fbpx
langitselatan
Beranda » Berbagi Ilmu Roket Air bersama Para Pengendali Angin di Indramayu

Berbagi Ilmu Roket Air bersama Para Pengendali Angin di Indramayu

Saya tiba di daerah para “pengendali angin” saat malam mulai merangkak menuju tengah malam sekitar pukul 10 malam. Daerah itu bernama Indramayu dan kalender Masehi menunjukkan tanggal 5 Mei 2012. Langitselatan diundang untuk berbagi ilmu roket air di sana yang diwakili oleh saya sendiri. Berbekal tas carrier besar berisi 3 tipe peluncur roket, dua buah roket, dan peralatan standar untuk merakit roket, bus DAMRI yang saya tumpangi tepat berhenti di gerbang besar Politeknik Indramayu. Saat itu bulan bersinar dengan terang. Perjalanan darat menghabiskan waktu sekitar hampir 5 jam (karena terjebak macet) via Sumedang.

Gerbang POLINDRA yang besar berada di tepi jalan Bandung-Indramayu. kredit : Aldino

Undangan berbagi ilmu roket air datang dari Himpunan Mahasiswa Refrigeration and Air Conditioning (HIMRA) Politeknik Indramayu (POLINDRA) atau jika di-Indonesiakan menjadi Himpuanan Mahasiswa Teknik Pendingin dan Tata Udara. Saya sendiri membahasakan mahasiswanya sebagai para “pengendali angin” seperti dalam film kartun Aang, The last Air Bender. Setelah saya pikir-pikir, roket air itu sendiri merupakan salah satu bentuk pengendalian udara juga.

Setibanya di sana saya disambut dengan hangat oleh para pengendali angin. Saya tidak langsung beristirahat. Peluncur roket yang saya bawa dalam tas kami rakit dan susun kembali bersama termasuk sayap roket dipasang pada badannya. Briefing kecil dilaksanakan agar acara esoknya dapat berjalan dengan baik. Kegiatan berbagi roket ini oleh para pengendali angin dinamakan sebagai Workshop Roket Air se wilayah III Cirebon dengan tema “bersama kita tingkatkan kreativitas dalam dunia sains yang bermanfaat dan mandiri”. Acaranya sendiri diadakan tanggal 6 Mei 2012 di kampus POLINDRA. Dari panitia saya mendapatkan informasi bahwa salah seorang dosen POLINDRA yang seharusnya menjadi pemateri awal tentang roket ternyata berhalangan hadir sehingga otomatis langitselatan adalah pembicara tunggal. Alhasil, materi yang telah disiapkan sedikit saya rombak ulang. Namun hal ini tidak masalah. Setelah selesai menyusun dan menyimpan peluncur di ruangan panitia, saya pun diantar beristirahat di salah satu rumah yang tidak jauh dari lokasi acara.

Pagi pun tiba. Saya pun menyiapkan diri berbekal materi hasil rombakan semalam. Workshop Roket Air yang pertama kalinya diadakan di Indramayu akan dilaksanakan pukul 08.00 sampai dengan pukul 14.30. Acara dibagi menjadi 3 sesi antara lain sesi presentasi roket air, sesi workshop pembuatan model roket air, dan sesi peluncuran. Acara pembukaan agak molor 30 menit karena menunggu peserta yang belum hadir karena lokasi yang agak jauh. Namun, presentasi materi dilakukan tepat waktu sesuai dengan jadwal pukul 09.00. Workshop roket air ini diperuntukan bagi siswa-siswi dan guru SMA dan SMK se-wilayah III Cirebon.

Salah seorang peserta workshop yang hadir tampak serius mengamati peluncur roket air. Kredit: ALdino

Sesi pertama saya awali dengan perkenalan kami sebagai komunitas langitselatan termasuk lingkup kerja dari komunitas ini, para personilnya, dan kegiatan apa yang telah kami lakukan. Hal ini perlu dilakukan karena akses internet di daerah ini agak kurang baik sehingga informasi tentang langitselatan yang lebih banyak berada di dunia maya kurang terpublikasi. Materi berikutnya berturut-turut sejarah singkat roket Indonesia yang pernah meluncurkan roket Kartika yang pada zamannya menjadi negara yang mulai diperhitungkan di mata dunia, sejarah roket air di Indonesia termasuk roket air di langitselatan sendiri, pembelajaran apa yang bisa dilakukan, definisi roket air, berbagai tipe peluncur roket air, badan roket air, dan noozle serta video-video peluncuran. Tipe-tipe peluncur roket air yang merupakan desain dari langitselatan juga disampaikan.

Sesi mini workshop digelar dengan panduan buku elektronik pembuatan peluncur Marsiano. Kredit : Aldino

Dalam sesi presentasi ini, saya mengemukakan definisi roket air yang merupakan frase kata untuk menggambarkan ketiga komponen penting yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain yaitu peluncur, noozle, dan badan roket air. Peluncur roket air itu sendiri saya pisahkan antara mekanisme utama peluncur dan penopang mekanisme utamanya (Bisa dilihat dalam e book Panduan Membuat Peluncur Roket Air Tipe Marsiano perbedaan antara pipa-utama peluncur dengan penopang pipa-utama peluncur). Tanpa ketiga komponen ini, eksperimen roket air tidak dapat dilakukan. Beberapa pertanyaan muncul dari peserta sebelum sesi berakhir.

Setelah istirahat 30 menit, sesi berikutnya pun dimulai yaitu workshop pembuatan roket air itu sendiri. Idealnya yang dinamakan workshop adalah setiap peserta duduk di meja kerja dengan seperangkat peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan. Dengan panduan pemateri, peserta dituntun untuk membuat satu-persatu bagian sampai alat jadi dan siap digunakan. Hal ideal ini kurang terlaksana sepenuhnya karena sponsor yang terbatas. Namun, hal ini bukan masalah.

Sesi pembuatan diubah menjadi mini workshop di mana pemateri mendemokan di depan kemudian meminta salah seorang atau beberapa peserta melanjutkan bagian-bagian yang akan dibuat secara paralel dibantu dengan rekan-rekan mahasiswa. Pembuatan peluncur bersumber pada buku elektronik Panduan Membuat Peluncur Roket Air Tipe Marsiano. Pembuatan yang dibuat pun hanya pada bagian yang menjadi “otak” roket air yaitu pipa-utama peluncur, noozle, dan badan roket air. Penopang pipa-utama peluncur tidak didemokan selain karena keterbatasan bahan, bagian ini mudah dibuat karena hanya tinggal memotong-motong pipa sesuai ukuran dan menyambungnya dengan TEE dan Knee PVC.

Beberapa peserta mendapat tugas membuat kepala peluncur. Kredit : Aldino
Penggergajian pipa dilakukan di hadapan peserta lain. Kredit : Aldino
Salah seorang peserta menggunakan gerinda untuk membuat noozle di bawah supervisi mahasiswa. Kredit : Aldino
Pembuatan badan roket air dilakukan peserta dibantu oleh mahasiswa. Kredit: Aldino

Sesi ketiga dilanjutkan setelah “break” shalat dan makan siang. Berbeda dengan kota Bandung yang biasanya saat siang mulai berawan dan kadang hujan, cuaca di Indramayu cukup terik dan berangin. Peluncuran roket air dilakukan dengan menggunakan peluncur yang saya bawa ditambah dengan peluncur buatan mahasiswa. Tipenya adalah Marsiano dan Dual K yang kepala peluncurnya sudah dimodifikasi dengan Hose Quick Connector. Inilah pertama kalinya Peluncur Marsiano dan Dual K merasakan tekanan udara dari kompresor. Selama penggunaan peluncur ini mulai dari tahun 2008, kami menggunakan pompa tangan untuk mengendalikan udara agar masuk ke dalam badan roket air.

Saat peluncuran di Indramayu, ilmu dan informasi baru saya dapatkan di sini. Tekanan kompresor yang tinggi (walaupun “baru” 7 bar) ternyata membuat kepala peluncur ada yang bocor. Jika menggunakan pompa, udara masuk perlahan-lahan sesuai dengan kekuatan tangan. Penggunaan kompresor saat selangnya dihubungkan ke peluncur menyebabkan udara sepertinya tersentak tiba-tiba masuk ke dalam badan roket.

Konsekuensinya adalah sambungan pipa-utama peluncur ada yang bocor karena (mungkin) saat pengeleman dengan lem epoksi kurang merata. Hal ini terjadi pada beberapa peluncur yang saya bawa dari Bandung yang selama di Bandung tidak masalah saat meluncurkan roket. Informasi kedua adalah penggunaan tosen klep (katup 1 arah) berbahan plastik ternyata mudah patah jika saat mengencangkannya tidak hati-hati. Walaupun lebih murah, dalam jangka waktu lama, penggunaan tosen klep plastik menjadi lebih mahal karena harus sering diganti jika tidak hati-hati saat mengencangkannya. Solusi dari masalah ini mudah yaitu dengan menggantinya dengan tosen klep berbahan kuningan yang walaupun sedikit lebih mahal (4 kali lipat dari harga tosen klep yang plastik), kekuatannya lebih tahan lama. Kelemahan-kelemahan yang saya dapatkan sesi peluncuran ini menjadi masukan yang sangat berharga untuk menyempurnakan peluncur-peluncur yang sudah ada baik Dual K maupun Marsiano.

Sesi peluncuran mengunakan peluncur dari langitselatan dan peluncur buatan HIMRA. Kredit: Aldino
Sesi peluncuran mengunakan peluncur dari langitselatan dan peluncur buatan HIMRA. Kredit: Aldino

Sesi peluncuran merupakan sesi terakhir dari workshop. Kegiatan Workshop Roket Air HIMRA akan dilanjutkan dengan kompetisi roket air yang akan dilakukan 2 minggu lagi setelah workshop berlangsung. Setelah penutupan, salam-salaman, dan packing barang, saya pun diantar menuju terminal dengan dua motor dengan sebuah motor digunakan untuk membawa barang-barang saya. Acara pulang menjadi kebut-kebutan ala “Need for Speed” versi motor karena ternyata sebelum tiba di terminal, kami berpapasan dengan mini bus yang menuju Bandung. Motor yang membawa tas carrier saya langsung berbalik arah dan meluncur lebih dulu untuk “menghadang” laju bus dengan cara meminta supir bus menepi. Semangat mahasiswa-mahasiswa “pengendali angin” ini patut diacungi jempol karena dengan keterbatasan dan penghematan dana yang ada, para pengendali angin mampu menghadirkan sebuah kegiatan yang baru pertama kali diadakan di Indramayu. Saya jadi teringat perjuangan sahabat-sahabat ini saat pertama kali mengontak langitselatan dan memutuskan untuk menemui kami di Bandung dengan menggunakan motor dari Indramayu menuju Bandung. Belum lagi saat mereka memutuskan membeli bahan-bahan roket di Bandung (pulang pergi naik motor) karena ketiadaan bahan di Indramayu. Saat di depan kasir, ternyata dana yang mereka bawa kurang sehingga beberapa barang dikembalikan lagi. Pesan tersirat ini mungkin dialamatkan pada sponsor agar lebih peduli kepada mahasiswa-mahasiswa di daerah yang mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat ilmu-ilmu dasar, bukan kegiatan hiburan sebangsa band-band atau kegiatan hiburan lainnya.

Para peserta berpose bersama di akhir acara Workshop Roket Air. kredit : Aldino

langitselatan bukanlah yang pertama mengembangkan roket air di Indonesia. Kami mencoba menyempurnakan dan menyebarluaskan ilmu roket air melalui buku elektronik dengan bahan-bahan yang bisa didapatkan di Indonesia. Di beberapa tempat sudah mencoba dan berhasil antara lain Banyuwangi, Temanggung, Bandung (termasuk Cimahi) dan kali ini Indramayu.  Hal ini belum ditambah lagi para pemerhati roket di daerah-daerah lain yang membuat peluncur yang bersumber dari langitselatan namun belum berkorespondensi dengan kami. Level pendidikan sahabat-sahabat yang membuat roket air antara lain dari siswa SD, guru, siswa SMA, mahasiswa, dosen, dan lainnya. Untuk daerah Temanggung, peluncur roket air Marsiano terpublikasikan di koran Suara Merdeka dengan foto yang besar yang merupakan buatan Pak Danang, salah seorang pendidik di sana.

Berdasarkan pengalaman di Indramayu, saya memutuskan akan melanjutkan pembuatan ebook selanjutnya dengan mendesain peluncur roket air yang kepala peluncurnya menggunakan cable ties (pengikat kabel berbahan plastik nilon). Pembuatan ebook peluncur berbahan pengikat kabel ini menjadi penting dilakukan karena bahan utama peluncur dari tipe Marsiano yaitu Hose Quick Connector maupun Quick Tap Adaptor sangat susah didapatkan di daerah-daerah di luar perkotaan besar di Indonesia, termasuk di Indramayu. Model ini di beberapa sumber dinamakan sebagai Peluncur tipe Ian clark. Pembuatan versi video maupun ebook singkat sebenarnya sudah banyak baik yang berbahasa Inggris maupun Indonesia, namun tidak ada salahnya langitselatan menambah koleksi desain peluncur tipe pengikat kabel dari yang sudah beredar di internet. Tipe peluncur yang akan dibuat ulang adalah tipe peluncur pengikat kabel yang bisa diarahkan kemiringannya saat peluncuran. Ilmu roket air harus tersebar dengan bahan-bahan lokal yang tersedia. Dengan memberikan informasi yang beragam, maka diharapkan sahabat-sahabat yang tertarik roket air mampu membuat peluncur dengan bahan-bahan yang tersedia di tempat asal. Kegiatan menginspirasi pun semakin mudah dilakukan.

Jadi, bagi para sahabat-sahabat yang masih kesulitan membuat Peluncur Marsiano karena ketiadaan bahan, tunggu saja panduan peluncur roket air berikutnya yang masih dikemas dalam format buku elektornik. Cita-cita saya jika berbagai versi sudah lengkap, maka ebook-ebook yang sudah dibuat akan disatukan dalam 1 buku dan dicetak. Mohon doa dan dukungannya ya…

Avatar photo

Aldino Adry Baskoro

Alumnus astronomi ITB yang saat ini berprofesi sebagai pendidik di sekolahalam Minangkabau dan penulis di langitselatan.

20 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • Jadi terharu kalau mengingat semuanya…..

    Benar-benar perjuangan yang mengharukan, dan bahkan menguras tenaga dan pikiran (^_^)

    terimakasih atas semua dukungan teman-teman HIMRA dan LANGIT SELATAN..

    Maaaantaaabbbzzzzz……….

    • bravo to you all. 🙂 selamat ya buat kegiatannya. kalian bikin kita2 jadi kagum

  • GOOD JOB…

    lanjutkan aksimu, akupun ikut senang hanya dengan membacanya saja.
    manfaatkan sumber air dan angin yang banyak terdapat di indramayu.

    di tunggu bacaan2 selanjutnya.

    salam hangat

    • Boleh-boleh, posisi di mana? kalo di bandung bisa ketemu langsung. Kalau di luar Bandung bisa kontak-kontakan via email. Dari Banyuwangi temen kita Zidni juga berhasil membuat peluncur dengan korespondensi via email.

  • Tambahan informasi dari artikel di atas: Dari hasil investigasi di Bandung, ternyata kepala pelulncur yang digunakan di Indramayu tidaklah bocor. Air yang keluar saat tekanan dimasukan ke dalam roket ternyata berasal dari kurang eratnya noozle ke badan roket saat pemasangannya dengan cara memutarnya seperti memutar tutup botol.Yang kedua berasal dari bahan pembuat noozle (quick tap adaptor). Produk masal ini ternyata harus dipilih-pilih juga. Walaupun bermerek sama antara hose quick di kepala peluncur dan quick tap sebagai noozlenya, terkadang kebocoran terjadi di antara celah hose quick dan quick tap saat roket dipasang pada peluncur. Solusinya kita bisa mencari quick tap bermerek lain untuk dipasangkan pada kepala peluncur dan diuji apakah bocor atau tidak. Kebocoran itu sendiri pada kasus di Indramayu terjadi saat tekanan mulai tinggi (di atas 6 bar). Jika tekanan hanya 4 atau 5 bar, kebocoran belum terjadi. Saat di Bandung, ujicoba untuk mencari tahu kebocoran ini saya gabung dengan ujicoba ketahanan botol. Botol yang saya gunakan adalah botol Pocari Sweat ukuran 350 ml. Botol ini ternyata sampai tekanan 10 bar tidak pecah dan peluncur maupun noozle tidak bocor. Namun demi keamanan, sebaiknya tidak meluncurkan roket air pada tekanan-tekanan yang terlalu tinggi (zona merah adalah 8 bar ke atas). Untuk botol soda tentunya tekanan yang bisa ditahan tentu lebih besar lagi dari botol Pocari karena botol soda dirancang menahan tekanan gas dalam air berkarbonasi yang ada di dalamnya.

  • kalau ukuran coupler & nepple yang di gunakan itu berapa ya dan harganya kira kira berapaan

    • Kopler dan neeple ukurannya sudah standar kalo ngga salah. Harga di bandung untuk pasangan kopler dan neeple sekitar 35 rb

  • satu lagi kalo anak2 POLINDRA beli coupler neple (noozel) di bandung di toko apa, alamatnya di mana. katup/klep pvc satu arah jg sulit nyarinya neh kalo ga di pasangi itu efeknya gimana. thank u hi.hi.hi.

    • Temen-temen di Polindra tidak menggunakan kopler dan neeple. Pasangan alat ini digunakan dalam peluncur DUal K. Setelah mekanisme penggunaan alat tukang kebun berhasil, saya tidak pernah lagi membuat peluncur dengan kopler dan neeple. Temen-temen di Polindra menggunakan Hose Quick Connector sebagai kepala peluncur dan Quick Tap Adaptor sebagai noozle. (lihat di Panduan Membuat Peluncur tipe Marsiano). Belinya ada di beberapa toserba. Ace Hardware IBCC, Borma Setiabudi, Borma Gunung batu jg ada. Kalo di Bandung relatif mudah mendapatkannya. Tosen klep 1 arah berfungsi agar air di dalam roket tidak masuk ke dalam pompa. Saat tekanan sudah mulai tinggi, maka tekanan dalam botol akan menekan air ke bawah. Jika tidak ada katup, air akan langsung masuk ke pompa melalui selang yang terhubung ke peluncur. Itu sebabnya katup 1 arah ditambahkan.

  • Semoga Ilmu Pak Dino bermanfaat. Kami tunggu karya Pak Dino berupa kepala peluncur dengan cable ties. salam pendidikan dari Temanggung. Kota Adipura 2012

    • terima kasih pa danang,alhamdulilah respon di ambon saat tim ls mengenalkan roket air di ambon jg sangat positif, anak anak sangat menikmati saat meluncurkan roket air di SMP 10 dan 14 ambon, mantap…

  • mohon di jelaskan kelebihan dan kekurangan penggunaan coupler vs hose quick untuk louncher dan roket air

    • Kelebihan kopler mungkin terletak dari bahannya yang terbuat dari baja. Bahan ini lebih kuat dan tahan lama dengan catatan, penggunaan kopler sebagai kepala peluncur roket air juga dirawat dengan baik. Caranya dnegan selalu memberikan minyak pada bola-bola baja yang terdapat di bagian dalam kopler. Penggunaan asli kopler adalah untuk angin saja. Penggunaan dengan air memerlukan treatment di atas agar kopler tidak berkarat. Kekurangan kopler terletak pada pasangannyya yaitu noozle. Pembuatan noozle memerlukan jasa tukang bubut besi sehingga praktis membuat harga menjadi lebih mahal. Cara membuatnya untuk noozle yang pertama biasanya kita berikan kopler, neple, dan botol minuman soda sebagai sample. Tukang bubut akan membuat noozle berdasarkan bantuan bahan-bahan tsb.

      Kelebihan hose quick adalah bahannya relatif mudah didapatkan di kota-kota besar. Pasangan noozle juga mudah didapatkan dan mudah dibuat. Jasa tukang bubut tidak diperlukan. Artinya, dari segi biaya lebih murah dan seluruh pembuatan peluncur dapat dilakukan secara mandiri. Kekurangannya mungkin dari bahan yang terbuat dari plastik sehingga kurang kuat (?). Tetapi selama saya menggunakan hose quick, hal ini tidak masalah. Kekuatan yang bisa ditahan peluncur jenis hose quick bisa mencapai 10 bar.

  • minta tips`y dunk bos, gimana cara nepple & tutup botol bisa bener2 nempel + kedap udara?
    jadi pas di pompa gak bocor, udah pake lem / perekat yg laen`y ttep masih bocor, pke epoksi malah patah

    • Neeple itu ada beberapa jenis kalo ngga salah. Nah cari neeple yang ada pengunci yang berupa baut ulir. Dulu saya pernah pakai yang ini dan ngga bocor. Bentuknya bisa diliat di halaman 6 gambar no 7 di Ebook Peluncur Dual K. Gambar no 7 itu kopler dan neeple telah terpasang. Nah, bagian neeple yang terliat di gambar itu bisa dibuka dengan cara diputar sehingga saat penempelan di tutup botol, bagian inilah yang dikencangkan