Instrumentasi Astronomi Radio 2: Antena
By Radial Anwar • Feb 1st, 2008 at 10:06 am • Category: Radio Astronomi
Gambar 1. Susunan array MRT

Gambar 2. Antena helix yang digunakan pada MRT.

Gambar 3. Teleskop radio yang menggunakan antena berbentuk horn. Kredit gambar: Bell Labs
Karakter Antena
Ada beberapa karakter penting antena yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis antena untuk suatu aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Karakter-karakter ini umumnya sama pada sebuah antena, baik ketika antena tersebut menjadi peradiasi atau menjadi penerima, untuk suatu frekuensi, polarisasi, dan bidang irisan tertentu.

Gambar 4. Pola elevasi dan pola azimuth antena dipol
Kedua pola di atas akan membentuk pola 3-dimensi seperti terlihat pada gambar 5. Pola radiasi 3-dimensi inilah yang umum disebut sebagai pola radiasi antena dipol.

Gambar 5. Pola radiasi antena dipol.
Sebuah antena yang meradiasikan sinyalnya sama besar ke segala arah disebut sebagai antena isotropis. Antena seperti ini akan memiliki pola radiasi berbentuk bola (gambar 6a). Namun, jika sebuah antena memiliki arah tertentu, di mana pada arah tersebut distribusi sinyalnya lebih besar dibandingkan pada arah lain, maka antena ini akan memiliki directivity (gambar 6b). Semakin spesifik arah distribusi sinyal oleh sebuah antena, maka directivity antena tersebut semakin besar (gambar 7a dan 7b).

Gambar 6. Ilustrasi pola radiasi antena.

Gambar 7. Directivity Antena.
Dari gambar 4 dan 5, kita dapat melihat bahwa sinyal didistribusikan oleh sebuah antena dipol secara merata ke semua arah pada bidang XY. Oleh karena itu, antena dipol termasuk non-directive antenna. Dengan karakter seperti ini, antena dipol banyak dimanfaatkan untuk sistem komunikasi dengan wilayah cakupan yang luas. Pada astronomi radio, antena dipol digunakan pada teleskop radio untuk melakukan pengamatan pada rentang High Frequency (HF). Bentuk data yang dapat diperoleh adalah variabilitas intensitas sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi. Namun, karena antena dipol tidak memiliki directivity pada arah tertentu, teleskop radio elemen tunggal yang menggunakan antena jenis ini tidak dapat digunakan untuk melakukan pencitraan.
Gain (directive gain) adalah karakter antena yang terkait dengan kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya, melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang digunakan untuk gain adalah desibel.
Polarisasi didefinisikan sebagai arah rambat dari medan listrik. Antena dipol memiliki polarisasi linear vertikal (pada gambar 4, searah dengan sumbu z). Mengenali polarisasi antena amat berguna dalam sistem komunikasi, khususnya untuk mendapatkan efisiensi maksimum pada transmisi sinyal. Pada astronomi radio, tujuan mengenali polarisasi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah objek astronomi adalah untuk mempelajari medan magnetik dari objek tersebut.
Antena Parabola
Antena berbentuk parabola banyak digunakan dalam sistem komunikasi point-to-point, misalnya dalam sistem komunikasi satelit, karena antena parabola termasuk directive antenna. Hal ini dapat dilihat melalui pola radiasinya (gambar 9).

Gambar 8. Antena parabola.

Gambar 9. Pola radiasi antena berbentuk parabola. Sumbu z menunjukkan arah hadap antena.
Aca beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pola radiasi, yang pertama adalah Half-power Beamwidth (HPBW), atau yang biasa dikenal sebagai beamwidth suatu antena. Dalam astronomi radio, beamwidth adalah resolusi spasial dari sebuah teleskop radio, yaitu diameter sudut minimun dari dua buah titik yang mampu dipisahkan oleh teleskop radio tersebut. Secara teori, beamwidth untuk antena yang berbentuk parabola dapat ditentukan.
Antena dipol, walaupun tidak termasuk directive antenna, juga memiliki beamwidth. Yang kedua adalah First Null Beamwidth (FNBW), yaitu sudut yang dilingkupi oleh main/major lobe sebuah antena. Kedua besaran tersebut menggambarkan bentuk dari major lobe. Dalam sistem komunikasi satelit, major lobe diharapkan sesempit mungkin. Selain menghindari sinyal melebar ke satelit lain, major lobe yang sempit memberikan gain yang besar jika dibandingkan dengan major lobe yang lebar. Hal yang sama berlaku jika antena parabola digunakan pada sebuah teleskop radio dalam bidang astronomi, dimana beamwidth yang sempit memberikan resolusi spasial yang tinggi. Major lobe juga memberikan gambaran mengenai directivity antena–semakin kecil major lobe sebuah antena, maka semakin tinggi directivity antena tersebut.
Minor lobes (side lobes dan back lobes) selalu muncul dalam setiap pola radiasi antena parabola. Minor lobes selalu diharapkan berukuran sekecil mungkin, karena selain mengurangi efisiensi, minor lobes yang besar dapat menyebabkan sinyal melebar ke satelit lain. Dalam kondisi antena sebagai penerima (misalnya pada sebuah teleskop radio), minor lobes memberikan kontribusi dalam menambah noise pada sinyal.
Jenis polarisasi pada antena berbentuk parabola ditentukan oleh polarisasi feedhorn-nya. Pada antena parabola, elemen yang mengubah sinyal elektromagnetik menjadi sinyal listrik (atau sebaliknya) terdapat di dalam feedhorn. Piringan parabola berfungsi untuk mengarahkan radiasi sinyal (antena sebagai peradiasi) atau mengumpulkan dan memfokuskan sinyal yang diterima (antena sebagai penerima).
Antenna Tutorial. AEROCOMM
Radiation Pattern Tutorial. Granite Island Group
N.J. Kolias et. al., Antennas. 2000. CRC Press L.L.C. http://www.engnetbase.com
MRT HOME PAGE. http://icarus.uom.ac.mu/mrt2.html
Hill, J.E., Gain of Directional Antenna. Watkins-Johnson Company
Antenna Patterns. Teleconsult Group.
Radial Anwar menyelesaikan pendidikan sarjana di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Memulai pendidikan s2 pada bulan Juli 2007 di Departemen Elektrik, Elektronik, & Sistem, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Mengambil program master by research dengan topik pembuatan teleskop radio pada rentang high frequency (HF) dibawah naungan Institut Sains ANGKASA UKM.
Email this author | All posts by Radial Anwar








so, what kind of antena’s we need to plot/catch an elektromagnetic wave or lightning ?
thank you.
for julia:
in observing the radio astronomical objects, if you want to plot the intensity versus time, then a low spatial resolution antenna will be enough. but if you want to create the map the intensity (imaging), you have to use a high spatial resolution antenna. of course to decide the type of the antenna, you have to refer to in what frequency you want to do the observation. I’m not sure about instrument to catch the lightning, i can’t answer this question.
sal am……….saya sangat menginginkan .bagaimana cara untuk menghitung pembuatan antena untuk retang frequency 144 mhz .dengan model YAGI 9 elament .mohon bantu terima kasih
Untuk priyo imam nugroho:
Maaf atas respon yang sangat lambat, beberapa minggu kemarin tidak sempat browsing semua update dalam website ini. Mengenai antena Yagi, saya belum punya pengalaman untuk antena jenis ini. Tapi akan saya bagi sedikit pengetahuan yang saya punya.
Pada dasarnya, antena Yagi terdiri dari 3 elemen, yaitu Driven element, Reflector, dan Director.
Driven element seperti antena dipol biasa, berukuran lamda/2 (untuk frekuensi 144 MHz artinya lamda sekitar 2,083 meter, lamda/2 sekitar 1.041 meter). Panjang elemen reflektor sekitar 0,58 lamda, sedangkan panjang elemen Director sekitar 0,45 lamda. Jarak antar elemen sekitar lamda/10. Antena ditempatkan pada ketinggian yang sama dengan lamda dari permukaan tanah. Ini adalah perhitungan standar untuk antena Yagi dengan 3 elemen. Apakah perhitungan ini juga dapat diaplikasikan untuk Yagi 9 elemen (7 Director), saya tidak dapat memberi kepastian.
Khusus untuk Yagi dengan 9 elemen, ada salah satu model yang diperkenalkan oleh Shintaro Uda pada akhir 1920an, yang memiliki performa yang sangat baik (nama lain untuk antena Yagi adalah antena Yagi-Uda, sebagai penghargaan atas kontribusi Shintaro Uda dalam pengembangan antena dengan elemen parasit).
Spesifikasi model yang dikemukakan oleh Uda tersebut adalah sebagai berikut:
Panjang Reflektor = lamda/2, ditempatkan sejauh lamda/4 dari Driven element.
Panjang Director = 0.45 lamda, dengan jarak pisah antar elemen sekitar lamda/3.
Nah mungkin mas priyo bisa mencoba model yang dikemukakan oleh Shintaro Uda ini. Kalau menginginkan performa tertentu dari antena yang ingin dibuat, saran saya adalah mencoba melakukan simulasi komputer terlebih dahulu. Melakukan simulasi adalah prosedur standar dalam membuat antena, apalagi jika ingin mengembangkan model antena tertentu.
Semoga cukup membantu.
Sumber:
Kraus, J. D. 1988. Antena, 2nd ed. McGraw-Hill, New York.