<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Ibnu Al Shatir</title>
	<atom:link href="http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/</link>
	<description>weblog astronomi indonesia</description>
	<pubDate>Thu, 21 Aug 2008 01:37:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: nggieng</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-2125</link>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 04:16:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-2125</guid>
		<description>halo mbak Iyam, hmm sebetulnya banyak buku yang berkait dengan sejarah astronomi, tapi memang harus lebih spesifik, dari sejarah era yang mana? Kalau era yang pre-historis, itu mungkin lebih sulit; tapi kalau mulai dari sejarah Islam dalam astronomi itu ada banyak.

Di perpustakaan program studi astronomi itu ada beberapa buku sejarah astronomi, tapi saya tidak hafal buku apa saja, mainlah ke sana, untuk baca-baca (kalau sempat). Tapi kalau tidak sempat ya mbah google banyak.

Bahkan dari mbah google bisa langsung dapet banyak artikel-artikel menarik. Kalau untuk sejarah astronomi di Indonesia sebelum masuknya kebudayaan barat, itu menarik, tapi belum banyak digali.

Mudah-mudahan tahun 2009 mendatang, kegiatan astro-arkeologi di Indonesia akan semarak, dan makin banyak tangan yang membantu akan menarik. Berminat bergabung untuk 2009?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>halo mbak Iyam, hmm sebetulnya banyak buku yang berkait dengan sejarah astronomi, tapi memang harus lebih spesifik, dari sejarah era yang mana? Kalau era yang pre-historis, itu mungkin lebih sulit; tapi kalau mulai dari sejarah Islam dalam astronomi itu ada banyak.</p>
<p>Di perpustakaan program studi astronomi itu ada beberapa buku sejarah astronomi, tapi saya tidak hafal buku apa saja, mainlah ke sana, untuk baca-baca (kalau sempat). Tapi kalau tidak sempat ya mbah google banyak.</p>
<p>Bahkan dari mbah google bisa langsung dapet banyak artikel-artikel menarik. Kalau untuk sejarah astronomi di Indonesia sebelum masuknya kebudayaan barat, itu menarik, tapi belum banyak digali.</p>
<p>Mudah-mudahan tahun 2009 mendatang, kegiatan astro-arkeologi di Indonesia akan semarak, dan makin banyak tangan yang membantu akan menarik. Berminat bergabung untuk 2009?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iyam</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-2124</link>
		<dc:creator>iyam</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 02:08:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-2124</guid>
		<description>Mas Sungging, aku ingin tahu sumber tulisan ini&#60; soalnya aku lumayan tertarik dengan sejarah, asal-muasal sains semacam ini... Tararengkyuh..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mas Sungging, aku ingin tahu sumber tulisan ini&lt; soalnya aku lumayan tertarik dengan sejarah, asal-muasal sains semacam ini&#8230; Tararengkyuh..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: atmoon</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-1190</link>
		<dc:creator>atmoon</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Jan 2008 04:31:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-1190</guid>
		<description>Ingat Teori Ketidaklengkapan Godel: Tidak ada sistem logika yang konsisten sekaligus lengkap.


Goddel emang benar, matematika hanyalah sebuah taksiran Ibu Jari Telunjuk (2 ruas dan 3 ruas tulang) kita yang mencoba memahami fenomena kehidupan. Kalau dalam bahasa Agama maka yang pertamakali sadar  kalau semua ilmu pengetahuan kita hanya suatu taksiranb ibu jari teluinjuk adalah Nabi Muhammad SAW yang menerima 6236 ayat AQ. Kalau di zaman modern disebut Golbach Conjecture.

Matematika dengan basis desimal dan biner sejatinya disusun bagaikan menyambungkan pulau-pulau atau titik-titik sehingga menjadi nampak logis padahal matemtika tidak sepenuhnya logis murni tapi sintesis simbol dan logika sehingga nampak ideal. Padahal banyak bugsnya, salah satu bugsnya adalah bilangan 10 dan 2 alias 12 alias 102. Makanya dalam bahasa sains era dijital tak ada batsnya untuk menggambarkan imajinasi kita baik yang fantastik maupun imajinasi ilmiah misalnya memodelkan dentuman besar dll. Dalam bahasa agama bugs ini ditutup dengan kalimat Ba (nilai 2), Sin (60), dan MIm (40) alis BISM alalu dilengkapi bolong dari semua pemahaman kita itu dengan 3 sebagai The Greates Common Divisor yaitu : ALLH, AL-Rahman, al-Rahiim.

Nah untuk sistem kordinat dan refensial silahkan simak komentar saya di artikel yang membahas msalah Geosentris atau Heliosentris di situ LangitSelatan.Com yang maneraik ini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ingat Teori Ketidaklengkapan Godel: Tidak ada sistem logika yang konsisten sekaligus lengkap.</p>
<p>Goddel emang benar, matematika hanyalah sebuah taksiran Ibu Jari Telunjuk (2 ruas dan 3 ruas tulang) kita yang mencoba memahami fenomena kehidupan. Kalau dalam bahasa Agama maka yang pertamakali sadar  kalau semua ilmu pengetahuan kita hanya suatu taksiranb ibu jari teluinjuk adalah Nabi Muhammad SAW yang menerima 6236 ayat AQ. Kalau di zaman modern disebut Golbach Conjecture.</p>
<p>Matematika dengan basis desimal dan biner sejatinya disusun bagaikan menyambungkan pulau-pulau atau titik-titik sehingga menjadi nampak logis padahal matemtika tidak sepenuhnya logis murni tapi sintesis simbol dan logika sehingga nampak ideal. Padahal banyak bugsnya, salah satu bugsnya adalah bilangan 10 dan 2 alias 12 alias 102. Makanya dalam bahasa sains era dijital tak ada batsnya untuk menggambarkan imajinasi kita baik yang fantastik maupun imajinasi ilmiah misalnya memodelkan dentuman besar dll. Dalam bahasa agama bugs ini ditutup dengan kalimat Ba (nilai 2), Sin (60), dan MIm (40) alis BISM alalu dilengkapi bolong dari semua pemahaman kita itu dengan 3 sebagai The Greates Common Divisor yaitu : ALLH, AL-Rahman, al-Rahiim.</p>
<p>Nah untuk sistem kordinat dan refensial silahkan simak komentar saya di artikel yang membahas msalah Geosentris atau Heliosentris di situ LangitSelatan.Com yang maneraik ini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pinah</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-757</link>
		<dc:creator>pinah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 21:36:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-757</guid>
		<description>--&#62; manda
sebenarnya di quran, setahu saya, tidak ada secara gamblang disebutkan yang mana yang berlaku di dunia ini: apakah heliosentris ataukah geosentris. sekali lagi: tidak secara gamblang.

kalo misalnya manda menemukan artikel di internet atau buku yang banyak membahas ayat-ayat quran kemudian menyimpulkan sesuatu, entah geosentris atau heliosentris [tapi kebanyakan sih geosentris], manda harus lebih mencermatinya. apakah pengambilan kesimpulan di situ disertai dengan bukti nyata hasil pengamatan ataukah hanya didasarkan pada penafsiran manusia belaka tanpa ada buktinya. kalau tanpa bukti, sebaiknya tidak usah dipercaya. jaman sekarang, jaman teknologi ini, paparan yang disertai bukti hasil pengamatan tentunya lebih dapat dipercaya.

asal manda tahu, bukti pengamatan heliosentris itu banyak dan relatif mutakhir/up to date. kalau geosentris, hingga saat ini sedang lemah karena sedikit bukti yang mendukungnya. . . .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8211;&gt; manda<br />
sebenarnya di quran, setahu saya, tidak ada secara gamblang disebutkan yang mana yang berlaku di dunia ini: apakah heliosentris ataukah geosentris. sekali lagi: tidak secara gamblang.</p>
<p>kalo misalnya manda menemukan artikel di internet atau buku yang banyak membahas ayat-ayat quran kemudian menyimpulkan sesuatu, entah geosentris atau heliosentris [tapi kebanyakan sih geosentris], manda harus lebih mencermatinya. apakah pengambilan kesimpulan di situ disertai dengan bukti nyata hasil pengamatan ataukah hanya didasarkan pada penafsiran manusia belaka tanpa ada buktinya. kalau tanpa bukti, sebaiknya tidak usah dipercaya. jaman sekarang, jaman teknologi ini, paparan yang disertai bukti hasil pengamatan tentunya lebih dapat dipercaya.</p>
<p>asal manda tahu, bukti pengamatan heliosentris itu banyak dan relatif mutakhir/up to date. kalau geosentris, hingga saat ini sedang lemah karena sedikit bukti yang mendukungnya. . . .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: manda</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-94</link>
		<dc:creator>manda</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 May 2007 12:47:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-94</guid>
		<description>saya masih belum jelas mengenai teori heliosentris vs geosentris.  di Alquran ada di surat apa dan ayat berapa ya???????????terlalu banyak opini jadi bingung.....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya masih belum jelas mengenai teori heliosentris vs geosentris.  di Alquran ada di surat apa dan ayat berapa ya???????????terlalu banyak opini jadi bingung&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: nggieng</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-31</link>
		<dc:creator>nggieng</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 May 2007 03:17:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-31</guid>
		<description>Mungkin bukan sekedar 'mensintesa', tapi merombak model-nya Ptolemi (sekedar istilah). Satu hal yang penting adalah pas jaman itu, matematika modern berkembang (aljabar). Jadi bukan hanya dari gedanken, tapi juga metodologi-nya sudah lebih berkembang dari jaman yunani. Sepertinya gitu lho, mohon urun rembug nih.

Bener bung sableng, kebenaran itu adalah kesepakatan untuk bisa menyatakan benar. Gak ada yang absolut untuk dinyatakan sebagai kebenaran, proses sains sendiri merupakan proses yang dialektis, dan setiap langkah mempunyai strata kebenarannya masing-masing.

Wah, kalau mau membahas ini lebih lanjut, kek-nya forum filsafat sains harus dihidupkan ya'?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin bukan sekedar &#8216;mensintesa&#8217;, tapi merombak model-nya Ptolemi (sekedar istilah). Satu hal yang penting adalah pas jaman itu, matematika modern berkembang (aljabar). Jadi bukan hanya dari gedanken, tapi juga metodologi-nya sudah lebih berkembang dari jaman yunani. Sepertinya gitu lho, mohon urun rembug nih.</p>
<p>Bener bung sableng, kebenaran itu adalah kesepakatan untuk bisa menyatakan benar. Gak ada yang absolut untuk dinyatakan sebagai kebenaran, proses sains sendiri merupakan proses yang dialektis, dan setiap langkah mempunyai strata kebenarannya masing-masing.</p>
<p>Wah, kalau mau membahas ini lebih lanjut, kek-nya forum filsafat sains harus dihidupkan ya&#8217;?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anton</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-28</link>
		<dc:creator>Anton</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 May 2007 15:11:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-28</guid>
		<description>Benar juga pak astronomsableng. Mestinya sains itu anti statik alias lebih dinamis ya? :)

Ya, mata rantai yang hilang antara peradaban Yunani ke masa pencerahan adalah periode islam (atau apapun istilahnya, saking tidak pedulinya sampai-sampai kita ga tau nama zamannya :D) yang pada masa itu terjadi ledakan besar pengumpulan, penerjemahan, pensintesisan dan peng-kritisan pemikiran Yunani. Bagdad kemudian menjadi semacam "center of excellent" yang terbuka bagi pelajar dari seluruh dunia, dengan koleksi perpustakaan terbesar saat itu. Mungkin school of Baghdad jadi semacam Harvard jaman sekarang kali ya? (Tentunya minus internet :D).

Mungkin salah satu yang terkenal adalah Ibnu Rushd (Averroes) yang mengomentari nyaris seluruh karya Aristoteles. Ibnu Rushd juga masuk ke lukisan "The School of Athens"-nya Raphael khan?

Kira-kira Ibnu Sathir mensintesa ulang pemikiran tokoh Yunani yang mana ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Benar juga pak astronomsableng. Mestinya sains itu anti statik alias lebih dinamis ya? <img src='http://langitselatan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ya, mata rantai yang hilang antara peradaban Yunani ke masa pencerahan adalah periode islam (atau apapun istilahnya, saking tidak pedulinya sampai-sampai kita ga tau nama zamannya :D) yang pada masa itu terjadi ledakan besar pengumpulan, penerjemahan, pensintesisan dan peng-kritisan pemikiran Yunani. Bagdad kemudian menjadi semacam &#8220;center of excellent&#8221; yang terbuka bagi pelajar dari seluruh dunia, dengan koleksi perpustakaan terbesar saat itu. Mungkin school of Baghdad jadi semacam Harvard jaman sekarang kali ya? (Tentunya minus internet :D).</p>
<p>Mungkin salah satu yang terkenal adalah Ibnu Rushd (Averroes) yang mengomentari nyaris seluruh karya Aristoteles. Ibnu Rushd juga masuk ke lukisan &#8220;The School of Athens&#8221;-nya Raphael khan?</p>
<p>Kira-kira Ibnu Sathir mensintesa ulang pemikiran tokoh Yunani yang mana ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: astronomsableng</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-27</link>
		<dc:creator>astronomsableng</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 May 2007 00:42:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-27</guid>
		<description>Matematika adalah bahasa universal, itu mungkin benar. Tapi kalau matematika adalah kebenaran ilmiah yang tak terbantahkan, itu tidak benar. Fondasi matematika yang paling dasar adalah pernyataan-pernyataan yang semuanya tidak dibuktikan sebagai "BENAR", tapi adalah kesepakatan-kesepakatan.

Ingat Teori Ketidaklengkapan Godel: Tidak ada sistem logika yang konsisten sekaligus lengkap.

Kebenaran ilmiah itu juga bukan sesuatu yang pasti. Malahan, fitur penting dari sains adalah ketidakpastian. Kalau tidak ada ketidakpastian, itu bukan sains namanya, tapi dogma.

Untuk kajian sains, ilmuwan-ilmuwan Islam banyak mengkaji buku-buku Yunani yang mereka warisi, jadi harus dikaji yang mana yang kembangannya dan yang mana yang inovatif. Heliosentrisme itu sudah jadi bahan pikiran orang Yunani semenjak lama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Matematika adalah bahasa universal, itu mungkin benar. Tapi kalau matematika adalah kebenaran ilmiah yang tak terbantahkan, itu tidak benar. Fondasi matematika yang paling dasar adalah pernyataan-pernyataan yang semuanya tidak dibuktikan sebagai &#8220;BENAR&#8221;, tapi adalah kesepakatan-kesepakatan.</p>
<p>Ingat Teori Ketidaklengkapan Godel: Tidak ada sistem logika yang konsisten sekaligus lengkap.</p>
<p>Kebenaran ilmiah itu juga bukan sesuatu yang pasti. Malahan, fitur penting dari sains adalah ketidakpastian. Kalau tidak ada ketidakpastian, itu bukan sains namanya, tapi dogma.</p>
<p>Untuk kajian sains, ilmuwan-ilmuwan Islam banyak mengkaji buku-buku Yunani yang mereka warisi, jadi harus dikaji yang mana yang kembangannya dan yang mana yang inovatif. Heliosentrisme itu sudah jadi bahan pikiran orang Yunani semenjak lama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anton</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-23</link>
		<dc:creator>Anton</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 13:10:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-23</guid>
		<description>Pertanyaan yang terakhir itu pertanyaan yang berat mas.. Wahahahaha..  Tulisan yang menarik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan yang terakhir itu pertanyaan yang berat mas.. Wahahahaha..  Tulisan yang menarik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ivie</title>
		<link>http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-21</link>
		<dc:creator>ivie</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2007 11:40:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://langitselatan.com/2007/04/30/ibnu-al-shatir/#comment-21</guid>
		<description>for information soal heliosentris dari tulisan lama &lt;a href="http://simplyvie.com/2006/10/05/sejarah-awal-teori-pembentukan-tata-surya/trackback/" rel="nofollow"&gt; Sejarah awal teori pembentukan tata surya&lt;/a&gt;
Perhitungan secara ilmiah pertama kali dilakukan oleh Aristachrus dari Samos (310-230 BC). Ia mencoba menghitung sudut Bulan-Bumi-Matahari dan mencari perbandingan jarak dari Bumi-Matahari, dan Bumi-Bulan. Aristachrus juga merupakan orang pertama yang menyimpulkan Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan berbentuk lingkaran yang menjadi titik awal teori Heliosentrik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>for information soal heliosentris dari tulisan lama <a href="http://simplyvie.com/2006/10/05/sejarah-awal-teori-pembentukan-tata-surya/trackback/" rel="nofollow"> Sejarah awal teori pembentukan tata surya</a><br />
Perhitungan secara ilmiah pertama kali dilakukan oleh Aristachrus dari Samos (310-230 BC). Ia mencoba menghitung sudut Bulan-Bumi-Matahari dan mencari perbandingan jarak dari Bumi-Matahari, dan Bumi-Bulan. Aristachrus juga merupakan orang pertama yang menyimpulkan Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan berbentuk lingkaran yang menjadi titik awal teori Heliosentrik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
