Bimasakti Ternyata Semakin Ramping
By ivie • May 30th, 2008 at 1:36 am • Category: Kosmologi
Peneliti dari SDSS menggunakan data gerak bintang jauh untuk menentukan massa Bimasakti. Kredit Gambar : SDSS
Menurut Xiangxiang Xue dari National Astronomical Observatories of China yang memimpin tim internasional dalam penelitian ini, galaksi jauh lebih ramping daripada yang kita duga. Artinya, terdapat lebih sedikit materi kelam daripada yang diyakini sebelumnya, dan tampaknya Bimasakti jauh lebih efisien dalam mengubah persediaan hidrogen dan heliumnya jadi bintang.
Penemuan Xue tersebut didasarkan pada data SEGUE (Sloan Extension for Galactic Understanding and Exploration), survey bintang di Bimasakti yang merupakan satu di antara 3 program milik SDSS-II. Dengan menggunakan pengukuran SEGUE terhadap kecepatan bintang di bagian terluar Bimasakti, pada area yang disebut halo bintang, para peneliti menentukan massa galaksi dari jumlah gravitasi yang dibutuhkan untuk membuat bintang tetap stabil pada orbitnya. Sebagian gravitasi berasal dari bintang di Bimasakti, namun sebagian besar garvitasi justru berasal dari distribusi materi kelam.
Untuk melacak distribusi massa galaksi, tim SEGUE menggunakan contoh dari 2.400 bintang yang ada pada cabang horizontal biru (”blue horizontal branch”). Jarak bintang di cabang tersebut bisa diketahui dari kecerlangannya. Bintang pada cabang horizontal biru bisa terlihat pada jarak yang sangat jauh, sehingga tim ini bisa mengukur kecepatan bintang sampai dengan jarak 180.000 tahun cahaya dari Matahari.
Hasil penelitian massa Bimasakti yang ada sebelumnya menggunakan beragam contoh dari 50 - 500 objek, dan ditemukan jika total massa galaksi Bimasakti mencapai 2 triliun massa Matahari. Berbeda dari hasil sebelumnya, penelitian dengan menggunakan pengukuran SDSS-II sampai jarak 180.000 tahun cahaya justru mengoreksi total massanya, yakni berkurang sampai di bawah 1 triliun massa Matahari. Ukuran SEGUE yang besar memberi keuntungan, karena susunan pelacak yang seragam bisa dipilih, dan sejumlah besar bintang yang ada bisa dipakai untuk melakukan kalibrasi metode yang digunakan dengan hasil simulasi.
Menurut kolaborator Timothy Beers dari Michigan State University, memang tidak mudah untuk menentukan massa total galaksi karena kita berada di dalam galaksi itu sendiri. Namun, jika kita ingin mengetahui dan memahami Bimasakti, kita bisa mengetahuinya dari data yang ada , dan kemudian kita bisa membandingkannya dengan galaksi jauh yang bisa kita lihat dari luar.
Sumber : SDSS
ivie Astronom komunikator yang aktif menulis di langitselatan.com. Tahun 2005, bersama beberapa alumni astronomi membuat majalah Centaurus. Menyelesaikan tahap sarjana dan pasca sarjana dari Astronomi ITB dengan topik kajian Tata Surya dan Extrasolar Planet khususnya tentang dinamika sistem planet. Terlibat dalam riset KK Tata Surya Astronomi ITB untuk tinjauan pembentukan sistem Tata Surya dan Extrasolar Planet. Saat ini ia sedang melakukan riset dinamika sistem planet dan mengelola langitselatan.
Email this author | All posts by ivie








