Kami dari langitselatan, mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H. Minal 'Aidin wal-Faizin.
Berapa Ketinggian Satelit Yang Mengorbit Bumi? Reviewed by Momizat on . Mohon penjelasan seputar satelit buatan (komunikasi, cuaca, dsb): Pada ketinggian berapa mereka mengorbit? Bagaimana cara mereka mengorbit, apakah menggunakan m Mohon penjelasan seputar satelit buatan (komunikasi, cuaca, dsb): Pada ketinggian berapa mereka mengorbit? Bagaimana cara mereka mengorbit, apakah menggunakan m Rating: 0

Berapa Ketinggian Satelit Yang Mengorbit Bumi?



Mohon penjelasan seputar satelit buatan (komunikasi, cuaca, dsb):

  1. Pada ketinggian berapa mereka mengorbit?
  2. Bagaimana cara mereka mengorbit, apakah menggunakan mesin atau cukup memanfaatkan gaya gravitasi bumi?
  3. Apakah mereka bisa memotret bulatan bumi secara utuh 360º atau merekam bumi berotasi sehingga bisa dijadikan bukti tak terbantahkan bagi orang yang masih keukeuh bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi?

Terima kasih.

Enting Suherman – Karawang

Satelit-satelit yang mengorbit Bumi. Kredit: SolarWalk

Satelit-satelit yang mengorbit Bumi. Kredit: SolarWalk

Satelit merupakan obyek yang berada di orbit dan bergerak mengelilingi sebuah planet. Ada satelit alam seperti Bulan yang mengitari Bumi ataupun satelit yang mengitari planet-planet lain. Satelit yang diluncurkan untuk mengorbit Bumi memiliki ketinggian yang berbeda-beda. Dan jika diklasifikasikan maka satelit-satelit buatan tersebut ditempatkan pada 3 ketinggian yang berbeda.

  • Low Earth Orbit (LEO) yakni satelit yang ditempatkan pada ketinggian antara 0 – 2000 km. Satelit berada di luar atmosfer Bumi namun masih cukup dekat sehingga satelit-satelit di LEO masih bisa memotret permukaan Bumi dari luar angkasa ataupun memfasilitasi komunikasi.
  • Medium Earth Orbit (MEO) yakni satelit yang ditempatkan pada ketinggian antara 2000 km – 35786 km.
  • High Earth Orbit (HEO) yakni satelit yang berada pada ketinggian lebih dari 35786 km

Satelit yang berada pada ketinggian 35786 km disebut juga Satelit GEO atau Geostationary Satellites atau Satelit Geosynchronous.

Untuk bisa mengorbit Bumi, satelit diluncurkan dengan roket ke ketinggian yang dituju dan selanjutnya ia akan memanfaatkan gaya gravitasi Bumi untuk mengorbit. Saat ini ada sekitar 8000 satelit yang berada di orbit dan hanya 3000 di antaranya yang masih beroperasi. Artinya sisanya merupakan satelit yang sudah tidak digunakan dan sekarang menjadi sampah antariksa. Satelit diluncurkan pada ketinggian orbit yang berbeda berdasarkan misinya masing-masing. Salah satu orbit yang sering dituju adalah orbit geosynchronous dimana satelit membutuhkan 24 jam untuk mengorbit Bumi sama seperti waktu yang dibutuhkan Bumi untuk berotasi pada sumbunya.

Pada dasarnya, Satelit memiliki fungsi yang beragam berdasarkan misi dibuatnya satelit tersebut.  Di antaranya, ada satelit yang dibuat untuk melakukan penelitian ilmiah,  mengukur gaya gravitasi bumi, memantau gunung berapi, memantau cuaca,  kebutuhan militer, navigasi, pencitraan Bumi, dan komunikasi. Untuk memotret bumi ada satelit khusus yang bertugas memantau seluruh permukaan bumi dan merekam peristiwa rotasinya.

Bacaan lainnya : Bagaimana Wahana Antariksa Bekerja?

____

Punya pertanyaan tentang astronomi? Silahkan Tanya LS!

Profil Penulis

Pengelana yang telah banyak menjelajahi angkasa raya dan ingin membagi kisahnya dengan banyak orang. Senang pula mengamen dan nebeng kapal orang.

Tulisan di LS : 54

Tulis komentar dan diskusi...


7 Komentar di artikel ini

  • inge

    “..memanfaatkan gaya gravitasi Bumi untuk mengorbit” itu penjelasannya seperti apa? bagaimana satelit mempertahankan kecepatannya? Tanpa mempunyai kecepatan sendiri bukankah satelit itu lama kelamaan akan jatuh? trims

    Reply
  • Santoso Nurhairani

    Pada Low Earth Orbit, misalnya sebuah satleit ditempatkankan pada ketinggian 1900 km,apakah ketinggian tersebut sudah cukup bagi satelit untuk tidak jatuh kembali ke bumi? Apakah mungkin? Berapa kecepatan satelit dalam mengorbit bumi pada ketinggian 1900km agar tidak jatuh?

    Reply
    • Amrizal

      setahu saya, bahkan satelit terbesar saat ini yang dihuni 6 astronaut/cosmonaut yaitu Stasiun Luar Angkasa Internasional atau International Space Station (ISS) hanya pada ketinggian 320-500km dari permukaan bumi. ISS mengorbit Bumi dengan kecepatan 27000 km/jam atau sekitar 8 km/detik, sehingga mereka dapat mengalami sunrise dan sunset setiap 90 menit. memang, seiring waktu gaya gravitasi bumi menarik ISS ke bumi, maka dari itu setiap beberapa waktu ada prosedur “boosting” atau menyalakan mesin utama di modul paling belakang untuk menambah ketinggian. hal itu layaknya satelit satelit lainnya yang ketinggiannya berada di atasnya. di setiap waktu akan ada prosedur menaikkan ketinggian, tergantung dari seberapa tinggi satelit tersebut mengorbit.

      maaf bila kurang mampu menjawab pertanyaannya…

      Reply
      • Abdul Rachman

        Orbit sebuah satelit sangat ditentukan oleh misi yang diembannya. Menempatkan satelit di ketinggian di atas 1000 km akan memungkinkan usianya di orbit lebih dari 1000 tahun tapi apakah misinya tercapai? Lagipula, usia aktif satelit biasanya kurang dari 10 tahun. Artinya, ratusan tahun ia akan menjadi sampah yang tidak diinginkan keberadaannya.

        Penyebab meluruhnya ketinggian satelit (decay) bukan gravitasi Bumi melainkan hambatan atmosfer yang selalu dialaminya jika ia berada di orbit rendah. Semakin rendah ketinggiannya, semakin besar hambatan yang dirasakannya. Untuk info lebih jauh silakan baca http://orbit.dirgantara-lapan.or.id/index.php/informasi-umum/92-pemantauan-sampah-antariksa dan informasi lain di situs tersebut.

        Reply
  • Angstrom Zeta Symbian

    Saya disini akan berdiskusi mengenai sattelite buatan, kita tidak usah bingung mengenai pengklasifikasian berdasarkan letak orbitnya. intinya kita diskusikan dua hal yaitu apakah satelite itu masih terkena medan gravitasi bumi atau tidak(gravitasi bumi di titik tersebut hampir nol atau bahkan nol)

    jika satelite tersebut masih terkena gaya tarik bumi maka supaya satelite tersebut tidak jatuh akibat tarikan gravitasi bumi, harus kita hadirkan gaya lain yang melawan gaya tarik bumi. gaya tersebut disebut gaya sentripugal(perhitungannya sama seperti gaya sentripetal). yang perlu diketahui mengenai gaya ini adalah gaya ini akan hadir ketika benda atau sistem BERGERAK MELINGKAR, sehingga kita harus membuat satelite tersebut punya kecepatan biasanya di dalam satelite diisi gas Nitrogen bertekanan sebagai pendorong. namun jangan kita bayangkann seperti menggerakan kendaraan dibumi yang penuh gaya gesek. di atas bumi kita gaya gesek sangat kecil sehingga benda yang bergerak akan memenuhi hukum ke I Newton tentang gerak(intinya akan selalu bergerak dengan kecepatan tetap atau tetap diam jika tidak ada resultan gaya ).

    namun, karena gaya gravitasi bumi bervariasi(medan gravitasi bumi tidak sama pada ketinggian tertentu akibat bentuk bumi yang tidak bulat sempurna) sehingga satellite akan sedikit demi sedikit menyimpang dari orbitnya. masalah ini dapat diatasi dengan sistem kontrol dari bumi”intinya sih digeser geser”

    untuk sattelite yang tidak terpengaruh medan gravitasi bumi, ya secara teori tinggal diam atau digerakan saja semau yang punya satellite dari bumi. namun pastinya ada perjanjiannya dikarenakan ada beribu-ribu satellite yang mengorbit bumi”Mencegah tabrakan”

    Reply
    • imam

      nah, itukan sistem kerjanya satelit buatan, kalau satelit alami seperti bulan yang gak punya energi untuk memberikan gaya sentrifugal dan booster gimana donk? kok bisa mengorbit bumi?

      Reply
    • Abdul Rachman

      Satelit yang awalnya sudah mengorbit Bumi akan tetap mengorbit (tidak jatuh) sekiranya tidak ada gaya selain gaya sentral dari pusat Bumi ke satelit tersebut. Gaya sentral inilah yang mengakibatkan sebuah satelit (buatan maupun alami seperti Bulan) tetap mengitari Bumi walaupun tidak ada roket yang mendorong satelit tersebut.

      Dalam konteks benda jatuh antariksa, gaya non-sentral dalam hal ini gaya hambat atmosfer lah yang terus menerus mengurangi energi satelit yang mengakibatkan penurunan ketinggiannya. Jika satelit mencapai ketinggian sekitar 120 km maka umumnya ia akan mengalami atmospheric reentry.

      Situs Pemantauan Benda Jatuh – LAPAN di http://orbit.dirgantara-lapan.or.id/ khususnya bagian Informasi Umum mungkin bisa membantu.

      Reply

Log in | disclaimer | kontak kami | tanya LS © 2007 - langitselatan. All rights reserved

Scroll to top