Kami dari langitselatan, mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H. Minal 'Aidin wal-Faizin.
Mars Ternyata Lebih Dingin Reviewed by Momizat on . Mars dingin bukanlah informasi baru. Namun hasil pengamatan Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA menunjukkan kalau kerak dan lapisan atas selimut Mars lebih k Mars dingin bukanlah informasi baru. Namun hasil pengamatan Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA menunjukkan kalau kerak dan lapisan atas selimut Mars lebih k Rating:

Mars Ternyata Lebih Dingin



Mars dingin bukanlah informasi baru. Namun hasil pengamatan Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA menunjukkan kalau kerak dan lapisan atas selimut Mars lebih keras dan lebih dingin dari yang diperkirakan semula. Dengan demikian seandainya memang ada air dalam bentuk cairan maka tentunya air itu berada di jauh di bawah permukaan planet. Bahkan seandainya ada organisme hidup di dalam air tersebut, tentunya ia akan berada jauh lebih dalam dari dugaan awal.

Foto tudung es di kutub utara Mars. Kredit gambar :NASA/JPL/Malin Space Science Systems

Selain itu permukaan Mars juga ditemukan tidak melengkung mengikuti akibat beban es kutub utara, sehingga interior planet jadi lebih kaku dari yang diperkirakan sebelumnya. Semua ini bisa diketahui dari foto-foto yang diambil dengan Shallow Radar instrument, yang mengambil citra secara detail dari lapisan es, pasir, dan debu yang ada di kutub utara Mars. Citra tersebut mengungkap lapisan panjang sampai dengan 1000 km.

Saat dilihat sepintas ke bagian dalam es di kutub, Mars Reconnaissance Orbiter berhasil melihat timbunan materi es yang bisa digunakan untuk mengusut sejarah iklim di Mars. Benar-benar sebuah penemuan yang membuka masa lalu Mars. Foto-foto yang diambil radar menunjukan ada pembatas halus yang datar antara tudung es dan kerak batuan Mars. Di Bumi, berat timbunan es seperti itu akan menyebabkan terjadinya keruntuhan permukaan planet. Fakta kalau permukaan Mars tidak bengkok menunjukan kalau lapisan terluarnya sangat kuat, sebagai hasil dari kombbinasi kerak dan selubung teratasnya. Dipastikan keduanya pasti sangat tebal dan dingin.

Peta ketebalan lapisan simpanan di kutub utara Mars yang diukur dengan Shallow Radar instrument milik NASA. Kredit : NASA/JPL-Caltech/University of Rome/SwRI

Litosfer planet memang bagian yang sangat keras. Di Bumi, litosfer merupakan bagian yang patah saat terjadi gempa Bumi. Yang menarik adalah kemampuan radar untuk melihat jauh ke dalam tudung es sehingga bisa menemukan kalau tidak ada lengkungan atau pun patahan litosfer. Penemuan ini memberi pemahaman akan temperatur di dalam Mars untuk pertama kalinya.

Temperatur di bagian terluar planet batuan seperti Mars mengalami peningkatan dengan bertambahny kedalaman sampai ke bagian interiornya. Semakin tebal litosfernya, peningkatan temperatur secara bertahap akan semakin tinggi. Ditemukannya litosfer Mars yang tebal justru secara tak langsung menunjukan ada air yang sedang mengintai jauh di bawah permukaan. Lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya, dimana temperatur akan jadi sangat hangat. Dan jika ada kehidupan di air maka tentunya ia sedang terkubur saat ini.

citra yang diambil radar mengungkap keberadaan lapisan es, pasir dan debu yang membentuk tudung es di kutub utara Mars. Peta berwarna menunjukan topografi dan kaitan tanah Mars. Kredit : NASA/JPL-Caltech/University of Rome/SwRI

Tidak hanya itu, foto-foto yang diambil juga menunjukan 4 zona lapisan es dan debu yang dipisahkan oleh lapisan tebal es murni. Diperkirakan ini merupakan pola lapisan es bebas yang tebal yang memberi gambaran siklus perubahan iklim di Mars dalam skala waktu sekitar 1 juta tahun. Perubahan iklim seperti itu bisa jadi disebabkan oleh perubahan kemiringan sumbu rotasi planet dan perubahan eksentrisitas orbit di sekeliling Matahari. Hasil pengamatan ini mendukung ide kalau kutub utara lebih aktif secara geologi dan lebih muda sekitar 4 juta tahun.

Tanggal 25 Mei, penjejak Phoenix Mars Lander dijadwalkan akan meneliti bagian kutub utara Mars khususnya untuk menyelidiki sejarah air di Mars.

Sumber : NASA

Profil Penulis

Astronom Komunikator / Project Manager

astronom komunikator dan pengelola langitselatan yang lahir dan dibesarkan di Ambon. Menggemari sistem keplanetan sebagai kajian utama saat kuliah di Astronomi ITB dan akhirnya sadar ia lebih menyukai dunia komunikasi astronomi lewat media baru di dunia maya. Punya sampingan sebagai Project Manager 365 Days of Astronomy yang memperkenalkan astronomi lewat podcast & Editor Pelaksana di Majalah Astronomi. Jalan-jalan, nongkrong dan makan merupakan kegemarannya selain bermain game dan menulis cerita abstrak plus aktif di Astronomer Without Border, Galileo Teacher Training Project, Universe Awareness dan Global Hands on Universe.

Tulisan di LS : 733

Tulis komentar dan diskusi...


1 Komentar di artikel ini

  • ron

    sepertinya mars memang tidak cocok untuk ditempati manusia^_^ thanx untuk para peneliti yg trus menerus berusaha mencari tahu apa yg tidak diketahui.

    Reply

Log in | disclaimer | kontak kami | tanya LS © 2007 - langitselatan. All rights reserved

Scroll to top