Menghitung Hari dengan Sistem Penanggalan Hijriah

By pramesti • Sep 13th, 2007 at 4:19 pm • Category: Sistem Kalender

Kita perhatikan bahwa hari raya Islam setiap tahunnya tidak pernah jatuh pada tanggal yang sama, pada kalender yang kita gunakan sehari-hari. Bulan puasa tahun ini lebih cepat sekitar sebelas hari daripada tahun lalu. Bulan puasa tahun ini juga akan lebih lambat sekitar sebelas hari daripada bulan puasa tahun depan.

Dari tahun ke tahun dengan akumulasi perbedaan sekitar sebelas hari tiap tahunnya, misalnya, hari raya haji tidak selalu datang pada musim yang sama. Kadang hari raya haji terjadi pada musim panas dengan sinar matahari yang terik, kadang terjadi pada musim dingin yang menggigil. Mengapa terjadi perbedaan sekitar sebelas hari antara penanggalan Islam dengan penanggalan yang kita gunakan sehari-hari, yang resmi digunakan oleh dunia internasional?

Perbedaan ini bukan karena jumlah bulan yang berbeda antara penanggalan Islam dengan penanggalan sehari-hari. Pada prinsipnya jumlah bulan dalam kedua sistem penanggalan adalah sama. Keduanya memiliki duabelas bulan dalam satu tahunnya. Tahun dalam kalender yang digunakan sehari-hari atau penanggalan masehi diawali dengan Januari dan berakhir dengan Desember. Tahun dalam penanggalan Islam atau Hijriah diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah. Diantaranya terdapat bulan Shafar, Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, dan Dzulko’dah.

Lantas apa yang membuat penanggalan Islam lebih cepat daripada penanggalan masehi? Pada penanggalan Islam pergantian bulan barunya adalah berdasarkan pada penampakan hilal, yaitu bulan sabit terkecil yang dapat diamati dengan mata telanjang. Hal ini tidak lain disebabkan penanggalan Islam adalah penanggalan yang murni berdasarkan pada siklus sinodis bulan dalam sistem penanggalannya (lunar calendar), yaitu siklus dua fase bulan yang sama secara berurutan.

Satu bulan dalam sistem penanggalan Islam terdiri antara 29 dan 30 hari, sesuai dengan rata-rata siklus fase sinodis Bulan 29,53 hari. Satu tahun dalam kalender Islam adalah 12 x siklus sinodis bulan, yaitu 354 hari 8 jam 48 menit 36 detik. Itulah sebabnya kalender Islam lebih pendek sekitar sebelas hari dibandingkan dengan kalender masehi dan kalender lainnya yang berdasarkan pada pergerakan semu tahunan matahari (solar calendar). Karena ini pula bulan-bulan dalam sistem penanggalan Islam tidak selalu datang pada musim yang sama. Selain itu, dalam jangka waktu satu tahun masehi bisa terjadi dua tahun baru hijriah. Contohnya seperti yang terjadi pada tahun 1943, dua tahun baru hijriah jatuh pada tanggal 8 Januari 1943 dan 28 Desember 1943.

Perbedaan antara penanggalan hijriah dengan penanggalan masehi yang kita gunakan sehari-hari tidak berhenti disitu saja. Terdapat pula perbedaan pada pergantian harinya. Kita ketahui bahwa hari baru pada penanggalan masehi berawal pada jam 00.00 malam hari. Itu pula sebabnya orang sering mengucap selamat ulang tahun pada tengah malam jam 00.00 saat pergantian hari, dengan harapan ucapan tersebut menjadi ucapan pertama pada awal hari jadinya seseorang.

Dalam penanggalan Hijriah hari baru berawal setelah Matahari terbenam dan berlangsung sampai saat terbenamnya Matahari keesokan harinya. Misalnya, hari pertama dimulai sejak matahari terbenam hari sabtu dan berakhir sampai matahari terbenam pada hari minggu. Hari kedua dimulai sejak matahari terbenam hari minggu sampai matahari terbenam keesokan harinya, hari senin. Begitu seterusnya. Ketujuh hari dalam penanggalan Hijriah memang tidak dinamai, melainkan dinomori. Ketujuh hari tersebut adalah:

  • Yawm al ‘ahad : hari pertama
  • Yawm al ‘ithnayn : hari kedua
  • Yawm ath thalatha : hari ketiga
  • Yawm al ‘arba’a : hari keempat
  • Yawm al khamis : hari kelima
  • Yawm al jum’a : hari keenam
  • Yawm as sabt : hari ketujuh

Untuk keperluan sipil sehari-hari, misalnya untuk negara-negara Islam yang memakai penanggalan Hijriah sebagai kalender resminya, penanggalan ini didasarkan pada perhitungan (hisab). Bulan terdiri dari 29 dan 30 hari secara bergantian. Dimulai dengan bulan Muharram yang terdiri dari 30 hari, disusul dengan Shafar 29 hari, kemudian Rabiul awal 30 hari dan seterusnya secara bergantian sampai bulan Dzulhijjah. Tetapi khusus untuk bulan terakhir ini jumlah hari bisa 29 atau 30 hari. Untuk tahun kabisat, bulan Dzulhijjah terdiri dari 30 hari. Untuk tahun basithoh (biasa), bulan Dzulhijjah terdiri dari 29 hari. Sehingga jumlah hari dalam tahun kabisat akan menjadi 355 hari.

Untuk keperluan keagamaan, misalnya untuk menentukan awal hari puasa atau hari raya, pergantian bulan pada penanggalan Hijriah tetap diwajibkan dengan dasar pengamatan hilal (rukyah). Pengamatan hilal ini pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan sumpah suci pengamat berikut saksi. Di Indonesia kita kenal Badan Hisab Rukyat, bersama-sama dengan Departemen Agama, yang bertugas mengamat hilal di suatu tempat khusus. Ilmuwan, dalam hal ini ahli ilmu falak dan astronom, tidak ketinggalan. Karena dapat atau tidak terlihatnya hilal dapat diprediksi dengan perhitungan yang sudah menjadi santapan sehari-hari mereka.

Tetapi kadang suatu organisasi Islam punya acuannya sendiri dalam persoalan hilal ini. Satu dengan lainnya kadang tidak sejalan. Oleh karena itu tidak mengherankan sering terdapat perbedaan dalam memulai ibadah puasa dan hari raya Idul Fitri, misalnya. Hal yang seringkali terjadi di tanah air. Walaupun demikian, hendaknya persoalan ini tidak menjadi pembeda yang dapat meresahkan umat.

Sejarah
Sistem penanggalan Islam (1 Muharram 1 Hijriyah) dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah, atas perintah Tuhan. Oleh karena itulah kalender Islam disebut juga sebagai kalender Hijriah. Di barat kalender Islam biasa dituliskan dengan A.H, dari latinnya Anno Hegirae. Peristiwa hijrah ini bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Jadi penanggalan Islam atau Hijriah (1 Muharram 1 Hijriah) dihitung sejak terbenamnya Matahari pada hari Kamis, 15 Juli 622 M.

Walaupun demikian, penanggalan dengan tahun hijriah ini tidak langsung diberlakukan tepat pada saat peristiwa hijrahnya nabi saat itu. Kalender Islam baru diperkenalkan 17 tahun (dalam perhitungan tahun masehi) setelah peristiwa hijrah tersebut oleh sahabat terdekat Nabi Muhammad sekaligus khalifah kedua, Umar bin Khatab. Beliau melakukannya sebagai upaya merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Kadang sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.

Kalender dengan 12 bulan sebetulnya telah lama digunakan oleh Bangsa Arab jauh sebelum diresmikan oleh khalifah Umar, tetapi memang belum ada pembakuan perhitungan tahun pada masa-masa tersebut. Peristiwa-peristiwa penting biasanya hanya dicatat dalam tanggal dan bulan. Kalaupun tahunnya disebut, biasanya sebutan tahun itu dikaitkan dengan peristiwa penting yang terjadi pada masa itu. Misalnya tahun gajah, dan lain sebagainya.

Setelah banyak persoalan muncul akibat tidak adanya sistem penanggalan yang baku, dan atas prakarsa Khalifah Umar, diadakanlah musyawarah dengan tokoh-tokoh sahabat lainnya mengenai persoalan penanggalan ini. Dari sini disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan nama-nama keduabelas bulan tetap seperti yang telah digunakan sebelumnya, diawali dengan bulan Muharram dan diakhiri dengan bulan Dzulhijjah.

Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun, tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam. Peritiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota muslim pertama. Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam tidak akan kemenangan atau kejayaan Islam, tetapi mengingatkan pada pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.

Share/Save/Bookmark
Share/Save/Bookmark



Tagged as: ,

pramesti alumni Departemen Astronomi ITB yang berkecimpung dalam kajian geologi planet. Penulis di langitselatan yang juga sedang melakukan penelitian mengenai etnoastronomi di Indonesia.
Email this author | All posts by pramesti

«« Awal Ramadhan 1428H
Sakit Misterius Setelah Meteorite Menghantam Peru »»

8 Responses »

  1. Wah bagus artikelnya. Jadi nambah wawasan neh.

    Oya, setahuku arti Yawm al jum’a itu bukanlah hari keenam, sebab arti kata “keenam” dalam bahasa Arab bukan Jum’at. Hari itu dinamai Jum’at karena muslim (laki-laki) wajib sholat JUm’at.

    Thanks :)

  2. oo..begitu ya.. okay, makasi buat koreksi dan masukannya :)

  3. ok banget tulisannya. Saya jadi tahu akhirnya….ternyata spt itu toh awalnya. Tp tolong dong Langit Selatan bikin artikel tambahan mengenai perbedaan antara mughamadiyah dgn NU dalam menentukan idul fitri. Terlepas dari kita harus tetap bertoleransi oleh adanya perbedaan itu, tapi paling tidak umat juga perlu mengetahui PENYEBAB BEDANYA PERHITUNGAN antara dua organisasi besar. Orang awam (astronomi) selama ini selalu merespon perbedaan itu dengan ucapan, “bukan muhammadiyah kalau tidak beda.” Nah, agak repot kan kalau begitu, terutama di dalam satu keluarga yang di situ ada penganut muhammadiyah ada pula NU.

    Yg ingin gw tahu, kalau dasar pengamatannya sama, sama-sama dengan melihat hilal, tapi knp bisa beda? Apa yg membedakan? Dalam bayangan saya, ahli dari Muhamadiyah dan NU berkumpul bersama di satu tempat untuk melihat hilal, kok agak aneh kalau lalu hasilnya menunjukkan penglihatan yang berbeda. Tolong ya Mas, artikelnya bisa dimuat sebelum lebaran tiba ya. Thanks banget.

  4. Maaf, koreksi lagi ya :)
    Yang saya tahu, 1 Muharram 1 Hijriah emang bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Namun, peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad sendiri bukan pada tanggal itu, tetapi beberapa bulan setelahnya, tepatnya sekitar bulan September 622 Masehi (Bertepatan dengan sekitar akhir bulan Safar [bulan kedua dalam tahun Hijriah] atau awal bulan Rabi’ul Awal [bulan ketiga dalam tahun Hijriah] tahun 1 Hijriah itu).
    Demikian :)

    Oya, sedikit soal Hilal itu: NU dan Muhammadiyah bisa beda karena KRITERIA yang mereka gunakan berbeda, meskipun objeknya sama. Makanya, hasilnya juga bisa beda.

  5. Tentang Perbedaan Hari Raya Idul Fitri:
    (antara NU & Muhammadiyah)

    Sampai kapanpun tidak akan pernah ada titik temunya, karena perbedaan cara pandang penetapan bulan baru (tanggal 1 bulan hijriah). NU menggunakan sistem rukyat (dengan cara melihat hilal = bulan sabit) sedangkan Muhammadiyah menggunakan sistem hisab (astronomi). Prinsipnya = semua benar, tidak ada yang salah dan jangan menyalahkan, karena mereka memiliki dasar / landasan sendiri-sendiri.

    Bagaimana cara menyatukan perbedaan pendapat tersebut?
    Salah satu ormas tersebut harus mengalah! tapi saya kira ini pun berat. Sehingga kita cari jalan keluarnya. Kita utamakan kepentingan umum, termasuk kepentingan non muslim, hindari kepentingan pribadi atau golongan. Kita semua tahu bahwa hari raya Idul fitri merupakan hari raya terbesar di Indonesia, yang mempunyai dampak yang besar dalam kehidupan seluruh masyarakat.

    Dalam sistem rukyat, penetapan berdasarkan hilal (bulan sabit baru yang bisa terlihat), pemakaian sistem ini berdasarkan hadist Nabi “Hendaklah kalian berpuasa dengan melihat bulan dan berbuka (berhari raya) dengan melihat bulan, jika kau tidak dapat melihatnya maka genapkan bilangan harimu”, ini merupakan hal yang sangat menyulitkan, karena keterbatas mata kita melihat (walaupun sudah dengan teropong), seperti adanya cuaca yang buruk / berawan, salah melihat (karena adanya planet lain yang mirip bulan), keterbatasan melihat hilal dibawah 2 derajat (ada yang menyebutkan 6 derajat dengan mata telanjang). Tapi dampak terbesar dari sistem ini adalah dampak sosial-ekonomi, karena sistem ini menimbulkan ketidakpastian, tanggal berapa hari rayanya? Kapan saya harus mudik? Demikian juga untuk sebuah perusahaan, kapan akan meliburkan karyawannya? Di kepolisian dan rumah sakit, kesulitan mengatur jadwal piket, dan lain-lain. Semua ini menimbulkan ketidakpastian dan semua rencana harus menunggu keputusan tanggal 1 Hijriah.

    Dengan sistem hisab (astronomi), semua sudah dapat ditentukan jauh-jauh hari, bahkan beberapa tahun kedepan pun sudah dapat ditentukan. Ini lebih memberikan kepastian. Dengan makin majunya ilmu astronomi, tingkat presisi / ke-akuratannya pun semakin tinggi, kita bisa menetukan jadwal sholat, menetukan gerhana matahari, bahkan dalam hitungan detik. Bukankah dahulu menetukan jadwal sholat hanya dengan menggunakan bayangan (matahari) tongkat, sekarang dengan adanya jam, kenapa mesti harus pakai tongkat? Bahkan jadwal sholat beberapa tahun kedepanpun sudah bisa dibuat sekarang.
    Sekarang ilmu astronomi sudah sangat maju, banyak software yang digunakan untuk menghitung perjalanan bulan dan matahari, orang awampun bisa memakainya.

    Kenapa masih repot-repot menggunakan sistem rukyat? Memang betul kalau kita merujuk pada hadist “Hendaklah kalian berpuasa dengan melihat bulan dan berbuka (berhari raya) dengan melihat bulan, jika kau tidak dapat melihatnya maka genapkan bilangan harimu” hadist ini keluar saat ilmu astronomi belum maju, jaman dahulu untuk menentukan 1 syawal memang dengan cara melihat hilal, tapi ilmu / akal sudah bisa menentukan tanggal 1 syawal dengan cara yang praktis dan akurat dengan ilmu astronomi, apakah hadist itu kita pahami dengan “melihat bulan”?.
    Yang perlu diingat, kita berhari raya pada tanggal 1 syawal, ilmu astronomi sudah bisa menentukan dengan akurat (Insyaallah) tanggal 1 syawal, mengapa kita harus menggenapkan menjadi 30 hari. Jangan mengartikan hadist secara harfiah (perkata), kita lihat makna/maksudnya. Apakah kita sholat Dzuhur harus keluar masjid dulu untuk melihat bayangan matahari? Tentu tidak.
    Kemampuan mata kita sangat terbatas, tapi dengan akal, keterbatasan mata kita bisa menjadi tak terbatas.

    “Bukankah Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (2:185).”

    octavandy@yahoo.com

  6. thanks mas andy. gamblang sekali penjelasannya n masuk akal banget.

  7. Assalaamu ‘alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

    Mas andy yang insya Alloh dirahmati oleh Alloh SWT. Penjelasan mas andy cukup baik, tapi maaf kurang hati-hati dalam memahami al hadist. Sah-sah saja mas andy memahami kalimat “melihat bulan” dengan tidak secara harfiah, hanya agak disayangkan mas andy terkesan menyalahkan orang yang memahami secara harfiah. Hadist yang mas andy sampaikan diatas bagi banyak orang sudah sangat jelas dan lebih mudah dilakukan daripada melakukan hisab. Apalagi mas andy juga mendasari dengan QS. Al Baqoroh ayat 185, itu menjadi kurang pas dengan penjelasan mas andy.

    Kalau suatu nas Quran atau hadist shoheh sulit dilakukan, bukan berarti menggugurkan sifat “wajib”nya untuk tetap harus dilaksanakan. Bukan kah diakhir hadist itu disebutkan “apabila kamu tidak melihatnya maka genapkan bilangan harimu”. Itu keringanan bagi perintah melihat hilal seperti keringanan gerakan sholat bagi orang yang sakit dengan cukup berbaring disertai dengan isyarat.

    Saya tidak menyalahkan pemahaman mas andy, hanya sebagai sesama muslim saya berkewajiban mengingatkan bahwa pemahaman agama itu tidak bisa dipaksakan, karena itu adalah perjalanan spiritual hamba-hamba Alloh dalam perjalanannya menuju kebenaran yang hakiki. Ada orang yang bisa sampai yaitu Rosululloh SAW tapi kebanyakan manusia tidak sampai ke pemahaman yang benar sampai ajal menjemput. Tetapi bukan berarti orang-orang yang tidak sampai itu dinilai gagal, karena yang paling dinilai adalah “kesungguhannya” dalam pencarian seumur hidupnya. Bukankah ada orang yang sudah membunuh 100 orang tapi masuk surga, tapi ada orang yang gugur didalam perang dan Rosululloh SAW mengatakan orang itu “fin nar”. Walloohu a’lam.

  8. alow salam kenal dari kota pahlawan surabaya, mo minta bantuan nih…e-mail aq penanggalan jawa dan penanggalan masehi 2009 donks…mo ngitung jatuhnya hari dan tanggal untuk slematannya mertua nih…thanks ya bro…u the best….

Leave a Reply