fbpx
langitselatan
Beranda » Awal Ramadan dan Syawal 1437 H

Awal Ramadan dan Syawal 1437 H

Selamat datang Ramadan, marhaban ya Ramadan. Secara umum kita sedang berada di bulan Sya’ban 1437 H dan beberapa saat lagi akan memasuki bulan Ramadan 1437 H.

hilal
Ilustrasi hilal, bulan sabit tipis. kredit: langitselatan

Dalam taqwim standar Indonesia tanggal 1 Ramadan1437 H,  bertepatan dengan hari Senin tanggal 6 Juni 2016 dan tanggal 1 Syawal 1437 H bertepatan dengan hari Rabu tanggal 6 Juli 2016.  Jadi bulan Ramadan 1437 H dalam taqwim standar terdiri dari 30 hari.  Taqwim standar Indonesia merupakan kalendar negara, negara memerlukan kalendar Islam yang mempunyai aspek legalitas, yaitu kalendar Islam yang dikeluarkan oleh pemerintah yang sah. Kalendar ini diperlukan untuk keperluan transaksi bank Syariah maupun transaksi dengan negeri – negeri Islam. Di Indonesia kalendar Islam, taqwim standard Indonesia, dikeluarkan oleh Kemenag sebagai wakil Negara. Di dalamnya terdapat hari – hari libur nasional dan cuti bersama yang merupakan keputusan bersama antara Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

Penetapan tanggal tersebut berdasar hisab atau perhitungan astronomis dan masukan sebagai kofirmasi oleh ahli hisab-rukyat dari berbagai fihak wakil lembaga, individu maupun ormas Islam dalam musyawarah kerja nasional.  Prediksi waktu fenomena ijtimak atau konjungsi maupun posisi Bulan pada saat Matahari terbenam setiap tanggal 29 bulan Islam diibukota provinsi juga ditabulasikan.  Dengan menggunakan kriteria 2-3-8, awal bulan Islam ditentukan dengan konsisten.

Bagi masyarakat luas taqwim standar masih belum cukup untuk informasi untuk mengawali dan mengakhiri shaum Ramadan.  Pada bulan Sya’ban menjelang Ramadan 1437 H masyarakat tetap bertanya tentang kepastian jatuhnya awal Ramadan dan Syawal 1437 H. Pemerintah Indonesia menentukan awal Ramadan dan awal Syawal dengan metode hisab dan rukyat, dan diputuskan dalam sidang itsbat awal Ramadan pada tanggal 29 Sya’ban dan sidang itsbat awal Syawal pada tanggal 29 Ramadan.  Sidang itsbat tersebut ditunggu karena menjadi acuan masyarakat luas, keputusannya merupakan kesepakatan nasional umat Islam, merupakan sebuah kepastian dalam memulai dan mengakhiri ibadah Ramadan. Sidang itsbat awal Ramadan 1437 H insyaallah berlangsung pada hari Ahad tanggal 5 Juni 2016.

Ramadan 1437 H: 29 hari atau 30 hari?
Kalendar Islam merupakan kalendar Bulan murni, satu bulan maksimum terdiri dari 30 hari dan minimum terdiri dari 29 hari. Dalam hisab Urfi bulan Ramadan selalu terdiri dari  30 hari, sedang dalam hisab Hakiki bulan Ramadan bisa terdiri dari  29 hari atau 30 hari. Ramadan 1435 H dan Ramadan 1436 H terdiri dari 29 hari, apakah Ramadan 1437 H juga terdiri 29 hari ataukah 30 hari? Bulan Ramadan 1437 H dalam taqwim standar Indonesia terdiri 30 hari.  Untuk memastikannya perlu mengetahui kapan kepastian awal dan akhir Ramadan 1437 H yang akan diputuskan dalam sidang itsbat.

Posisi Bulan Penentu Awal Ramadan 1437 H
Awal bulan Islam ditandai dengan hilal, sabit bulan yang tipis dan masih bisa disaksikan dengan mata bugil. Menilik hari Ahad tanggal 5 Juni 2016 merupakan hari ke 29 bulan Sya’ban 1437 H, dan bertepatan dengan ijtimak akhir Sya’ban pada jam 10:00 wib, maka rukyatul hilal awal Ramadan 1437 H  diselenggarakan pada tanggal 5 Juni 2016.  Menurut perhitungan astronomi posisi tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam tanggal 5 Juni 2016 di seluruh wilayah Indonesia di atas ufuq mempunyai tinggi lebih dari 2 derajat. Misalnya di pelabuhan Ratu, pada saat Matahari terbenam, tinggi Bulan mencapai +4?  3? 33“. Mengingat  konsidi tersebut maka penetapan awal Bulan dengan cara hisab  wujudul hilal maupun taqwim standar Indonesia tidak bermasalah, shaum Ramadan 1437 hari pertama jatuh pada hari Senin 6 Juni 2016, awal shalat tarawih hari Ahad tanggal 5 Juni 2016.

Jadwal terbit dan tenggelam Matahari dan BUlan 5 Juni 2016. Kredit: Star Walk
Jadwal terbit dan tenggelam Matahari dan Bulan 5 Juni 2016. Kredit: Star Walk
JPEG image-7F82D6441BCA-1
Bulan saat Matahari tenggelam tanggal 5 Juni 2016. Kredit: Star Walk

Catatan penentuan awal bulan Ramadan 1437 H

Dari sisi hisab nampaknya sudah mempunyai kesamaan antara konsep wujudul hilal dan taqwim standar.  Bagaimana dengan rukyatul hilal pada tanggal 5 Juni 2016? Apakah para ahli rukyat dapat berhasil melihat hilal pada tanggal 5 Juni 2016?. Mengingat posisi bulan dan matahari, hilal tersebut tergolong sulit untuk bisa diamati, walaupun telah memenuhi kriteria taqwim standar Indonesia yang sering disebut sebagai kriteria 2-3-8.

Kriteria 2-3-8, bila setelah ijtimak, pada saat matahari terbenam kondisi tinggi Bulan lebih besar atau sama dengan 2 derajat dan/atau  elongasi  mencapai 3 derajat atau lebih atau umur bulan lebih dari 8 jam maka dapat dianggap telah memasuki awal bulan Hijriah. Walaupun dengan rukyat pada siang hari seperti di Observatorium Bosscha, sabit bulan yang telah mencapai kriteria 2-3-8 sukar dideteksi bila tinggi bulan di dekat batas kriteria 2-3-8.  Posisi tinggi bulan pada saat Matahari terbenam telah melebih 2 derajat akan menjadi pertimbangan untuk memutuskan awal Ramadan 1437 H.

Keputusan awal Ramadan 1437 H jatuh pada hari Ahad 5 Juni 2016 setelah maghrib lebih cenderung merupakan sebuah kesepakatan  bahwa tinggi Bulan saat Matahari terbenam  di wilayah Indonesia telah melebihi 2 derajat.

Posisi Bulan Penentu Awal Syawal 1437 H
Ijtimak akhir Ramadan 1437 H pada hari Senin tanggal 4 Juli 2016 pada jam 18:01 wib bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1437 H.  Rukyatul hilal dijadualkan pada tanggal 29 Ramadan 1437 atau 4 Juli 2016 untuk memastikan Ramadan 29 atau 30 hari?

Pada saat Matahari terbenam tanggal 4 Juli 2016, tinggi Bulan di wilayah Indonesia  masih negatif, di bawah ufuq. Misalnya di Pelabuhan Ratu tinggi Bulan pada saat Matahari terbenam – 0? 50? 24“ dan di Banda Aceh – 1? 18? 06“ .

Jadwal terbit dan tenggelam Matahari dan BUlan 5 Juli 2016. Kredit: Star Walk
Jadwal terbit dan tenggelam Matahari dan Bulan 5 Juli 2016. Kredit: Star Walk
Bulan saat Matahari tenggelam tanggal 5 Juli 2016. Kredit: Star Walk
Bulan saat Matahari tenggelam tanggal 5 Juli 2016. Kredit: Star Walk

Penentuan awal Syawal 1437 H secara hisab dengan kriteria wujudul hilal maupun kriteria 2-3-8 tidak bermasalah. Bulan Ramadan 1437 H diistikmalkan, bulan Ramadan 1437 H dan tarawih diharapkan berakhir pada  hari Selasa setelah maghrib tanggal 5 Juli 2016 dan hari Rabu tanggal 6 Juli 2016 shalat Idul Fitri 1437 H. Menurut analisi di atas shaum Ramadan 1437 H berjumlah 30 hari.

Untuk kepastiannya bisa mengikuti sidang itsbat awal Ramadan 1437 H pada tanggal 5 Juni 2016 dan sidang itsbat awal Syawal 1437 H  pada hari Senin 4 Juli 2016.

Secara astronomi, kalendar bulan seperti kalendar Hijriah mengisaratkan Jumlah Bulan Islam dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan bulan Islam dengan 29 hari. Melalui daur 30, dapat ditaksir perbandingan jumlahnya, namun bukan menentukan jumlah bulan Ramadan dengan 30 hari lebih banyak dari Ramadan dengan 29 hari. QS Khafi memberi inspirasi untuk membangun sistem penanggalan dengan daur 30. Pada ayat tersebut tertera 300 tahun matahari sama dengan 309 tahun bulan. Satu tahun Matahari pada waktu itu sama dengan 12 bulan dan tiap bulan terdiri dari 30 hari ditambah 5 hari tambahan. Maka 300 tahun matahari = 300 x 365 hari = 109500 hari  sama dengan 309 tahun bulan. Maka satu tahun calendar bulan adalah (109500/309) hari = 354.3689320388 hari atau sekitar ? 354 (11/30) hari.

Dalam 30 tahun kalendar Islam (hisab Urfi) terdapat 11 tahun kabisat oleh karena itu setahun terdiri dari (354 + 11/30) hari = 354.3666667 hari atau 1 bulan Islam rata – rata (19 X 354 + 11 x 355) hari /(30 x 12) = (10631/360) hari = 29.53055556 hari.

Dalam 30 tahun atau dalam 360 bulan Islam, hanya terdapat 11 tahun kabisat yang berarti komposisi jumlah bulan Islam dengan 29 hari adalah (180 ? 11) = 169 bulan dan jumlah bulan Islam dengan 30 hari adalah (180 +11) = 191 bulan.

Jadi jumlah hari dalam 30 tahun (169 x 29 + 191 x 30) hari = (19 X 354 + 11 x 355) hari = 10631 hari.

Secara astronomi hal ini menjelaskan bahwa bulan Islam dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan bulan Islam dengan 29 hari.  Jadi dari awal penanggalan Hijriah hingga 1437 H terdapat (1437 ? 1) x 12 bulan Islam = 17232 bulan Islam dan minimal (1436/30) x 11 ? 526 tambahan bulan Islam dengan 30 hari.

Dengan demikian komposisi bulan Islam dengan 30 hari adalah (17232 / 2) + 526 = 8616 + 526 = 9142 atau (9142/17232) x 100% = 53.05% berbanding bulan Islam dengan 29 hari adalah (17232 / 2) ? 526 = 8616 ? 526 = 8090 atau (8090/17232) x 100% = 46.95%.

Secara keseluruhan satu bulan Islam (dalam sistem hisab Urfi atau hisab Hakiki) dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan satu bulan Islam dengan 29 hari, perbandingannya 9142 : 8090 atau sekitar 113 : 100.

Secara teoritis dalam sistem hisab Urfi, jumlah bulan Dzulhijjah dengan 30 hari akan berjumlah 526 sedang bulan Dzulhijjah dengan 29 hari akan berkurang sebanyak 526 atau menjadi (1436 ? 526) = 910 bulan.

Mana yang lebih banyak apakah Ramadan dengan 29 hari atau 30 hari dalam hisab hakiki? Fakta tersebut di atas belum bisa menjawab dengan mudah ?

Mungkin hal ini menjadikan salah satu pertimbangan bahwa dalam hisab Urfi bulan Ramadan selalu 30 hari.

Catatan Ramadan 1437 H
Shaum Ramadan 1437 H berada di bulan Juni 2016 dan berakhir pada bulan Juli 2016, berarti sebagian umat Islam di belahan langit Utara akan shaum dengan tempo waktu yang terpanjang seperti tahun lalu. Pada tanggal 21 Juni 2016 di langit Matahari akan mencapai titik paling utara. Matahari tak terbenam di kawasan kutub utara, dana Matahari tak pernah terbit di kawasan kutub selatan. Sedang umat Islam di belahan langit Selatan akan shaum dengan tempo waktu yang terpendek. Spektrum terluas rentang lama shaum Ramadan ada dalam bulan Ramadan 1437 H. Bagi umat Islam di Indonesia lama shaum Ramadan 1437 H hampir sama setiap tahun.

Penentuan awal bulan Islam dengan hisab hakiki, (bukan hisab urfi atau cara tabulasi). Pengamatan hilal dengan mata bugil, dirasakan kesulitannya terutama untuk memverifikasi apakah obyek langit yang dilihatnya adalah hilal, bukan obyek yang lainnya. Untuk menanggulangi kesulitan tersebut maka dibuat dan dipergunakan berbagai peralatan yang memudahkan pengamatan hilal diantaranya “gawang lokasi” untuk melokalisasi posisi hilal dan teleskop atau binokuler.

Umat Islam diharapkan tidak terpaku dalam perbedaan penentuan awal bulan Islam, sambil mencari solusi penyatuan kalendar, umat Islam diharapkan terus meningkatkan persatuan dan kesatuannya dan meningkatkan kompetensi/keahlian dalam bidang sains dan teknologi.

Selamat menjalankan shaum Ramadan 1437 H!

Avatar photo

Moedji Raharto

Purnabakti Staf Pengajar Astronomi FMIPA ITB, Anggota Kelompok Keahlian Astronomi, Peneliti Astronomi di Observatorium Bosscha ITB, Saat ini merupakan Staf Pengajar & Peneliti serta Koordinator Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan, Institut Teknologi Sumatera (ITERA) di Lampung, Anggota IAU, Anggota HAI.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini