Sebuah Pilot Project UNAWE-Indonesia for Childreen: Pesta Bintang Keliling Wilayah Tengah dan Timur Pulau Jawa (bagian kedua)
By dino • Jan 20th, 2008 at 1:47 pm • Category: Komunitas Astronomi, NewsHari Ketiga
Matahari pagi yang hangat menyambut kami setelah kami melalui malam hari dengan pendidikan ilmu-ilmu Astronomi dasar yang dikemas dalam bentuk permainan, presentasi, pengamatan, serta peragaan bagi 500 siswa di SD Wungu. Namun perjalanan belumlah berakhir. Masih ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi. Kunjungan berikutnya adalah lokasi pengungsian korban Lumpur Lapindo yang berada di Pasar Baru Porong. Selain daerah Porong, kota Malang menjadi kota terakhir kunjungan berbagi ilmu Astronomi dalam perjalanan yang cukup panjang ini.

Beberapa kru UNAWE-Indonesia tampak sibuk mendistribusikan mainan-mainan ke dalam beberapa kardus bekas. Walaupun cukup lelah, kami tak lupa untuk selalu tersenyum. Kredit foto : Dino

Kartu pos bergambar Tata Surya dan kartu remi seri Tata Surya produksi UNAWE-Indonesia telah disusun rapi siap untuk dibagikan di lokasi pengungsian. Kredit foto : Dino
Dan aktivitas bermain pun dimulai….
Perkenalan dilakukan di depan kelas. Salah seorang kru bercerita singkat tentang Astronomi. Sebuah poster Tata Surya terbaru pun dibentangkan oleh Bu Nana di depan kelas. Respons anak-anak yang kami dapatkan dari sesi perkenalan masih minim. Kegiatan selanjutnya adalah mewarnai. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok dalam beberapa meja yang sudah disatukan. Anak-anak didampingi oleh beberapa kru UNAWE-Indonesia. Sambil menemani anak-anak mewarnai sekaligus memberikan saran warna jika ditanya, para kru juga bercerita dan sesekali bertanya kepada anak-anak. Poster dan kartu remi seri Tata Surya pun ditebar di meja untuk mendapatkan perhatian anak sekaligus memancing rasa ingin tahu mereka terhadap gambar-gambar tersebut. Awalnya anak-anak hanya diam saja. Mereka tampaknya masih malu-malu. Tetapi seiring bergulirnya waktu, anak-anak akhirnya bisa berbaur dan beraktivitas. Yatny dan Hepi yang menggunakan media kartu remi mendapatkan respons positif dari anak-anak. Anak-anak dengan antusias menanyakan gambar-gambar yang ditunjukkan. Bahkan ada beberapa anak yang bercita-cita ingin menjadi astronot.

Walaupun hidup dalam pengungsian, tatapan tajam seorang gadis cilik menyiratkan optimisme dan harapan untuk menjalani hidup menjadi lebih baik. Kredit foto : M. Irfan

Selain kegiatan mewarnai, kartu remi seri Tata Surya menjadi alat bantu yang bermanfaat bagi kru UNAWE-Indonesia untuk memperkenalkan benda-benda langit kepada anak-anak. Kredit foto : M. Irfan
Karena waktu yang terbatas, aktivitas yang dilakukan tidak banyak. Sebelum sesi menggambar berakhir, Ainil maju ke depan kelas. Alumnus astronomi yang berniat melanjutkan program master di luar negeri ini bercerita tentang benda-benda langit seperti Matahari, Bumi tempat kita tinggal, arah terbit Matahari, serta kapan melihat bintang. Dengan komando dari Ainil, anak-anak pun bernyanyi lagu bintang kecil yang sangat menyentuh.
Waktu jualah yang membatasi kami. Sebelum berpamitan, kami berpesan pada anak-anak kalau ingin bermain kartu remi, rajin-rajinlah datang ke sekolah. Berbagai permainan sudah dititipkan ke ibu guru. Beberapa permainan lainnya, majalah, termasuk kartupos dititipkan juga pada pihak LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang mengurusi korban lumpur ini. Setelah mengucapkan salam perpisahan, anak-anak bersalaman satu-persatu dengan kru UNAWE-Indonesia.

Kepolosan anak-anak terekam dalam senyum tulus mereka. Walaupun kehilangan rumah dan sekolahnya karena terkubur lumpur, mereka tetap asyik beraktivitas.Kredit foto : M. Irfan
Kami meninggalkan lokasi pengungsian pada sore hari. Tak lupa kami berpamitan dengan ketiga mahasiswa ITS yang telah membantu kami. Hujan yang cukup deras mengiringi kepergian kami. Aktivitas bersama para pengungsi ini memberi kesan mendalam kepada kami untuk selalu bersyukur terhadap kondisi yang kita alami. Ada orang-orang yang ternyata kondisinya lebih kurang beruntung dibandingkan kita.
Perjalanan berikutnya menuju ke Gunung Bromo merupakan kegiatan yang kami nanti-nantikan. Kami tiba di hotel sekitar pukul 21.00 WIB dan disambut minuman hangat sekoteng. Hawa dingin yang menusuk serta angin yang keras terdengar menderu-deru dari atap hotel.

Tak ada langit cerah, cahaya kota pun jadi. Citylight bagian Utara pulau Jawa diabadikan di atas Gunung Pananjakan tempat kami menginap di Bromo Cottages.Kredit foto : Pak Yudi
Walaupun agak kecewa dengan cuaca yang mendung, pesona cahaya kota dengan kerlap-kerlip laksana kunang-kunang menjadi obat yang menghibur. Padahal jika cuaca cerah, sapuan sabuk Bimasakti yang terlihat dari puncak gunung yang minim cahaya tentunya menjadi keindahan tersendiri bagi kami yang rata-rata mengenyam pendidikan formal di jurusan Astronomi ITB ini. Sapuan jalur susu di langit ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi para astrofotografer untuk mengabadikannya.
Malam semakin larut, kami harus segera beristirahat karena pukul 04.00 WIB pihak hotel akan membangunkan kami untuk mengamati Bromo dari puncak Gunung Pananjakan. Selamat beristirahat kembali! [BERSAMBUNG]
dino alumnus astronomi ITB yang saat ini berprofesi sebagai pendidik di Sekolah Alam Bandung dan penulis di langitselatan.
Email this author | All posts by dino









Sangat menyentuh sekali..
Keep up the good work !!!
Ditunggu lanjutan ceritanya ya No..
boleh juga dong share ilmu ke tk al fatah….., sekalian nanya2 boleh ya
bagaimana mengajarkan tata surya pada anak-anak usia tk agar mereka dapat memperoleh gambaran jelas tetang keberaan planet-planet lain?
percobaan sains seperti apa yang dapat dilakukan oleh anak-anak tk?
bagaimana & dari bahan apa membuat model tata surya?
terima kasih atas jawabannya
kapan ni, desa kita di sragen bisa ikut akses permainan itu?