<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Menghitung Hari dengan Sistem Penanggalan Hijriah</title>
	<atom:link href="http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/</link>
	<description>weblog astronomi indonesia</description>
	<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 10:34:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.1</generator>
		<item>
		<title>By: deddy-surabaya</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-2450</link>
		<dc:creator>deddy-surabaya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 12:27:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-2450</guid>
		<description>alow salam kenal dari kota pahlawan surabaya, mo minta bantuan nih...e-mail aq penanggalan jawa dan penanggalan masehi 2009 donks...mo ngitung jatuhnya hari dan tanggal untuk slematannya mertua nih...thanks ya bro...u the best....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>alow salam kenal dari kota pahlawan surabaya, mo minta bantuan nih&#8230;e-mail aq penanggalan jawa dan penanggalan masehi 2009 donks&#8230;mo ngitung jatuhnya hari dan tanggal untuk slematannya mertua nih&#8230;thanks ya bro&#8230;u the best&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Budhi MBW</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-877</link>
		<dc:creator>Budhi MBW</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 16:14:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-877</guid>
		<description>Assalaamu 'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Mas andy yang insya Alloh dirahmati oleh Alloh SWT. Penjelasan mas andy cukup baik, tapi maaf kurang hati-hati dalam memahami al hadist. Sah-sah saja mas andy memahami kalimat "melihat bulan" dengan tidak secara harfiah, hanya agak disayangkan mas andy terkesan menyalahkan orang yang memahami secara harfiah. Hadist yang mas andy sampaikan diatas bagi banyak orang sudah sangat jelas dan lebih mudah dilakukan daripada melakukan hisab. Apalagi mas andy juga mendasari dengan QS. Al Baqoroh ayat 185, itu menjadi kurang pas dengan penjelasan mas andy.

Kalau suatu nas Quran atau hadist shoheh sulit dilakukan, bukan berarti menggugurkan sifat "wajib"nya untuk tetap harus dilaksanakan. Bukan kah diakhir hadist itu disebutkan "apabila kamu tidak melihatnya maka genapkan bilangan harimu". Itu keringanan bagi perintah melihat hilal seperti keringanan gerakan sholat bagi orang yang sakit dengan cukup berbaring disertai dengan isyarat.

Saya tidak menyalahkan pemahaman mas andy, hanya sebagai sesama muslim saya berkewajiban mengingatkan bahwa pemahaman agama itu tidak bisa dipaksakan, karena itu adalah perjalanan spiritual hamba-hamba Alloh dalam perjalanannya menuju kebenaran yang hakiki. Ada orang yang bisa sampai yaitu Rosululloh SAW tapi kebanyakan manusia tidak sampai ke pemahaman yang benar sampai ajal menjemput. Tetapi bukan berarti orang-orang yang tidak sampai itu dinilai gagal, karena yang paling dinilai adalah "kesungguhannya" dalam pencarian seumur hidupnya. Bukankah ada orang yang sudah membunuh 100 orang tapi masuk surga, tapi ada orang yang gugur didalam perang dan Rosululloh SAW mengatakan orang itu "fin nar". Walloohu a'lam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu &#8216;alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.</p>
<p>Mas andy yang insya Alloh dirahmati oleh Alloh SWT. Penjelasan mas andy cukup baik, tapi maaf kurang hati-hati dalam memahami al hadist. Sah-sah saja mas andy memahami kalimat &#8220;melihat bulan&#8221; dengan tidak secara harfiah, hanya agak disayangkan mas andy terkesan menyalahkan orang yang memahami secara harfiah. Hadist yang mas andy sampaikan diatas bagi banyak orang sudah sangat jelas dan lebih mudah dilakukan daripada melakukan hisab. Apalagi mas andy juga mendasari dengan QS. Al Baqoroh ayat 185, itu menjadi kurang pas dengan penjelasan mas andy.</p>
<p>Kalau suatu nas Quran atau hadist shoheh sulit dilakukan, bukan berarti menggugurkan sifat &#8220;wajib&#8221;nya untuk tetap harus dilaksanakan. Bukan kah diakhir hadist itu disebutkan &#8220;apabila kamu tidak melihatnya maka genapkan bilangan harimu&#8221;. Itu keringanan bagi perintah melihat hilal seperti keringanan gerakan sholat bagi orang yang sakit dengan cukup berbaring disertai dengan isyarat.</p>
<p>Saya tidak menyalahkan pemahaman mas andy, hanya sebagai sesama muslim saya berkewajiban mengingatkan bahwa pemahaman agama itu tidak bisa dipaksakan, karena itu adalah perjalanan spiritual hamba-hamba Alloh dalam perjalanannya menuju kebenaran yang hakiki. Ada orang yang bisa sampai yaitu Rosululloh SAW tapi kebanyakan manusia tidak sampai ke pemahaman yang benar sampai ajal menjemput. Tetapi bukan berarti orang-orang yang tidak sampai itu dinilai gagal, karena yang paling dinilai adalah &#8220;kesungguhannya&#8221; dalam pencarian seumur hidupnya. Bukankah ada orang yang sudah membunuh 100 orang tapi masuk surga, tapi ada orang yang gugur didalam perang dan Rosululloh SAW mengatakan orang itu &#8220;fin nar&#8221;. Walloohu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bintoro</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-847</link>
		<dc:creator>bintoro</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Sep 2007 12:43:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-847</guid>
		<description>thanks mas andy. gamblang sekali penjelasannya n masuk akal banget.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>thanks mas andy. gamblang sekali penjelasannya n masuk akal banget.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andy</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-839</link>
		<dc:creator>andy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2007 10:03:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-839</guid>
		<description>Tentang Perbedaan Hari Raya Idul Fitri: 
(antara NU &#38; Muhammadiyah)

Sampai kapanpun tidak akan pernah ada titik temunya, karena perbedaan cara pandang penetapan bulan baru (tanggal 1 bulan hijriah). NU menggunakan sistem rukyat (dengan cara melihat hilal = bulan sabit) sedangkan Muhammadiyah menggunakan sistem hisab (astronomi). Prinsipnya = semua benar, tidak ada yang salah dan jangan menyalahkan, karena mereka memiliki dasar / landasan sendiri-sendiri. 

Bagaimana cara menyatukan perbedaan pendapat tersebut? 
Salah satu ormas tersebut harus mengalah! tapi saya kira ini pun berat. Sehingga kita cari jalan keluarnya. Kita utamakan kepentingan umum, termasuk kepentingan non muslim, hindari kepentingan pribadi atau golongan. Kita semua tahu bahwa hari raya Idul fitri merupakan hari raya terbesar di Indonesia, yang mempunyai dampak yang besar dalam kehidupan seluruh masyarakat. 

Dalam sistem  rukyat, penetapan berdasarkan hilal  (bulan sabit baru yang bisa terlihat), pemakaian sistem ini berdasarkan hadist Nabi “Hendaklah kalian berpuasa dengan melihat bulan dan berbuka (berhari raya) dengan melihat bulan, jika kau tidak dapat melihatnya maka genapkan bilangan harimu”, ini merupakan hal yang sangat menyulitkan, karena keterbatas mata kita melihat (walaupun sudah dengan teropong), seperti adanya cuaca yang buruk / berawan, salah melihat (karena adanya planet lain yang mirip bulan), keterbatasan melihat hilal dibawah 2 derajat (ada yang menyebutkan 6 derajat dengan mata telanjang). Tapi dampak terbesar dari sistem ini adalah dampak sosial-ekonomi, karena sistem ini menimbulkan ketidakpastian, tanggal berapa hari rayanya? Kapan saya harus mudik? Demikian juga untuk sebuah perusahaan, kapan akan meliburkan karyawannya? Di kepolisian dan rumah sakit, kesulitan mengatur jadwal piket, dan lain-lain. Semua ini menimbulkan ketidakpastian dan semua rencana harus menunggu keputusan tanggal 1 Hijriah.

Dengan sistem hisab (astronomi), semua sudah dapat ditentukan jauh-jauh hari, bahkan beberapa tahun kedepan pun sudah dapat ditentukan. Ini lebih memberikan kepastian. Dengan makin majunya ilmu astronomi, tingkat presisi / ke-akuratannya pun semakin tinggi, kita bisa menetukan jadwal sholat, menetukan gerhana matahari, bahkan dalam hitungan detik. Bukankah dahulu menetukan jadwal sholat hanya dengan menggunakan bayangan (matahari) tongkat, sekarang dengan adanya jam, kenapa mesti harus pakai tongkat? Bahkan jadwal sholat beberapa tahun kedepanpun sudah bisa dibuat sekarang.
Sekarang ilmu astronomi sudah sangat maju, banyak software yang digunakan untuk menghitung perjalanan bulan dan matahari, orang awampun bisa memakainya. 

Kenapa masih repot-repot menggunakan sistem rukyat?  Memang betul kalau kita merujuk pada hadist “Hendaklah kalian berpuasa dengan melihat bulan dan berbuka (berhari raya) dengan melihat bulan, jika kau tidak dapat melihatnya maka genapkan bilangan harimu” hadist ini keluar saat ilmu astronomi belum maju, jaman dahulu untuk menentukan 1 syawal memang dengan cara melihat hilal, tapi ilmu / akal sudah bisa menentukan tanggal 1 syawal dengan cara yang praktis dan akurat dengan ilmu astronomi, apakah hadist itu kita pahami dengan “melihat bulan”?. 
Yang perlu diingat, kita berhari raya pada tanggal 1 syawal, ilmu astronomi sudah bisa menentukan dengan akurat (Insyaallah) tanggal 1 syawal, mengapa kita harus menggenapkan  menjadi 30 hari. Jangan mengartikan  hadist secara harfiah (perkata), kita lihat makna/maksudnya. Apakah kita sholat Dzuhur harus keluar masjid dulu untuk melihat bayangan matahari?  Tentu tidak.
Kemampuan mata kita sangat terbatas, tapi dengan akal, keterbatasan mata kita bisa menjadi tak terbatas.

"Bukankah Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (2:185)."

octavandy@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tentang Perbedaan Hari Raya Idul Fitri:<br />
(antara NU &amp; Muhammadiyah)</p>
<p>Sampai kapanpun tidak akan pernah ada titik temunya, karena perbedaan cara pandang penetapan bulan baru (tanggal 1 bulan hijriah). NU menggunakan sistem rukyat (dengan cara melihat hilal = bulan sabit) sedangkan Muhammadiyah menggunakan sistem hisab (astronomi). Prinsipnya = semua benar, tidak ada yang salah dan jangan menyalahkan, karena mereka memiliki dasar / landasan sendiri-sendiri. </p>
<p>Bagaimana cara menyatukan perbedaan pendapat tersebut?<br />
Salah satu ormas tersebut harus mengalah! tapi saya kira ini pun berat. Sehingga kita cari jalan keluarnya. Kita utamakan kepentingan umum, termasuk kepentingan non muslim, hindari kepentingan pribadi atau golongan. Kita semua tahu bahwa hari raya Idul fitri merupakan hari raya terbesar di Indonesia, yang mempunyai dampak yang besar dalam kehidupan seluruh masyarakat. </p>
<p>Dalam sistem  rukyat, penetapan berdasarkan hilal  (bulan sabit baru yang bisa terlihat), pemakaian sistem ini berdasarkan hadist Nabi “Hendaklah kalian berpuasa dengan melihat bulan dan berbuka (berhari raya) dengan melihat bulan, jika kau tidak dapat melihatnya maka genapkan bilangan harimu”, ini merupakan hal yang sangat menyulitkan, karena keterbatas mata kita melihat (walaupun sudah dengan teropong), seperti adanya cuaca yang buruk / berawan, salah melihat (karena adanya planet lain yang mirip bulan), keterbatasan melihat hilal dibawah 2 derajat (ada yang menyebutkan 6 derajat dengan mata telanjang). Tapi dampak terbesar dari sistem ini adalah dampak sosial-ekonomi, karena sistem ini menimbulkan ketidakpastian, tanggal berapa hari rayanya? Kapan saya harus mudik? Demikian juga untuk sebuah perusahaan, kapan akan meliburkan karyawannya? Di kepolisian dan rumah sakit, kesulitan mengatur jadwal piket, dan lain-lain. Semua ini menimbulkan ketidakpastian dan semua rencana harus menunggu keputusan tanggal 1 Hijriah.</p>
<p>Dengan sistem hisab (astronomi), semua sudah dapat ditentukan jauh-jauh hari, bahkan beberapa tahun kedepan pun sudah dapat ditentukan. Ini lebih memberikan kepastian. Dengan makin majunya ilmu astronomi, tingkat presisi / ke-akuratannya pun semakin tinggi, kita bisa menetukan jadwal sholat, menetukan gerhana matahari, bahkan dalam hitungan detik. Bukankah dahulu menetukan jadwal sholat hanya dengan menggunakan bayangan (matahari) tongkat, sekarang dengan adanya jam, kenapa mesti harus pakai tongkat? Bahkan jadwal sholat beberapa tahun kedepanpun sudah bisa dibuat sekarang.<br />
Sekarang ilmu astronomi sudah sangat maju, banyak software yang digunakan untuk menghitung perjalanan bulan dan matahari, orang awampun bisa memakainya. </p>
<p>Kenapa masih repot-repot menggunakan sistem rukyat?  Memang betul kalau kita merujuk pada hadist “Hendaklah kalian berpuasa dengan melihat bulan dan berbuka (berhari raya) dengan melihat bulan, jika kau tidak dapat melihatnya maka genapkan bilangan harimu” hadist ini keluar saat ilmu astronomi belum maju, jaman dahulu untuk menentukan 1 syawal memang dengan cara melihat hilal, tapi ilmu / akal sudah bisa menentukan tanggal 1 syawal dengan cara yang praktis dan akurat dengan ilmu astronomi, apakah hadist itu kita pahami dengan “melihat bulan”?.<br />
Yang perlu diingat, kita berhari raya pada tanggal 1 syawal, ilmu astronomi sudah bisa menentukan dengan akurat (Insyaallah) tanggal 1 syawal, mengapa kita harus menggenapkan  menjadi 30 hari. Jangan mengartikan  hadist secara harfiah (perkata), kita lihat makna/maksudnya. Apakah kita sholat Dzuhur harus keluar masjid dulu untuk melihat bayangan matahari?  Tentu tidak.<br />
Kemampuan mata kita sangat terbatas, tapi dengan akal, keterbatasan mata kita bisa menjadi tak terbatas.</p>
<p>&#8220;Bukankah Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (2:185).&#8221;</p>
<p><a href="mailto:octavandy@yahoo.com">octavandy@yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rukman</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-838</link>
		<dc:creator>rukman</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2007 05:12:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-838</guid>
		<description>Maaf, koreksi lagi ya :) 
Yang saya tahu, 1 Muharram 1 Hijriah emang bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Namun, peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad sendiri bukan pada tanggal itu, tetapi beberapa bulan setelahnya, tepatnya sekitar bulan September 622 Masehi (Bertepatan dengan sekitar akhir bulan Safar [bulan kedua dalam tahun Hijriah] atau awal bulan Rabi'ul Awal [bulan ketiga dalam tahun Hijriah] tahun 1 Hijriah itu).
Demikian :)

Oya, sedikit soal Hilal itu: NU dan Muhammadiyah bisa beda karena KRITERIA yang mereka gunakan berbeda, meskipun objeknya sama. Makanya, hasilnya juga bisa beda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Maaf, koreksi lagi ya <img src='http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Yang saya tahu, 1 Muharram 1 Hijriah emang bertepatan dengan 15 Juli 622 Masehi. Namun, peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammad sendiri bukan pada tanggal itu, tetapi beberapa bulan setelahnya, tepatnya sekitar bulan September 622 Masehi (Bertepatan dengan sekitar akhir bulan Safar [bulan kedua dalam tahun Hijriah] atau awal bulan Rabi&#8217;ul Awal [bulan ketiga dalam tahun Hijriah] tahun 1 Hijriah itu).<br />
Demikian <img src='http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oya, sedikit soal Hilal itu: NU dan Muhammadiyah bisa beda karena KRITERIA yang mereka gunakan berbeda, meskipun objeknya sama. Makanya, hasilnya juga bisa beda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bintoro</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-808</link>
		<dc:creator>bintoro</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 14:26:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-808</guid>
		<description>ok banget tulisannya. Saya jadi tahu akhirnya....ternyata spt itu toh awalnya. Tp tolong dong Langit Selatan bikin artikel tambahan mengenai perbedaan antara mughamadiyah dgn NU dalam menentukan idul fitri. Terlepas dari kita harus tetap bertoleransi oleh adanya perbedaan itu, tapi paling tidak umat juga perlu mengetahui PENYEBAB BEDANYA PERHITUNGAN antara dua organisasi besar. Orang awam (astronomi) selama ini selalu merespon perbedaan itu dengan ucapan, "bukan muhammadiyah kalau tidak beda."  Nah, agak repot kan kalau begitu, terutama di dalam satu keluarga yang di situ ada penganut muhammadiyah ada pula NU.

Yg ingin gw tahu, kalau dasar pengamatannya sama, sama-sama dengan melihat hilal, tapi knp bisa beda? Apa yg membedakan? Dalam bayangan saya, ahli dari Muhamadiyah dan NU berkumpul bersama di satu tempat untuk melihat hilal, kok agak aneh kalau lalu hasilnya menunjukkan penglihatan yang berbeda. Tolong ya Mas, artikelnya bisa dimuat sebelum lebaran tiba ya. Thanks banget.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ok banget tulisannya. Saya jadi tahu akhirnya&#8230;.ternyata spt itu toh awalnya. Tp tolong dong Langit Selatan bikin artikel tambahan mengenai perbedaan antara mughamadiyah dgn NU dalam menentukan idul fitri. Terlepas dari kita harus tetap bertoleransi oleh adanya perbedaan itu, tapi paling tidak umat juga perlu mengetahui PENYEBAB BEDANYA PERHITUNGAN antara dua organisasi besar. Orang awam (astronomi) selama ini selalu merespon perbedaan itu dengan ucapan, &#8220;bukan muhammadiyah kalau tidak beda.&#8221;  Nah, agak repot kan kalau begitu, terutama di dalam satu keluarga yang di situ ada penganut muhammadiyah ada pula NU.</p>
<p>Yg ingin gw tahu, kalau dasar pengamatannya sama, sama-sama dengan melihat hilal, tapi knp bisa beda? Apa yg membedakan? Dalam bayangan saya, ahli dari Muhamadiyah dan NU berkumpul bersama di satu tempat untuk melihat hilal, kok agak aneh kalau lalu hasilnya menunjukkan penglihatan yang berbeda. Tolong ya Mas, artikelnya bisa dimuat sebelum lebaran tiba ya. Thanks banget.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pramesti</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-764</link>
		<dc:creator>pramesti</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Sep 2007 02:23:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-764</guid>
		<description>oo..begitu ya.. okay, makasi buat koreksi dan masukannya :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>oo..begitu ya.. okay, makasi buat koreksi dan masukannya <img src='http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rukman</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-744</link>
		<dc:creator>rukman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 05:31:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/09/13/menghitung-hari-dengan-sistem-penanggalan-hijriah/#comment-744</guid>
		<description>Wah bagus artikelnya. Jadi nambah wawasan neh. 

Oya, setahuku arti Yawm al jum’a itu bukanlah hari keenam, sebab arti kata "keenam" dalam bahasa Arab bukan Jum'at.  Hari itu dinamai Jum'at karena muslim (laki-laki) wajib sholat JUm'at. 

Thanks :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah bagus artikelnya. Jadi nambah wawasan neh. </p>
<p>Oya, setahuku arti Yawm al jum’a itu bukanlah hari keenam, sebab arti kata &#8220;keenam&#8221; dalam bahasa Arab bukan Jum&#8217;at.  Hari itu dinamai Jum&#8217;at karena muslim (laki-laki) wajib sholat JUm&#8217;at. </p>
<p>Thanks <img src='http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
