langitselatan

Bulan biru

Sekali waktu, di negeri empat musim, dapat terjadi saat ketika dalam satu musim—yang lamanya sekitar 3 bulan—terjadi 4 kali bulan purnama. Bulan purnama ketiga dari empat purnama inilah yang dinamakan bulan biru atau blue moon. Definisi ini adalah satu dari beberapa definisi tradisional yang digunakan semenjak lama, dan telah dibakukan dalam Almanak Petani Maine (Amerika Serikat). Dalam Bahasa Inggris dikenal ungkapan “once in a blue moon”. Setiap saat terjadi bulan biru, yang artinya jarang sekali. Istilah bulan biru hanya bahasa kias, dan bukan suatu pernyataan harfiah bahwa bulan akan berwarna biru.

Bulan di atas Kastil Heidelberg. Kredit: Tri L. Astraatmadja

Definisi lain dari bulan biru adalah bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender. Definisi ini yang kemudian menjadi lebih populer semenjak tahun 1946, saat sebuah artikel dalam majalah astronomi populer Sky & Telescope salah menafsirkan definisi bulan biru yang aslinya adalah “bulan purnama ketiga dari empat purnama dalam satu musim” menjadi “dalam satu bulan kalendar di mana terjadi dua kali bulan purnama, purnama kedua adalah bulan biru”. Setelah penerbitan artikel ini, kesalahan tafsir ini semakin populer dan kemudian menjadi definisi kedua bagi bulan biru.

Bulan biru (baik definisi pertama maupun kedua) dapat terjadi karena jumlah hari dalam tahun tropis, 365.24 hari, tidak habis dibagi satu periode siklus bulan yaitu 29.53 hari. Satu periode siklus bulan ini, disebut juga periode lunasi, adalah periode kemunculan bulan purnama. Bila kita membagi 365.24 hari dengan 29.53 untuk mengetahui berapa kali terjadi bulan purnama dalam satu tahun, kita akan mendapatkan 12 kali bulan purnama dapat terjadi dalam satu tahun. Akan tetapi, 12 kali terjadinya purnama ini hanya membutuhkan waktu 354 hari, 11 hari lebih pendek dari satu tahun tropis yang 365.24 hari tersebut. Sebelas hari ekstra ini akan mengakumulasi setiap tahunnya, sehingga setiap 2 atau 3 tahun sekali akan terdapat satu bulan purnama tambahan (lebih tepatnya: 2.71 tahun sekali). Satu bulan purnama ekstra ini akan muncul di salah satu dari empat musim.

Bila menggunakan definisi kedua, karena satu periode lunasi lebih pendek dari satu bulan kalender yang lamanya 30 atau 31 hari (kecuali bulan Febuari yang lamanya 28 atau 29 hari) maka dapat saja terjadi dua kali bulan purnama dalam satu bulan masehi. Ini terjadi apabila bulan purnama pertama terjadi di awal bulan, sehingga dapat terjadi purnama kedua sebelum bulan tersebut berakhir.

Untuk menentukan bulan biru dalam definisi pertama, kita harus bersepakat terlebih dahulu untuk menentukan kapan musim bermula dan berakhir. Bagi kita manusia perkotaan, penentuan awal dan akhir musim mungkin tidaklah penting. Namun, bagi para petani awal dan akhir musim akan menentukan jadwal kerja mereka: Kapan bercocok tanam dan kapan panen. Satu cara untuk menentukan awal dan akhir musim adalah dengan mengamati pergerakan posisi Matahari sepanjang bidang ekliptika, dan awal musim adalah saat ketika Matahari berada pada sudut-sudut tertentu relatif terhadap Titik Aries[1]: Nol derajat (awal Musim Semi. Matahari berada pada Titik Aries), 90 derajat (awal Musim Panas), 180 derajat (awal Musim Gugur), dan 270 derajat (awal Musim Dingin).

Setelah kita sepakat menentukan awal musim, ada satu hal lagi: Karena orbit Bumi mengitari Matahari berbentuk elips (walaupun sangat mendekati lingkaran), maka kecepatan gerak Matahari (dilihat dari Bumi) sepanjang bidang ekliptika akan lebih cepat saat Bumi di berada di sekitar perihelion (titik terdekat Bumi dalam orbitnya) daripada saat Bumi berada di sekitar aphelion (titik terjauh). Bumi bagian utara mengalami musim dingin saat Bumi berada di perihelion, dan musim panas saat berada di aphelion. Lamanya musim-musim dengan demikian tidak sama: Musim dingin utara lebih pendek daripada musim panasnya. Kita dapat namakan musim-musim yang lamanya dihitung dengan definisi ini sebagai musim astronomis.

Alternatif lain adalah kita dapat menggunakan pergerakan Matahari fiksi yang bergerak sepanjang bidang ekliptika dengan kecepatan seragam. Matahari yang diasumsikan bergerak dengan kecepatan seragam ini yang dinamakan Matahari rata-rata[2]. Dengan menggunakan Matahari rata-rata sebagai patokan maka lamanya musim-musim juga selalu seragam setiap tahun. Almanak Petani Maine menggunakan Matahari rata-rata untuk menentukan awal musim, dan juga mematok tanggal 21 Maret sebagai saat ketika Matahari rata-rata berada pada Titik Aries (terlepas dari posisi Matahari sejati, yang pada umumnya posisinya tidak jauh berbeda dengan posisi Matahari rata-rata).

Bila kita menggunakan definisi tradisional (dan cukup rumit) ini, maka bulan biru akan terjadi secara rutin setiap dua atau tiga tahun sekali. Berikut ini adalah jadwal bulan biru di paruh pertama abad 21, berdasarkan definisi Almanak Petani Maine:

Tahun Tanggal (GMT) Musim
2002 Nov 20 Musim Gugur
2005 Aug 19 Musim Panas
2008 Feb 21 Musim Dingin
2010 Nov 21 Musim Gugur
2013 Aug 21 Musim Panas
2016 Mei 21 Musim Semi
2019 Feb 19 Musim Dingin
2021 Nov 19 Musim Gugur
2024 Aug 19 Musim Panas
2027 Feb 20 Musim Dingin
2029 Nov 21 Musim Gugur
2032 Aug 21 Musim Panas
2035 Mei 22 Musim Semi
2038 Feb 19 Musim Dingin
2040 Nov 18 Musim Gugur
2043 Aug 20 Musim Panas
2046 Mei 20 Musim Semi
2048 Nov 20 Musim Gugur

Sedangkan apabila kita menggunakan definisi kedua, kita bisa melihat bahwa bulan biru definisi ini tidak mungkin terjadi pada Bulan Februari karena pada bulan Februari hanya ada 28 atau 29 hari, dan ini lebih pendek dari satu periode lunasi yaitu 29.53 hari. Jadwal terjadinya dua bulan purnama dalam satu bulan kalender, sampai tahun 2042, adalah sebagai berikut:

Tahun Purnama pertama Purnama kedua
2012 Agustus 2 Agustus 31
2015 Juli 2 Juli 31
2018 Januari 2 Januari 31
2018 Maret 2 Maret 31
2020 Oktober 1 Oktober 31
2023 Agustus 1 Agustus 31
2026 Mei 1 Mei 31
2028 Desember 2 Desember 31
2031 September 1 September 30
2034 Juli 1 Juli 31
2037 Januari 2 Januari 31
2037 Maret 2 Maret 31
2039 Oktober 2 Oktober 31
2042 Agustus 1 Agustus 31

Definisi kedua inilah yang saat ini digunakan untuk menandakan bulan biru pada tanggal 31 Juli 2015. Menurut definisi ini, berdasarkan tabel di atas maka bulan biru berikutnya akan terjadi pada tahun 2018. Pada tahun ini terjadi dua kali bulan biru yaitu pada bulan Januari dan Maret, dengan diapit Februari yang tak berbulan purnama.

Kita bisa perhatikan pada tabel di atas bahwa setiap 19 tahun sekali akan terjadi bulan biru pada bulan yang sama (kecuali antara tahun 2012 dan 2031 yang berselisih satu bulan). Ini karena siklus 235 periode lunasi yang masing2 lamanya 29.53 hari (total 6939.55 hari) itu lamanya dekat sekali dengan 19 tahun (total 6939.6 hari). Siklus 19 tahunan ini dinamakan dengan Siklus Meton.

Bila melihat kedua tabel ini, kita dapat melihat bahwa bulan biru definisi pertama terjadi sekitar 2.71 tahun sekali. Ucapan “Once in a blue moon” untuk mengungkapkan sesuatu yang jarang terjadi sebenarnya tidak jarang-jarang amat. Masih lebih lama si Rangga di film AADC yang janji mau kembali dalam satu purnama, eh tahu-tahu gak balik-balik setelah 12 tahun hehehe… [3]

Bulan Purnama 31 Juli 2015 yang dipotret dari Semarang. Kredit: Mickey Vanda

Pada saat bulan biru, baik definisi pertama maupun kedua, bulan akan nampak normal seperti purnama-purnama lainnya dan tidak akan menjadi berwarna biru. Asal muasal mengapa purnama ini disebut bulan biru ada hubungannya dengan kata dalam bahasa Inggris kuno[4], belewe, yang artinya berkhianat, kemudian seiring dengan jalannya waktu bermetamorfosa menjadi blue yang artinya biru. Mengapa purnama ketiga dari empat purnama (bila mengacu pada definisi pertama yang lebih tradisional dan jamak digunakan pada jaman Inggris kuno) dalam satu musim ini disebut sebagai bulan pengkhianat? Barangkali karena kemunculan empat purnama dalam satu musim adalah sesuatu yang tidak terjadi setiap saat… Tapi mungkin ada penjelasan lain…

Mungkinkah bulan berubah warna menjadi biru? Hal ini mungkin-mungkin saja apabila sinar bulan terhamburkan oleh partikel-partikel di atmosfer, dan ukuran partikel ini pas sehingga jauh lebih banyak sinar merah terhamburkan daripada sinar biru. Akibatnya, mayoritas sinar yang sampai ke mata kita (atau detektor) adalah sinar biru. Bulan akan nampak kebiruan. Ini pernah kejadian sesudah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Abu yang dilontarkan gunung berapi ini sebagian besar berukuran 1 mikron (1 per sejuta meter), sedikit lebih besar dari panjang gelombang sinar merah yaitu antara 0.62–0.75 mikron. Abu ini kemudian banyak menghamburkan sinar merah dari Bulan. Akibatnya, selama beberapa tahun masyarakat sekitar melihat Bulan berwarna biru. Kejadian ini juga terulang saat ledakan Gunung El Chichon di Meksiko pada tahun 1983, Gunung St. Helens di Amerika Serikat pada tahun 1980, dan Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991, di mana masyarakat sekitar melaporkan melihat Bulan berwarna biru setelah ledakan.

Agar bulan dapat tampak berwarna biru dengan demikian dapat terjadi apabila di udara terdapat banyak partikel berukuran sekitar 1 mikron, namun hampir tidak ada partikel berukuran lain. Ini amat jarang terjadi namun kadang-kadang gunung berapi melontarkan partikel berukuran tersebut, dan begitu juga dengan kebakaran hutan. Bulan menjadi berwarna biru karena peristiwa-peristiwa alam ini tentu saja tidak ada hubungannya dengan definisi-definisi bulan biru di atas, yang hanya sebatas definisi kalender dan musim.

Walaupun dimungkinkan, amat jarang terjadi peristiwa bulan menjadi tampak berwarna biru. Dengan demikian secara efektif peristiwa bulan biru dapat kita katakan sebagai suatu istilah kiasan.


Catatan kaki:

[1]^ Titik Aries adalah satu di antara dua titik perpotongan bidang ekliptika dengan bidang khatulistiwa langit. Bidang ekliptika adalah bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari yang diproyeksikan ke langit, sementara bidang khatulistiwa langit adalah garis khatulistiwa Bumi diproyeksikan ke langit.

[2]^ Definisi Matahari rata-rata sedikit lebih rumit dari itu, namun untuk keperluan artikel ini cukuplah kita mendefinisikan Matahari rata-rata sebagai Matahari fiksi yang bergerak dengan kecepatan seragam dan berimpitan dengan Matahari sejati pada saat keduanya berada pada Titik Aries.

[3]^ Dengan kata lain, “satu purnama Rangga” (sebut saja begitu) yang lamanya setara dengan 12 tahun masehi ini masih lebih lama dari satu purnama biru yang lamanya 2.71 tahun. Entah apakah Rangga telah melakukan perjalanan relativistik dengan kecepatan 99.99773% kecepatan cahaya atau yang dia pikirkan sebenarnya adalah periode purnama satelit planet lain (mungkin Planet Namek hehehe).

[4]^ Bahasa Inggris kuno adalah Bahasa Inggris yang digunakan orang sebelum penyerbuan orang Normandia tahun 1066, saat ketika bahasa Inggris bercampur dengan bahasa Perancis dan mulai berubah menjadi Bahasa Inggris Pertengahan.