fbpx
langitselatan
Beranda » Berdasarkan Apakah Penentuan Awal Syawal 1434 H?

Berdasarkan Apakah Penentuan Awal Syawal 1434 H?

Ramadhan 1434 H sudah mendekati akhir dan sebagian kita pun sudah sibuk dengan persiapan lebaran nanti. Namun demikian, mungkin di antara kita ada yang ingin mengetahui waktu lebaran nanti jika dikonversikan ke dalam penanggalan Masehi.  Selain itu, ada juga yang bertanya apakah penentuan awal Syawal 1434 H nanti akan ditentukan berdasarkan terpenuhinya kriteria hisab ataukah berdasarkan teramatinya Hilal secara visual? Pada tulisan ini akan dibahas mengenai hal tersebut.

Sebagaimana tulisan sebelumnya tentang prediksi awal Ramadhan 1434 H, kita dapat menggunakan Informasi Hilal penentu Awal Syawal 1434 H dari BMKG sebagai dasar prediksi kita akan awal Syawal 1434 H. Berdasarkan informasi tersebut, diketahui bahwa konjungsi atau ijtima terjadi pada 7 Agustus 2013 pukul 04 : 51 WIB. Adapun Matahari terbenam pada tanggal tersebut terjadi paling awal pukul 17 : 38 WITA di Merauke dan paling akhir pukul 18 : 55 WIB di Sabang. Pada saat Matahari terbenam di Indonesia tersebut:

  1. Tinggi Hilal (titik pusat piringan Bulan) antara 1,81o sampai dengan 3,67o
  2. Elongasi antara 6,57o sampai dengan 7,83o
  3. Umur Bulan antara 10,78 jam sampai dengan 14,07 jam
  4. Lag antara 9,80 menit sampai dengan 18,14 menit
  5. Fraksi Illuminasi Bulan antara 0,33 % sampai dengan 0,47 %.

Saat data di atas diterapkan pada kriteria Hisab Wujudul Hilal-nya Muhammadiyah, diperoleh tinggi piringan atas Bulan saat Matahari terbenam di Yogyakarta (pukul 17 : 38 WIB) adalah 4o 6,79’. Ini artinya kriteria Wujudul Hilal sudah terpenuhi, mengingat berdasarkan kriteria ini saat Matahari terbenam Hilal sudah dianggap wujud jika piringan atas Bulan masih di atas ufuk (tingginya bernilai positif). Karena itu, berdasarkan kriteria ini, 1 Syawal 1434 1434 H akan bertepatan dengan hari Kamis, 8 Agustus 2013.

Kriteria MABIMS yang diterapkan oleh beberapa ormas Islam dan Pemerintah juga sudah terpenuhi. Ini karena saat Matahari terbenam pada tanggal 7 Agustus 2013 di Pelabuhan Ratu (pukul 17 : 55 WIB), tinggi piringan bawah Bulannya adalah 3o 36,58’; elongasinya adalah 7o 18,41’; dan umur Bulannya adalah 13 jam 04 menit. Nilai-nilai tersebut sudah memenuhi kriteria MABIMS ini, yaitu 1) tinggi piringan bawah Bulan sudah lebih dari 2o dan 2) elongasi sudah lebih dari 3o atau umur Bulan sudah lebih dari 8 jam. Mengingat Indonesia dianggap sebagai satu wilayah hukum, maka hasil di Pelabuhan Ratu tersebut dapat diterapkan juga di seluruh Indonesia, sehingga kriteria MABIMS itu dianggap sudah terpenuhi di seluruh Indonesia. Dengan demikian, berdasarkan kriteria ini, hari raya Idul Fitri 1434 H akan bertepatan dengan hari Kamis, 8 Agustus 2013.

Demikian juga dengan kriteria LAPAN yang diterapkan oleh Persatuan Islam (Persis); mengingat saat Matahari terbenam di Pelabuhan Ratu tersebut, beda tinggi antara pusat piringan Bulan dengan pusat piringan Matahari adalah 4o 25,33’ dan elongasinya  7o 18,41’.  Kedua nilai ini sudah lebih besar daripada kriteria LAPAN tersebut, yaitu elongasi minimal 6,4o dan beda tinggi antara pusat piringan Bulan dengan pusat piringan Matahari minimal 4o.

Karena itu, dapat disimpulkan berdasarkan ketiga kriteria Hisab di atas, diperkirakan hari raya Idul Fitri 1434 H akan dirayakan bersamaan, yaitu pada 8 Agustus 2013.

Lalu bagaimana dengan prediksi hasil rukyat Hilal penentu awal Syawal 1434 H yang akan dilaksanakan pada 7 Agustus 2013? Dalam memerkirakan kemungkinan teramati tidaknya rukyat Hilal, data yang diperlukan bukan hanya posisi Hilal pada saat Matahari terbenam saja, namun juga informasi lainnya, misalnya kecerlangan langit, cuaca juga peralatan (teleskop) yang digunakan. Semua ini nantinya bermuara pada konsep yang dikenal dengan nama visibilitas Hilal atau Imkanurrukyat yang terverifikasi secara astronomis.

Sebenarnya kriteria Imaknurrukyat MABIMS dan LAPAN dapat digunakan untuk memprediksi keteramatan Hilal penentu awal Syawal 1434 H nanti. Hanya saja, kriteria MABIMS banyak dianggap sebagai kriteria yang tidak ilmiah secara sains astronomis. Hal ini pun sesuai dengan hasil perhitungan pada bagian berikutnya mengenai prediksi visibilitas Hilal awal Syawal nanti. Karena itu, kita tidak akan menggunakannya lebih lanjut di sini.

Gambar 1. Peta Ketinggian Hilal (pusat piringan Bulan) untuk pengamat di Indonesia. Kredit: BMKG
Gambar 1. Peta Ketinggian Hilal (pusat piringan Bulan) untuk pengamat di Indonesia. Kredit: BMKG

Adapun salah satu isi kriteria LAPAN didasarkan pada rekor elongasi terendah yang dilakukan oleh Jim Stamm yang mengamati Hilal dengan menggunakan teleskop dalam kondisi cuaca cerah (Odeh, 2006). Sementara beda tinggi minimal 4o didasarkan pada nilai batas bawah beda tinggi dari makalah Ilyas (1988), Caldwell dan Laney (2001), dan Sudibyo (2009). Hal ini nantinya akan terkait dengan aspek kontras latar depan di ufuk barat antara kecerlangan langit senja dengan kecerlangan Hilal. Jika kita terapkan konsep visibilitas Hilal LAPAN ini pada penentuan awal Syawal 1434 H nanti, maka mestilah pengamatan Hilalnya dilakukan di lokasi dengan elongasi yang lebih besar daripada 6,4o dan beda tinggi Hilal dan Matahari lebih besar daripada 4o. Dengan memperhatikan peta Ketinggian Hilal dan peta Elongasi pada informasi Hilal awal Syawal 1434 H dari BMKG, kita dapati daerah yang memenuhi keduanya hanyalah bagian selatan Indonesia, yaitu Nusa Tenggara, Jawa, dan Sumatera bagian Selatan. Selain itu, pengamat juga harus menggunakan alat bantu teleskop serta terpenuhinya kondisi cuaca yang cerah pada saat senja. Karena itu, berdasarkan kriteria ini, jika ada kesaksian keberhasilan rukyat Hilal tanpa alat bantu dan/atau dalam kondisi cuaca yang tidak mendukung (misalnya berawan atau mendung) maka kesaksian tersebut menjadi dipertanyakan secara sains astronomi.

Prediksi kriteria LAPAN tersebut berkesesuaian dengan hasil perhitungan berikut ini; yang dapat digunakan untuk memprediksi kenampakan hilal penentu awal Syawal 1434 H/2013 M dengan menggunakan model visibilitas objek-objek di dekat Matahari yang dibangun oleh Kastner (1976). Inti konsep perhitungan ini adalah Hilal hanya dapat diamati bila kecerahannya melampaui kecerahan langit senja. Sebaliknya, hilal akan sulit bahkan tidak mungkin untuk diamati manakala kecerahannya dikalahkan oleh cahaya senja. Hasil perhitungan ini adalah untuk lokasi pengamat di kota Bandung untuk modus pengamatan dengan mata telanjang dan pengamatan berbantuan teleskop serta kondisi atmosfer yang bersih. Meskipun hanya untuk kota Bandung, namun konsepnya dapat digunakan untuk daerah lain. Hasil ini ditampilkan pada Gambar 2 dan Gambar 3 berikut.

Gambar 2. Prediksi kecerahan hilal vs kecerahan langit senja (dalam satuan nanolambert) untuk lokasi pengamat di Bandung dengan modus pengamatan hanya dengan mata telanjang.
Gambar 2. Prediksi kecerahan hilal vs kecerahan langit senja (dalam satuan nanolambert) untuk lokasi pengamat di Bandung dengan modus pengamatan hanya dengan mata telanjang.

Sebagaimana kita lihat pada Gambar 2 di atas, sejak Matahari terbenam di kota Bandung (pukul 17: 51 WIB) hingga Bulan terbenam (pukul 18 : 09 WIB),  kecerahan langit senja selalu lebih besar daripada kecerahan hilal. Hal ini berarti bahwa pada senja hari tersebut hilal tidak mungkin dapat diamati hanya dengan mengandalkan pengamatan mata telanjang tanpa bantuan alat.

Lalu bagaimanakah prospek teramatinya hilal dengan modus pengamatan menggunakan alat bantu optik? Prediksi model untuk pengamatan visual menggunakan bantuan teleskop yang menghasilkan perbesaran sudut tertentu ditunjukkan dalam Gambar 3. Menurut gambar tersebut, pengamatan dengan bantuan teleskop yang memberikan perbesaran sebesar 50x mampu mereduksi dominasi kecerahan cahaya senja atas kecerahan hilal. Selama dipenuhinya kondisi atmosfer yang bersih (minim polutan) dan ketiadaan gangguan cuaca berupa liputan awan tebal di arah pandang hilal maupun gangguan hujan, tersedia kesempatan bagi para pengamat untuk dapat mengesani sosok hilal Syawal 1434 H.

Gambar 3. Prediksi kecerahan hilal vs kecerahan langit senja (dalam satuan nanolambert) untuk lokasi pengamat Bandung dengan modus pengamatan menggunakan bantuan teleskop.
Gambar 3. Prediksi kecerahan hilal vs kecerahan langit senja (dalam satuan nanolambert) untuk lokasi pengamat Bandung dengan modus pengamatan menggunakan bantuan teleskop.

Dapat kita katakan bahwa prediksi di atas adalah prediksi yang optimistis. Dalam arti, dengan bantuan teleskop, diperkirakan akan diperoleh keberhasilan rukyat Hilal penentu awal Syawal 1434 H nanti. Namun demikian, jika perhatikan prediksi visibilitas Hilal-nya Odeh yang ditampilkan pada Gambar 4 berikut, kita dapati bahwa di Indonesia diperkirakan tidak akan ada keberhasilan rukyat Hilal meskipun dengan bantuan teleskop (lihat pada Gambar 4 tersebut untuk daerah Indonesia tidak diarsir dan di kanan bawah terdapat tulisan: No Color: Not Possible). Apakah ini berarti hasil perhitungan di atas tidak berkesesuaian dengan prediksi Odeh? Dalam menjawab hal ini, kita harus mengingat bahwa kriteria Odeh, selain menggunakan konsep beda tinggi Hilal dan Matahari, juga menggunakan konsep lebar sabit Hilal yang kurang dikenal di Indonesia. Dalam perhitungan di atas, kita tidak menyinggung sama sekali mengenai lebar sabit Hilal ini. Karena itu, kita tidak dapat mempertentangkan keduanya begitu saja secara langsung, jika ada salah satu unsur yang tidak diikutsertakan. Namun demikian, kita dapat memperoleh persamaan antara keduanya, yaitu Hilal penentu awal Syawal 1434 H nanti diprediksikan tidak akan teramati tanpa bantauan alat.

Gambar 4. Prediksi Visibilitas Hilal Penentu awal Syawal 1434 H di seluruh dunia pada 7 Agustus 2013.
Gambar 4. Prediksi Visibilitas Hilal Penentu awal Syawal 1434 H di seluruh dunia pada 7 Agustus 2013.

Lalu bagaimana keterkaitan semua prediksi di atas dengan pertanyaan kita di awal, yaitu apakah penentuan awal Syawal 1434 H nanti akan ditentukan berdasarkan terpenuhinya kriteria hisab ataukah berdasarkan teramatinya Hilal secara visual? Berdasarkan pada bagian sebelumnya, kita dapat parameter-parameter astronomis Hilal penentu awal Syawal 1434 H telah memenuhi beberapa kriteria Hisab yang digunakan di Indonesia. Kita juga memprediksikan bahwa teramatinya Hilal penentu awal Syawal 1434 H tanpa bantuan alat hanya akan berupa klaim semata yang tidak dapat diverifikasi secara sains astronomi. Adapun teramatinya Hilal penentu awal Syawal 1434 H dengan bantuan alat dapat dimungkinkan, dengan syarat kondisi atmosfer yang cerah. Namun demikian, jika kita perhatikan kondisi musim saat ini yang menurut BMKG termasuk kemarau basah, syarat kondisi atmosfer yang cerah ini akan berat untuk terpenuhi. Karena itu, dengan memerhatikan uraian di atas, penentuan awal Syawal 1434 H nanti cenderung akan ditentukan berdasarkan terpenuhinya kriteria hisab, meskipun berdasarkan teramatinya Hilal secara visual dengan bantuan alat (teleskop) tetap dimungkinkan, asalkan syarat kondisi atmosfer yang cerah terpenuhi.

Apapun yang terjadi nanti, kami ucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1434 H, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat berlebaran.

_____

Catatan: Tulisan ini hanyalah pemaparan akan posisi hilal dan kemungkinan teramatinya berdasarkan pandangan sains astronomi. tulisan ini bukanlah untuk menentukan awal bulan Syawal 1434 H, karena yang berwenang untuk melakukan itu adalah pihak yang berwenang.

Avatar photo

Rukman Nugraha

Alumnus Astronomi ITB yang sekarang bekerja di BMKG. Selain Kosmologi, saat ini Rukman tertarik dengan kajian Efek Variabilitas Matahari pada Iklim di Bumi dan Cuaca Antariksa. Ia juga tertarik dengan kajian sains Hilal.

Avatar photo

J. Aria. Utama

Judhistira Aria Utama. Alumnus astronomi ITB yang saat ini berkarir sebagai dosen dan peneliti di UPI Bandung. Memiliki ketertarikan pada kajian studi fotometri hilal dan polusi cahaya. Saat ini merupakan Dosen dan Peneliti Bidang Astronomi dan Astrofisika di Program Studi Fisika
Tim Pengabdian kepada Masyarakat FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia.

2 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • saya pun berpikir demikian, pada tanggal 7 (rabu sore) secara astronomis kemungkinan hilal tidak dapat dilihat baik menggunakan mata telanjang maupun teleskop, namun secara kriteria sudah dapat memenuhi syarat Imkanur Rukyat yg digunakan pemerintah.
    disinilah ujian yg sesungguhnya, apakah pemerintah akan menentukan berdasarkan pengelihatan/visibilitas hilal atau cukup berdasarkan syarat kriteria saja?
    kalau berdasar pada pengelihatan bisa jadi lebaran jatuh pada tgl 9 (jum’at), sedangkan jika berdasar pada kriteria lebarannya pada tgl 8 (kamis).

    Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Jika kalian melihatnya (hilal bulan Romadhon) maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal bulan Syawwal) maka berhari rayalah, akan tetapi jika ia (hilal) terhalang dari pandangan kalian maka kira-kirakanlah”, dalam riwayat lain “…maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhori dan Muslim)

    Mudah2an tidak ada unsur paksaan dan politis dalam menentukan Lebaran