fbpx
langitselatan
Beranda » Mengenal Binokular untuk Astronomi

Mengenal Binokular untuk Astronomi

Apabila kebanyakan dari kita ditanya alat apa yang bisa digunakan untuk melihat keindahan langit, bisa dipastikan teleskop adalah kata yang pertama kita ingat. Padahal ada alat alternatif lain yang mungkin sering kita lupakan. Yaitu Binokular, alat ini mungkin lebih dikenal untuk mengamati objek-objek terestrial. Tapi jangan salah, alat ini sangat memadai untuk mengamati objek-objek astronomi.

Binokular astronomi. kredit : telescope

Binokular adalah alat yang sangat mudah dibawa kemanapun sehingga memungkinkan untuk melihat berbagai objek dengan lebih cepat tanpa harus kerepotan dengan melakukan bongkar pasang. Tapi banyak sekali jenis binokular yang beredar saat ini, sehingga kita harus pintar memilih binokular yang tepat dan sesuai untuk tujuan yang kita inginkan. Jadi, apabila anda ingin membeli binokular untuk stargazing, semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit petunjuk.

Spesifikasi yang pertama harus diperhatikan untuk memilih binokular adalah aperture atau diameter lensa depan binokular. Semakin besar aperture berarti semakin banyak pula lensa mengumpulkan cahaya. Ukuran aperture ini bisa dilihat dari 2 angka yang biasanya tertulis di tiap binokular. Misalnya 7X35, berarti binokular ini berdiameter 35 mm dan memiliki perbesaran (magnification) mencapai 7x. Kebanyakan binokular berdiameter 35mm, akan tetapi untuk keperluan astronomi sebaiknya anda memilih paling tidak binokular yang berdiameter 40mm.

Untuk fungsi perbesaran, sebaiknya kita memilih binokular yang seperti apa? Perlu dipahami bahwa menggunakan binokular seperti menggunakan teleskop refraktor dengan dua mata sekaligus. Sehingga kita harus memperhatikan cara kerja dan kemampuan mata yang unik untuk tiap orang. Secara umum, untuk keperluan astronomi anda bisa memilih binokular dengan magnification 7x. Disarankan pula apabila anda memilih binokular dengan ukuran yang besar, misalnya 10×50, anda harus menggunakan tripod untuk mendapatkan gambar yang lebih stabil dan tajam.

Karena keunikan masing-masing mata tersebut kita harus memperhatikan spesifikasi yang lain. Yaitu exit pupil binokular, yaitu lebar berkas cahaya yang melewati eyepiece binokular. Exit pupil bisa dihitung dengan membagi besarnya aperture dengan perbesarannya. Misalnya, binokular dengan spesifikasi 7×50 memiliki exit pupil sekitar 7mm. Pada umumnya ukuran exit pupil mata manusia pada siang hari adalah 2 mm dan pupil akan membesar ketika menerima lebih sedikit cahaya. Untuk stargazing biasanya digunakan binokular dengan exit pupil sekitar 5mm. Tetapi akan lebih baik apabila exit pupil binokular disesuaikan dengan besarnya pupil mata kita. Sebagai informasi besar pupil mata manusia sangat bergantung pada umur. Secara umum besar pupil mata manusia dengan kondisi sedikit penerangan kurang lebih 7 mm, untuk orang yang berumur 30 tahun ke bawah. Dan sekitar 5 mm untuk 40 tahun ke atas. Apabila kita menggunakan binokular dengan exit pupil yang lebih besar dari ukuran besar pupil mata, cahaya yang datang tidak sepenuhnya dapat diterima oleh mata sehingga mengakibatkan gambar terlihat lebih redup.

Field of View (FOV) atau medan pandang adalah hal yang juga harus anda perhatikan. FOV ini biasanya dikenali dengan berapa derajat besarnya FOV. Secara umum semakin besar FOV berarti medan pandang semakin luas, tetapi perlu diketahui semakin besar perbesaran akan mengurangi besarnya FOV. Kebanyakan binokular memiliki FOV sekitar 6 deg sampai 7 deg.

Satu hal yang sangat penting pula adalah tipe prisma yang digunakan oleh binokular. Terdapat dua tipe prisma yang digunakan, yaitu porro dan roof. Berikut adalah ilustrasi jalannya cahaya dengan dua jenis prisma yang berbeda.

Diagram Porro-Roof. Kredit : sherwood-photos

Untuk keperluan astronomi disarankan anda memilih binokular dengan porro prisma. Binokular dengan kualitas tinggi dibuat dari barium crown glass (BaK-4). Dan akan lebih sempurna apabila coating lensanya Fully multy-coated. Hati-hati jangan memilih binokular dengan coating lensa ruby coated, karena jenis coating lensa ini diperuntukan untuk keadaan yang terang.

Yang terakhir adalah kolimasi, kolimasi dalam pemilihan binokular ini berarti antara optik dan mekaniknya teralign dengan sempurna. Bagaimana cara mengenali binokular yang terkolimasi? Coba gunakan binokular yang akan dipilih dengan mengamati objek yang jauh, dekat, dan objek antara jarak dekat dan jauh. Apabila anda tidak dapat memfokuskan objek-objek tersebut berarti ada masalah kolimasi pada binokular tersebut. Kolimasi binokular juga bisa dilihat dengan cara menfokuskan binokular dengan menutup sebelah mata, apabila kita tidak bisa menfokuskan dengan cara ini berarti ada masalah dengan kolimasinya.

Mengenai harga binokular tentunya bervariasi bergantung spesifikasinya. Tapi tentu saja harga lebih bisa dijangkau dibandingkan dengan harga teleskop. Binokular kecil untuk astronomi harganya berkisar 25$, sedang untuk ukuran sedang bervariasi antara 50$ sampai 75$. Dan untuk ukuran besar harganya mulai dari harga 100$.

Sumber : universetoday.com, astronomy.com

Avatar photo

Fathonah Rahayu

seorang mantan Mahasiswa Astronomi yang sampai sekarang masih punya energi lebih ingin menyumbangkan sesuatu buat dunia yang sangat dicintainya. Tertarik pada dunia Stellar Physics, sekarang sedang berusaha membangun riset dengan seorang teman tentang Planetary Nebulae. Sedang belajar menulis juga, salah satunya di langitselatan ini.

8 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • Klo untuk binocam gimana mba? sama aja kah spec nya? trus kira2 beli dimana ya? ^^; thx sebelumnya~

  • iya nih, Mbak, kalau mo beli binocular yang lengkap di mana? Kalo ngrakit sendiri gimana pendapat Mbak?
    Makasih…

  • maaf responnya lama, saya baru liat masalahnya 🙂

    @chie
    binocam itu berarti digital camera binocular kan..kalau untuk spesifikasi binokular kurang lebih sama. Tapi untuk spesifikasi kamera, saya belum mencari onfonya lebih lanjut. Lain kali akan saya berikan, kalau sudah lebih banyak mendapat informasi

    @tikto
    Kalau mau beli, biasanya ada di toko2 kamera. Tapi hati2 sama spesifikasinya, kebanyakan binocular yang ditawarkan tidak cocok untuk kepentingan astronomi. Toko2 yang menyediakan teleskop selalu menyediakan binokular untuk kepentingan astronomi..ada beberapa di kota2 di Indonesia.

    Kalau merakit sendiri, dalam artian binokular sederhana mungkin bisa2 aja. Tapi saya sih belum pernah mencoba. Mungkin masalahnya nanti ada di coating lensanya. Akan saya coba cari infonya juga nanti..

  • Saya tinggal di jakarta, & sudah pasti polusi cahayanya jangan ditanya deh, sehingga kesempatan untuk mengamati objek dengan pendaran cahaya rendah sangat sulit. Jadi kangen rumahku di setiabudi-bdg yang lingkungannya masih rada poek2 =). Adakah perangkat keras/lunak yang bisa menapis pengaruh polusi cahaya disekitar lokasi pengamatan? atau ada telescope khusus untuk itu? kira2 cari dimana & berpa ya harganya?

    Btw, teras “rumah merpati” saya menghadap belahan langit utara.

    =astronomy enthusiast=

  • Apakah Binokular bushnell kw yg banyak beredar bisa/cocok juga untuk teropong astronomi ?