Proyek Astronomi Medis, Ketika ilmu Astronomi dan Medis Bertaut
By nggieng • Sep 28th, 2008 at 8:22 am • Category: News
Slicer, piranti lunak untuk keperluan visualisasi astronomi medik. Kredit : Harverd Edu
Bagaimana itu bisa terjadi? Tentunya di dunia kedokteran dikenal yang namanya MRI (Magnetic Resonance Imaging), yaitu peralatan yang dipergunakan oleh dokter untuk mendapatkan citra dari dalam tubuh manusia untuk keperluan menentukan tingkat kesehatan seseorang. Tentunya teknik dengan peralatan tersebut sangatlah penting dalam dunia kesehatan modern. Lalu bagaimana hal tersebut berkaitan dengan astronomi?
Bagi astronomi, perkembangan pengambilan data tentang langit terus berkembang secara luar biasa, dengan semakin banyaknya instrumen dalam jumlah besar, rumit, tetapi dengan begitu juga, para astronom juga kesulitan dalam memvisualisasikan data yang ada.
Sampai pada suatu ketika, di tahun 2004, Michael Halle, Direktur Laboratorium Visualisasi dari Laboratorium Perencanaan Bedah Rumah Sakit Brigham & Women’s, mengikuti ‘Lokakarya Tantanagan Visualisasi Riset’, yang di adakan oleh ‘National Institutes of Health/National Science Foundation‘. Di sana ia bertemu Alyssa Goodman, seorang astronom yang sedang memberikan presentasi mengenai perkembangan terkini visualisasi dalam astronomi, serta kendalanya.
Dari pembicaraan mereka lah, maka studi tentang penerapan pencitraan dalam medis untuk penelitian astronomi di mulai. Dan itu merupakan cikal bakal proyek studi & riset astronomi medis, yang dirintis oleh Harvard’s Initiative in Innovative Computing (di mana Goodman merupakan direktur pendirinya).
Terapan pertama konsep tersebut dilakukan oleh astronom Gus Muench, yang merupakan astronomi radio di Australia. Ia mempergunakan 3D Slicer , program open-source yang dipergunakan untuk visualisasi dan pencitraan, yang pada awalnya banyak dipergunakan dalam dunia medis.
Muench sedang mempelajari Nebula Pipa, yaitu awan debu pada rasi Ophiuchus, dan pada suatu malam pengamatan yang tidak berpihak padanya, langit diselubungi awan yang menghalangi frekuensi radio pengamatannya, dan sementara menunggu ia mencoba menciptkan visualisasi 3D dari data yang sudah ia peroleh. Dan bersama rekan astronomnya, ia menyadari bahwa proses visualisasi yang ia proses merupakan studi yang sangat menjelaskan tentang obyek yang ia pelajari.
Dan semenjak saat itu, maka studi dengan pemanfaatan visualisasi tersebut mulai banyak diterapkan dalam studi astronomi, dari studi dan pemetaan awan antar bintang, sampai remah-remah supernova.
Mengapa studi yang sangat berbeda tersebut bisa saling bertaut? Bagi dunia kesehataan, MRI memberikan gambaran tiga dimensi ruang, misalnya bisa menunjukkan adanya lokasi tumor dalam otak pasien. Tetapi bagi astronomi, semua data dalah dua dimensi dalam ruang, sebagaimana yang tampak oleh kita di langit dan plat citra.
Untuk menberikan informasi sebagai tiga dimensi, maka astronom harus memberikan variabel tambahan bagi data, misalnya data kecepatan benda bergerak. Kumpulan data tersebut disebut sebagai ‘data cubes’(kubus data), dan itu bisa divisualisasikan sebagai variabel ketiga, sebagai dimensi ruang, sehingga bisa diperoleh informasi tiga dimensinya.
Tentunya teknik tersebut memberikan harapan bagi studi astronomi di masa mendatang, karena dari hanya data dua dimensi ruang dan dengan penambahan instrumen-instrumen pengamatan yang makin canggih, kubus data bisa berkembang sampai set 7 dimensi: dua dimensi ruang sebagaimana yang selama ini telah diperoleh, jarak obyek dari Bumi, dua ukuran kecepatan pada gerak diri benda (pergerakan benda terhadap titik referensi diam di langit), kecepatan pada arah pandang pengamat (menjauh, mendekat), dan waktu. Dan dari itu semua maka bisa memberikan gambaran tentang alam semesta kita dengan lebih baik lagi.
Perangkat lunak yang awalnya dipergunakan, yaitu 3D Slicer, dikembangkan oleh Ron Kikinis, seorang dokter dari Rumah Sakit Brigham & Women’s, bekerja sama dengan Laboratorium Artificial Intelligence MIT. Kemudian berkembang mempergunakan program OsiriX (juga untuk pengguna Apple), yang juga dikembangkan oleh tim dokter dari Unviersitas California, LA, dan sekarang di Universitas Geneva.
Tetapi kedua program tersebut masih belum optimal dipergunakan untuk astronomi, secara khusus dalam pengolahan file dengan format FITS.
Salah satu proyek yang telah dikerjakan bisa dilihat pada Situs Astronomi Medis yang mengerjakan awan molekular pembentukan bintang pada rasi Perseus, yang datanya merupakan citra merah-infra nebula NGC 1333 dari Teleskop Antariksa Sptizer milik NASA.
Studi ini masih terus berkembang dan membutuhkan bantuan dari semua pihak yang berminat membantu. Apabila kita berminat mencoba mengembangkan, kita bisa juga bergabung pada “Komunitas Slicer” di www.slicer.org. Di dalamnya banyak pihak membantu pengembangan, tidak hanya ahli bedah, terapis kanker dan ahli anatomi tubuh - bahkan ada juga studi untuk fosil dinosaurus, tengkorak tikus, bahkan ada satu proyek yang memodelkan erosi sedimen dataran karena banjir.
Riset ruang-bumi (geospatial) bisa dikembangkan dengan memanfaatkan 3D Slicer, sebagaiman kerjasama Astronomi Medis ini telah dilakukan, dan bisa membuka wawasan tentang berbagai studi dengan bidang-bidang lain. Dan kesempatan ini bisa jadi kesempatan kita untuk ikut serta mempelajari hal-hal baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Jadi, kita pun bisa menjadi astronom, menjadi ahli kesehatan, tanpa berkesempatan sekolah di bidang tersebut, asal kita mau belajar. Siapa mau mencoba?
Sumber : Medical Software has Astronomers Seeing Stars , The Astronomical Medicine Project
nggieng Mahasiswa magister astronomi ITB yang semenjak S1, sudah terlibat dalam berbagai kegiatan jurnalistik dan penulisan buku ilmiah popular. Kendati mengambil pendidikan di Astronomi ITB, tetapi tidak menghentikan minat untuk terlibat dalam dunia jurnalistik. Pengalaman jurnalistik semenjak di kampus a.l., Pemred Majalah KMK ITB "Lentera", Redaksi Pelaksana Majalah Astronomi "Asteroid", terlibat dalam penerbitan buku "Perjalanan Mengenal Astronomi", sampai dengan penerbitan Internasional, dan sekarang terlibat aktif sebagai reporter & fotografer di Komunitas Astronomi langitselatan.
Email this author | All posts by nggieng






