Vernal Equinox
By Tri L. Astraatmadja • Mar 20th, 2008 at 11:18 am • Category: Sistem KalenderBenda langit selalu berubah posisinya, terbit di timur dan tenggelam di barat. Ini adalah gerak yang diakibatkan oleh rotasi Bumi–perputaran Bumi pada porosnya–sehingga harus dibedakan dengan gerak Bumi mengelilingi matahari.
Bintang-bintang letaknya sangat jauh sehingga praktis posisinya tidak banyak berubah seiring dengan bergeraknya Bumi mengelilingi matahari, oleh karena itu justru posisi mereka bisa kita jadikan patokan. Indikasi revolusi Bumi–perputaran Bumi mengelilingi matahari–ada pada matahari dan planet-planet di sekitar Bumi. Posisi matahari setiap hari berubah-ubah relatif terhadap bintang-bintang di belakangnya. Bulan ini matahari bisa berada di rasi A, bulan depan di rasi B. Namun demikian, gerakan ini selalu teratur.
Bila dilacak, gerakannya sepanjang tahun akan mengikuti garis yang kita namakan garis ekliptika. Garis ekliptika ini berpotongan dengan garis ekuator langit, yaitu garis yang memotong bola langit menjadi dua bagian–belahan utara dan belahan selatan.
Perpotongan dua garis ini–ekliptika dan ekuator langit–disebut titik equinox. Saat matahari berada di titik ini, maka lamanya siang dan malam akan sama yaitu masing-masing 12 jam. Titik yang dilewati matahari dalam perjalanannya dari selatan ke utara langit, terjadi pada bulan Maret, dinamakan Titik Vernal Equinox. Titik yang dilewati matahari dalam perjalanannya dari utara ke selatan langit, terjadi pada bulan September, dinamakan Titik Autumnal Equinox. Vernal Equinox terjadi sekitar tanggal 21-23 Maret setiap tahunnya, tidak pernah sama karena Bumi sendiri membutuhkan waktu 365.25 hari untuk mengitari matahari.

Tugu Khatulistiwa, titik nol. Sumber : pontianak.go.id
Pada tahun ini, 2008, matahari melewati Titik Vernal Equinox hari Kamis, tanggal 20 Maret. Bagi kawan-kawan yang berada di garis ekuator, misalnya di Pontianak (sudah waktunya kita mendaftar kota-kota di Indonesia yang berada di khatulistiwa), pada pukul 12.48 siang waktu setempat, matahari akan berada persis di atas kepala dan sinar matahari jatuh tegak lurus terhadap tanah. Jadi bayangan yang dihasilkan akan kecil sekali.
Tri L. Astraatmadja memulai pendidikan astronominya pada tahun 1999, ketika diterima di Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung. Lulus dari ITB bulan Maret 2006 dan semenjak September 2006 melanjutkan pendidikan S2 di Observatorium Leiden, Universitas Leiden, Negeri Belanda. Akan lulus tanggal 30 September 2008, kini mengambil doktoral tentang astrofisika partikel di NIKHEF (Institut Nasional Fisika Subatomik) Amsterdam, Negeri Belanda
Email this author | All posts by Tri L. Astraatmadja









Tolong kirim artikel terbaru ke email saya. thanks