Bagaimana membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya?
By nggieng • Apr 21st, 2007 at 12:10 pm • Category: Matahari, Sejarah, Tata SuryaPada awal perkembangan sains, orang-orang seperti Copernicus, Kepler, Galileo & Newton berpendapat bahwa alangkah lebih baik (untuk menjelaskan), lebih mudah (secara matematika) & lebih elegan (secara filosofis) bahwa Matahari berada di pusat, sementara Bumi & planet-planet berputar mengelilingi Matahari. Semua punya penjelasan yang memuaskan, secara teori untuk mengatakan hal itu.
Sampai sekarang, pelajaran SMU fisika pun memberikan penjelasan yang jelas & memuaskan, bahwa memang demikian ada-nya. Massa matahari yang jauh lebih besar daripada planet-planet membuat planet-planet harus tunduk pada ikatan gravitasi Matahari, sehingga planet-planet tersebut bergerak mengitari Matahari sebagai pusat. Demikian dari hukum Gravitasi Newton.
Perumusan matematika-nya secara gamblang dan jelas dijelaskan oleh perumusan Kepler, hanya karena Matahari yang menjadi pusat sistem.
Kalau memang begitu ada-nya dan tidak percaya, bagaimana membuktikannya? Gampang, terbang saja jauh-jauh dari sistem tata surya ke arah kutub, dan lihatlah bagaimana Bumi beserta planet-planet bergerak mengitari Matahari. Tentu saja ini adalah pernyataan yang bersikap humor. Tapi ini memang menjadi pertanyaan penting, bagaimana membuktikannya?
Bapak-bapak yang telah disebutkan tadi, tentu saja mempunyai pendapat yang berlaku sebagai hipotesa, dan harus bisa dibuktikan melalui pembuktian yang teramati/eksperimentasi. Apabila eksperimen berkesesuaian dengan hipotesa, maka hipotesa diterima dan itu menjadi teori. Bukankah demikian?
Baik, sekarang bagaimana membuktikannya? Satu-satu-nya cara membuktikan fenomena langit adalah melalui ilmu astronomi, yaitu ketika pengamatan dilakukan pada benda-benda langit lalu memberikan penjelasan ilmiah tentang apa yang sebenar-nya terjadi disana.
Tentu tidaklah mudah memberikan bukti yang langsung bisa menjelaskan secara cespleng bahwa Bumi berputar mengitari Matahari, bukankah lebih mudah mengatakan kebalikannya? Tapi seperti yang telah disampaikan, itu akan menjadi tidak baik, tidak mudah dan tidak elegan untuk menyatakan demikian. Ternyata dari pengamatan astronomi menunjukkan bahwa memang Bumi yang mengitari Matahari. Tidak percaya?
Bukti pertama, adalah yang ditemukan oleh James Bradley (1725). Pak Bradley menemukan adanya aberasi bintang.
Apa itu aberasi bintang? Bayangkan kita sedang berdiri ditengah-tengah hujan, dan air hujan jatuh tepat vertikal/tegak lurus kepala kita. Kalau kita menggunakan payung, maka muka & belakang kepala kita tidak akan terciprat air bukan? Kemudian kita mulai berjalan ke depan, perlahan-lahan & semakin cepat berjalan, maka seolah-olah air hujan yang tadi jatuh tadi, malah membelok dan menciprati muka kita. Untuk menghindari-nya maka kita cenderung mencondongkan payung ke muka. Sebetulnya air hujan itu tetap jatuh tegak lurus, tetapi karena kita bergerak relatif ke depan, maka efek yang terjadi adalah seolah-olah membelok dan menciprat ke muka kita.
Demikian juga dengan fenomena aberasi bintang, sebetulnya posisi bintang selalu tetap pada suatu titik di langit, tetapi dari pengamatan astronomi, ditemukan bahwa posisi bintang mengalami pergeseran dari titik awalnya, pergeseran-nya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bawha memang sebenar-nya lah bumi yang bergerak.
Mari kita tinjau Gb.1.

Efek Aberasi Bintang
Aberasi terjadi jika pengamat adalah orang yang berdiri ditengah hujan, dan arah cahaya bintang adalah arah jatuhnya air hujan. Kemudian pengamat bergerak tegak ke muka, tegak lurus arah jatuhnya hujan. S menyatakan posisi bintang, E posisi pengamat di Bumi. Arah sebenarnya bintang relatif terhadap pengamat adalah ES, jaraknya tergantung pada laju cahaya. Kemudian Bumi BERGERAK pada arah EE’ dengan arah garis merepresentasikan lajunya. Ternyata pengamatan menunjukkan bahwa bintang berada pada garis ES’ alih-alih ES, dengan SS’ paralel & sama dengan EE’. Maka posisi tampak binang bergeser dari posisi sebenarnya dengan sudut yang dibentuk antara SES’.Jika memang Bumi tidak bergerak, maka untuk setiap waktu, sudut SES’ adalah 0, tetapi ternyata sudut SES’ tidak nol. Ini adalah bukti yang pertama yang menyatakan bahwa memang Bumi bergerak.
Bukti kedua adalah paralaks bintang. Bukti ini diukur pertama kali oleh Bessel (1838). Paralaks bisa terjadi jika posisi suatu bintang yang jauh, seolah-olah tampak ‘bergerak’ terhadap suatu bintang yang lebih dekat. (Gb.2). Fenomena ini hanya bisa terjadi, karena adanya perubahan posisi dari Bintang akibat pergerakan Bumi terhadap Matahari. Perubahan posisi ini membentuk sudut p, jika kita ambil posisi ujung-ujung saat Bumi mengitari Matahari. Sudut paralaks dinyatakan dengan (p), merupakan setengah pergeseran paralaktik bilamana bintang diamati dari dua posisi paling ekstrim.

Paralaks Bintang
Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini? Ini hanya bisa dijelaskan jika Bumi mengitari Matahari, dan bukan kebalikannya.Bukti ketiga adalah adanya efek Doppler.
Sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Newton, bahwa ternyata cahaya bisa dipecah menjadi komponen mejikuhibiniu, maka pengetahuan tentang cahaya bintang menjadi sumber informasi yang sahih tentang bagaimana sidik jari bintang (baca tulisan saya tentang ‘fingerprint of the star’) . Ternyata pengamatan-pengamatan astronomi menunjukkan bahwa banyak perilaku bintang menunjukkan banyak obyek-obyek langit mempunyai sidik jari yang tidak berada pada tempat-nya. Bagaimana mungkin? Penjelasannya diberikan oleh Bpk. Deppler (1842), bahwa jika suatu sumber informasi ‘bergerak’ (informasi ini bisa suara, atau sumber optis), maka terjadi ‘perubahan’ informasi. Kenapa bergeraknya harus tanda petik? Ini bisa terjadi karena pergerakannya dalah pergerakan relatif, apakah karena pengamatnya yang bergerak? Atau sumber-nya yang bergerak?
Demikian pada sumber cahaya, jika sumber cahaya mendekat maka gelombang cahaya yang teramati menjadi lebih biru, kebalikannya akan menjadi lebih merah. Ketika Bumi bergerak mendekati bintang, maka bintang menjadi lebih biru, dan ketika menjauhi menjadi lebih merah.
Disuatu ketika, pengamatan bintang menunjukkan adanya pergeseran merah, tetapi di saat yang lain, bintang tersebut mengalami pergeseran Biru. Jadi bagaimana menjelaskannya? Ini menjadi bukti yang tidak bisa dibantah, bahwa ternyata Bumi bergerak (bolak-balik - karena mengitari Matahari), mempunyai kecepatan, relatif terhadap bintang dan tidak diam saja.
Dengan demikian ada tiga bukti yang mendukung bahwa memang Bumi bergerak mengitari matahari, dari aberasi (perubahan kecil pada posisi bintang karena laju Bumi), paralaks (perubahan posisi bintang karena perubahan posisi Bumi) dan efek Doppler (perubahan warna bintang karena laju Bumi).
Tentu saja bukti-bukti ini adalah bukti-bukti ILMIAH, dimana semua pemaknaan, pemahaman dan perumusannya mempergunakan semua kaidah-kaidah ilmiah, masuk akal dan ber-bobot kebenaran ilmiah. Apakah memang demikian adanya? Seperti yang ungkapkan, sampai detik ini belum ada teknologi yang bisa membuat kita bisa terbang jauh-jauh ke luar angkasa, sedemikian jauhnya sehingga bisa melihat memang begitulah yang sebenarnya. Tetapi, pembuktian metode ilmiah selama ini cukup sahih untuk menjawab banyak ketidak-pahaman manusia tentang posisi-nya di alam. Dan bukti-bukti yang telah disebutkan tersebut cukup untuk menjadi landasan untuk menjawab bahwa memang Bumi mengitari Matahari; dari pengetahuan Bumi mengitari Matahari, banyak hal-hal yang telah diungkap tentang alam semesta ini, sekaligus menjadi landasan untuk mencari jawab atas banyak hal yang belum bisa dijawab pada saat ini.
http://simplyvie.wordpress.com/profile/ benarkah bumi mengelilingi matahari
nggieng Mahasiswa magister astronomi ITB yang semenjak S1, sudah terlibat dalam berbagai kegiatan jurnalistik dan penulisan buku ilmiah popular. Kendati mengambil pendidikan di Astronomi ITB, tetapi tidak menghentikan minat untuk terlibat dalam dunia jurnalistik. Pengalaman jurnalistik semenjak di kampus a.l., Pemred Majalah KMK ITB "Lentera", Redaksi Pelaksana Majalah Astronomi "Asteroid", terlibat dalam penerbitan buku "Perjalanan Mengenal Astronomi", sampai dengan penerbitan Internasional, dan sekarang terlibat aktif sebagai reporter & fotografer di Komunitas Astronomi langitselatan.
Email this author | All posts by nggieng


Yup, setuju bumi memang mengelilingi matahari.
Tulisannya ilmiah, bagus, bisa jadi referensi.
Kepp up the Good Work!
saya belum percaya klo bumi mengelilingi matahari. Masih perlu bukti yg lebih rasional dan mudah dicerna orang awam. Bumi yg diam dan benda2 langit yg bergerak lebih masuk akal dibanding bumi berputar dg kecepatan seperti apa dan bagaimana.
apakah alasan di atas juga dikemukakan oleh copernicus ketika mengajukan heliosentris?
bung/bu/pak/mas/mbak aan,
kalau manusia itu bisa merasakan Bumi berevolusi dengan tetap diam di Bumi, tentu dari dulu tidak ada kontroversi, tinggal bles percoyo.Gampang kan? Manusia pun gak perlu2 mencari, membaca Alam dengan akalnya. Justru pencarian inilah yang lantas mengarahkan manusia pada evolusi sains dalam perjalanan peradaban kita ini. Dan hasil kerja keras para pencari inilah yang bisa membuktikan bahwa Bumi berputar dan berevolusi. Fakta-fakta tidak lagi terbantah. Kemajuan teknologi semakin mengukuhkan fakta ini karena manusia bisa berada di luar angkasa dan melihat bagaimana Bumi bergerak.
Kecuali kl bung/bu/pak/mas/mbak aan juga skeptis dengan penerbangan luar angkasa dan percaya itu hal yang mengada-ada, capedeeeeeeee…
omong2, penjelasan sederhan tentang rotasi dan revolusi Bumi ada tuh di buku pelajaran SD kelas 6B,silakan dibaca ya. Anak SD saja bisa paham kok…
salam,
nata
iya bener.. ga mudah dicerna mas. kayak ngasih kuliah aja.. qt kan orang2 bodoh yg nilainya aja merah buat ilmu eksak bahkan dikasih kura2 ato telor mateng klo gurunya sdikit mau menghibur.. hehe.. Pokoknyaâ„¢ qt mau penjelasan yg lebih baik dari ini.. yg bisa dicerna sama otak qt..
Untuk Nur: kenapa Copernicus memilih heliosentris, alasannya: ya biar gampang aja ‘matematika’-nya, kenapa bisa gitu? Untuk diketahui, Copernicus itu dipengaruhi oleh matematikawan/astronom Arab bernama: Ibnu Al-Shatir, jadi mohon teman2 yang punya pengetahuan sejarah jazirah Arab memberi sumbangan untuk tulisan ini, saya cuman bisa nyeritain matematika-nya saja.
Untuk Aan: mau bukti yang gimana lagi? emang keliatannya sulit, karena memang, sesuatu yang ‘kelihatannya gampang’, malah jadi sulit. Sekarang saya balik, apa bahasa sederhana-nya gravitasi? kelihatan-nya gampang (?) Tapi, dibalik ke-gampangan-nya itu lah, maka tiga hal yang saya jelaskan tersebut, menjadi lebih jelas. Perkara anda gak terima, mungkin nanti akan saya kupas lebih mendalam, tetapi semua itu adalah dasar-dasar yang seharus-nya pernah kita pelajari di tingkat sekolah umum. Sulit? itu semua hal-hal yang bisa dipelajari dari pengamatan. Itu landasan teori & penjelasannya adalah sama dengan menjelaskan Hilal. Berdasarkan hukum gravitasi.
Kalau anda tetap tidak percaya, silakan terbang jauh ke luar angkasa dan lihat dengan kepala sendiri fakta yang terjadi, lalu ceritakan pada kami yang sudah percaya dengan teori yang ada; beritahu kami betul atau salah.
Kalau anda memang tidak mau percaya tentang ‘kebenaran’ ilmiah (karena ini adalah ranah ilmiah), itu hak anda. Kalau anda mencari pembuktian yang lebih sederhana lagi, tolong bantu jelaskan, secara astronomi ini adalah penjelasan-penjelasan yang paling fundamental.
ddewa: mungkin masalahnya pada pencernaan kali ya? kalau ddewa pernah belajar geometri SD, tau kan tentang sudut segitiga? Kalau udah inget, baru dibaca lagi paralaks, soal aberasi, coba belajar dari kinematika newton, (ke-inersia-an) ala SMU kelas 1 fisika; soal pergeseran doppler? SMU kelas 2?
“Apakah Matahari berputar mengelilingi bumi?”.
Jawaban.
“Dhahirnya dalil-dalil syar’i menetapkan bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam di permukaan bumi, tidak ada hak bagi kita untuk melewati dhahirnya dalil-dalil ini kecuali dengan dalil yang lebih kuat dari hal itu yang memberi peluang bagi kita untuk menakwilkan dari dhahirnya. Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan malam adalah sebagai berikut.
[1]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Ibrahim akan hujahnya terhadap yang membantahnya tentang Rabb.
“Artinya : Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” [Al Baqarah : 258]
Maka keadaan keadaan matahari yang didatangkan dari timur merupakan dalil yang dhahir bahwa matahari berputar mengelilingi bumi.
[2]. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman juga tentang Ibrahim.
“Artinya : Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: ‘Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu terbenam dia berkata : ‘Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.’” [Al-An'am : 78]
Jika Allah menjadikan bumi yang mengelilingi matahari niscaya Allah berkata: “Ketika bumi itu hilang darinya”.
[3]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka berada disebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu.” [Al-Kahfi : 17]
Allah menjadikan yang condong dan menjauhi adalah matahari, itu adalah dalil bahwa gerakan itu adalah dari matahari, kalau gerakan itu dari bumi niscaya Dia berkata: “gua mereka condong darinya(matahari)”. Begitu pula bahwa penyandaran terbit dan terbenam kepada matahari menunjukkan bahwa dialah yang berputar meskipun dilalahnya lebih sedikit dibandingkan dilalah firmanNya “(condong) dan menjauhi mereka)”.
[4]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang,matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” [Al-Anbiya' : 33]
Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata:”Berputar dalam suatu garis peredaran seperti alat pemintal”. Penjelasan itu terkenal darinya.
[5]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat,” [Al-A'raf : 54]
Allah menjadikan malam mengejar siang, dan yang mengejar itu yang bergerak dan sudah maklum bahwa siang dan malam itu mengikuti matahari.
[6]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
“Artinya : Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang banar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [Az Zumar : 5]
FirmanNya: “Menutupkan malam atau siang” artinya memutarkannya atasnya seperti tutup sorban menunjukkan bahwa berputar adalah dari malam dan siang atas bumi. Kalau saja bumi yang berputar atas keduanya (malam dan siang) niscaya Dia berkata: “Dia menutupkan bumi atas malam dan siang”. Dan firmanNya: “matahari dan bulan, semuanya berjalan”, menerangkan apa yang terdahulu menunjukkan bahwa matahari dan bulan keduanya berjalan dengan jalan yang sebenarnya (hissiyan makaniyan), karena menundukkan yang bergerak dengan gerakannya lebih jelas maknanya daripada menundukkan yang tetap diam tidak bergerak.
[7]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengirinya,” [Asy-Syam : 1-2]
Makna (mengiringinya) adalah datang setelahnya. dan itu dalil yang menunjukkan atas berjalan dan berputarnya matahari dan bulan atas bumi. Seandainya bumi yang berputar mengeliligi keduanya tidak akan bulan itu mengiringi matahari, akan tetapi kadang-kadang bumi mengelilingi matahari dan kadang-kadang matahari mengeliling bulan, karena matahari lebih tinggi dari pada bulan. Dan untuk menyimpulan ayat ini membutuhkan pengamatan.
[8]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
“Artinya : Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dan malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai tandan yang tua. Tidaklah mugkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” [Yaa-Siin : 37-40]
Penyandaran kata berjalan kepada matahari dan Dia jadikan hal itu sebagai kadar/batas dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui menunjukkan bahwa itu adalah haqiqi (sebenarnya) dengan kadar yang sempurna, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan siang malam dan batas-batas (waktu). Dan penetapan batas-batas edar bulan menunjukkan perpindahannya di garis edar tersebut. Kalau seandainya bumi yang berputar mengelilingi maka penetapan garis edar itu bukannya untuk bulan. Peniadaan bertemunya matahari dengan bulan dan malam mendahului siang menunjukkan pengertian gerakan muncul dari matahari, bulan malam dan siang.
Barangkali perlu diperhatikan juga, bahwa pandangan geosentris awalnya merupakan teori astronomi Yunani, seperti dikemukakan oleh Plato, Aristoteles dan dibakukan oleh Ptolemaeus. Pandangan geosentris ini merupakan pandangan umum yang dianut banyak orang pada masa awal peradaban manusia, bisa dilihat pada peninggalan-peninggalan peradaban
kuno. Jadi barangkali bisa disimpulkan bahwa teori geosentris adalah hasil kesimpulan sains primitif.
Apakah dengan demikian teori geosentris salah ? Belum tentu. Hanya barangkali perlu diperhatikan pula, bahwa teori geosentris seperti yang telah diungkapkan tadi, adalah hasil pemikiran dan pengamatan manusia (sains), yang sudah ada jauh sebelum Al Qur’an diturunkan, jadi tidak murni berasal dari wahyu. Meskipun pandangan yang berasal dari Yunani ini banyak diadopsi oleh filsuf-filsuf dan astronom-astronom muslim (yang notabene banyak mengolah filsafat Yunani, ahli ilmu Kalam) pada abad pertengahan.
Sehingga barangkali kita perlu kembali kepada kaidah tentang
penafsiran Qur’an dengan sains, seperti yang telah dikemukakan oleh Syaikh Al Utsaimin rohimahullah. Bahwa hasil kesimpulan sains adalah relatif, bisa berkembang berbolak-balik dari jaman ke jaman selaras perkembangan teknologi pengamatan manusia. Sedangkan Al Qur’an adalah
Al Haq, mutlak benarnya. Sehingga tidak layak sebenarnya memutlakkan penafsiran Al Qur’an dengan sains, sebab hasil kesimpulan sains bisa benar bisa salah sehingga tidak mutlak diterima dan tidak juga mutlak ditolak, sebagaimana mensikapi kisah-kisah Israiliyat.
Jadi apakah teori geosentris benar ? Mungkin, bahkan sepintas nampak selaras dengan zhohir nash. Kalau begitu apakah teori heliosentris (bumi berputar mengelilingi matahari) adalah salah? Belum tentu juga, toh ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan masih masuk juga bila ditafsirkan dari sudut pandang itu.
Wallahu ‘alam,
maaf sebelumnya kalo pemahaman saya salah dan mengajukan pertanyaan konyol.kalo ngebaca artikel di atas saya mendapat kesan bahwa “terlebih dulu sudah disimpulkan bahwa matahari diam” (apakah ini hasil perhitungan model matematis lantas menjadi dogma ribuan tahun). Lalu mencoba membuktikan bahwa bumi “bergerak”.
1. Argumentasi aberasi dan efek doppler membuktikan bumi bergerak. lalu bagaimana kronologinya hingga “bumi bergerak” berujung pada kesimpulan “Bumi mengitari matahari”?
2. Argumentasi paralaks. Bumi “bergerak” membentuk lingkaran (atau elips)tertentu,bisa dimengerti dari proyeksi posisi bintang yang lebih dekat. Bagaimana seandainya jika matahari juga bergerak (bersama Bumi) dengan pola “gerakan” yang sama tetapi “orbit” matahari lebih kecil, karena sama-sama mengitari “sesuatu”. kayaknya sih juga menghasilkan pola proyeksi bintang yg sama…
Singkatnya, bagaimana caranya membuktikan bahwa matahari diam(relatif) terhadap Bumi ? Untuk kemudian melangkah bahwa “bumilah yang bergerak”.
Apakah ketiga argumentasi di atas akan berbeda hasilnya jika kita melakukan pengukuran di atas permukaan matahari,misalkan saja loh ?
waduh pertanyaannya banyak banget, habis saya masih bingung
sih.
Trims jawabannya. Artikelnya amat membantu dan mencerahkan saya.
bumi punya garis edar.. matahari punya garis edar.. semua benda di alam semesta ini punya garis edar masing2. Soal siapa yg mengitari siapa.. sbnernya ga penting.. malah bumi dan matahari saling mengitari. Menurut hukum gerak dua benda, ada hubungannya sama titik pusat massa, kbetulan hasilnya bumi “tampak” mengitari matahari, klo dari teori itu. Trus.. masalah bumi berotasi itu kan biar buminya seimbang. makanya matahari “tampak” terbit dan tenggelam.
Argumen semuanya benar.. dan sudah pasti Quran benar. Tinggal bagaimana dan darimana kita melihatnya. sains hanyalah “salah satu” upaya mencari kebenaran dengan membuat berbagai macam formulasi yg mudah dicerna.
buat Nur: Bukti bahwa bumi bergerak sudah cukup koq untuk membantah teori bahwa Bumi ‘diam’ saja, sedangkan bagaimana Bumi bergerak, itu bisa diturunkan dari hukum-hukum Kepler. Matahari itu diam? Secara matematis, alangkah lebih baik untuk menyatakan bahwa Matahari itu diam (terhadap Bumi).
Dalam hal ini tidak ada yang dogmatis ya, semua-nya diturunkan berdasarkan metodologi sains yang baik dan benar, demikian untuk ketiga argumentasi tersebut didasarkan pada pengamatan yang dilakukan di Bumi. Sebagaimana kita melihat suatu fenomena di Bumi ini, tentu akan berbeda jika kita melakukan pengamatan dari tempat yang berbeda.
Mungkin seperti menerapkan prinsip relativitas secara sederhana, jika kita duduk di atas kereta, melihat teman kita (sebut si A) naik kereta dari arah berlawanan, apakah kita mengatakan bahwa kita yang mendekati A? atau A yang mendekati kita? Atau kita dan A saling mendekat? Bisa saja dengan melihat pohon di sisi jalan, kita mengatakan bahwa sebetulnya diam, karena kita tetap pada posisi terhadap pohon yang diam, atau kondisi yang lain terjadi.
Semua itu adalah mungkin, banyak yang harus dilakukan untuk mendukung teori itu, termasuk bukti2 pengamatan, demikian juga pada saat astronom2 melakukan pengamatan, mereka memperhatikan faktor yang mendukung, sebagaimana mencari pohon2 yang menjadi patokan. Posisi bintang, terhadap Bumi, untuk jangka waktu ribuan tahun relatif tetap. (Umur rasi bintang sudah ribuan tahun kan?)
Nah dari pemahaman itu, ibarat Matahari sebagai si A dan kita sebagai penumpang kereta, bintang-bintang sebagai pohon-pohon. Ternyata deduksi ilmiahnya memang menunjukkan, hei, kita bergerak terhadap Matahari lho. Lalu bagaimana pergerakannya?
Disini hukum Kepler berbicara, bahwa benda-benda dengan massa lebih kecil akan bergerak secara eliptis terhadap suatu pusat massa. Lalu bagaiman mem-validasi teori itu? Dari pengetahuan tentang gerak eliptis planit dalam dan planit luar berdasarkan hukum tersebut, dibandingkan terhadap gerak-gerak Merkurius, Venus, Mars, Jupiter . Dan ternyata, memang Bumi bersama saudara-saudara-nya bergerak dalam suatu lintasan berbentuk elips (yang hampir lingkaran), terhadap pusat massa (Matahari).
Demikian pencapaian tentang heliosentris; pertanyaan kemudian adalah, apakah Matahari diam?? Ternyata penemuan-penemuan modern menunjukkan bahwa Matahari, bersama bintang-bintang disekitarnya, bergerak terhadap suatu ‘pusat massa’ yang lebih besar lagi! Bahwasanya , Matahari pun harus bergerak pada suatu gerakan mengikuti perputaran galaksi Bima Sakti! Dan Matahari kita hanyalah satu bintang yang kuntet di bagian tepi lengan spiral galaksi Bima Sakti. Ironi bukan?
Ternyata dari pengetahuan kosmologi, kita tahu bahwa galaksi Bima Sakti pun hanya lah satu noktah kecil dari entah berapa banyaknya galaksi-galaksi dalam alam semesta ini? Dan masih banyak misteri yang bisa dijelaskan oleh pengetahuan manusia sekarang. Jadi? Tetap semangat belajar ya ..
menanggapi masalah science begini sebaiknya netral dan obyektif tanpa dikaitkan dg religion tertentu, krn hasilnya penafsiran akan kitab suci bakalan utak-atik gathuk, yg penting pas dg faktanya biarpun ayat2nya mungkin ga jelas arahnya. artikel ini untuk membuktikan teori science, bukan membuktikan kebenaran ajaran agama. apalagi membantah teori science tanpa dasar yg jelas, cuma ngandalin kata kitab suci. cape de
Dear all,
Pendapat saya pribadi tentang hal ini adalah: “BELUM TAHU” dan “BELUM YAKIN.” Banyak ilmuan yang memberikan penelitian ilmiah dan diakui, dipercayai dan dianut masyarakat dunia. Tetapi banyak juga teori baru yang mementahkannya.
Saat ini banyak yang percaya bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera. Bahkan dipercaya bahwa asal mula manusia adalah dari kadal. Bisakah kita mempercayai Evolusi Darwin?
Dulu manusia juga pernah percaya bahwa bumi itu datar. Dan manusia percaya bahwa ada batas dari bumi yang disebut sebagai “ujung bumi.” Kemudian terjadi perubahan paradigma yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Dulu untuk membuktikannya diperlukan ekspedisi untuk mengitari bumi. Atau bahkan ekspedisi untuk mencari ujung bumi.
Sekarang sudah terbukti bahwa bumi itu bulat karena kita sudah bisa terbang dan melihat rupa bumi sebenarnya.
Tetapi selama kita belum terbang “sejauh-jauhnya” sehingga bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya (usulan nggieng), maka perdebatan atas pendapat heliosentris dan geosentris masih akan terus berlanjut.
Manakah yang harus dipercaya, dianut dan diakui?
Menarik juga pernyataan terakhir bang Emanuel Setio Dewo:
Manakah yang harus dipercaya, dianut dan diakui?
Kalau ngliat bulan, bintang, matahari, benda2 langit yang lain , belaka sebagai ciptaan Tuhan, percaya aja sama yang memberi hidup & menciptakan semesta ini, selesai masalah, titik.
Nah, kalo bicara tentang benda-benda langit tersebut sebagai obyek material, bagaimana kelakuannya? Ya biarlah hukum2 material yang menjelaskannya;, melalui hukum-hukum fisika, matematika. Perkara kebenaran sains? Kan semua ada metodologi-nya. Bukan masalah benar atau salah, tapi sahih atau tidak.
Jadi sebetulnya cuman bagaimana cara melihat saja koq, pilihan ya ditangan anda-anda masing2.
Sejujurnya, seluruh pengetahuan kita tentang alam semesta saat ini, sebagian besar disandarkan pada pengetahuan kita tentang jarak menuju bintang-bintang.
Cara menentukan jarak menuju bintang-bintang, yang paling dapat dipercaya, adalah dengan paralaks sebagaimana dijelaskan Sungging.
Dengan mengetahui paralaks bintang-bintang terdekat, kita tau jaraknya dan dengan demikian kita tahu sebenarnya mereka bintang terang atau biasa aja. Dari situ lalu kita bisa susun teori evolusi bintang.
Dari segi struktur Galaksi, kecepatan bintang2 sekitar bisa dipakai untuk menghitung kecepatan matahari. Bisa juga dipakai untuk menghitung kecepatan bintang2 individual tersebut, ternyata ada hubungan antara kecepatan bintang2 tersebut dengan usianya.
Dan masih banyak lagi hal2 yang bisa kita tentukan dari paralaks bintang ini. Anehnya, semua hal yang kita turunkan dari pengetahuan kita akan jarak itu, saling konsisten satu sama lain.
Dan serunya lagi, sudut paralaks itu ada karena Bumi bergerak relatif terhadap matahari. Tanpa itu gak akan ada paralaks.
Tycho Brahe dulu setengah mampus mencari sudut paralaks. Tidak ketemu. Kesimpulannya: 1) sudut paralaks tidak ada (artinya Bumi diam), atau 2) bintang2 itu luar biasa jauhnya sehingga sudut paralaksnya demikian kecil dan di luar batas pengukuran alat yang dipakai Tycho.
Di kemudian hari, di abad 19, ternyata sudut paralaks bintang benar2 ada! Dan sekarang kita sudah mengukur sudut paralaks untuk kira2 100 000 bintang (dengan berbagai derajat ketelitian).
Kalau Bumi diam, adakah penjelasan lain untuk adanya sudut paralaks ini?
Gak perlulah kita buang2 energi “berdiskusi” dg fanatik Geosentris. Mereka itu pola pikirnya sudah lain dg kita2. Dikasih argumen ilmiah macam apapun gak bakalan mempan :). Biarkan saja, anjing menggonggong kafilah berlalu. Tinggal siapa yang mau jadi anjing, dan siapa kafilahnya
fenomena “matahari mengelilingi bumi” atau istilah teknisnya “gerak semu harian matahari” adalah efek dari gerak rotasi bumi, bukan gerak revolusi bumi. Bukti bahwa bumi berotasi adanya gaya coriolis.
Tapi bener juga kata om dhani, berdebat sama fanatik geocentris bikin capedeeeeeee…………
rame sekali ya… padahal masih ada forum yang mungkin jadi tempat yang lebih tepat buat membahas panjang hal beginian
Assalaamu’alaikum
hay guys, my name is d-man. aku dah lama banget merasa gerah dengan buku “matahari mengelilingi bumi” yang dikarang oleh seorang ustadz yg katanya ahlussunnah, paling bener, paling tau segala sesuatunya. AKu adl seorang muslim, dan insyaAllah yang taat (amin..)tapi aku yakin dengan seyakin-yakinnya dengan hidayah dan ilmu yang telah dibeikan Allah padaku, bahwa BUMILAH YANG MENGELILINGI MATAHARI, bukan sebaliknya. saranku ada baiknya rekan2 membaca / menonton vcd2 karya Dr. Zakir Naik (ulama India yang multidisiplin, hapal qur’an, dan menguasai topik2 seputar injil dan berbagai kitab suci lainnya, dan bisa membuktikan kebenaran Qur’an secara ilmiah).
Sebenarnya ada satu pukulan jitu yang cukup telak yg bisa membantah kesimpulan salah pengarang buku “matahari mengelilingi bumi”, yakni kalo kita pergi ke kutub utara dan mengamati bintang2 dilangit dan merekamnya dengan video, kemudian kita replay dengan kecepatan tinggi akan kita lihat bahwa ternyata bintang2 dilangit tersebut berputar melingkar dan kembali pada posisi semula dalm waktu 1 hari. kalo temen2 masih penasaran silahkan baca buku karangan Dr T. Jamaluddin, (Doktor muslim ahli astronomi jebolan Jepang) kalo ga salah judulnya “Menjelajah Keluasan langit, menyelami kedalaman Al Qur’an”, aku punya bukunya tapi daha lama selesai ta baca, jadi aga lupa judulnya.
gitu dlu aja ya, moga ada yang nanggapin tulisanku ini secara baik2..
Ada sangat banyak (atau malahan terlalu banyak) bukti yang mendukung teori heliosentris. Masalahnya para fanatik geosentris sebenarnya bukan mencari kebenaran melainkan pembenaran. Mereka selalu meminta bukti ilmiah, tapi begitu diberi penjelasan scr saintifik, mereka mengatakan tidak bisa memahami, dan kembali menyodorkan dalil yang itu lagi-itu lagi utk mendukung faham mereka. Lama2 capek juga berdebat kusir dg mereka2 itu. Jadi, untuk fanatik geosentris kita katakan saja: lakum diinukum waliyadiin.
terbukti dengan ;
1. paralaks
2.aberasi cahaya bintang
3.ekliptika
4.4 musim di lintang tengah
5.tengah malam di kutub.
Sampai sekarang bukti bahwa bumi itu mengelilingi matahari sangat kuat. Bukti palingkuat adalah paralaks bintang. Tentunya bagi yang ingin mendepak paradigma heliosentris dan menggantinya dengan paradigma geosentris harus memberikan bukti yang kuat, jangan hanya argumen dogmatis.
Bahasa kitab suci “spesial” dibikin supaya multi tafsir. Karena memang bahasa multi tafsir (yaitu bahasa kias) adalah bahasa yang tidak lekang oleh zaman. Karena itu kita, sebagai anak zaman, harus menggali lebih dalam penafsiran-penafsiran yang mungkin, sains adalah salah satu alat penafsiran itu.
Apakah kita harus (bersusah payah) menanggapi pemikiran seorang penganut geosentris? Jawabannya iya, karena itu adalah kewajiban sains. Dalam sains tidak ada argumen yang benar secara mutlak, melainkan argumen yang semakin kuat; yaitu argumen yang tidak bisa dipatahkan oleh argumen lain. Tapi kalau argumen “sains” dibantah dengan argumen yang tidak bisa dibuktikan, berarti diskusinya ada di dua jalur yang berbeda. Kalau begini diskusinya berhenti saja.
Kalau seorang penganut geosentris bisa memberikan argumen yang benar-benar logis, sehingga argumen heliosentris dapat dipatahkan oleh argumen tersebut maka baru kita menemukan kesepakatan baru. Itulah cara Copernicus bekerja.
Jadi, kita sebal bukan karena isu *geosentris*nya, melainkan karena argumennya. Selamat berpikir buat semua..
saya nemu satu lagi yang membuktikan bahwa bumi itu bergerak, - dalam hal ini, bumi tidak diputari oleh planet lain - yaitu kenampakan planet saturnus di langit malam bumi dari tahun 2005/08 sampai 2008/09. silakan lihat citra dari APOD di halaman http://apod.nasa.gov/apod/ap070407.html .
gerak retrogade planet ini membuktikan bahwa bumi tidak diam dan tidak dikelilingi oleh saturnus. gerak retrogade itu sendiri adalah perubahan posisi planet di langit relatif terhadap bintang latar belakang dengan lintasan yang menuju ke arah berlawanan.
dalam citra APOD itu, saturnus “bergerak” dari kiri gambar menuju kanan, kemudian di satu titik bergerak ke arah kanan gambar, dan kembali ke kiri. hal ini terjadi sebanyak tiga kali.
apakah hal ini menjawab pertanyaan geosentris dan heliosentris? dahulu, teori geosentris menyebutkan bahwa semua objek langit mengitari bumi. berarti dengan gerak retrogade ini, teori tersebut runtuh karena dari planet mars hingga neptunus menunjukkan hal yang sama. kalau sesuatu sudah runtuh, tidak bisa dipertahankan untuk tegak berdiri bukan? semoga membantu
Al Qur’an adalah Al Haq, mutlak kebenarannya, tapi penafsiran Al Qur’an tidaklah mutlak kebenarannya. adakah ayat yang menyatakan bahwa matahari mengelilingi bumi, obok2 dah Al Qur’an klo bisa dapat. yg ada juga penafsiran dari orang2. dan penafsiran ini ya Ilmu Pengatahuan, jadi bisa benar dan bisa salah, tergantung dari pembuktian.
menurutku ilmu pengetahuan bukan untuk di percayai atau di anut. tapi cukup diterima saja. setiap teori dari ilmu pengetahuan pasti ada anti teorinya, dan suatu saat teori itu akan ada perbaikan dan penyempurnaan atau bahkan bisa runtuh . dan jangan berharap ilmu pengetahuan itu akan sempurna.
untuk saat ini teori tentang bumi yang mengelilingi matahari bisa diterima luas oleh orang2, tp bisa saja teori ini suatu saat bisa runtuh oleh teori lain seperti halnya teori geosentris yg saat ini banyak yg tidak menerimanya.
mungkin suatu saat akan ada teori yang menyatakan bahwa bumi dan matahari ternyata saling mengelilingi. Wallahu alam, karena ilmu pengetahuan selalu berkembang.
Al Quran emang ngomong gitu, tapi ape bener tafsir & ta’wil nye kaya yang dibilang bung daan? Ape kaitannye, argumentasi bung daan ttg geocentris ama tugas muhammad waktu itu? (Bung daan mungkin lebih tau ttg tugas muhammad pada waktu itu). Kayanye ngga nyambung kalo tafsir & ta’wil bung daan ttg ayat tsb disambungin ama tugas muhammad waktu itu.Ngapain juga Allah cerita ttg fenomena alam ke muhammad, padahal tugas muhammad bukan sebagai astronom?
Kl ayat2 itu di tafsir & ta’wil kan secara harfiah, kayanye sih ga nyambung & jadi banyak yang aneh & ga masuk akal. Contoh : Ibrahim ga mempan dibakar api, Musa ngebelah laut,kisah ttg isra mi’raj,dsb.
Kalo bung daan ngambil contoh kisah Ibrahim sebagai dalil utk ngedukung geosentris,seharusnye Ibrahim dong yang musti jadi dedengkot teori geosentris bukan para pemikir yunani (plato,aristotle,ptolemaeus).kan Ibrahim hidup jauh sebelom para pemikir yunani tsb (coba liat buku encyclopedi sejarah dunia bikinan langer).
Al quran harus sesuai dengan hukum alam. Hukum alam diteliti oleh ilmu pengetahuan. Karena Quran dan Alam adalah sama2 ciptaan Allah (bagi yang percaya). Ga mungkin buku petunjuk dan barangnye saling bertentangan.
Buat para ilmuwan alam, maju terus! Soalnye alam ini dibikin buat orang2 yang berakal & yang mao pake akalnye.
Saya percaya bumi berputar dan bergerak mengelilingi matahari. Hal ini sudah dijelaskan di pelajaran SD dulu. Tapi maap, bisakah sy diberi penjelasan yg sederhana atas pertanyaan2 ini:
1. Kalau memang bumi berputar pada porosnya, knp kok kita gak merasakan apa2 ya, spt pusing begitu? Emang kecepatan putarannya brp seh? Bisakah ini disimulasikan lewat percobaan? Misalnya bola raksasa yg diputar cepat dan di permukaan bola ditaruh monyet sbg kelinci percobaan. Sya sekedar ingin tahu apa dia teler enggak diputar dlm putaran yang amat sgt cepat.
2. Katanya, manusia dan segala isinya berpijak pada bumi yg bulat. Saya membayangkan benda di atas permukaan bola. Knp kita tidak jatuh (ke langit ya tentunya, saat di bawah permukaan bumi)? Katanya, yg membuat kita tidak jatuh krn gaya tarik gravitasi bumi. Bisakah ada penjelasan yg sederhana kpd orang awam spt saya, apa dan knp gravitasi membuat kita tetap bertahan di permukaan bumi?
3. Masih terkait dgn pertanyaan no 2. Sy membayangkan, saat saya berdiri di depan rumah malam ini (di Samarinda), berarti di bawah bumi (kalau dibentang garis lurus tembus bumi) juga ada manusia yg sdg berdiri dgn posisi kepala jungkir ya (andai saja sy bisa melihat tembus bumi)? Sekali lagi, maaf, saya membayangkan bumi ini spt bola dgn manusia/benda berdiri di seluruh permukaannya. Tapi kenapa kita gak pusing ya dgn posisi jungkir begitu?
4. Mungkinkah bumi yg kita huni ini dibor (dibuat terowongan) agar kita bisa tembus di permukaan di bawah kita? Dgn begitu kita gak perlu pakai pesawat utk mencapai Ameriksa misalnya, tapi naik kendaraan darat saja dgn menembus bumi? Mungkinkah itu kita lakukan? Kalau tidak kenapa?
5. Bang pengelolan langit selatan atau teman2 yg ahli astronomi, sy minta maaf kalau pertanyaan sy mengesankan sy tdk paham astronomi. Memang begitu adanya. Sy trus terang sgt suka memandangi langit saat malam. Sy kadang bertanya2 bintang apa itu ya. Ada misalnya sebuah bintang yang bersinar paling terang habis magrib hingga larut malam di arah barat, tapi sy tidak tahu bintang apa itu? Sy jga penasaran di manakah planet mars yg katanya terlihat merah? Bisakah saya dgn mata telanjang di kota Samarinda melihat planet yg katanya menyerupai bumi itu? Ke arah mana?
6. Sy sgt mengagumi Allah Swt yg menciptakan semesta alam begitu rumit dan luas itu. Sayang sekali ilmu sy terbatas sekali utk memahami astronomi (maklum matematika sy lemah mas). Tapi pernah saya sangat terkesan sekali ketika masih sekolah smp di Tuban (Jatim) saat terjadi Gerhana Matahari Total. Guru dan orang tua ketika itu wanti2 utk melihat lewat permukaan air. Tapi karena penasaran, sy ambil film foto bekas sy tumpuh hingga tiga lembar, lalu saya lihat permukaan matahari. Allahu Akbar! Ternyata sy melihat ada jilatan lidah (spt api) di sekeliling matahari itu. Tingginya lidah api (merah jingga warnanya, brkli krn pengaruh film ya) itu ada yg hampir mencapai separuh diameter matahari. Wow tentu panas sekali di sana.
7. Demikian mas. terimakasih sebelumnya. Mohon jawaban segera ya Mas.
bumi mengelilingi matahari. Kan sebenarnya awak pesawat angkasa luar bisa saja menyaksikan/membuktikan bahwa bumi emang mengelilingi matahari, saat mereka mengangkasa shg melihat bumi dari jauh yg bergerak? Mungkin enggak ya?
Pak Achmad Bintoro, untuk no.1-3, bisa dibayangkan sebagai seperti ini:
Jika kita mengisikan air dalam ember, lalu ember itu diikat tali dan diputar2, dengan cepat, jika air itu tidak tumpah karena putaran kita, maka bisa dikatakan bahwa air berada dalam kesetimbangan antara yang menarik ke dalam lingkaran (gaya sentrifugal) dan yang menolak keluar (gaya sentripetal). Jadi sebetulnya kita berada dalam keadaan yang sangat ’steimbag’, sehingga kita tidak merasakan bahwa kita sedang diputar. Itulah hebatnya, betapa kita diciptakan dalam keadaan yang sangat ‘pas’.
Untuk pertanyaan no.4, mungkin terlalu rumit untuk dijelaskan secara sederhana, tapi seandainya bapak berkesempatan nonton film ‘The Core’, mudah2an bisa membantu menjelaskanaspek2 ilmiah dari ‘tembus bumi’, tidak segampang yang dibayangkan
Untuk no. 5, alangkah baiknya jika bapak berkesempatan untu belajar tentang peta langit dan konstelasi, bisa menggunakan software, atau dari peta langit sederhana. Dengan pemahaman peta yang sederhana, lalu dibandingkan dengan pengamatan pribadi, maka pengalaman2 tersebut menjadi guru yang terbaik dalam memahami, mana bintang, mana planit, jangan takut untuk belajar
Untuk no.6, Bumi sendiri hanyalah noktah kecil dibanding Matahari, jadi bayangkan jika lidah api itu menghantam bumi, wah seperti kelereng yang dilecut oleh pecut api raksasa. Sementara, Matahari sendiri hanyalah kerdil dalam belantara bintang di langit yang luas, jadi manusia memang harus selalu ingat, bahwa sebetulnya manusia itu tidakah ada artinya di dalam semesta ini
Semoga bisa membantu menjawab, bila masih kurang puas, silakan di lanjutkan di forum saja
Ass wr wb,
hendaknya para astronom mencoba berbagai kemungkinan model tata surya 9) semoga bermanfaat.
Sebagai orang awam tapi tertarik bacaan astronomi, ingin ikut-ikutan memberi komentar : 1) dalam membuat model tata surya kita, ada berbagai kemungkinan, dan untuk saat ini yang paling sahih adalah sistem heliosentris, 2) sistem heliosentris Keppler diperkuat dengan hukum gravitasi Newton, 3) bila bumi mengelilingi matahari dalam suatu bidang datar, maka latar belakang langit malam seharusnya mengalami perubahan yang signifikan, 4) bila latar belakang langit malam relatif sama, maka dapat disimpulkan matahari menjadi pusat semesta, karena dikelilingi bumi, planet, bintang dan bahkan seluruh galaksi,5) kemungkinan hukum gravitasi itu tidak berlaku sepenuhnya di tata surya, hanya berlaku dalam jarak terbatas seperti antara planet dengan satelitnya,6) tampaknya yang lebih pas adalah bumi dan planet-planet di tata surya ini beredar pada garis edarnya masing-masing dan matahari sebagai poros penggerak utama,7) tata surya ini kemungkinan mengapung di atas pusaran dark matter dengan matahari sebagai pusat pusaran dan ini bisa dibuktikan dengan pusaran air
Pak Mudjiono, sepertinya masih ada kesalah-pahaman ya, masalah heliosentris itu hanya berlaku pada tatasurya (Matahari dan planet2nya), sementara Matahari itu ternyata hanyalah noktah yang kecil tidak berarti dan hanyalah katai kecil di dalam semesta yang luas tidak berujung. Matahari hanyalah bintik kecil di tepian galaksi bimasakti, dan galaksi bimasakti hanyalah salah satu anggota dari banyaaaaaakkk sekali galaksi-galaksi yang mengisi semesta ini. Jadi, apalah arti manusia?
Dari teori Relativitas Umum Einstein, dan disepakati oleh pengamatan2 astronomi, alam semesta itu TIDAK ADA PUSATNYA. Semua anggota alam semesta itu patuh pada aturan yang sama, tidak ada perbedaan klas, kasta maupun status ’sosial’ yang lain2. Aturan apa itu? Aturan keniscayaan Gravitasi. Bahwa Gravitasi itu adalah manifestasi dari geometri. Yang artinya? Semesta ini dibangun oleh gravitasi. (Coba lihat artikel sederhana saya mengenai wormhole . Dengan demikian, hukum Gravitasi itu berlaku pada semesta, semua semesta yang bisa dipahami oleh manusia. Kalau ada hukum Gravitasi yang lain? Ya mungkin pada semesta lain yang tidak dipahami dan tidak teramati oleh manusia.
Sebetulnya pun, langit malam berubah, tapi apakah manusia menyadarinya? Butuh waktu yang sangattt lama untuk menyadari bahwa langit mengalami ‘perubahan’, sementara skala hidup manusia hanyalah sejentik kecil. Beruntung manusia diberi kelebihan untuk bisa ‘menghitung’ perubahannya.
Lalu, satu hal yang lain adalah, mata manusia mempunyai keterbatasan, sementara langit malam itu seharusnya kaya dengan warna-warni (secara semua informasi langit dipancarkan dalam berbagai panjang gelombang, dari Sinar-X sampai Radio), sementara, mata manusia hanya bisa menangkap pada rentang optis, jadi sebetulnya informasi yang bisa diperoleh itu terbatas sekali, lalu dengan keterbatasan itu, makanya manusia selalu mencoba mempelajari hal-hal yang baru dan belum dipahami sebelumnya.
Saya sependapat dengan yang dikatakan pak Mudjiono, memang astronomi mencoba berbagai kemungkinan, tidak hanya pada tata surya, tapi bagaimana pemahaman akan semesta ini, terus dan terus, sampai manusia tidak mendapat kesempatan lagi untuk mencoba
Bagi yang mengaku muslim jangan gegabah menafsirkan dan menakwilkan Al Quran. Apa anda sudah paham ada apa aja di dalam tubuh anda??? Kalo belum belajar aja terus, jangan sok pintar, salah-salah anda masuk neraka. Taubatlah sebelum terlambat.
Saya yakin ini bukan yang paling benar, tapi cobalah kita renungkan :
1. Salah satu tanda-tanda kebesaran Alloh adalah Alloh menciptakan manusia dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Karena itu timbullah berbagai teori untuk memahami atau menafsirkan satu masalah yang sama. Pemahaman ilmu apapun termasuk ilmu agama sangat boleh jadi senantiasa terjadi perbedaan, yang tidak boleh terjadi adalah “mengklaim” pendapatnya atau pemahamannya yang “paling benar” padahal ada Yang Maha Benar. Tentu ini pun ada batas-batas kewajarannya termasuk masalah bumi memgelilingi matahari. Wajar-wajar saja perbedaan pendapat tentang itu, yang tidak wajar apabila anda mengatakan bahwa,”matahari itu seperti onde-onde yang permukaannya penuh biji wijen dan isinya tahu gejrot”.
2. Dalam Al Quran ada ayat yang menyebutkan tentang “Tangan Alloh” atau “Kaki Alloh”. Beranikah kita menafsirkan atau memahami itu seperti apa??? Berhati-hatilah, kita masih terlalu bodoh untuk menafsirkan Firman Alloh.
3. “Philosophy of Metromini”. Ini sangat mudah dipahami bagi yang mengaku jenius sampai orang kurang akal. Bagi warga Jakarta pengguna metromini anda sangat beruntung apalagi bila metromini yang anda naiki lantainya bolong. Karena untuk memahami bahwa bumilah yang mengelilingi matahari, anda tinggal berdiri diam dengan pegangan yang kokoh lalu arahkan pandangan anda kebawah. Anda akan melihat aspal berjalan sangat kencang, dan ketika ada lobang dijalan dia akan terlihat pada lantai metromini yang berlobang itu muncul dari depan dan menghilang di belakang. Tanyakan pada diri anda,”Siapakah yang bergerak, aspal dibawah andakah atau anda yang berdiri diam dengan pegangan tangan yang kokoh???”
Salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah mengingatkan ketika saudaranya tersesat, inilah kasih sayang yang sesungguhnya. Dan ingat pada saat kita masih di TK maka bagaimana cara menulis angka delapan yang benar sangatlah penting bagi kita. Apakah dengan membuat dua bulatan yang ditumpuk ataukah dengan satu tarikan pena yang meliuk. Tapi ketika kita naik kelas, hal itu tidak menjadi penting lagi. Begitu juga dengan sistem tatasurya, kalau kita punya pengetahuan bahwa di jagat raya ini ada banyak galaksi maka berdebat tentang tata surya tidak ada artinya, karena hanya sebesar debu mungkin lebih kecil lagi. Lalu siapakah diri kita hingga dengan pongah mengatakan “aku yang paling benar”??? Bertaubatlah saudaraku, mumpung masih sempat!!!
Terimakasih atas tanggapan dan penjelasan Sdr Nggieng. Memang matahari sebagai salah satu bintang katai di galaksi Bimasakti ini tidak mungkin menjadi pusat alam semesta. Yang sebenarnya ingin saya sampaikan adalah sistem perputaran planet di tata surya kita ini. Selain mengandalkan teori-teori yang sudah mapan, sepertinya kok masih ada kemungkinan lain. Pasalnya konon Einstein sendiri mempermasalahkan apakah kecepatan gravitasi itu bisa melebihi kecepatan cahaya yang sudah diklaim paling cepat. Kalau hukum gravitasi itu selalu berlangsung seketika tanpa memperhitungkan jarak maka benarlah hukum perputaran planet-planet dan benda-benda langit lain di sekitar matahari mengikuti hukum gravitasi tsb. Salah satu kemungkinan lain perputaran tata surya kita ini bisa berupa gerakan angin puting beliung yang relatif stabil. Matahari berada di pusat pusaran sebagai penggerak utama, sedangkan planet, asteroid dan benda langit lain ikut berputar pada posisi orbitnya masing-masing. Garis tengah puting beliung tata surya inti sangat lebar sementara memiliki ketinggiannya sangat pendek, sehingga seolah-olah planet-planet dan benda-benda langit tsb berada dalam satu bidang datar. Pendapat ini hanyalah bertolak dari penalaran logika dan mencakup garis besar, karena kalau sudah main hitung-hitungan tidak punya ilmunya. Inilah salah satu kemungkinan yang bisa benar, tapi juga bisa salah. Masih menunggu pembuktian yang benar-benar ilmiah. Terimakasih dan mohon maaf jika pendapat ini agak ngelantur.
Betul pak Mudjiono, teori yang lain selalu ada, hanya saja, mana yang bisa diterima dan disepakati, karena teori tanpa didukung ‘fakta’, berarti hanyalah teori belaka.
Sekedar tambahan info, gravitasi pun sudah mengatur agar cahaya patuh pada pengaruh gravitasi (geometri), jadi sudah dengan sendirinya pengaruh gravitasi Matahari menyebabkan planet-planet yang mengikuti Matahari berputar pada garis edarnya mengelilingi Matahari, tidak lepas keluar tidak masuk kedalam. Kenapa bisa begitu? Jawabnya bisa secara fisika, bisa teologis, tergantung mau menggunakan dalil yang mana yang kita pergunakan. Tetapi, kesahihan asumsi itu sudah diterima oleh dunia, apakah mempunyai kebenaran absolut? Paling tidak, semua wahana-wahana yang dikirim ke luar angkasa nun jauh membenarkan asumsi itu.
Demikian, saya juga sependapat dengan pak Budi MBW, apalah artinya manusia, tidak ada itu menjadi paling benar, oleh karena itu, kita selalu perlu belajar dan belajar, karena toh yang kita pelajari ini masihlah hanya secuil dari misteri semesta yang begitu luasnya. Memang ada yang pernah menemukan ujung semesta? Bahkan alat yang paling canggih saat ini pun masih mencoba mencarinya.
ada pertanyaan yang sering mengganggu nih, mungkin karena kurang baca aja. tapi pengen tau deh kenapa pesawat ruang angkasa bisa ke ruang angkasa? nggak meleleh tuh waktu sampe ke atmosfer?
soalnya benda-benda angkasa yang ingin menabrak bumi kan hancur begitu memasuki atmosfer bumi, padahal mereka terbuat dari besi atau baja kan? tolong bantuannya
Penyebabnya adalah: friksi udara, sudut entri dan kelajuan.
Sebetulnya mau masuk atau keluar atmosfer, terjadi friksi yang menyebabkan ‘panas’, tapi karena pada saat lepas dari Bumi tidak se-parah masuk Bumi, jadi efeknya tidak terlalu ‘kerasa’.
Pada saat tinggal-landas, wahana harus berada pada sudut entri/elevasi yang menyebabkan friksi seminim mungkin, dengan laju secukupnya (seirit bahan bakar), sehingga bisa ‘lepas’ dari gravitasi Bumi (sekitar 11 km/dtk). Friksi tetap ada, panas tetap terjadi, tapi tidak terlalu ’signifikan’.
Pada waktu kembali, wahana harus pada sudut entri yang menyebabkan friksi sebesar mungkin, kenapa? Supaya wahana tidak ‘jatuh bebas’. Kenapa tidak boleh jatuh bebas? Dari Fisika SMU, kita belajar, benda jatuh bebas mematuhi hubungan v=akar(2*g*ketinggian).Jadi kalau posisi tinggi sekali, laju jatuhnya besar sekalliii, laju jatuh-nya bisa mencapai 25 mach. Nah metode pengereman itu menggunakan friksi udara. Friksi udara menyebabkan wahana menjadi panas, oleh karena itu, perhatikan seperti wahan ulang-alik , dibagian bawahnya terdapat bagian yang berwarna hitam, itu adalah komponen yang berfungsi untuk meredam panas, sehingga tidak membakar langsung wahana. Dengan manuver tertentu, wahana masuk atmosfer, sehingga tidak hancur karena panas.
Btw, mungkin pertanyaan Nia , baiknya dibahas lebih jauh di forum ya (http://langiselatan.com/forum), karena sudah OOT dari tema, tp gpp deh, senang bisa membantu.
Gille benerrrr, baru tau klo ada pembahasan soal ini di jaman internet begini.
Kalo memang teori bumi mengelilingi matahari bener, maka Abdussalam fisikawan muslim asal Pakistan ga bakalan dapet Nobel Fisika. Kita juga ga bakalan bisa diskusi lewat internet kayak sekarang ini.
Soalnya, perkembangan teknologi sekarang termasuk internet dimungkinkan oleh adanya perkembangan teori2 fisika dari mulai era klasik sampe kuantum.
Mekanika kuantum, teori relativitas, dan teori fisika modern laennya ga bakal bisa shahih kalo dasarnya, yaitu fisika klasik masih goyah.
Bumi mengelilingi matahari bukan lagi sebuah paham, tapi sudah teori yg ditunjang oleh eksperimen dan pengamatan yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Bahkan anak SD aja bisa kok bikin eksperimen untuk membuktikan hal ini.
Tentang ayat2 dalam Alquran, sama sekali saya ngga melihat ada kontradiksi. Di ayat2 itu, Allah sebenernya lagi ngomongin gerak relatif.
Kalo ga percaya gerak relatif, berarti ga percaya teori relativistik, berarti ga percaya juga teori kuantum, berarti ngga percaya juga dengan keberadaan internet (ingat loh, pencipta internet itu orang fisika).
Memang bagus memiliki kemandirian berpikir, artinya ga gampang dipengaruhi orang lain. Tapi mbok yao punya pengetahuan juga yang menunjang untuk argumentasi ilmiah. Jangan lantas dengan pemahaman yg sempit kemudian menuduh orang mengingkari AlQuran.
Aduhhh, kok saya jadi curiga, jangan2 ini permainan orang2 di luar Islam, tapi megatasnamakan Islam untuk membaut citra Islam makin babak belur. Soalnya, jaman Copernicus, Galileo dulu, orang2 di luar Islam lah yang sangat fanatik pada paham geosentris, bahkan sampe menghukum Galileo segala.
Sori, saking semangatnya nulis, sampe ada beberapa kalimat yg error. Salah satunya di paragraf 2, seharusnya tertulis begini:
“Kalo memang teori bumi mengelilingi matahari SALAH, maka …”
Thanks!
Setau saya isu ini santer lagi di indonesia gara2 ada buku “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian Al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari” Pengarang: Ahmad Sabiq bin abdul lathif abu yusuf. Penerbit: pustaka al-furqon. Kalau saya nggak salah mbak bisa baca disini.
Benarkah Bumi Mengelilingi Matahari?
Buku Matahari Mengelilingi Bumi
Matahari Mengelilingi Bumi (blognya Herry Sufehmi)
btw saya juga mau mengingatkan kalau disini diskusinya berdasarkan argumentasi ilmiah, so jangan sampai tuding menuding ya.
Mas nggieng yang tau banyak tentang astronomi, apakah para astronot yang menumpang pesawat ulang-alik itu melihat dari atas sana bahwa bumi itu berputar pada porosnya? Kalo punya rekaman ato informasi yang pasti tentang hal itu, mau dong saya dikirimi. Soalnya orang berhujjah dgn Al Quran bahwa matahari yang mengelilingi bumi beranggapan bumi itu menggegeg tidak bergerak sama sekali. Thanks.
@Budhi: Mas, anda bisa menulis comment ini, dan kemudian comment anda dibaca orang karena ada internet. Anda bisa mengakses internet karena ada satelit komunikasi, dan satelit komunkasi hanya bisa mengorbit apabila bumi berotasi. Coba lihat antena parabola yang menangkap sinyal satelit komunikasi. Antena parabola tsb selalu mengarah ke titik yang sama di angkasa. Itu karena satelit komunikasi mengorbit Bumi dengan periode yang sama dengan periode rotasi Bumi. Kalau Bumi tidak berotasi, niscaya satelit komunikasi tidak bisa mengorbit, dan anda juga tidak akan bisa mengakses internet (wa bil khusus situs web ini).
Boleh2 saja anda berkeyakinan bahwa Bumi tidak berotasi, tapi sebelumnya putuskan dulu koneksi internet anda, berhentilah menggunakan telepon, dan matikan pesawat televisi anda, karena semua itu tidak dapat bekerja dg semestinya apabila bumi tidak berotasi.
@Budhi: Oh, ya. Supaya mas Budhi bisa memahami kaitan antara gerak rotasi bumi dengan orbit satelit komunikasi, silahkan kunjungi halaman web berikut.
Wah mas Budi, jangan berlebih2an, kebetulan aja saya suka baca, jd tau, sedikit2, yg penting bukan sedikit atau banyak, tapi senang berbagi mas. hehe ..
Mau tahu gambaran soal tata-surya kita berdasarkan benda yang sudah dikirimkan jauh menuju tepi tata surya kita? coba baca di artikel ini, mudah2an bisa membantu:
http://www.nasa.gov/vision/universe/solarsystem/voyager_agu.html
Makasih banyak mas dhani dan mas nggieng atas jawabannya. Mungkin yang perlu saya luruskan dari jawaban mas dhani adalah bahwa saya pendukung teori bumi yang mengelilingi matahari termasuk bahwa bumi berputar pada porosnya atau rotasi. Saya memerlukan sanggahan atau argumen yang kuat untuk menyangkal teori yang sebaliknya yang terlalu berani mengklaim bahwa dia benar berdasarkan Al Quran. Padahal tidak ada satu ayat pun dari Al Quran yang mengatakan seperti itu melainkan hanya mereka terlalu berani menafsirkan Al Quran dan terlalu gegabah / terlalu arogan sebagai seorang muslim. Tapi terima kasih sudah memberikan informasinya.
Boleh Kita mengungkap sisi lain dari Langit. Tapi perlu di ingat ada batas² tertentu yang memang masih menjadi MISTERI. Dan tentunya HANYA YANG MENCIPTAKAN YANG TAHU (TUHAN). Seandainya Tempat adna semua tiba² di Intip Orang apa sampeyan ndak MARAH ? Itu yang terjadi di masa kini. kenapa bumi tempat kita menyandarkan hidup sesaat selalu di hantam musibah. Mungkin itu marah nya TUHAN pada manusia di muka bumi. sudah di kasih lahan hidup (BUMI) masih mengintip yang ndak² apalgi sampai menanamkan semacam ayat Baru (RUMUS). Boleh kita belajar dan ingin mengetahui sesuatu tapi jangan di besar² kan. Mari kita kembali merenungkan.
Melihat diskusi topik ini, kita bisa jadi tau betapa banyak ragam type manusia, sehingga berbahgialah bagi orang-orang yang mau menggunakan otaknya (sebagai karunia Tuhan) demi tercapainya kemajuan kualitas kehidupan manusia.
Sedih juga sih melihat masi banyak orang yang menutup diri terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dengan mendasarkan ayat-ayat kitab suci, tanpa disertai argumen lain yang mendukung.
Beberapa point yang dapat saya ambil dari diskusi ini adalah :
1. Ada baiknya kita tidak mencampur adukan ranah sains dan agama, sebab sains memerlukan pembuktian yang secara logika bisa diterima. Disamping itu ranah agama disini sangat sensitip, sebab disini masi banyak yang berpikiran sangat fundamentalis, yang masi berpikiran bahwa dirinya paling benar dan tidak mau menerima pandangan orang lain.
2. Ada yang menyatakan kita gak bole melewati batas wilayah Tuhan, agar Tuhan gak marah dan gak menimpakan musibah. Yang saya kurang setuju adalah atas dasar apa mereka menyatakan ini sebagai wilayah Tuhan ato bukan ? Misteri angkasa yang belom terpecahkan bukan berarti itu adalah wilayah Tuhan yang gak bole diselikidi, sama seperti dunia kedokteran, apakah kita akan tetap menerima penyakit sebagai hukuman Tuhan dan lalu kita tidak bole mencari penyembuhan ?
Tentang musibah/bencana sebagai hukuman Tuhan, ini tipikal pemikiran orang yang nerima. Loh kita ini hidup diplanet bumi yang masi aktip mas, sehingga kejadian seperti itu wajar-wajar saja. Coba anda bandingkan dengan planet lainnya, venus dengan hujan asamnya, mars yang air aja masi dicari-cari sampe sekarang, yupiter dengan badai seukuran beberapa kali diameter bumi (great red spot), apakah anda masi berpikiran Tuhan marah pada kita ?
Dan lagi kekacauan cuaca yang sekarang terjadi, ini lebih diakibatkan ulah umat manusia sendiri. Terus kalo bantaran sungai diuruk terus untuk membangun rumah,(yang seharusnya malah dilebarkan dan diperdalam sungainya), hutan-hutan yang digunduli untuk diambil kayunya dan sebagai akibatnya timbul bencana banjir waktu musim hujan, apakah anda juga akan berpikir ini hukuman Tuhan ? dan tidak mencari cara penanggulangannya ? Saya pikir, Tuhan akan sedih jika dituduh demikian.
3 ada yang menuduh ini kerjaan orang-orang yang akan mendiskreditkan agama-agama tertentu. Lah iya kan…. beginilah kalo orang-orang berdiskusi masalah agama, ujung-ujungnya mesti saling menuduh, ini itu, sepertinya perdamaian atas dasar agama masi menjadi barang yang sangat mewah, sehingga sulit/hampir mustahil dicapai karena adanya orang-orang seperti ini.
Lah wong yang memulai masalah ini kan karena adanya buku yang diterbitkan seorang ustadz, sekarang kok dibalik ?
4. ada yang menyitir ayat-ayat dari kitab suci untuk mendukung agumennya, saya cuma ingin mengingatkan, apakah pemahaman anda terhadap ayat-ayat tersebut sudah mutlak benar ? jangan sampai terjadi nantinya pembuktian secara ilimiah bertentangan dengan pemahaman anda, sehingga anda akan malu sendiri.
Sama seperti isu kesetaraan gender yang lagi hangat, juga poligami, sekilas saya pernah dengar, bahwa Nabi anda dulu membolehkan poligami terhadap janda-janda akibat perang, dan bukannya terhadap perawan-perawan seperti yang banyak terjadi sekarang.
Tidak ada kontradiksi antara sains dan agama..Islam sebagai agama paripurna sudah menunjukkan bahwa Al qur an sebagai kitab sucinya adalah sebagai bank sains….keep on Islam forever.
Saya sependapat dengan Mas Syarif. Tidak ada kontradiksi sains dan agama (Islam). Bahwa ada orang (Islam) yg barangkali berpandangan sempit, bukan berarti karena agamanya. Justru dengan memadukan sains dan agama, kita bisa menyadari serta kemudian mengagumi san pencipta. Jadi Mas Agus, tidak perlu berkecil hati, ranah sains dan agama tidak perlu dipisahkan. Biarlah diskusi ini mengalir karena kita memang tidak bisa menutup diri dari kemungkinan adanya orang-orang spt itu.
Untuk Mas Nggieng, trimakasih lho telah dengan sabar memberikan penjelasan kpd saya yang awam ini, dan kpd temen2 yg memberikan respon. Saya kira Anda dan temen2 yg telah dikaruniai otak encer termasuk orang yang beruntung. Sebab dgn kepinteran itu Anda akan bisa lebih mudah untuk memahami kebesaran Allah Swt.
Saya termasuk orang yang selalu takjub dan kagum ketika memandang langit. Dgn keterbatasan otak saya, dan membaca tulisan2 di Langit Selatan ini (untungnya penulis Langit Selatan mampu menyajikan dalam bahasa yang lebih sederhana shg tidak membuat saya pening kepala he he he memahami angka2 eksak…) saya mencoba mengetahui apa yg berlaku dan terjadi dalam jagat yang sangat luas ini. Kalau bumi, matahari dan galaksi bumi sakti ini ternyata hanya noktah-noktah kecil, subahanallah…betapa maha besar Allah yang telah menciptakan ini semua. Dengan memahami ciptaannya ini.. saya makin yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar.
Menurut saya relatif, siapa memutari siapa tergantung acuannya.
Pembahasan yang menarik, saya juga sangat menyukai bintang, bumi, matahari, andromeda, bima sakti, dan semua yang berhubungan dengan angkasa,
Terimakasih Pak Nggieng.
Artikelnya sangat ilmiah.
Saya ingin menyambung pertanyaan Pak Bintoro :
1. Berapakah kecepatan perputaran bumi pada porosnya?
2. Jika bumi berputar dari barat ke timur, apakah pesawat yang terbang pada rute yang sama bolak-balik, berbeda waktu tempuhnya?
Itu dulu pertanyaan saya.
Terimakasih
aq baru gabung nih mohon kerjasama dan bantuannya
aq mau nanya menurut teman2 ada gak kehidupan lain diluar bumi??
kalau ada yang tau jawabannya beserta penjelasan sejelas jelasnya,kalau bisa disertai bukti(homepage mengenai hal tersebut) mohon di beritahukan.
tolong ya
terima kasih
Fahry, imho, yang perlu dingat adalah “kehidupan yang seperti apa?” Sejauh ini sampel bentuk kehidupan yang kita tahu hanya di bumi: manusia, pepohonan, binatang berkaki, hingga makhluk renik yang umumnya membutuhkan oksigen dan sinar matahari. Namun, ada juga bakteri-bakteri yang tidak membutuhkan oksigen. Selain itu, di tempat-tempat ekstrim di Bumi pun ternyata ditemukan kehidupan, di dekat sumber air panas, di kedalaman laut yang gelap…. well, what is llife anyway?
mudah-mudahan dua situs ini membantu:
http://astrobiology.arc.nasa.gov/
http://www.seti.org/
Klo kita menggunakan pemikiran metode gerak relatif. Kita gak bakal tahu mana sebenarnya yang bergerak. Bumi terhadap matahari atau matahari terhadap bumi. harus di buat kerangka inersial. Untuk mempermudah mempelajari pergerakan planet-planet para ilmuan lebih menggunakan bahwa matahari sebagai kerangka inersialnya. Berarti pergerakan bumi terhadap matahari hanya sebuah model, yang sering kita lihat gambar atau alat percobaannya. Sedangkan para pelaut menggunakan teori geocentris dalam bernavigasi. Jadi mana yang benar. Klo tanpa ilmu kita gak bakal tahu. Salah satu yang dapat dijadikan pengangan adalah apa yang yang telah di beritakan oleh si pembuat alam semesta ini yaitu Allah SWT.
Untuk lebih jelasnya baca link ini : http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/15/benarkah-bumi-mengelilingi-matahari/
Semoga anda sekalian lebih paham. Dan memuji Allah SWT dengan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Pak profesor, bisa tidak membantu menjelaskan matahari-bumi dari ke-inersia-an berdasarkan hukum gravitasi Newton dan hukum pertama Newton ke semua teman2 pembaca? Biar saya bisa memahami fisika juga dengan baik. trims.
Mas nggieng maaf emang huruf “n” pertamanya emang harus huruf kecil ya……? Tolongin saya dong mas nggieng saya punya pemahaman yang sudah sangat lama saya pertahankan sampai sekarang tentang tata surya kita rasanya mas nggieng bisa deh menambah keyakinan saya atau sebaliknya. Begini mas, dari pelajaran Bumi dan Antariksa waktu SMA dulu saya menyimpulkan dan meyakini bahwa tata surya kita itu pusatnya adalah Matahari atau Heliocentris, terus tatasurya kita Matahari dan planet-planetnya bersama-sama mengembara mengelilingi jagat raya secara bersama-sama dalam galaksi Bimasakti. Jadi Matahari pun bergerak dan berputar juga mengorbit di jagat raya ini dan tidak hanya diam saja mengingat ukuran Matahari yang sebenarnya sangat kecil bila dibandingkan dengan bintang-bintang lain di jagat raya seperti Antares dan kawan-kawannya. Gimana menurut mas nggieng? Makasih ya semoga ilmu mas nggieng menjadi amal dan bermanfaat bagi orang banyak. Amin.
buat mas/pak budi mbw, saya coba jawab deh.
memang benar bahwa matahari mengelilingi pusat galaksi. jadi kalau mau dirunut dari pergerakan bulan:
-bulan berotasi/berputar pada porosnya
-bulan berevolusi/berputar mengelilingi bumi
-bumi berotasi
-bumi berevolusi/berputar mengelilingi matahari bersama bulan dan semua objek tata surya lainnya
-matahari berotasi
-matahari berevolusi/mengelilingi pusat galaksi bersama seluruh isi tata surya, sebagaimana semua benda di galaksi yang juga mengelilingi pusat galaksi
-galaksi kita, bima sakti/milkyway juga mengelilingi sesuatu, bersama-sama beberapa buah galaksi yang berkelompok. kelompok tersebut kita sebut local group.
dst, ada yang mau meneruskan …
dan benar juga bahwa ukuran matahari adalah biasa/normal jika dibandingkan bintang-bintang lain, masih ada yang raksasa dan bahkan maharaksasa, ada juga yang lebih kecil daripada matahari [dwarf = bintang katai].
iyah, utk pak budi, saya sependapat dengan pinah, bahwa semua yang ada di semesta itu sebetulnya hanyalah masalah skala, dari skala yang terkecil ada yg namanya atom, atom menyusun molekul, molekul menyusun materi, materi menyusun semua benda yg ada, dari manusia sampai planet-planet dan bintang, semua bintang menyusun galaksi, galaksi-galaksi menyusun semesta. Apakah ada batas terkecil dan terbesar? Sampai sekarang manusia hanya bisa menggapai tepi terjauh yg bisa diamati, apakah ada sesuatu yg lebih dari yg teramati? intinya adalah, manusia mempunyai keterbatasan, jadi semakin manusia mencari semakin (seharusnya) menyadari tentang keterbatasannya.
Itulah yg lagi dicari oleh ilmu pengetahuan, seberapa terbatas sih manusia? jadi jawabannya tidak melulu dari astronomi, tapi bilamana semua ilmu-pengetahuan digabungkan, maka baru deh keliatan ‘petunjuknya’, tapi jawabannya sih ada di dalam semesta itu sendiri, menunggu untuk dicari.
yang kedua mengenai pertanyaan pak fahri, mengenai kehidupan di luar bumi, coba pak fahri ikuti pembicaraan dalam sub-tema extra-solar-planet di langitselatan, (http://langitselatan.com/?cat=10), atau untuk perhitungannya silakan membaca artikel ini: (http://langitselatan.com/2007/05/26/mari-berhitung-berapa-banyak-kehidupan-lain-di-luar-bumi/)
Makasih mbak pinah, makasih mas nggieng, jawaban anda-anda sangat berarti karena secara tidak langsung mengoreksi pemahaman alam semesta bagi sodara-sodara kita yang terlalu berani menafsirkan Firman-firman Alloh SWT tanpa bekal ilmu yang memadai yang penting “pokoknya”. Penjelasan itu disamping menjawab “Bumi mengelilingi Matahari” menjadi rasional juga memberi clue bagaimana memahami “Matahari Bersujud”. Wahai sodara-sodaraku yang masih sering kali terlalu berani menafsirkan Ayat-ayat Al Quran dengan nafsunya sendiri SADARILAH bahwa anda seringkali mengatakan bahwa menafsirkan Ayat Al Quran harus dengan Ayat-ayat Al Quran yang lain atau dengan Hadits-hadits shoheh. Tapi anda dengan beraninya (nekat) mengatakan kalau Bumi mengelilingi Matahari maka Alloh tidak akan mengatakan Matahari terbit dari Timur…… dst. dst. Alloh adalah Yang Maha Pandai, berani-beraninya anda mengajari Alloh. Penafsiran anda 100% nafsu yang menyesatkan anda sendiri. SADARILAH. Semoga Alloh memberi petunjuk kepada kita semua. Amin.
saya bukan mbak pak budi, tapi laki. liat aja web saya itu…
Makasih banget buat jawaban mbak ratna dan pak enggie( sorry kalau salah tulis nama) semua informasi yang diberikan berguna banget bagi aq. satu lagi saya masih sma belum jadi bapak!
Aduh maaf seribu maaf Mas atau Pak, saya jadi gak enak. Sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih atas penjelasannya.
wah, koq pertanyaan saya nggak ada yg njawab?
1. Berapakah kecepatan perputaran bumi pada porosnya?
2. Jika bumi berputar dari barat ke timur, apakah pesawat yang terbang pada rute yang sama bolak-balik, berbeda waktu tempuhnya?
ayo dong, yang ahli astronomi dan ahli fisika..
@maman_herry: Utk pertanyaan pertama, jawabannya adalah 465.11 m/s pada equator (Ref: Wikipedia). Untuk pertanyaan kedua, saya mau balik bertanya ke anda, kalau anda sedang berjalan di dalam kereta api yg sedang bergerak, katakanlah dari ujung rangkaian ke ujung lainnya, apakah ada perbedaan waktu tempuh apabila anda berjalan searah atau berlawanan arah dg pergerakan kereta?
[...] jelang akhir konferensi. Fakta apa? rekan-rekan dari berbagai negara cukup kaget saat tau bahwa Heliosentris vs Geosentris masih menjadi perdebatan di Indonesia dan masuk dalam hot topic di blog [...]
Aku punya pertanyaan…..!”segala sesuatu yang bergerak pasti membutuhkan gaya/energi eksternal sehingga sebuah sistem dapat bergerak”. sebagai contoh bergeraknya mobil karena adanya mesin yang menggerakkan dan mesin dapat bergerak karena adanya piston yang bergerak bolak-balik. keberlangsungan gerakan piston disebabkan adanya BBM (solar atau bensin). Demikian pula pada beberapa sistem lain baik itu fenomena listrik maupun pada alat-alat telekomunikasi. Nah pertanyaan sekarang “Gaya apa yang bekerja pada bumi sehingga dapat Berotasi, mohon penjelasan secara ilmiah”
penjelasan secara ilmiah itu apa yah? kalau penjelasan yg ilmiah itu tidak dapat memuaskan maka yg dipercaya adalah yg sebaliknya?
tidak ada gaya yg menyebabkan planet berotasi. Sebagian besar rotasi terjadi sebagai akibat konservasi momentum sudut. momentum sudut itu : L = m *w*r^2, m = massa, w = kecepatan sudut dan r = radius orbit. Berdasarkan konservasi momentum sudut, jika radius orbit berkurang maka kecepatan sudut akan bertambah (massa konstan).
seluruh sistem planet dan bintang lahir dari runtuhnya awan antar bintang yang pepat. awan tersebut sangat besar (bisa sampai ribuan tahun cahaya). Bayangkan jika terjadi keruntuhan dari ukuran yg sebegitu besar hanya menjadi ukuran tata surya, maka akan terjadi perubahan besar dalam hal ukuran sistem. Karena itu rotasi yg sudah dimiliki oleh awan sejak awal meningkat secara dramatis saat keruntuhan terjadi.
bottom line, bintang seperti Matahari sudah berputar karena momentum sudutnya sejak awal sudah ada di dalam nebula matahari yg merupakan pembentuknya. demikian juga dengan gerak orbit planet-planet sekaligus putarannya berasal dari momentum sudut yg sudah ada sejak awal tersebut.
menambahkan sedikit, intinya adalah, bumi mengalami rotasi sebagai hasil sampingan dari pembentukan seluruh sistem tata-surya itu sendiri; karena tata surya itu terbentuk dari awan yang mengalami rotasi yang sangat cepat, bagian intinya memepat, memanas sementara bagian pinggirnya bercampur aduk, mengelompok dan membentuk benih-benih awal planet (proto-planet).
kuncinya adalah yang dibilang sama mbak vie, yaitu kekekalan momentum sudut, sedikit saja ‘gangguan’, misalnya angin bintang atau angin akibat aktivitas di dalam alam semesta ini, menyebabkan awan proto-tata-surya berputar , sehingga terjadilah, berputar tiada henti; karena demikian hukum kekekalan momentum sudut.
Assalamu ‘alaikum
Apa tidak dapat di asumsikan yang bergerak adalah bintangnya, dari tiga teori yang Bapak angkat diambil kesimpulan yang bergerak adalah buminya. Apa tidak sebaliknya bintang yang jauh itu yang bergerak.
Kalau kita berdiri diam mengamati benda yang bergerak juga bisa sajakan ?
Mohon jawaban secepatnya.
betul, memang sebetulnya semua benda di dalam semesta ini bergerak, dan tidak ada yang diam. tetapi yang menjadi permasalahan berikut adalah, apa bergerak terhadap apa? seperti juga apakah matahari bergerak terhadap bumi, atau bumi terhadap matahari, tidak hanya berdasarkan pada apa yang ‘terlihat’, tetapi juga harus verifikasi, kalau matahari bergerak terhadap bumi, bagaimana menjelaskannya? demikian juga sebaliknya. kalau bintang diam, bagaimana mengukurnya, kalau bintang bergerak terhadap bumi, bagaimana membuktikannya?
dalam fisika selalu digunakan kerangka pengamatan, dan semuanya harus terukur. memang benar, kita diam mengamati benda bergerak itu secara relatif itu benar, tetapi apakah sebenarnya kita yang diam itu benar-benar diam? seperti juga, kita duduk di atas mobil yang bergerak, apakah berarti juga kita ‘diam’? atau kita ‘bergerak’?
itu hanyalah perkara kerangka pengamatan saja, karena penjelasan ilmiah juga harus menggunakan landasan-landasan ilmiah, yang harus bisa ‘diukur’ dan dijelaskan secara ‘logis’, karena ini adalah wacana ilmiah belaka.
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatauh
Salam sejahtera bagi siapa yang mendapat pentunjuk….
Bapak Nggieng yang saya hormati….
Salam kenal dari saya, Syamsul Kamri, mahasiswa jurusan Ilmu Kelautan IPB Bogor …..
Saya sangat senang bisa berkenalan dengan Bapak karena mempunyai latar belakang pendidikan Astronomi yang cukup mumpuni…LAPAN, dan mau peduli dengan permasalahan ini (Matahari mengelilingi bumi?, MMB, sekaligus sebagai tanggapan terhadap tulisan Bapak di Langitselatan.com : Bagaimana membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya?)….Alhamdulillah.
Sebelumnya saya mohon maaf karena saya tidak mengetahui apakah Bapak beragama Islam atau bukan, namun saya beraanggapan bahwa Bapak beragama islam, karena itu mohon izin, karena saya akan memulai pembahasan ini dengan ayat Al Quran karena merupakan kebenaran mutlak.
1. QS Ibrahim (14) : 33
Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar…….
2. QS Al Anbiya (21) : 33
Dan dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya beredar dalam garis edarnya
3. QS Yasin (36) : 38
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan dari yang maha Perkasa dan Maha Mengetahui.
4. QS Yasin : 39
Dan kami telah menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase), sehingga ketika dia sampai pada fase yang terakhir, kembalilah dia berbentuk tandan yang tua (bentuk sabit).
5. QS Yasin : 40
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan (karena) masing-masing beredar pada garis edarnya.
Saya kira kelima ayat di atas sudah sangat jelas bahwa MATAHARI dan BULAN mempunyai GARIS EDAR dan BERGERAK dalam LINTASAN tersebut…..Dari segi bahasa, garis edar maksudnya sebuah lintasan yang membentuk lingkaran, artinya matahari beredar mengelilingi sesuatu…..Nah sesuatu itu apa? Adapun bulan, kita semua sepakat bahwa dia mengelilingi bumi yang dalam literatur dinyatakan selama 24 jam 10 menit, terlambat 10 menit dari matahari. (dan kalau ikut pendapat yang selama ini, berarti dia juga mengelilingi matahari?, karena bulan mengikuti bumi, inilah yang saya coba tanggapi).
Kembali pada gerakan beredar matahari……ini suatu kepastian, sangat jelas karena ayat di atas tidak perlu diinterpretasi. Masalahnya sekarang, matahari itu mengelilingi apa? Dengan segala keterbatasan, saya belum pernah mendapatkan literature tentang hal itu, teori selama ini menyatakan bahwa mataharilah sebagai pusat tatasurya, artinya matahari itu diam, tetapi teori ini gugur karena ayat Al Quran di atas, bahwa matahari itu beredar dalam lintasannya. Atau apakah ada pendapat bahwa matahari dan gugusannya termasuk bumi, bulan dan lainnya merupakan suatu cluster (semacam galaksi bimasakti?) yang bergerak bersama-sama mengelilingi sesuatu? Sesuatu itu apa? Arahnya kemana? Mengapa ilmu pengetahuan belum menemukannya? Belum ada penelitian tentang itu?
Sekarang….dari segi mana saya membantah bahwa BUMI mengelilingi Matahari (BMM)?
1. Kempat ayat di atas sangat jelas menyatakan bahwa matahari bergerak dalam suatu garis edar, artinya gerakannya melingkar, mengelilingi sesuatu, saya menafsirkannya, mengelilingi bumi, mengapa?, bukankan secara kasat mata kita melihat matahari itu terbit, meninggi, akhirnya terbenam, kemudian terbit lagi begitu seterusnya. Bukankan ini suatu gerakan melingkar? Ok, tentu Bapak akan mengatakan “karena bumi berputar pada sumbunya ke arah timur, sehingga terlihat gerak semu matahari ke arah barat” baiklah….Pembahasan selanjutnya saya tanggapi hal tersebut….
2. Pada tulisan Bapak di Langitselatan.com : Bagaimana membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya?, pada bagian akhir Bapak menulis tentang “Mengenal Hilal”, demikian kutipannya (sedikit saya edit): “Penentuan awal bulan Puasa dan Idul Fitri ditentukan oleh adanya pengamatan Hilal, yaitu sesaat ketika Bulan melewati fase konjungsi (dalam bahasa Arab: Ijtimak), yaitu ketika Matahari-Bumi-Bulan berada pada satu garis lurus. Pada saat sekitar ijtimak, Bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari Bumi tidak mendapatkan sinar matahari, sehingga dikenal istilah Bulan Baru. Pada petang pertama kali setelah ijtimak, Bulan terbenam sesaat sesudah terbenamnya matahari”…….. Rukyat adalah penentuan posisi Bulan Baru berdasarkan pengamatan, yakni bulan sabit pertama tampak sesaat setelah ijtimak, pada saat menjelang terbenamnya Matahari, (Pada waktu Bulan di ufuk Barat dan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada saat tersebut di lokal tersebut memasuki tanggal 1. Tetapi bisa terjadi selang waktu ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, sehingga secara teori, pendaran iluminasi cahaya Bulan tidak cukup teramati, karena masih terlalu suram dibandingkan semburan cahaya sekitar (pendaran cahaya Matahari terbenam).
Sampai di titik itu, kita sepakat, tetapi pernahkah Bapak memikirkan kelanjutan prosesnya sampai menjadi purnama dan kembali menjadi bentuk sabit sebagaimana yang dinyatakan dalam QS Yasin 39 di atas : “Dan kami telah menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase), sehingga ketika dia sampai pada fase yang terakhir, kembalilah dia berbentuk tandan yang tua (bentuk sabit)”. Sekali lagi saya tanya, “Pernahkah Bapak memikirkan atau membayangkan bagaimana proses perubahan fase tersebut?”
Mari kita bahas secara bertahap….
a. Kita sepakat bahwa bulan beredar mengelilingi bumi selama 24 jam 10 menit terlambat 10 menit dari matahari. Lalu…..? ok, untuk sementara saya ikut teori bahwa bumi berputar pada sumbunya mengarah ke timur selama 24 jam dan matahari diam (kita abaikan dulu, bumi mengelilingi matahari, supaya tidak bertambah bingung). Nah kalau bumi berotasi pada sumbunya mengarah ke timur, lalu bulan juga berputar mengelilingi bumi….., masalahnya sekarang, gerakannya mengarah ke mana?, hanya dua kemungkinan, ke arah barat atau timur, atau Bapak punya pendapat lain? Ke arah mana? Ok, kita tinjau dulu gerakannya mengarah ke timur mengikuti arah rotasi bumi, ….pernahkah Bapak membayangkan apa yang terjadi?. Satu titik di bumi akan mendapatkan cahaya bulan selama hampir 24 jam, karena bulan mengikuti rotasi bumi dengan kecepatan yang hampir sama, kecuali kalau ada pendapat bahwa kecepatan bulan tidak secepat itu, minimal setengah dari kecepatan rotasi bumi, ya sekitar 12 jam, konsekuensinya bulan membutuhkan waktu selama 2 x 24 jam untuk mengelilingi bumi secara sempurna. Akan tetapi apakah betul begitu? Betulkah bulan mengelilingi bumi dengan periode 48 jam?, Anggapan ini pun tertolak karena tetap akan terjadi posisi ijtima 2 kali dalam 48 jam. Ingat bahwa kita mengasumsikan matahari diam, sehingga dalam proses bulan mengelilingi bumi ada saat dimana terjadi ijtima.
b. Sekarang kita menganggap bahwa bumi tetap berotasi tetapi gerakan bulan menuju ke barat berlawanan dengan gerakan rotasi bumi dan mataharipun diam. Hal ini juga tidak mungkin, mengapa? Bayangkan ketika akan terjadi ijtima awal/akhir bulan….hilal yang nampak akan terjadi sebelum ijtima, itupun tidak mungkin terbentuk di ufuk atau titik horizon, tetapi sedikit lebih tinggi. Lalau kapan hilal baulan baru?…dengan konsep bumi berotasi ke arah timur dan bulan bergerak ke arah barat, maka selamanya tidak akan pernah tampak hilal bulan baru…..
c. Nah sekarang, kalau bumi berputar pada sumbunya ke arah timur, matahari diam, maka ke arah manapun bulan beredar mengelilingi bumi, maka hasilnya tidak pernah sesuai dengan kenyataan sebenarnya, atau Bapak punya kombinasi gerakan lain, yang menunjukkan proses terjadinya perubahan fase bulan dimana posisi ijtima terjadi hanya 2 kali dalam sebulan?……..
d. Sekarang kita tinjau kombinasi gerakan rotasi bumi, gerak bulan mengelilingi bumi dan gerak bumi/bulan mengelilingi matahari….
Sebelum saya lanjut, sampai saat ini saya belum tahu arah putaran bumi mengelilingi matahari kemana…? Anggaplah teori ini benar (karena saya pemegang teori MMB), arah putaran yang paling mungkin adalah ke timur atau barat. Mengapa, karena karena adanya lintasan semu bumi pada garis khatulistiwa dan 22.50 LU/LS. Permasalahannya sekarang adalah ke timur atau ke barat?……(tidak ada masalah baik ke timur atau ke barat, yang bermasalah kalau ada gerakan lain selain keduanya, tapi kemungkinan kemana?)
Dalam pandangan saya, pengaruh perputaran bumi mengelilingi matahari hampir tidak mempengaruhi perubahan fase harian bulan, karena periodenya hanya satu bulan sementara revolusi bumi adalah 1 tahun (sehingga kita bisa menganggap bumi diam). Kita ketahui bulan adalah satelit bumi, artinya kemanapun bumi berada, di situ ikut bulan, jadi kalau dianggap bumi mengelilingi matahari, tentu bulanpun juga mengelilingi matahari, pada saat yang sama juga mengelilingi bumi. Jadi walaupun kita kombinasikan gerakan {(1) bumi pada porosnya (2) bulan mengelilingi bumi (3) bumi/bulan mengelilingi matahari}, secara simultan, tetap akan terjadi posisi ijtima 2 kali dalam 24 jam, karena bulan mengelilingi bumi dalam waktu 24 jam 10 menit. Jadi kombinasi ketiga gerakan inipun tidak mungkin karena berlawanan dengan kenyataan yang terjadi.
Jadi sebenarnya bagaimana?….
Berikut saya menjelaskan bagaimana menerangkan bahwa MATAHARI dan BULAN MENGELILINGI BUMI, sehingga terjadi fase perubahan bulan mulai dari terbentuknya posisi ijtima awal bulan, terbentuknya hilal, bulan sabit awal, purnama dan bulan sabit akhir dan kembali pada posisi ijtima akhir/awal bulan…….Semoga Allah swt memberikan petunjuknya…….
Al Quran adalah kitab yang diturunkan Allah swt, Dialah yang menciptakan bumi dalam dua hari setelah itu menciptakan langit yang awalnya masih berupa asap, juga dalam dua hari (Fushshilat 9-12)….Allah swt menjelaskan bahwa matahari dan bulan bergerak dalam suatu garis edar….Ini adalah kebenaran mutlak…….
Perputaran bulan mengelilingi bumi kecepatannya 24 jam 10 menit, terlambat 10 menit dari matahari…..KETERLAMBATAN inilah yang menjadi kunci persoalan dari semua ini….
Perhatikan …..
Keterlambatan bulan atas matahari inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan fase, dari waktu ke waktu. Untuk menjelaskan bagaimana terjadinya perubahan fase, maka matahari dan bulanlah yang HARUS mengelilingi bumi, dimana bumi harus diam dan tidak berotasi pada sumbunya. Bayangkan posisi ijtima awal bulan, ketika matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis lurus, dimana bulan berada di tengah. Mekanisme terjadinya hilal dimulai selepas ijtima, ketika matahari dan bulan mulai bergerak. Karena matahari lebih cepat, maka dalam beberapa jam (lebih dari 24 jam), matahari sudah sedikit mendahului bulan, sehingga terbentuk segitiga antara bumi, bulan dan matahari. Terbentuknya segitiga ini, menyebabkan terjadinya pantulan sinar matahari oleh bulan, yang bisa disaksikan di bumi. Pantulan inilah yang disebut hilal. (Perbedaan tinggi hilal setiap bulan inilah yang menjadi pemicu perbedaan di antara umat islam dalam menetapkan awal bulan, terutama dalam penentuan awal/akhir bulan Ramadan). Seiring dengan berjalannya waktu, pergerakan matahari semakin menjauh dari bulan, (sudut segitiga semakin besar) sehingga kita bisa menyaksikan posisi bulan semakin tinggi, ketika matahari sudah terbenam, sampai akhirnya terbentuk segitiga siku-siku, dimana bulan tampak setengah bola tepat di atas kepala pada waktu matahari terbenam (kira-kira hari ke 7). Sebenarnya bulan telah terbit pada siang hari, tetapi karena cahaya matahari lebih terang, sehingga bulan belum begitu nampak. Memasuki hari ke 14-15, terjadilah ijtima dengan posisi bumi berada di tengah. Inilah saat bulan purnama. Selanjutnya, bulan dan matahari terus bergerak, sampai akhirnya kembali terbentuk segitiga siku-siku, dimana kita bisa menyaksikan penampakan bulan setengah bola, berada tepat di atas kepala, tetapi kali ini pada waktu matahari akan terbit. Jadi bulan terbit pada waktu tengah malam. Demikianlah akhirnya, karena kecepatan bulan lebih lambat, hingga memasuki periode akhir bulan, seakan-akan matahari menyusul bulan, dan terbentuklah kembali ijtima akhir sekaligus awal bulan. Perhatikan, bahwa apabila bumi diam dan tidak berotasi pada sumbunya, sementara bulan dan matahari yang bergerak mengelilingi bumi, dimana matahari bergerak lebih cepat dari bulan, menjadi penyebab terjadinya perubahan fase bulan, dan hanya terjadi 2 kali ijtima dalam satu bulan bukan 2 kali sehari, sebagaimana bila kita mengatakan bahwa matahari diam tidak bergerak.
Sekarang saya akan menanggapi sebagian tulisan tentang 3 teori yang membuktikan bahwa BMM :
Ketiga teori tersebut mempunyai kesamaan, yaitu Bapak menetapkan bahwa bintang bintang tersebut diam, sementara bumi bergerak. Saya tanya, apa yang mendasari Bapak untuk menetapkan bahwa bintang tersebut diam?, apakah tidak ada kemungkinan bahwa bintang tersebut justru memang bergerak, bukan pergerakan semu? Sementara itu, teori aberasi dan teori paralaks bintang adalah teori yang sudah lama, apakah memang tidak pernah lagi diutak-atik secara ilmiah oleh pada ilmuwan? Dalam pandangan saya teori ini sangat rawan…..Khusus mengenai teori efek dopler, dimana Bapak menyebutkan bahwa perubahan informasi bisa terjadi karena pergerakannya adalah pergerakan relatif, apakah karena pengamatnya yang bergerak? Atau sumber-nya yang bergerak?. Apakah tidak mungkin bahwa memang bintang itu yang bergerak? Mengapa Bapak menetapkan bahwa bintang itu yang diam dan bumi yang bergerak? Apakah karena dia bernama bintang dan bukan komet, sebagaimana komet Halley yang bergerak mendekati dan menjauhi bumi?
Tambahan berikut ini saya tidak tujukan khusus kepada Bapak Nggieng, tetapi kepada siapa saja yang membacanya……
Berikut saya cantumkan kutipan diskusi….
1. Jika menjadikan bumi sebagai pusat “tata bumi” maka anda harus mengembangkan fisika baru untuk menerangkan gerakan2 itu. Sedangkan jika matahari jadi pusat, hal ini bisa diterangkan dengan gravitasi dan mekanika newton.
Yorga
……mungkin maksud Pak Yorga dengan “Fisika baru” tersebut adalah koordinat baru. Karena dalam fisika semua besaran dinilai relatif terhadap sebuah acuan (koordinat), maka kalau kita ganti acuannya maka besaran fisispun nilainya berubah. Tentu saja kita masih bisa mengembalikan (convert) sebuah besaran fisis dari satu acuan ke acuan yang lain (transformasi). Seperti kita merubah posisi satu titik dari koordinat kartesius menjadi koordinat bola misalnya.
Saat Copernicus, Galileo, dan Kepler pada awal abad ke-16 mengeluarkan teori heliosentrisnya (Matahari pusat tata surya), secara eksperimen orang-orang tidak lagi menerima teori geosentris yang difatwakan para filosof Yunani di zaman Aristotle dan Ptolemy dahulu kala. Teori geosentris bertahan sampai akhirnya orang-orang bisa memahami secara penuh konsep relativitas Einstein. Jadi sekitar pertengahan abad ke-20 baru orang-orang menyadari, TIDAK MASALAH apakah itu geosentris ataupun heliosentris karena fisika sebuah objek tidak tergantung pada koordinat.
2. Sebenarnya dengan tidak-adanya universal reference semacam ether, maka benda langit manapun bisa kita jadikan sebagai referensi atau d.k.l. “pusat”.
untuk kasus tata surya, kalau kita membuat, misalnya, bumi sebagai sebagai pusat, maka gerakan planet jadi sulit diterangkan. Mars contohnya, gerak retrogradenya tidak dapat diterangkan dengan mudah, kecuali kita mengambil matahari sebagai pusat dan semua planet bergerak mengelilinginya.(retrograde adalah gerakan berbalik arah saat diamati dari bumi. biasanya posisi planet2 tsb bergerak dari timur ke barat. tapi tiba2 selama beberapa minggu gerakannya berbalik dari barat ke timur) itulah yang dilakukan oleh kepler, galileo, halley, leibniz, newton dan fisikawan lainnya dulu.
Tanggapan saya….tentang gerak retrograde, dimana hanya dalam beberapa hari gerakannya berbalik arah. Saya mau tanya, bagaimana menerangkannya berdasarkan teori heliosentris, karena jika dianggap bumi mengelilingi matahari yang periodenya 1 tahun, sementara gerak retrograde tadi hanya dalam beberapa minggu, dalam pandangan saya “gerakan bumi mengelilingi matahari” hampir tidak mempengaruhi gerak retrograde tadi, kecuali ada kombinasi gerakan lain.
Sekedar informasi…..Jika kita hubungkan dengan agama, pandangan saya, gerak retrograde tadi adalah hal biasa, mengapa? Karena dalam hadits Nabi Muhammad saw, menerangkan bahwa menjelang hari kiamat, akan terjadi gerak retrograde dari matahari, sehingga terbit di barat dan terbenam di timur, (Peristiwa ini menyebabkan semua manusia masuk islam dan beriman kepada Allah swt, namun terlambat, karena siapapun yang beriman pada peristiwa retrograde matahari, tidak diterima imannya oleh Allah swt)
Maka mungkin saja gerak retrograde dari planet-planet tadi memang gerakan sebenarnya, dimana Allah swt sudah mengaturnya demikian, untuk menjadi tanda kekuasaan Allah swt. Seakan-akan Allah swt mengingatkan “ Hei manusia, nih..Saya perlihatkan gerak retrograde planet ini duluan, sebelum matahari, maka berimanlah kepadaKu, sebelum hari itu terjadi. Dalam satu hadits Nabi saw, dinyatakan bahwa orang-orang non muslim itu (terutama para ilmuwan?) suatu saat akan menerima (sukarela ataupun terpaksa) kebenaran Al Quran…..Siapa tahu melalui kajian astronomi ini. Kalau dulu ilmuwan islam lebih dahulu menemukannya, Nah sekarang, mengapa bukan kita yang memulai menghidupkan teori geosentris? Bukankan Al Quran sudah menyebutkan dengan jelas bahwa Matahari dan Bulan itu bergerak dan memiliki garis edar? Beredar dalam lintasannya? Al Quran tidak mungkin salah….Allah swt berfirman…Kami yang menurunkan Al Quran dan Kami akan menjaganya….so don’t worry ……..
yang komentar di atas pasti gak pernah nonton tv, ayat no 3 yang disebutkan itu, tatasurya kita memang mengelilingi sesuatu, artinya, bumi mengellingi matahari, tatasurya kita yang isinya ada matahari itu sebagian kecil dari bimasakti, bimasakti pun mengelilingi sesuatu
To Mas Syamsul Kamri,
Simple, jika model matahari dan bulan yg mengelilingi bumi,
maka anda tidak akan bisa menikmati internet, mengakses web site ini.
Karena apabila model yg dibuat dan diimplementasi untuk meluncurkan
dan mengorbitkan satelit jika berdasarkan model matahari dan bulan yg mengelilingi bumi, maka jalur lintasan dan teknik agar
satelit tetap mengorbit akan jauh berbeda. Tidak seperti kenyataan yg ada.
Anda bisa menikmati internet ini pake apa sih?..
Satu hal,
anda pernah menghitung hilal?
Saya sudah tuh..
Jika model anda yg dipake (matahari bulan mengelilingi bumi)., mustahil akan keluar
hasil yg digunakan utk perhitungan hilal seperti sekarang.
Dimana hasil pengamatan akan sama dengan hasil perhitungan.
Bingung saya dengan pemikiran anda yg berbelit-belit….
Tidak percaya?.. Silahkan anda pelajari, belajarlah..
toh Al Quran mengajarkan agar kita terus menimba ilmu, dari siapapun
dan dari manapun. Kebetulan saya pernah mempelajarinya,
jadi ya., tahu.. melek gitu..
Yah.., jika anda susah banget dikasih tau,
Silahkanlah kembali anda ke jaman jahiliyah, jaman kebodohan.
Tidak ada TV, tidak perlu ada Handphone (jangan salah ya,
anda jika pake handphone anda berarti pakai satelit juga).
Lucunya, cara anda berfikir pun, ada di pemikiran2 dari sebagian kecil orang orang yg mengaku beragama kristen juga.
http://www.geocentricity.com/geocentricity/whygeo.html
Hm.. di dunia ini terdapat hal2 yg lucu..juga.
Koq diskusinya set back ya??? Saya kira penjelasan M