis, planetarium di dunia, bahkan di Asia sendiri, sebagai sarana pendidikan astronomi pun pada umumnya menyajikan pertunjukan dengan menggunakan rasi-rasi bintang Yunani atau Romawi.</p>
<p>Barangkali oleh karena faktor-faktor diataslah diantaranya, banyak dari kita menjadi tidak akrab dengan pengetahuan astronomi yang telah dimiliki nenek moyang kita di nusantara ini. Bahkan mungkin juga memang tidak mengetahui sama sekali bahwa nenek moyang kita pun sebenarnya kaya akan kisah-kisah langitnya sendiri, seperti halnya nenek moyang orang Yunani, Romawi, atau Mesopotamia, sebagai contoh nyata akan upaya mereka memahami tempatnya di alam semesta ini.  Hal-hal inilah yang antara lain mendorong diselenggarakannya workshop “Stars of Asia” di Jepang pekan lalu, 11-13 Mei 2009.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v4439/187/83/695887097/n695887097_1995555_4179060.jpg" alt="Pertemuan Stars of Asia di Jepang. Kredit : Sze-leung Cheung" width="250" height="166" /><p class="wp-caption-text">Pertemuan Stars of Asia di Jepang. Kredit : Sze-leung Cheung</p></div>
<p>Acara yang juga  merupakan salah satu agenda International Year of Astronomy (IYA) 2009 ini digagas dan dimotori oleh astronom mumpuni, Prof. Norio Kaifu dari Open University, Jepang.   Workshop yang diselenggarakan selama tiga hari ini merupakan workshop yang bertujuan untuk menggali dan memperkenalkan kembali kepada dunia akan pengetahuan astronomi yang telah dimiliki orang-orang Asia sejak zaman kuno. Hasil akhir yang ingin dicapai bersama-sama dari workshop ini adalah diterbitkannya dua jenis buku (Volume I dan Volume II) tentang mitologi/legenda Asia akan bintang, langit dan alam semesta. Diharapkan tahun depan dua buku ini sudah bisa dinikmati oleh masyarakat dunia, terlebih oleh anak-anak sebagai generasi muda dan guru-guru sebagai pendidik. Volume I memuat tentang mitologi/legenda tentang bintang-bintang dan langit dari negara-negara Asia. Volume II memuat tentang nama-nama dan bentuk-bentuk rasi yang dikenal orang-orang di wilayah Asia, serta kisah tentang benda-benda langit lainnya dan fenomena-fenomena  langit. Masing-masing volume nantinya akan diterbitkan ke dalam versi Bahasa Inggris dan versi bahasa masing-masing negara yang turut berpartisipasi dalam workshop ini.</p>
<p>Tercatat 14 negara Asia mengikuti workshop “Stars of Asia” (sekaligus pertemuan internasional pertama) yang bertempat di National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ), Mitaka, Tokyo, ini. Negara-negara tersebut adalah Bangladesh, RRC, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Mongolia, Nepal, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Seorang partisipan, Prof. Akira Goto, yang bertindak sebagai koordinator negara-negara Pasifik ikut serta mewakili negara-negara Pasifik. Dewi Pramesti Kusumaningrum dari Komunitas langitselatan berkesempatan mengikuti workshop ini mewakili Indonesia. Selain itu ada juga Widya Sawitar dari Planetarium Jakarta. Hakim L. Malasan, dosen Program Studi Astronomi – Institut Teknologi Bandung, memberikan report tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan di Indonesia, berkaitan dengan bidang ini.</p>
<p>Pramesti mempresentasikan hasil buruan cerita rakyat (mitologi, legenda maupun dongeng) yang berkaitan dengan astronomi, yang selama satu setengah tahun terakhir ini turut giat dilakukan  Komunitas langitselatan. Selama kurun waktu tersebut, sebanyak lebih dari 20 cerita rakyat berhasil dikumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia. Semuanya tentu saja menarik dan terkadang mengundang senyum usai membacanya, bahkan juga rasa penasaran akan bagaimana nenek moyang kita tiba pada pemikirannya yang demikian saat itu. Sebagian kecil cerita-cerita tersebut sudah tidak asing lagi dengan telinga kita, tetapi sebagian besar merupakan cerita-cerita yang belum pernah didengar sebelumnya. Dari cerita-cerita rakyat inilah orang-orang sekarang dapat mengidentifikasi pola rasi bintang dan penamaan benda langit sebagaimana dilakukan nenek moyang kita zaman dahulu di berbagai daerah di Indonesia. Jadi hal ini merupakan salah satu upaya merekonstruksi pola langit yang dilihat orang-orang dulu di nusantara. Pekerjaan ini pun belum berhenti disini, melainkan masih panjang karena memang masih banyak yang bisa digali.</p>
<p>Sungguh sangat menarik mengetahui nenek moyang kita di negara kepulauan ini telah memiliki pemahamannya sendiri akan langit dan alam semesta. Diantara 20 cerita rakyat tesebut adalah Bulan Pejeng (Bali), Pasaggangan’ Laggo Samba Sulu atau Pertempuran Matahari dan Bulan (Mentawai), Memecah Matahari (Papua), Manarmakeri (Papua), Hala Na Godang (Batak), Kilip dan Putri Bulan (Dayak Benoaq), Lawaendrona Manusia Bulan (Nias), Bima Sakti (Jawa), Mula Rilingé’na Sangiang Serri’ (Bugis), dan lain sebagainya. Cerita-cerita rakyat yang terkumpul ini nantinya dapat dibaca pada tulisan terpisah pada halaman web ini.</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 412px"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v4439/187/83/695887097/n695887097_1995575_5934973.jpg" alt="Foto bersama peserta Stars of Asia 2009. kredit : Sze-leung Cheung" width="402" height="268" /><p class="wp-caption-text">Foto bersama peserta Stars of Asia 2009. kredit : Sze-leung Cheung</p></div>
<p>Widya Sawitar dari Planetarium mempresentasikan nama-nama benda langit dan pola-pola rasi bintang di langit yang dipetakan orang-orang Jawa (Jawa Tengah) kuno, beserta kegunaannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu contohnya adalah Bintang Salib Selatan (Southern Cross atau nama latinnya Crux) atau yang dikenal juga sebagai Bintang Layang-layang. Di wilayah Jawa, orang-orang zaman dahulu melihatnya dan mengenalnya sebagai Lintang Pari dan juga Lintang Gubug Penceng. Barangkali dunia spiritualitas yang mereka kenal saat itu masih seputar dunia kebatinan, atau animisme dan dinamisme, dan belum mengenal agama-agama samawi, sehingga belum mengenal simbol-simbol agama. Rasi bintang ini sangat berguna bagi nelayan untuk menentukan arah Selatan jika berlayar di laut. Memang jika ditarik garis semu dari bintang paling atas pada rasi ini ke bintang yang berada di posisi paling bawah di rasi ini dan terus lurus ke horizon langit akan sampai pada titik Kutub Selatan. Tidak heran jika mereka (para nelayan) mengasosiasikannya dengan bentuk ikan pari.</p>
<p>Tetapi lain lagi dengan para petani yang tinggal di pedalaman Pulau Jawa. Mereka melihat rasi ini sebagai rumah peristirahatan yang bentuknya miring di sawah untuk beristirahat saat bertani di sawah, dan mengenalnya dengan sebutan Lintang Gubug Penceng. Ada juga versi lain yang mengisahkan rasi ini sebagai rumah yang sedang dibangun oleh seorang pemuda. Setiap hari rumahnya dilewati  seorang wanita yang sangat anggun nan jelita (direpresentasikan dengan bintang Alpha Centauri) menghantarkan suatu persembahan ke suatu tempat. Akibat terpana kecantikannya dan karena khayalannya akan wanita tersebut, pemuda tersebut kehilangan fokus sehingga dinding rumah yang sedang dibangunnya miring ke kiri dan ke kanan. Jadilah gubug penceng.</p>
<p>Sebuah contoh lagi adalah Lintang Kartika, yang dalam dunia barat lebih dikenal dengan Pleiades atau<em> The Seven Sisters</em> (karena memang bintang yang jelas terlihat dari Bumi berjumlah tujuh buah). Di Jawa rasi Lintang Kartika ini diasosiasikan juga sebagai tujuh bidadari, yang direpresentasikan dalam tarian Bedhaya Ketawang di Keraton Mataram. Di wilayah Pantai Utara Jawa rasi ini digunakan untuk menandakan waktu (kalender) dalam penanggalan Jawa. Jika rasi ini sudah terbit sekitar 50° di langit, maka musim ketujuh (mangsa kapitu) pun dimulai. Pada musim ini, beras muda harus mulai ditanam di sawah. Lucunya, di Jepang rasi ini dilihat berjumlah sembilan buah bintang, dikenal sebagai Subaru yang dalam Bahasa Jepang arkaik artinya “bersatu” atau “berkumpul”. Di India, seperti dituturkan seorang wakil dari India yang juga bergelar Master of Science dalam bidang nuclear physic, Leena Damle, rasi ini tadinya dilihat orang-orang India zaman dahulu sebagai tujuh buah bintang. Namun lambat laun orang-orang India sekarang melihatnya sebagai enam buah bintang karena suatu sebab. Memang lain ladang, lain ilalang.</p>
<p>Perbedaan yang ada tidak lain hanya menambah warna dan kekayaan kisah-kisah langit. Bagaimana pun, seperti diingatkan lagi akan semboyan IYA 2009, <em>One Universe for All.</em> Langitku adalah langitmu juga. Mudah-mudahan kelak anak-anak Indonesia pun mengenal nama-nama seperti Lintang Kartika, Hala Na Godang, Nini Anteh, Waluku, Bima Sakti, Boru Deak Parujar, dan banyak lagi lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/05/29/menggali-dan-memperkenalkan-kisah-langit-asia-pada-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Planetarium dan Observatorium Jakarta</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/04/06/sejarah-planetarium-dan-observatorium-jakarta/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/04/06/sejarah-planetarium-dan-observatorium-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 15:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[planetairum]]></category>
		<category><![CDATA[planetarium jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1574</guid>
		<description><![CDATA[“Kita sebagai bangsa yang baru lahir kembali, kita harus dengan cepat sekali, cepat, chek up mengejar kebelakangan kita ini, mengejar disegala lapangan. Lapangan politik kita kejar, lapangan ekonomi kita kejar, lapangan ilmu pengetahuan kita kejar, agar supaya kita benar-benar didalam waktu yang singkat bisa bernama Bangsa Indonesia yang besar, yang pantas menjadi mercusuar daripada umat manusia di dunia”]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Kita sebagai bangsa yang baru lahir kembali, kita harus dengan cepat sekali, cepat, chek up mengejar kebelakangan kita ini, mengejar disegala lapangan. Lapangan politik kita kejar, lapangan ekonomi kita kejar, lapangan ilmu pengetahuan kita kejar, agar supaya kita benar-benar didalam waktu yang singkat bisa bernama Bangsa Indonesia yang besar, yang pantas menjadi mercusuar daripada umat manusia di dunia” (Soekarno, 1964, saat pemancangan tiang pertama Planetarium Jakarta).<span id="more-1574"></span></p></blockquote>
<div id="attachment_1578" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/25-poj-north-side.jpg"><img class="size-full wp-image-1578" title="25-poj-north-side" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/25-poj-north-side.jpg" alt="Planetarium &amp; Observatorium Jakarta. Kredit : Pramesti" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Planetarium &amp; Observatorium Jakarta. Kredit : Pramesti</p></div>
<p>Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, amat berminat membangun sebuah Planetarium dan Observatorium di Indonesia, walaupun waktu itu sudah berdiri Observatorium Bosscha di Lembang. Pendirian planetarium ini dimaksudkan agar masyarakat Indonesia tak lagi percaya pada tahayul, khususnya yang berhubungan dengan benda-benda langit seperti gerhana dan munculnya komet yang sering dikaitkan dengan malapetaka, bencana alam, atau perginya seorang pembesar, dan sebagainya yang sifatnya merugikan.</p>
<p>Adapun maksud pendirian observatorium yang tergabung dengan planetarium adalah sebagai pelengkap agar rakyat juga dapat meneropong benda-benda langit untuk mendapat gambaran yang sebenarnya setelah diberi pengetahuan tentang astronomi melalui pertunjukan planetarium. Darsa Soekartadiredja, mantan Direktur kedua <a href="http://planetarium.jakarta.go.id/" target="_blank">Planetarium &amp; Observatorium Jakarta</a>, sewaktu diwawancara tahun 2005 silam di Planetarium Jakarta menceritakan bahwa Bung Karno ingin menerapkan pikiran yang lebih maju pada rakyatnya agar menjadi orang-orang yang terpelajar agar kemudian segera timbul perubahan yang baik pada masyarakatnya.</p>
<div id="attachment_1577" class="wp-caption alignleft" style="width: 164px"><img class="size-full wp-image-1577" title="day-5-088" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/day-5-088.jpg" alt="Menara salah satu teropong bintang di POJ. Kredit : Pramesti" width="154" height="205" /><p class="wp-caption-text">Menara salah satu teropong bintang di POJ. Kredit : Pramesti</p></div>
<p>Tidak diketahui sebenarnya darimana Bung Karno memperoleh gagasan mendirikan planetarium di Indonesia. Mungkin ketika beliau berkunjung ke luar negeri dan mendapati planetarium yang apik, tergerak hatinya untuk membangun sebuah di Indonesia. Tetapi jika kita ingat lagi bahwa masa pendirian Planetarium Jakarta adalah masa perlombaan luar angkasa –<em>space race</em>- antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, bisa jadi gagasan Bung Karno mendirikan planetarium dipengaruhi oleh keadaan dunia internasional waktu itu. Ketika itu manusia telah berhasil meluncurkan satelit pertama –Sputnik- mengorbit ke luar angkasa dan sedang bersiap-siap untuk pergi ke Bulan. Bung Karno, walau keadaan negara sedang sulit saat itu, menginginkan agar bangsanya tidak jauh tertinggal dengan negara lain. Ini diketahui dari pidatonya pada saat pemancangan tiang pertama planetarium pada 9 September 1964, “ Kita sebagai bangsa yang baru lahir kembali, kita harus dengan cepat sekali, cepat, chek up mengejar kebelakangan kita ini, mengejar disegala lapangan. Lapangan politik kita kejar, lapangan ekonomi kita kejar, lapangan ilmu pengetahuan kita kejar, agar supaya kita benar-benar didalam waktu yang singkat bisa bernama Bangsa Indonesia yang besar, yang pantas menjadi mercusuar daripada umat manusia di dunia ”.</p>
<p>Meskipun kala itu masih banyak yang belum bisa membedakan planetarium dengan observatorium dan bahkan belum mempunyai gambaran tentang planetariumnya itu sendiri, manusia Indonesia mana yang tidak tergerak hatinya mendengar seruan bapak bangsa itu? Bangsa yang baru 19 tahun mengecap kemerdekaan itu sungguh-sungguh berniat  mengejawantahkan program-program nation building-nya.</p>
<p>Hal lain yang turut menambah rasa bangga orang-orang pada masa itu ialah karena pendirian Planetarium Jakarta ini nantinya akan menjadi planetarium yang terbesar di dunia. Dalam pidatonya lagi Bung Karno berujar, “Planetarium akan kita dirikan di Jakarta ini, di tempat ini, adalah planetarium yang terbesar di seluruh dunia … sehingga di bawah kubah itu bisa duduk orang. Lima ratus orang. Di lain-lain tempat  cuma tiga ratusan saudara-saudara ini Indonesia bukan main.”. Selain itu, Planetarium Jakarta merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Indonesia mengungguli negara-negara tetangganya.</p>
<p>Adapun pemilihan lokasi pendirian di Jakarta, tepatnya di bekas kebon bintang Raden Saleh yang dianggap sudah tidak cocok lagi berada di tengah kota, mungkin dilandasi pemikiran bahwa Jakarta adalah ibukota negara. Ibukota suatu negara sudah pasti menjadi cerminan karakter sebuah bangsa. Disebutkan Bung Karno bahwa planetarium dan observatorium ini merupakan hadiah bagi kota Jakarta. Dengan demikian, planetarium di Jakarta diharapkan dapat menjadi cerminan masyarakat Indonesia yang maju atau ingin maju.</p>
<p>Walaupun dilandasi oleh cita-cita yang luhur, pembangunan sebuah planetarium bukanlah pembangunan dengan biaya sedikit. Terutama bagi bangsa yang baru lahir, tentu banyaklah agenda pembangunan di segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembangunan gedungnya saja akan menghabiskan uang milyaran rupiah. Belum lagi perkakas planetariumnya yang (atas rekomendasi tenaga-tenaga ahli dari Observatorium Bosscha) harus dipesan khusus dari Jena, Jerman Timur kala itu, tentu akan menghabiskan sekian juta dollar Amerika. Oleh sebab itu, agar tidak membebani negara, Presiden Soekarno meminta partisipasi utama pihak swasta dalam proyek Planetarium Jakarta. Darsa mengatakan lagi, bahwa pemerintah dapat bekerjasama dengan pihak swasta yang banyak uangnya untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsanya (dalam hal ini pendidikan), merupakan contoh yang baik dan seharusnya ditiru dalam konteks kekinian.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan swasta yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) bersedia membiayai pembangunan gedung Planetarium Jakarta. Berdasarkan sebuah catatan GKBI menyediakan dana sebesar Rp 1.670.000.000 ,-. Dana ini akan diturunkan secara berangsur tiga kali untuk membiayai pembangunan gedung planetarium tahun 1964, 1965, dan 1966. Biaya untuk pembelian mesin proyektor planetarium dan teropong bintang dari perusahaan Carl Zeiss-Jerman sebesar US$ 1.500.000,00 ditanggung sebuah yayasan yang sengaja dibentuk Bung Karno untuk menghimpun dana-dana komisi &#8211; yang biasanya didapat dari pembelian suatu barang ke luar negeri- untuk mendanai berbagai keperluan pembangunan. Pembiayaan dan pelaksanaan pembangunan Proyek Planetarium Jakarta diatur dalam surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No 155 tahun 1963 yang ditandatangani Presiden pada 26 Juli 1963.</p>
<div id="attachment_1581" class="wp-caption alignright" style="width: 311px"><img class="size-full wp-image-1581" title="day-5-077" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/day-5-077.jpg" alt=" Kubah Langit dan teropong di tengah kota. Kredit : Pramesti" width="301" height="226" /><p class="wp-caption-text"> Kubah Langit dan teropong di tengah kota. Kredit : Pramesti</p></div>
<p>Pelaksanaan pembangunan Proyek Planetarium Jakarta dengan demikian diserahkan kepada Pemerintah Daerah DKI Jakarta dengan gubernurnya waktu itu Bapak Henk Ngantung. Kemudian Pemda DKI Jakarta menunjuk PN Hutama Karya dan PN Nindya Karya untuk melaksanakan pembangunan gedung planetarium. Bertindak sebagai pimpinan sekaligus Ketua Tim Pengawas Pembangunan Proyek Planetarium Jakarta adalah Prof. Ir. Rooseno, ditunjuk langsung oleh Gubernur DKI Jakarta.</p>
<p>Akhir tahun 1964 pembangunan gedung planetarium mulai dilaksanakan. Gedung Planetarium Jakarta dirancang empat lantai, seperti tergambar pada maket awal. Satu kubah planetarium di tengahnya tergabung dengan bangunan silinder di bawahnya (ruang pameran kini) dan dikelilingi oleh bangunan luas. Ada ruang untuk observatorium, ada ruang teater untuk pendidikan dan ada pula lapangan parkir yang luas. Pada awal pendirian Planetarium Jakarta, belum berdiri pusat kesenian Taman Ismail Marzuki.<br />
Dalam pembangunannya, pembangunan Planetarium Jakarta sempat terhenti karena suasana politik negara yang kacau, terutama ketika pecah pemberontakan G30S/PKI. Dana dari GKBI tidak lagi lancar mengalir. GKBI hanya mengeluarkan sebagian saja dari yang telah dianggarkannya. Untunglah kemudian pada akhir 1967 pembangunan Planetarium Jakarta kembali dilanjutkan sedikit demi sedikit, dibantu dengan dana dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta.</p>
<p>Dalam kelanjutan pembangunannya itu menyusul pendirian Pusat Kesenian Jakarta, berlokasi di lahan pembangunan Planetarium Jakarta yang semula hendak digunakan seluruhnya untuk Planetarium Jakarta dan pendukungnya sebagai pusat sains. Pendirian Pusat Kesenian Jakarta dilatarbelakangi oleh usul dari seniman-seniman Jakarta yang ketika itu belum memiliki wadah perkumpulan seniman Jakarta. Dibentuklah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang sekarang bertempat bersama-sama dengan Planetarium Jakarta di Kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini. Walaupun demikian, secara organisasi Planetarium dan DKJ tetap terpisah.</p>
<p>Akhirnya setelah gedung planetarium dan pemasangan proyektor serta perlengkapan lainnya berhasil diselesaikan, pada tanggal 20 November 1968 diresmikanlah Planetarium dan Observatorium Jakarta oleh Gubernur DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin, bersamaan dengan diresmikannya Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki. Seluruh aset milik proyek diserahterimakan oleh  Prof. Ir. Rooseno selaku pimpinan dan pengawas proyek kepada Gubernur Kepala DKI Jakarta. Ketika penyerahterimaan tersebut, keadaan planetarium Jakarta belum sempurna dan masih sangat sederhana. Sejak tanggal 20 November 1968 itu pula pengelolaan Proyek Planetarium dan Observatorium Jakarta diserahkan kepada Bapak Santoso Nitisastro dari Observatorium Bosscha &#8211; Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung, yang juga ditunjuk langsung oleh Bung Karno. Sebelumnya sempat ditawari kepada Prof. The Pik Sin dari Observatorium Bosscha untuk menjadi direktur Planetarium, namun karena harus pindah ke Belanda ia menolak halus tawaran tersebut.</p>
<p>Bapak Santoso sebagai direktur planetarium kemudian membentuk organisasi kerja yang sebagian besar tenaganya berasal dari tenaga proyek pembangunan gedung dan tenaga berpendidikan astronomi yang pernah belajar pada Jurusan Astronomi ITB. Pernah pula ditawarkan beasiswa planetarium pada masa pendirian Planetarium Jakarta. Beasiswa tersebut ditujukan pada mahasiswa Jurusan Astronomi ITB agar setelah lulusnya nanti mereka dapat menjadi tenaga ahli bidang astronomi di Planetarium Jakarta. Beberapa orang mahasiswa mengambil beasiswa tersebut.</p>
<p>Selang beberapa bulan sejak peresmiannya, Planetarium Jakarta menggelar pertunjukan perdananya, tepatnya pada tanggal 1 Maret 1969 -tanggal yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal jadinya. Keadaan fisik Planetarium Jakarta waktu itu masih jauh dari yang diharapkan. Walaupun demikian sederhana, Planetarium Jakarta tetap berhasil memukau penontonnya. Pada tahun-tahun pertamanya hanya ada bangunan silinder beratap kubah, tempat untuk pertunjukan teater bintang dengan proyektor yang dibeli dari Jerman dan 500 buah kursi di dalamnya, serta beberapa ruang-ruang kecil lainnya. Tugas utama Planetarium Jakarta sejak pertunjukan perdananya saat itu adalah menyelenggarakan pertunjukan (star show) secara teratur menurut jadwal waktu yang telah ditetapkan. Selama enam hari dalam satu minggu Planetarium Jakarta dibuka untuk umum.</p>
<div id="attachment_1580" class="wp-caption alignleft" style="width: 360px"><img class="size-full wp-image-1580" title="kp-day-three-009" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/kp-day-three-009.jpg" alt="Proyektor Universarium Model VIII (TD) buatan Carl Zeiss. Kredit : Pramesti" width="350" height="263" /><p class="wp-caption-text">Proyektor Universarium Model VIII (TD) buatan Carl Zeiss. Kredit : Pramesti</p></div>
<p>Selain proyektor utama dari Jerman, di ruang pertunjukan terpasang 89 buah proyektor efek khusus, satu unit pengontrol elektronik, satu perangkat audio visual (video, laser disc, kaset audio dan pengeras suara). Sebuah generator listrik tersedia agar kegiatan tetap berlangsung sekalipun aliran listrik PLN terputus. Penyejuk udara belum ada. Teropong bintang belum terpasang. Pun ruang kerja para karyawannya belum ada. Ruang kantor selama beberapa tahun sempat bertempat di bedeng-bedeng bekas rumah tinggal pekerja-pekerja yang mendirikan Planetarium Jakarta. Sampai beberapa tahun lamanya, pengunjung yang hendak melihat pertunjukan bintang harus rela mengantri berpanas-panasan atau kehujanan di anak tangga menuju ruang teater bintang. Tangga menuju ruang teater bintang saat itu memang sangat terbuka. Belum ada atap yang melindungi pengunjung yang mengantri, apalagi ruang tunggu yang nyaman.</p>
<p>Selanjutnya dari tahun ke tahun Planetarium Jakarta terus ditingkatkan. Penambahan fasilitas dan sarana pendukung dilaksanakan secara bertahap, menyesuaikan dengan bantuan dana yang didapat Pemda DKI Jakarta. Sebagian dana tersebut pada tahun-tahun pertama digunakan untuk pengadaan dan penambahan segala peralatan yang dapat menunjang tugas utama Planetarium Jakarta dan perlengkapan alat kerja.</p>
<p>Pada tahun 1975 teleskop Coude, yang sebenarnya telah dimiliki sejak awal sekitar tahun 1964-an, dipasang pada sebuah bangunan berlantai dua, di luar gedung Planetarium tetapi tidak jauh darinya. Teleskop tersebut digunakan untuk pengamatan dan pemotretan Matahari. Pengunjung boleh juga mengamat dengan teleskop tersebut. Tetapi, pada tahun 1982, teleskop Coude terpaksa harus dipindah tempatnya karena lahan yang digunakan untuk bangunan teleskop tersebut sejak 1975 ternyata bukan milik Planetarium Jakarta dan diminta pemiliknya. Teleskop Coude dibongkar kemudian ditempatkan pada bangunan sekitar gedung planetarium.<br />
Sejak tahun 1979 sebagian dana dari Pemda DKI Jakarta digunakan untuk mencetak booklet. Selain booklet, dicetak juga brosur acara, folder maupun poster. Sebenarnya bentuk kegiatan publikasi Planetarium Jakarta sudah dimulai sebelum itu. Pada sepuluh tahun pertama, Planetarium Jakarta terpublikasikan melalui tayangan acara ilmu pengetahuan di TVRI, kerjasama dengan LIPI dan TVRI. Brosur dan leaflet juga telah dibuat, tapi dalam bentuk yang sangat sederhana.</p>
<p>Pada sekitar tahun 1977 &#8211; 1979 Planetarium Jakarta sempat mengajukan pendirian perpustakaan. Namun, usul ini tidak langsung dikabulkan. Pemerintah Daerah DKI Jakarta waktu itu lebih menyetujui pendirian sebuah gedung arsip, bersebelahan dengan Planetarium Jakarta karena ketika itu tidak ada tempat penyimpanan arsip.  Walaupun ruang perpustakaan belum dapat segera terwujud, pengumpulan dan penyimpanan materi atau bahan-bahan perpustakaan tetap giat dilakukan. Akhirnya pada tahun 1982 ruang perpustakaan mulai diwujudkan, bersama-sama dengan studio sound system, gedung permanen untuk ruang kerja, dll.</p>
<p>Sekitar tahun 1982 Bapak Darsa Soekartadiredja mengusulkan pembelian teleskop portable kecil kepada Pemda DKI Jakarta. Teleskop ini akan dipergunakan untuk pengamatan di luar kota Jakarta dalam peristiwa Gerhana Matahari Total, yang sebelumnya telah diperkirakan akan terjadi pada bulan Juni tahun 1983. Teleskop yang dapat berpindah ini tentunya sangat berguna terutama untuk peristiwa astronomis yang jarang terjadi dan hanya dapat diamati di daerah tertentu. Seperti halnya Gerhana Matahari Total yang hanya dapat diamati pada sebagian daerah. Pemda DKI Jakarta mengabulkannya.</p>
<p>Pada tahun 1984 status Planetarium Jakarta berubah menjadi Badan Pengelola Planetarium dan Observatorium DKI Jakarta. Perubahan status ini dimaksudkan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pada pengelolaan Planetarium dan Observatorium Jakarta. Badan Pengelola adalah aparat Pelaksana Pemerintah di Daerah dalam bidang planetarium dan observatorium. Kepala Badan Pengelola bertanggung jawab langsung kepada Gubernur Kepala Daerah.</p>
<div id="attachment_1579" class="wp-caption alignright" style="width: 260px"><img class="size-medium wp-image-1579" title="day-4-kedua-004" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/day-4-kedua-004.jpg" alt="Sabar menanti untuk memasuki teater bintang. Kredit : Pramesti" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">Sabar menanti untuk memasuki teater bintang. Kredit : Pramesti</p></div>
<p>Penambahan sarana pendukung gedung Planetarium Jakarta tetap dilakukan guna meningkatkan efektifitas Planetarium Jakarta dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Pada tahun 1991 gedung Planetarium Jakarta diperluas untuk memenuhi kebutuhan ruang kerja, ruang rapat, ruang kelas, ruang studio audio visual dan ruang pameran. Dana perawatan dan rehabilitasi gedung-gedung yang ada diambil dari dana anggaran pembangunan yang dianggarkan untuk Planetarium Jakarta.  Pada tahun 1994 Pemda DKI Jakarta akhirnya menyetujui pembelian teropong bintang bergaris tengah 31cm. Teropong bintang ini digunakan untuk mengganti teropong yang kecil dan sudah tua. Dengan adanya teropong baru ini diharapkan dapat menunjang kegiatan peneropongan untuk umum dengan lebih baik.</p>
<p>Pada tahun 1996 Badan Pengelola Planetarium dan Observatorium Jakarta melakukan pemutakhiran peralatan pertunjukan. Proyektor pertama Planetarium Jakarta yang telah bekerja selama 27 tahun itu digantikan dengan proyektor Planetarium generasi terbaru dari Pabrik Carl Zeiss. Pemutakhiran tersebut berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Tidak hanya pemutakhiran peralatan pertunjukan saja sebenarnya, tapi juga renovasi gedung bangunan Planetarium yang dilakukan tahun 2002 dengan dukungan dana Pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Ruang tunggu diperluas untuk memenuhi syarat pelayanan yang baik untuk publik, sesuai dengan peningkatan jumlah pengunjung tiap tahunnya. Ruang tunggu yang telah direnovasi kini menjadi lebih nyaman bagi pengunjung Planetarium Jakarta.</p>
<p>Hingga kini Planetarium Jakarta masih setia bertahan untuk melakukan tugas mulianya, mendidik bangsanya menjadi bangsa yang melek ilmu, sesuai dengan cita-cita para Bapak Bangsanya dahulu. Pembenahan dan peningkatan senantiasa dilakukan. Teater bintang masih memainkan adegan pergerakan langit semu yang sesuai setiap waktunya, dengan monolog menarik yang tak lupa memberi cuplikan kisah-kisah tentang langit. Dari kisah Joko Belek yang sakit mata di Tanah Jawa hingga Orion si Pemburu dari Yunani. Tak perlu malu-malu lagi berkenalan dengan langit, mari berkunjung ke planetarium.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/04/06/sejarah-planetarium-dan-observatorium-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Mengenal Planetarium</title>
		<link>http://langitselatan.com/2009/04/02/mari-mengenal-planetarium/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2009/04/02/mari-mengenal-planetarium/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 08:05:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[planetarium]]></category>
		<category><![CDATA[zeiss]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=1535</guid>
		<description><![CDATA[Planetarium adalah sebuah tempat atau ruangan dengan atap berbentuk kubah untuk mensimulasikan keadaan langit yang sebenarnya, dipandang dari segala tempat di Bumi dan segala waktu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Planetarium adalah sebuah tempat atau ruangan dengan atap berbentuk kubah untuk mensimulasikan keadaan langit yang sebenarnya, dipandang dari segala tempat di Bumi dan segala waktu. Sebuah planetarium dilengkapi proyektor bintang, biasanya terletak di tengah ruangan, yang berfungsi untuk memproyeksikan cahaya pada atap kubah planetarium, untuk menghasilkan cahaya benda-benda langit seperti bintang-bintang, planet, bulan dan lain-lain sehingga menghasilkan  gambaran keadaan langit  malam sebenarnya.<span id="more-1535"></span></p>
<div id="attachment_1536" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-1536" title="hahn-planetarium" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/hahn-planetarium.jpg" alt="Planetarium kuno oleh David Hahn (Orrery, jam astronomis, bola langit), dibuat untuk Herzog Ernst II dari Gotha, tahun 1780. Gambar: Schlossmuseum Gotha" width="300" height="190" /><p class="wp-caption-text">Planetarium kuno oleh David Hahn (Orrery, jam astronomis, bola langit), dibuat untuk Herzog Ernst II dari Gotha, tahun 1780. Gambar: Schlossmuseum Gotha</p></div>
<p>Lahirnya planetarium itu sendiri didorong oleh keinginan dari diri manusia yang senantiasa mencari tahu dan memahami hakikat kehidupan ini. Hal-hal yang terjadi di sekelilingnya berusaha dipahami dengan akalnya. Sejarah mencatat bahwa manusia sudah mulai memperhatikan benda-benda langit dengan karakternya masing-masing sejak beberapa ratus tahun sebelum masehi –ribuan tahun dari sekarang. Pada waktu itu manusia telah mencoba membedakan benda-benda langit satu dengan lainnya. Manusia juga telah mengamati letak dan pergerakan benda-benda langit tersebut.</p>
<p>Dalam proses memahami itulah, sejak sekitar dua abad SM dicoba dibuat alat-alat yang menirukan gerak benda-benda itu, yang juga berfungsi sekaligus untuk menguji ketepatan teori yang ada saat itu. Kemudian sekitar abad 17 telah dikenal alat peraga yang disebut planetarium, stellarium, tellurium, dan lunarium. Pada akhir abad 17 telah dibuat dinding bola yang permukaan dalamnya digambari bintang-bintang atau diberi lubang kecil-kecil untuk dilalui cahaya matahari sebagai penggambaran letak bintang-bintang (S.Darsa, 1992).</p>
<p>Planetarium kuno pertama adalah alat peraga atau model miniatur Tata Surya dengan menggunakan mesin mekanik, hasil karya tinggi dari tangan pembuat arloji. Alat peraga tersebut memang dibuat untuk mengenal waktu, dengan membuat peraga benda-benda langit yang bergerak yang dapat dijadikan acuan waktu astronomis. Dari sinilah cikal bakal planetarium.</p>
<div id="attachment_1537" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-1537" title="zeiss" src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2009/04/zeiss.jpg" alt="Instrumen Planetarium pertama buatan Zeiss di Museum Deutsches, Munich, 1923 Copyright 1973, International Planetarium Society" width="150" height="189" /><p class="wp-caption-text">Instrumen Planetarium pertama buatan Zeiss di Museum Deutsches, Munich, 1923 Copyright 1973, International Planetarium Society</p></div>
<p>Cara-cara yang sederhana ini kemudian memberi dorongan munculnya pikiran-pikiran inovatif untuk menciptakan sistem proyeksi cahaya pada dinding bola yang terus digunakan sampai saat ini. Alat peraga yang berupa mesin mekanik yang dapat menggambarkan gerak planet-planet mengelilingi Matahari dengan teliti terakhir dibuat tahun 1924, tidak dapat bersaing dengan sistem proyeksi cahaya yang dilengkapi dengan mesin-mesin penggeraknya.</p>
<p>Gagasan untuk membuat alat peraga dengan sistem proyeksi cahaya untuk menghasilkan gambaran langit mendekati sebenarnya ini giat dikemukakan oleh Max Wolf, astronom Jerman.  Pada masa itu, kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang optik, instrumentasi, dan listrik memungkinkan untuk merealisasikan gagasan ini. Perusahaan Carl Zeiss, yang berdiri sejak 1846 dan terkenal akan reputasinya dalam pembuatan instrumentasi optik yang berkualitas, merupakan perusahaan yang dipercaya untuk membuat alat proyeksi cahaya tersebut.</p>
<p>Pada bulan Agustus 1923, proyektor pertama (Model I) ini dipasang di Jena untuk diuji coba, di bawah kubah berdiameter 16 meter. Kemudian pada bulan Mei 1925 proyektor tersebut dipasang secara permanen di Museum Jerman – Munich. Masyarakat yang menyaksikan pertunjukan perdananya dibuat sangat  terpukau. Planetarium pertama ini sempat hancur dalam perang dunia II, tetapi pada tahun 1950-an dibangun kembali.</p>
<p>Sejak hadirnya proyektor yang pertama tersebut, proyektor-proyektor baru dengan berbagai pemutakhiran untuk menghadirkan langit dan isinya pada ruangan berkubah terus bermunculan. Dengan segala kecanggihannya, kini  planetarium tak lagi hanya sebuah alat untuk memahami pergerakan benda-benda langit, tetapi juga untuk menjelaskan astronomi secara umum dan luas. Dilengkapi berbagai sarana dan kegiatan yang mendukung, planetarium modern kini telah menjadi tempat wisata yang ilmiah, berrekreasi sambil berilmu.</p>
<p>Demikianlah planetarium lahir dari tangan manusia untuk membantu manusia memahami alam semesta dan memahami posisinya di jagat raya mahaluas ini. Planetarium Jakarta yang merupakan satu dari sekian ribu planetarium di seluruh dunia pun berdiri sebagai alat manusia Indonesia yang ingin membuka matanya dalam memandang alam semesta ini.</p>
<pre>lead image credit to :<a rel="nofollow" href="http://www.gochicagocard.com/" target="_blank">GoChicagoCard.com</a></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2009/04/02/mari-mengenal-planetarium/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Planet Extrasolar Yang Mengelilingi Bintang Normal</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/09/16/planet-extrasolar-yang-mengelilingi-bintang-normal/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/09/16/planet-extrasolar-yang-mengelilingi-bintang-normal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Sep 2008 08:45:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Extrasolar]]></category>
		<category><![CDATA[Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[exoplanet]]></category>
		<category><![CDATA[extrasolar]]></category>
		<category><![CDATA[katai coklat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah planet extrasolar (exoplanet) kembali ditemukan dan terlihat mengelilingi sebuah bintang yang mirip dengan Matahari. Exoplanet yang baru ditemukan tersebut berukuran besar, dengan massa kira-kira delapan kali massa Jupiter. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah planet extrasolar (exoplanet) kembali ditemukan dan terlihat mengelilingi sebuah bintang yang mirip dengan Matahari. Exoplanet yang baru ditemukan tersebut berukuran besar, dengan massa kira-kira delapan kali massa Jupiter. Tim peneliti yang memperoleh citra ini, dari Kanada, mengatakan bahwa bintang induk planet tersebut mirip dengan Matahari kita, tetapi lebih muda.<span id="more-813"></span></p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_right" style="width:225px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/09/fig1.jpg" alt="1RSX J160929.1-210524 dan planet pengiringnya yang bermassa ~8 massa Jupiter. Kredit: Gemini Observatory " width="225" height="225" align="right"/><br style="clear:both" /><span>1RSX J160929.1-210524 dan planet pengiringnya yang bermassa ~8 massa Jupiter. Kredit: Gemini Observatory </span></div></p>
<p>Tiga orang astronom dari Universitas Toronto menggunakan <em>Gemini North Telescope </em>di Mauna kea, Hawaii, untuk mengambil citra bintang muda 1RXS J160929.1-210524 dan kandidat planetnya ini. Jarak bintang dan exoplanet ini terukur sekitar 500 tahun cahaya dari Bumi kita. “Hal ini merupakan pertama kalinya kita melihat secara langsung sebuah obyek bermassa planet dalam orbitnya mengelilingi bintang induknya yang mirip dengan Matahari kita. Jika kita dapat mengkonfirmasi bahwa obyek ini memang benar-benar terikat secara gravitasional pada bintang, maka hal ini akan menjadi sebuah langkah maju yang besar,” kata David Lafreniere, sang peneliti utama.</p>
<p>Planet itu sendiri terletak pada jarak yang jauh dari bintang induknya, sekitar 330 kali jarak Matahari-Bumi. Sebagai perbandingan, planet yang paling jauh dari Tata Surya kita, Neptunus, mengorbit Matahari pada jarak sekitar 30 kali jarak Matahari-Bumi. Temperaturnya sekitar 1500°C, jauh lebih panas dari Jupiter. “Untuk sebuah gambar pertama akan sebuah planet yang mengorbit sebuah bintang biasa, hal ini merupakan kandidat yang sangat bagus,” komentar Dr. Matt Burleigh dari Universitas Leicester, Inggris. “Sekarang tim peneliti perlu membuat observasi lebih banyak agar dapat mengkonfirmasi bahwa keduanya memang bergerak bersama di luar angkasa,” tambahnya lagi.</p>
<p>Penelitian yang menghasilkan penemuan ini adalah bagian dari sebuah survey atas lebih dari 85 bintang dalam asosiasi Scorpius Atas, sebuah kelompok akan bintang-bintang muda yang terbentuk sekitar lima juta tahun yang lalu. Menemukan sebuah obyek bermassa-planet yang berada jauh dari bintang induknya menjadi hal yang mengejutkan bagi para astronom ini dan memberikan sebuah tantangan untuk teori perbintangan dan pembentukan planet. Para astronom tersebut menggunakan teknologi optik-adaptif untuk mengurangi distorsi pada citra yang disebabkan oleh turbulensi dalam atmosfer Bumi. Citra inframerah-dekat dan spektra dari kandidat planet ini menunjukkan bahwa obyek ini terlalu dingin sebagai sebuah bintang ataupun katai coklat (bakal bintang yang gagal). Mungkin memerlukan waktu dua tahun untuk dapat mengkonfirmasi bahwa bintang dan planet kandidatnya ini bergerak bersama di luar sana.</p>
<p style="text-align: left;">Sumber :<a href="http://www.gemini.edu/sunstarplanet" target="_blank">Gemini Observatory</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/09/16/planet-extrasolar-yang-mengelilingi-bintang-normal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Planet X Bukan Planet Nibiru</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/06/24/planet-x-pada-kiamat-2012-bukan-planet-nibiru/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/06/24/planet-x-pada-kiamat-2012-bukan-planet-nibiru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 00:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[AstroPraktis]]></category>
		<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[kalender maya]]></category>
		<category><![CDATA[nibiru]]></category>
		<category><![CDATA[planet X]]></category>
		<category><![CDATA[sabuk kuiper]]></category>
		<category><![CDATA[sedna]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Surya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian luar Tata Surya masih memiliki banyak planet-planet minor yang belum ditemukan. Sejak pencarian Planet X dimulai pada awal abad ke 20, kemungkinan akan adanya planet hipotetis yang mengorbit Matahari di balik Sabuk Kuiper telah membakar teori-teori Kiamat dan spekulasi bahwa Planet X sebenarnya merupakan saudara Matahari kita yang telah lama “hilang”. Tetapi, mengapa kita harus cemas duluan akan Planet X/Teori Kiamat ini? Planet X kan tidak lain hanya merupakan obyek hipotetis yang tidak diketahui?</p>
<p>Teori-teori ini didorong pula dengan adanya ramalan suku Maya akan kiamat dunia pada tahun 2012 (<em>Mayan Prophecy</em>) dan cerita mistis Bangsa Sumeria tentang Planet Nibiru, dan akhirnya kini memanas sebagai “ramalan kiamat” 21 Desember 2012. Namun, bukti-bukti astronomis yang digunakan untuk teori-teori ini benar-benar melenceng.</p>
<p>Pada 18 Juni kemarin, peneliti-peneliti Jepang mengumumkan berita bahwa pencarian teoretis mereka untuk sebuah massa besar di luar Tata Surya kita telah membuahkan hasil. Dari perhitungan mereka, mungkin saja terdapat sebuah planet yang sedikit lebih besar daripada sebuah objek Plutoid atau planet kerdil, tetapi tentu lebih kecil dari Bumi, yang mengorbit Matahari dengan jarak lebih dari 100 SA. Tetapi, sebelum kita terhanyut pada penemuan ini, planet ini bukan Nibiru, dan bukan pula bukti akan berakhirnya dunia ini pada 2012. Penemuan ini adalah penemuan baru dan merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam pencarian planet-planet minor di balik Sabuk Kuiper.</p>
<p>Dalam simulasi teoretis, dua orang peneliti Jepang telah menyimpulkan bahwa bagian paling luar dari Tata Surya kita mungkin mengandung planet yang belum ditemukan. Patryk Lykawa dan Tadashi Mukai dari Universitas Kobe telah mempublikasikan paper mereka dalam Astrophysical Journal. Paper mereka menjelaskan tentang planet minor yang mereka yakini berinteraksi dengan Sabuk Kuiper yang misterius itu.</p>
<p><strong>Kuiper Belt Objects (KBOs)</strong><br />
<div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_left" style="width:232px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/06/sedna-art-250x187.jpg" alt="Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuiper. Kredit : NASA" width="232" height="174" align="left" /><br style="clear:both" /><span>Sedna, salah satu objek di Sabuk Kuiper. Kredit : NASA</span></div></p>
<p>Sabuk Kuiper menempati wilayah yang sangat luas di Tata Surya kita, kira-kira 30-50 SA dari Matahari, dan mengandung sejumlah besar objek-objek batuan dan metalik. Objek terbesar yang diketahui adalah planet kerdil (Plutoid) Eris. Telah lama diketahui, Sabuk Kuiper memiliki karakteristik yang aneh, yang mungkin menandakan keberadaan sebuah benda (planet) besar yang mengorbit Matahari dibalik Sabuk Kuiper. Salah satu karakterikstik tersebut adalah yang disebut dengan “Kuiper Cliff” atau Jurang Kuiper yang terdapat pada jarak 50 SA. Ini merupakan akhir dari Sabuk Kuiper yang tiba-tiba, dan sangat sedikit objek Sabuk Kuiper yang telah dapat diamati di balik titik ini. Jurang ini tidak dapat dihubungkan terhadap resonansi orbital dengan planet-planet masif seperti Neptunus, dan tampaknya tidak terjadi kesalahan (error) pengamatan. Banyak ahli astronomi percaya bahwa akhir yang tiba-tiba dalam populasi Sabuk Kuiper tersebut dapat disebabkan oleh planet yang belum ditemukan, yang mungkin sebesar Bumi. Objek inilah yang diyakini Lykawka dan Mukai, dan telah mereka perhitungkan keberadaannya.</p>
<p>Para peneliti Jepang ini memprediksikan sebuah objek besar, yang massanya 30-70 % massa Bumi, mengorbit Matahari pada jarak 100-200 SA. Objek ini mungkin juga dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian objek Sabuk Kuiper dan objek Trans-Neptunian (TNO) memiliki beberapa karakteristik orbital yang aneh, contohnya Sedna.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_right" style="width:250px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/06/eighttnos-250x181.png" alt="Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA" width="250" height="181" align="right" /><br style="clear:both" /><span>Objek-objek trans Neptunian. Kredit : NASA</span></div></p>
<p>Sejak ditemukannya Pluto pada tahun 1930, para astronom telah mencari objek lain yang lebih masif, yang dapat menjelaskan gangguan orbital yang diamati pada orbit Neptunus dan Uranus. Pencarian ini dikenal sebagai “Pencarian Planet X”, yang diartikan secara harfiah sebagai “pencarian planet yang belum teridentifikasi”. Pada tahun 1980an gangguan orbital ini dianggap sebagai kesalahan (error) pengamatan. Oleh karena itu, pencarian ilmiah akan Planet X dewasa ini adalah pencarian untuk objek Sabuk Kuiper yang besar, atau pencarian planet minor. Meskipun Planet X mungkin tidak akan sebesar massa Bumi, para peneliti masih akan tetap tertarik untuk mencari objek-objek Kuiper lain, yang mungkin seukuran Plutoid, mungkin juga sedikit lebih besar, tetapi tidak terlalu besar.</p>
<p><em> “The interesting thing for me is the suggestion of the kinds of very interesting objects that may yet await discovery in the outer solar system. We are still scratching the edges of that region of the solar system, and I expect many surprises await us with the future deeper surveys.”</em> &#8211; Mark Sykes, Direktur Planetary Science Institute (PSI) di Arizona.</p>
<p><strong>Planet X Tidaklah Menakutkan</strong><br />
Jadi, dari mana Nibiru ini berasal? Pada tahun 1976, sebuah buku kontroversial berjudul <strong><em>The Twelfth Planet </em></strong>atau <strong><em>Planet Kedua belas</em></strong> ditulis oleh Zecharian Sitchin. Sitchin telah menerjemahkan tulisan-tulisan kuno Sumeria yang berbentuk baji (bentuk tulisan yang diketahui paling kuno). Tulisan berumur 6.000 tahun ini mengungkapkan bahwa ras alien yang dikenal sebagai Anunnaki dari planet yang disebut Nibiru, mendarat di Bumi. Ringkas cerita, Anunnaki memodifikasi gen primata di Bumi untuk menciptakan homo sapiens sebagai budak mereka.</p>
<p>Ketika Anunnaki meninggalkan Bumi, mereka membiarkan kita memerintah Bumi ini hingga saatnya mereka kembali nanti. Semua ini mungkin tampak sedikit fantastis, dan mungkin juga sedikit terlalu detail jika mengingat semua ini merupakan terjemahan harfiah dari suatu tulisan kuno berusia 6.000 tahun. Pekerjaan Sitchin ini telah diabaikan oleh komunitas ilmiah sebagaimana metode interpretasinya dianggap imajinatif. Meskipun demikian, banyak juga yang mendengar Sitchin, dan meyakini bahwa Nibiru (dengan orbitnya yang sangat eksentrik dalam mengelilingi Matahari) akan kembali, mungkin pada tahun 2012 untuk menyebabkan semua kehancuran dan terror-teror di Bumi ini. Dari “penemuan” astronomis yang meragukan inilah hipotesis Kiamat 2012 Planet X didasarkan. Lalu, bagaimanakah Planet X dianggap sebagai perwujudan dari Nibiru?</p>
<p>Kemudian terdapat juga “penemuan katai coklat di luar Tata Surya kita” dari IRAS pada tahun 1984 dan “pengumuman NASA akan planet bermassa 4-8 massa Bumi yang sedang menuju Bumi” pada tahun 1933. Para pendukung hipotesis kiamat ini bergantung pada penemuan astronomis tersebut, sebagai bukti bahwa Nibiru sebenarnya adalah Planet X yang telah lama dicari para astronom selama abad ini. Tidak hanya itu, dengan memanipulasi fakta-fakta tentang penelitian-penelitian ilmiah, mereka “membuktikan” bahwa Nibiru sedang menuju kita (Bumi), dan pada tahun 2012, benda masif ini akan memasuki bagian dalam Tata Surya kita, menyebabkan gangguan gravitasi.</p>
<p>Dalam pendefinisian yang paling murni, Planet X adalah planet yang belum diketahui, yang mungkin secara teoretis mengorbit Matahari jauh di balik Sabuk Kuiper. Jika penemuan beberapa hari lalu memang akhirnya mengarah pada pengamatan sebuah planet atau Plutoid, maka hal ini akan menjadi penemuan luar biasa yang membantu kita memahami evolusi dan karakteristik misterius bagian luar Tata Surya kita.</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #888888;">Sumber : Universe Today</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/06/24/planet-x-pada-kiamat-2012-bukan-planet-nibiru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1391</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LEO, Sang Singa Raja Langit</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/04/10/leo-sang-singa-raja-langit/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/04/10/leo-sang-singa-raja-langit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 02:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasi Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[leo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2008/04/10/leo-sang-singa-raja-langit/</guid>
		<description><![CDATA[Tugas pertama dari dua belas tugas yang diberikan oleh Dewi Hera pada Herkules adalah membunuh singa raksasa Nemea yang sangat terkenal akan kebuasannya. Begitu perkasanya Singa Nemea itu hingga panah Hercules pun mental.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_top_left" style="width:200px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/04/leo.jpg" alt="Rasi Leo. Kredit Gambar : Stellarium" width="200" align="left" /><br style="clear:both" /><span>Rasi Leo. Kredit Gambar : Stellarium</span></div></p>
<p>Konon, tugas pertama dari dua belas tugas yang diberikan oleh Dewi Hera pada Herkules adalah membunuh singa raksasa Nemea yang sangat terkenal akan kebuasannya. Begitu perkasanya Singa Nemea itu, hingga panah Hercules pun mental, tak menggoresnya sedikit pun. Pedangnya terbelah menjadi dua dan senjata kayunya hancur berkeping-keping.<span id="more-553"></span></p>
<p>Konon, Singa Nemea memiliki kulit yang tak dapat ditembus oleh besi, perunggu, dan kayu. Karena tak ada satu senjata pun yang dapat membantu Herkules membunuh singa buas tersebut, maka Herkules pun hanya dapat mengandalkan kedua tangannya. Mereka bergulat dengan sengit sampai akhirnya Hercules mencekik Singa Nemea itu sampai mati.</p>
<p>Herkules berhasil memenangkan pertarungan sengit itu dan menyelesaikan tugasnya. Kemudian, ia menguliti singa yang telah tak bernyawa itu dengan cakar sang singa sendiri, lalu mengenakan kulit sakti itu pada tubuhnya sebagai jubah sehingga ia terjaga dari bahaya. Hera sangat marah mendengar kemenangan Herkules. Ia mengirim jiwa Singa Nemea itu jauh ke atas langit untuk mengenang pertarungan hebat itu dan hingga saat ini  dapat dilihat sebagai Rasi Leo yang indah, tidak lagi mematikan.</p>
<p>Begitulah Rasi Leo seperti dikisahkan dalam mitologi Yunani. Agaknya, sejak zaman dahulu, jauh sebelum mitologi Yunani itu berkembang, singa telah menjadi lambang kekuatan dan kekuasaan bagi banyak peradaban manusia. Orang-orang Mesir kuno menyembah Dewa Singa, dewa yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka percaya bahwa dunia diciptakan ketika matahari terbit di Rasi Leo, dekat Bintang Denebola.</p>
<p>Orang-orang Sumeria sejak dahulu juga telah melihat bentuk singa pada rasi ini. Orang-orang Persia menyebut rasi ini sebagai Ser. Orang-orang Turki menamainya Artan. Orang-orang Syria menyebutnya Aryo. Orang-orang Yahudi menyebut rasi ini Arye dan orang-orang Babylonia menyebutnya Aru. Beragam sebutan tetapi maknanya tetap satu, yaitu singa.</p>
<p><strong>Astronomis</strong><br />
<div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_right" style="width:200px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/04/leo_constellation_map.jpg" alt="Peta konstelasi Leo" width="200" align="right" /><br style="clear:both" /><span>Peta konstelasi Leo</span></div> </p>
<p>Rasi Leo adalah salah satu dari sekian banyak rasi bintang yang terlihat hampir sesuai dengan namanya, yaitu singa. Oleh karena itu, Rasi Leo ini termasuk rasi yang mudah dikenali. Terletak pada asensiorekta 11h dan deklinasi 150,  Rasi Leo berbatasan dengan Rasi Ursa Mayor, Leo Minor, Cancer, Hydra, Sextans, Crater, Virgo, dan Coma Berenices. Rasi Leo tampak jelas dilihat pada bulan April di langit belahan bumi utara.</p>
<p>Untuk menemukan Rasi Leo di langit, akan lebih mudah menemukan bentuk tanda tanya terbalik pada rasi itu terlebih dahulu. Rasi Ursa Mayor yang terdapat di sebelah utara Rasi Leo dapat juga dijadikan acuan untuk menemukan Rasi Leo. Seperti yang kita ketahui, pada Rasi Ursa Major terdapat bentuk gayung di dalamnya atau biasa disebut bintang tujuh. Ikuti saja bentuk gayung tersebut mulai dari pegangannya ke bagian bawah gayung. Kita akan sampai ke satu bintang terang, Regulus. Bintang ini kemudian akan menuntun kita ke bentuk tanda tanya terbalik yang ada di sebelah atasnya, yang selanjutnya akan menuntun kita melihat keseluruhan bentuk singa pada Rasi Leo.</p>
<p>Regulus, bintang terang yang telah disebutkan tadi tak lain adalah bintang yang paling terang ( ? Leo) di Rasi Leo. Memiliki magnitudo (skala kecerlangan bintang) 1.4, diameter dan massanya tiga kali lebih besar dari matahari. Temperatur permukaannya sekitar 12.500 K, bandingkan dengan matahari kita yang “hanya” 6.000 K. Tidak heran jika Regulus, yang jaraknya sekitar 78 tahun cahaya dari bumi ini, dapat bersinar 160 kali lebih terang daripada matahari kita.</p>
<p>Nama Regulus, yang artinya bintang kecil, diberikan tak lain oleh astronom terkenal Polandia, Nicholaus Copernicus. Dalam peradaban Sumeria kuno, Regulus berarti bintangnya Raja. Regulus termasuk salah satu bintang yang mudah kita kenali di langit malam.</p>
<p>Jika diamati dengan cermat melalui teleskop, Regulus sebenarnya bukan bintang tunggal. Ia merupakan bintang majemuk yang terdiri dari tiga bintang. Dalam astronomi, bintang majemuk (<em>multiple stars</em>) adalah suatu sistem yang dibentuk oleh lebih dari satu komponen bintang yang terikat satu sama lain akibat gaya tarik gravitasi antar bintang-bintang itu dan semua mengorbit mengitari titik pusat massanya. Contohnya adalah bintang ganda yang dibentuk oleh dua komponen bintang.</p>
<p>Bintang Denebola adalah bintang kedua paling terang ( ? Leo) pada Rasi Leo. Nama Denebola berasal dari Bahasa Arab “Al-Dhanab-Al-Asad”, artinya ekor singa, yang memang sesuai dengan letaknya.</p>
<p>Selain Regulus dan Denebola, bintang-bintang yang lebih redup pada Rasi Leo pun telah mempunyai nama. Sesuai dengan urutan kecerlangannya, mereka adalah Algieba (?1Leo), Zosma ( ? Leo), Ras Elased Australis ( ? Leo), Adhafera ( ? Leo), ? Leonis, Chort ( ? Leo), Al Minliar Al Asad ( ? Leo), Alterf ( ? Leo), Ras Elased Borealis ( ? Leo), dan Subra ( ? Leo). Regulus,  ? Leonis, dan Algieba, bersama dengan bintang lain yang lebih redup yaitu Adhafera ( ? Leo), Ras Elased Borealis ( ? Leo), dan Ras Elased Australis ( ? Leo), membentuk tanda tanya terbalik, menandai kepala singa dan rambutnya.</p>
<p>Selain bintang-bintang yang telah disebutkan di atas, dapat juga kita amati galaksi-galaksi yang amat jauh pada rasi Leo ini. Yang terkenal di antaranya adalah galaksi-galaksi spiral M65, M66, M95, M96, dan galaksi elips, M105. Tentu saja, untuk dapat melihat galaksi-galaksi ini, kita harus melihatnya melalui teleskop, mulai dari teleskop sedang, karena terlalu lemah untuk dilihat melalui binokular. Bintang Wolf 359, bintang yang termasuk dekat dengan tata surya kita (7.7 tahun cahaya) juga dapat dilihat di rasi ini.</p>
<p><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_left" style="width:225px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/04/leo_nov18_1025ut_bcs.jpg" alt="leonid shower. kredit gambar : APOD" width="225" align="left" /><br style="clear:both" /><span>leonid shower. kredit gambar : APOD</span></div></p>
<p>Pada suatu saat di bulan November, kita akan menyaksikan banyak sekali meteor &#8211; yang dikenal juga dengan sebutan bintang jatuh &#8211; di langit dan jauh lebih terang dari meteor biasa datang dari arah Rasi Leo. Inilah yang disebut <em>Leonid Meteor Shower</em>. Dinamakan demikian karena meteor-meteor tersebut seolah-olah berasal atau dipancarkan dari suatu titik pada Rasi Leo. Ini sebetulnya hanya perspektif kita yang memandang dari bumi, seperti halnya jalan yang tampak menyatu di kejauhan.</p>
<p>Pada mulanya, orang-orang zaman dahulu sangat terkejut akan peristiwa hujan meteor ini. Mereka sangat takut karena mereka pikir kiamat telah datang. Tetapi tidak begitu dengan para ilmuwan astronomi zaman dahulu. Mereka tertarik dan amat penasaran dengan peristiwa hujan meteor. Leonid meteor shower ini adalah hujan meteor yang pertama kali menarik orang-orang untuk mempelajarinya.</p>
<p>Kebanyakan hujan meteor diproduksi oleh komet. Dalam hal Leonid meteor shower, komet asalnya yang dinamakan Tempel-Tuttle tampak di langit sekitar 33 tahun sekali. Leonid meteor shower biasanya terjadi pada 14-21 November. Rentang waktu Leonid meteor shower berlangsung lebih cepat daripada hujan meteor lainnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/04/10/leo-sang-singa-raja-langit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misteri Hilangnya Cincin Saturnus</title>
		<link>http://langitselatan.com/2008/03/20/misteri-menghilangnya-cincin-saturnus/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2008/03/20/misteri-menghilangnya-cincin-saturnus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 15:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Planet]]></category>
		<category><![CDATA[saturnus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2008/03/20/misteri-menghilangnya-cincin-saturnus/</guid>
		<description><![CDATA[Para astronom amatir di seluruh dunia saat ini memperhatikan perubahan yang sama pada Saturnus: Cincin Saturnus yang lebar menipis menjadi garis tipis. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para astronom amatir di seluruh dunia saat ini memperhatikan perubahan yang sama pada Saturnus: Cincin Saturnus yang lebar menipis menjadi garis tipis. Efrain Morales Rivera mengirimkan gambar berikut yang diambil dari halaman belakang rumahnya di Aguadilla, Puerto Rico.<span id="more-523"></span></p>
<p style="text-align: center"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:498px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/03/efrain-morales-rivera1_strip.jpg" alt="Perbandingan saturnus di tahun 2007 dan 2008. Kredit Gambar : Efrain Morales Rivera" width="498" /><br style="clear:both" /><span>Perbandingan saturnus di tahun 2007 dan 2008. Kredit Gambar : Efrain Morales Rivera</span></div></p>
<p>“Cincin-cincin Saturnus telah menipis sekali dalam setahun ini”, katanya. Daerah Cassini atau <em>Cassini Division</em> (suatu daerah gelap dalam cincin Saturnus yang dinamakan Cassini) mulai sulit diamati. Fenomena yang sama terjadi empat ratus tahun lalu dan sempat memusingkan Galileo, sebagai orang pertama yang pada tahun 1610 menemukan cincin-cincin Saturnus melalui teropong primitifnya. Dia sangat tercengang ketika mendapati cincin-cincin tersebut menyempit sedikit setahun berikutnya.</p>
<p>Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Sekarang, kejadian yang sama adalah: kita mengalami suatu “pelintasan bidang cincin” (<em>ring plane crossing</em>). Ketika sedang dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, Saturnus membelokkan cincinnya menjadi sejajar dengan garis pandang dari Bumi (edge-on) setiap 14-15 tahun sekali. Karena cincinnya yang sangat tipis, mereka bisa tidak teramati jika dilihat melalui teleskop kecil.</p>
<p>Dalam bulan-bulan berikut ini, cincin Saturnus akan menjadi semakin tipis sampai akhirnya mereka “hilang” pada 4 September 2009 nanti. Ketika hal ini terjadi pada 1612, Galileo mengabaikan studinya akan planet. Padahal, kita ketahui kemudian, saat-saat “pelintasan bidang cincin” seperti ini merupakan waktu yang baik untuk menemukan satelit-satelit dan cincin luar Saturnus yang baru. Selain itu, saat demikian juga merupakan waktu yang baik untuk melihat kutub utara Saturnus yang biru. Pada tahun 2005, wahana antariksa Cassini terbang di atas belahan utara Planet Saturnus dan menemukan bahwa langit di sana sebiru langit Bumi sendiri. Selama bertahun-tahun, hanya Cassini yang bisa menikmati pemandangan ini, karena dari Bumi, bagian atas Saturnus yang biru tertutupi oleh cincin-cincin Saturnus.</p>
<p>Galileo sendiri tidak pernah memahami sifat dasar alamiah dari cincin-cincin Saturnus. Dia tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya merupakan kumpulan satelit-satelit kecil yang mengorbit dalam bidang orbit piringan, berukuran dari debu hingga sebesar bulan kita (Kemungkinan cincin-cincin ini merupakan <em>debris </em>atau puing-puing dari satelit yang hancur, tetapi para ilmuwan sendiri masih belum yakin benar akan hal ini). Melalui teleskop abad 17-nya, cincin tersebut lebih menyerupai telinga atau semacam cuping planet.</p>
<p>Meskipun demikian, intuisinya mengarahkan Galileo untuk membuat prediksi yang tepat, bahwa cincin-cincin yang hilang ini akan kembali. Dan dia benar. Cincin Saturnus kembali tampak, dan para ilmuwan menyimpulkan penelitiannya. Pada tahun 1659, secara tepat Christiaan Huygens menjelaskan peristiwa menghilangnya cincin yang periodik selama terjadinya “pelintasan bidang cincin” atau <em>“ring plane crossing”</em> ini. Pada tahun 1660, Jean Chapelain mengatakan bahwa cincin Saturnus bukan merupakan benda padat, tetapi terbuat dari partikel-partikel kecil yang sangat banyak dan masing-masing mengorbit Saturnus secara independen. Selama dua ratus tahun, usulannya sempat tidak diterima secara luas, sebelum ternyata terbukti benar.</p>
<p style="text-align: center"><div class="imagecaptioneasy imagecaptioneasy_nowrap" style="width:498px;"><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2008/03/hstedge_strip2.gif" alt="Cincin-cincin Saturnus sangat lebar tetapi juga sangat tipis. Para astronom menggunakan Teleskop Hubble untuk menangkap citra Saturnus dengan posisi cincin datarnya ini (edge-on) pada tahun 1995. Obyek terang seperti bintang pada bidang cincin yang terlihat pada gambar merupakan satelit-satelit es. Kredit Gambar : NASA" width="498" /><br style="clear:both" /><span>Cincin-cincin Saturnus sangat lebar tetapi juga sangat tipis. Para astronom menggunakan Teleskop Hubble untuk menangkap citra Saturnus dengan posisi cincin datarnya ini (edge-on) pada tahun 1995. Obyek terang seperti bintang pada bidang cincin yang terlihat pada gambar merupakan satelit-satelit es. Kredit Gambar : NASA</span></div></p>
<p>Tidak perlu bersedih hati dengan “musibah hilangnya” cincin Saturnus ini.  Saturnus masih merupakan obyek yang indah untuk dilihat melalui teleskop yang kecil sekalipun. Malah, minggu ini sebenarnya merupakan minggu yang baik untuk mengamati Saturnus. Pada Selasa, 18 Maret dan Rabu, 19 Maret, Bulan yang hampir purnama dan Saturnus akan berada satu garis pada bagian yang sama di langit senja. Hal ini membuat Saturnus menjadi mudah dicari, tidak seperti biasanya. Setelah Matahari terbenam, lihatlah daerah sdi ekeliling Bulan, dan <em>voila</em>! Saturnus terlihat seperti “bintang emas” terang di dekat Bulan. Jika Anda melewati momen 18-19 Maret ini, coba lihat kembali 14-15 April. Bulan dan Saturnus akan berada berdekatan dan cincin Saturnus bahkan menjadi lebih sempit.</p>
<p align="left">Sumber : <a href="http://science.nasa.gov/headlines/y2008/18mar_saturn.htm?list1088553">Science@NASA</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2008/03/20/misteri-menghilangnya-cincin-saturnus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghitung Hari dengan Sistem Penanggalan Hijriah</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Sep 2007 09:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kalender]]></category>
		<category><![CDATA[Hijriah]]></category>
		<category><![CDATA[kalender islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/</guid>
		<description><![CDATA[Kita perhatikan bahwa hari raya Islam setiap tahunnya tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama, pada kalender yang kita gunakan sehari-hari. Bulan puasa tahun ini lebih cepat sekitar sebelas hari daripada tahun lalu. Bulan puasa tahun ini juga akan lebih lambat sekitar sebelas hari daripada bulan puasa tahun depan.
Dari tahun ke tahun dengan akumulasi perbedaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita perhatikan bahwa hari raya Islam setiap tahunnya tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama, pada kalender yang kita gunakan sehari-hari. Bulan puasa tahun ini lebih cepat sekitar sebelas hari daripada tahun lalu. Bulan puasa tahun ini juga akan lebih lambat sekitar sebelas hari daripada bulan puasa tahun depan.</p>
<p>Dari tahun ke tahun dengan akumulasi perbedaan sekitar sebelas hari tiap tahunnya, misalnya, hari raya haji tidak selalu datang pada musim yang sama. Kadang hari raya haji terjadi pada musim panas dengan sinar matahari yang terik, kadang terjadi pada musim dingin yang menggigil. Mengapa terjadi perbedaan sekitar sebelas hari antara penanggalan Islam dengan penanggalan yang kita gunakan sehari-hari, yang resmi digunakan oleh dunia internasional?<span id="more-202"></span></p>
<p>Perbedaan ini bukan karena jumlah bulan yang berbeda antara penanggalan Islam dengan penanggalan sehari-hari. Pada prinsipnya jumlah bulan dalam kedua sistem penanggalan adalah sama. Keduanya memiliki duabelas bulan dalam satu tahunnya. Tahun dalam kalender yang digunakan sehari-hari atau penanggalan masehi diawali dengan Januari dan berakhir dengan Desember. Tahun dalam penanggalan Islam atau Hijriah diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Diantaranya terdapat bulan Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dan Dzulko’dah.</p>
<p>Lantas apa yang membuat penanggalan Islam lebih cepat daripada penanggalan masehi? Pada penanggalan Islam pergantian bulan barunya adalah berdasarkan pada penampakan hilal, yaitu bulan sabit terkecil yang dapat diamati dengan mata telanjang. Hal ini tidak lain disebabkan penanggalan Islam adalah penanggalan yang murni berdasarkan pada siklus sinodis bulan dalam sistem penanggalannya (lunar calendar), yaitu siklus dua fase bulan yang sama secara berurutan.</p>
<p>Satu bulan dalam sistem penanggalan Islam terdiri antara 29 dan 30 hari, sesuai dengan rata-rata siklus fase sinodis Bulan 29,53 hari. Satu tahun dalam kalender Islam adalah 12 x siklus sinodis bulan, yaitu 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik. Itulah sebabnya kalender Islam lebih pendek sekitar sebelas hari dibandingkan dengan kalender masehi dan kalender lainnya yang berdasarkan pada pergerakan semu tahunan matahari (solar calendar). Karena ini pula bulan-bulan dalam sistem penanggalan Islam tidak selalu datang pada musim yang sama. Selain itu, dalam jangka waktu satu tahun masehi bisa terjadi dua tahun baru hijriah. Contohnya seperti yang terjadi pada tahun 1943, dua tahun baru hijriah jatuh pada tanggal 8 Januari 1943 dan 28 Desember 1943.</p>
<p>Perbedaan antara penanggalan hijriah dengan penanggalan masehi yang kita gunakan sehari-hari tidak berhenti disitu saja. Terdapat pula perbedaan pada pergantian harinya. Kita ketahui bahwa hari baru pada penanggalan masehi berawal pada jam 00.00 malam hari. Itu pula sebabnya orang sering mengucap selamat ulang tahun pada tengah malam jam 00.00 saat pergantian hari, dengan harapan ucapan tersebut menjadi ucapan pertama pada awal hari jadinya seseorang.</p>
<p>Dalam penanggalan Hijriah hari baru berawal setelah Matahari terbenam dan berlangsung sampai saat terbenamnya Matahari keesokan harinya. Misalnya, hari pertama dimulai sejak matahari terbenam hari sabtu dan berakhir sampai matahari terbenam pada hari minggu. Hari kedua dimulai sejak matahari terbenam hari minggu sampai matahari terbenam keesokan harinya, hari senin. Begitu seterusnya. Ketujuh hari dalam penanggalan Hijriah memang tidak dinamai, melainkan dinomori. Ketujuh hari tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>Yawm al ‘ahad		: 	hari pertama</li>
<li>Yawm al ‘ithnayn	: 	hari kedua</li>
<li>Yawm ath thalatha	: 	hari ketiga</li>
<li>Yawm al ‘arba’a	: 	hari keempat</li>
<li>Yawm al khamis	: 	hari kelima</li>
<li>Yawm al jum’a		: 	hari keenam</li>
<li>Yawm as sabt		: 	hari ketujuh</li>
</ul>
<p>Untuk keperluan sipil sehari-hari, misalnya untuk negara-negara Islam yang memakai penanggalan Hijriah sebagai kalender resminya,  penanggalan ini didasarkan pada perhitungan (hisab). Bulan terdiri dari 29 dan 30 hari secara bergantian. Dimulai dengan bulan Muharram yang terdiri dari 30 hari, disusul dengan Shafar 29 hari, kemudian Rabiul awal 30 hari dan seterusnya secara bergantian sampai bulan Dzulhijjah. Tetapi khusus untuk bulan terakhir ini jumlah hari bisa 29 atau 30 hari. Untuk tahun kabisat, bulan Dzulhijjah terdiri dari 30 hari. Untuk tahun basithoh (biasa), bulan Dzulhijjah terdiri dari 29 hari. Sehingga jumlah hari dalam tahun kabisat akan menjadi 355 hari.</p>
<p>Untuk keperluan keagamaan, misalnya untuk menentukan awal hari puasa atau hari raya, pergantian bulan pada penanggalan Hijriah tetap diwajibkan dengan dasar pengamatan hilal (rukyah). Pengamatan hilal ini pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan sumpah suci pengamat berikut saksi. Di Indonesia kita kenal Badan Hisab Rukyat, bersama-sama dengan Departemen Agama, yang bertugas mengamat hilal di suatu tempat khusus. Ilmuwan, dalam hal ini ahli ilmu falak dan astronom, tidak ketinggalan. Karena dapat  atau tidak terlihatnya hilal dapat diprediksi dengan perhitungan yang sudah menjadi santapan sehari-hari mereka.</p>
<p>Tetapi kadang suatu organisasi Islam punya acuannya sendiri dalam persoalan hilal ini. Satu dengan lainnya kadang tidak sejalan. Oleh karena itu tidak mengherankan sering terdapat perbedaan dalam memulai ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri, misalnya. Hal yang seringkali terjadi di tanah air. Walaupun demikian, hendaknya persoalan ini tidak menjadi pembeda yang dapat meresahkan umat.</p>
<p><strong>Sejarah</strong><br />
Sistem penanggalan Islam (1 Muharram 1 Hijriyah) dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah, atas perintah Tuhan. Oleh karena itulah kalender Islam disebut juga sebagai kalender Hijriah. Di barat kalender Islam biasa dituliskan dengan A.H, dari latinnya Anno Hegirae. Peristiwa hijrah ini bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Jadi penanggalan Islam atau Hijriah (1 Muharram 1 Hijriah) dihitung sejak terbenamnya Matahari pada hari Kamis, 15 Juli 622 M.</p>
<p>Walaupun demikian, penanggalan dengan tahun hijriah ini tidak langsung diberlakukan tepat pada saat peristiwa hijrahnya nabi saat itu. Kalender Islam baru diperkenalkan 17 tahun (dalam perhitungan tahun masehi) setelah peristiwa hijrah tersebut oleh sahabat terdekat Nabi Muhammad sekaligus khalifah kedua, Umar bin Khatab. Beliau melakukannya sebagai upaya merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Kadang sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.</p>
<p>Kalender dengan 12 bulan sebetulnya telah lama digunakan oleh Bangsa Arab jauh sebelum diresmikan oleh khalifah Umar, tetapi memang belum ada pembakuan perhitungan tahun pada masa-masa tersebut. Peristiwa-peristiwa penting biasanya hanya dicatat dalam tanggal dan bulan. Kalaupun tahunnya disebut, biasanya sebutan tahun itu dikaitkan dengan peristiwa penting yang terjadi pada masa itu. Misalnya tahun gajah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Setelah banyak persoalan muncul akibat tidak adanya sistem penanggalan yang baku, dan atas prakarsa Khalifah Umar, diadakanlah musyawarah dengan tokoh-tokoh sahabat lainnya mengenai persoalan penanggalan ini. Dari sini disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan nama-nama keduabelas bulan tetap seperti yang telah digunakan sebelumnya, diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah.</p>
<p>Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun, tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam. Peritiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota muslim pertama. Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam tidak akan kemenangan atau kejayaan Islam, tetapi mengingatkan pada pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sagittarius Sang Pemanah</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/03/sagittarius-sang-pemanah/</link>
		<comments>http://langitselatan.com/2007/09/03/sagittarius-sang-pemanah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 01:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rasi Bintang]]></category>
		<category><![CDATA[sagittarius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/03/sagittarius-sang-pemanah/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam mitologi Yunani dikenal Centaur, makhluk setengah manusia-setengah kuda. Centaur adalah makhluk jahat yang buas, tidak dapat dipercaya, dan suka sekali mabuk. Tetapi ada satu Centaur yang sangat berbeda dari kumpulannya. Chiron, begitu ia dinamai, bertabiat baik, lembut, dan bijak. Terkenal akan bijaknya, banyak anak-anak raja yang dikirim untuk berguru padanya, untuk diajarkan segala bijak-budi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2007/09/sagitarius.jpg" title="sagitarius.jpg" alt="sagitarius.jpg" style="border-width: 0px; margin: 5px 10px 5px 0px" align="left" height="164" width="189" />Dalam mitologi Yunani dikenal Centaur, makhluk setengah manusia-setengah kuda. Centaur adalah makhluk jahat yang buas, tidak dapat dipercaya, dan suka sekali mabuk. Tetapi ada satu Centaur yang sangat berbeda dari kumpulannya. Chiron, begitu ia dinamai, bertabiat baik, lembut, dan bijak. Terkenal akan bijaknya, banyak anak-anak raja yang dikirim untuk berguru padanya, untuk diajarkan segala bijak-budi baik serta berbagai keahlian. Diantara calon-calon pemimpin ini terdapat si perkasa Hercules.<span id="more-194"></span></p>
<p>Menurut salah satu versi kisah mitologi Yunani, pada suatu waktu Hercules sedang melakukan perjalanan jauh dengan temannya. Karena sangat kehausan, ia meminta temannya untuk membuka sebuah botol anggur yang ternyata kepunyaan makhluk- makhluk centaur yang buas itu. Ketika aroma kelezatan anggur ini menyeruak hingga ke seluruh desa, makhluk-makhluk centaur pun dengan beringasnya mendatangi sumber aroma tersebut, ingin segera mengetahi siapa yang lancang dan tanpa permisi telah membuka anggur lezat kepunyaan mereka.</p>
<p>Makhluk-makhluk centaur yang memang bertabiat buas pun langsung menyerang Hercules dan temannya. Tetapi agaknya kemampuan Hercules tidak dapat dikalahkan oleh para centaur. Hercules berhasil menghabisi makhluk-makhluk centaur yang menyerangnya, tanpa ampun. Sebagian makhluk centaur ini ada yang diusir Hercules untuk pergi dari desa itu untuk selamanya, memerintahkan mereka agar jangan pernah kembali menginjakkan kaki mereka disana. Chiron berada tidak jauh dari tempat perkelahian itu, tetapi ia sama sekali tidak ambil bagian dalam pertikaian itu, hanya mengamati. Sayangnya, Hercules tidak dapat mengenali teman sekaligus guru yang sangat dihormatinya itu. Ia melepaskan satu busur panah beracun ke arah Chiron. Chiron kesakitan dan sekarat, Hercules pun luar biasa berada dalam kesedihan dan perasaan bersalah.</p>
<p>Sebagai makhluk abadi yang tidak bisa mati (immortal), Chiron sangat tersiksa karena harus menanggung rasa sakit ini sepanjang hidupnya. Zeus, yang telah mengamati peristiwa ini, memberikan Chiron tempat peristirahatan yang sangat baik diantara bintang-bintang sebagai Sagittarius sang pemanah, agar Chiron dapat terbebas dari rasa sakit itu. Demikian kisah Chiron mengenai tempatnya di langit saat ini sebagai Sagittarius Sang Pemanah. Meskipun demikian, seperti layaknya mitologi lain yang dikisahkan turun-temurun, terdapat banyak versi lain mengenai kisahnya.</p>
<p>* * * *</p>
<p>Dari belahan bumi utara, Sagittarius hanya dapat dilihat di langit malam musim panas, dekat kaki langit di selatan, dari Juni hingga awal September. Sagittarius, yang terletak antara rasi Ophiucus dan rasi Capricornus, merupakan salah satu rasi paling tua yang telah dikenali orang sejak zaman dahulu dalam berbagai peradaban. Satu hal yang membuat rasi ini istimewa adalah karena Bima Sakti terlihat melewatinya, terutama pada bagian padat Bima Sakti yang sangat kaya bintang, sehingga menambah kecantikan sang pemanah ini. Oleh karena itu akan mudah menemukan rasi ini di langit malam dengan mengikuti jalur Bima Sakti, ke bagian yang paling padatnya. Pengamat yang tinggal di belahan bumi selatan punya keberuntungan lebih untuk menikmati keindahan ini daripada pengamat yang tinggal di belahan bumi utara. Meskipun demikian, sayangnya, keadaan langit malam di kota-kota besar negara kita sulit memungkinkan kita melihat kecantikan Bima Sakti.</p>
<p>Terdapat banyak gugus bintang dan nebula pada rasi kesembilan dalam rasi zodiak ini. Salah satu gugus bintang paling terang di rasi ini adalah Messier 55, yang terlihat di bagian baratnya. Nebula yang terdapat di rasi ini antara lain Lagoon Nebula (Messier <img src='http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> yang terlihat menakjubkan melalui teleskop, Omega Nebula (Messier 17) yang dikenal juga sebagai nebula tapal kuda (horseshoe nebula), dan Trifid Nebula (Messier 20), sebuah nebula besar yang mengandung banyak bintang muda dan panas. Lagoon Nebula, Trifid Nebula, dan NGC 6559 jika dikelompokkan akan membentuk suatu kelompok yang dikenal sebagai Sagittarius triplet. Bintang-bintang terang di rasi ini bisa dilihat membentuk teko teh (teapot). Lucunya, oleh karena itu Bima Sakti dapat dibayangkan sebagai uap yang keluar dari teko teh ini.</p>
<p>Pada rasi ini juga terdapat sumber gelombang radio, Sagittarius A. Para astronom yakin bahwa salah satu komponennya, yang dikenal sebagai Sagittarius A*, terkait dengan lubang hitam bermassa luar biasa hebat (supermassive blackhole) pada pusat galaksi. Sebelum sang pemanah tenggelam September nanti, tidak ada salahnya anda tengok ke atas untuk mengenal si pemanah ini. ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://langitselatan.com/2007/09/03/sagittarius-sang-pemanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
