Bagaimana membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya? Reviewed by Momizat on . Pada awal perkembangan sains, orang-orang seperti Copernicus, Kepler, Galileo & Newton berpendapat bahwa alangkah lebih baik (untuk menjelaskan), lebih muda Pada awal perkembangan sains, orang-orang seperti Copernicus, Kepler, Galileo & Newton berpendapat bahwa alangkah lebih baik (untuk menjelaskan), lebih muda Rating: 0

Bagaimana membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya?



Pada awal perkembangan sains, orang-orang seperti Copernicus, Kepler, Galileo & Newton berpendapat bahwa alangkah lebih baik (untuk menjelaskan), lebih mudah (secara matematika) & lebih elegan (secara filosofis) bahwa Matahari berada di pusat, sementara Bumi & planet-planet berputar mengelilingi Matahari. Semua punya penjelasan yang memuaskan, secara teori untuk mengatakan hal itu.

Sampai sekarang, pelajaran SMU fisika pun memberikan penjelasan yang jelas & memuaskan, bahwa memang demikian ada-nya. Massa matahari yang jauh lebih besar daripada planet-planet membuat planet-planet harus tunduk pada ikatan gravitasi Matahari, sehingga planet-planet tersebut bergerak mengitari Matahari sebagai pusat. Demikian dari hukum Gravitasi Newton.

Perumusan matematika-nya secara gamblang dan jelas dijelaskan oleh perumusan Kepler, hanya karena Matahari yang menjadi pusat sistem.

Kalau memang begitu ada-nya dan tidak percaya, bagaimana membuktikannya? Gampang, terbang saja jauh-jauh dari sistem tata surya ke arah kutub, dan lihatlah bagaimana Bumi beserta planet-planet bergerak mengitari Matahari. Tentu saja ini adalah pernyataan yang bersikap humor. Tapi ini memang menjadi pertanyaan penting, bagaimana membuktikannya?

Bapak-bapak yang telah disebutkan tadi, tentu saja mempunyai pendapat yang berlaku sebagai hipotesa, dan harus bisa dibuktikan melalui pembuktian yang teramati/eksperimentasi. Apabila eksperimen berkesesuaian dengan hipotesa, maka hipotesa diterima dan itu menjadi teori. Bukankah demikian?

Baik, sekarang bagaimana membuktikannya? Satu-satu-nya cara membuktikan fenomena langit adalah melalui ilmu astronomi, yaitu ketika pengamatan dilakukan pada benda-benda langit lalu memberikan penjelasan ilmiah tentang apa yang sebenar-nya terjadi disana.

Tentu tidaklah mudah memberikan bukti yang langsung bisa menjelaskan secara cespleng bahwa Bumi berputar mengitari Matahari, bukankah lebih mudah mengatakan kebalikannya? Tapi seperti yang telah disampaikan, itu akan menjadi tidak baik, tidak mudah dan tidak elegan untuk menyatakan demikian. Ternyata dari pengamatan astronomi menunjukkan bahwa memang Bumi yang mengitari Matahari. Tidak percaya?

Bukti pertama, adalah yang ditemukan oleh James Bradley (1725). Pak Bradley menemukan adanya aberasi bintang.

Apa itu aberasi bintang? Bayangkan kita sedang berdiri ditengah-tengah hujan, dan air hujan jatuh tepat vertikal/tegak lurus kepala kita. Kalau kita menggunakan payung, maka muka & belakang kepala kita tidak akan terciprat air bukan? Kemudian kita mulai berjalan ke depan, perlahan-lahan & semakin cepat berjalan, maka seolah-olah air hujan yang tadi jatuh tadi, malah membelok dan menciprati muka kita. Untuk menghindari-nya maka kita cenderung mencondongkan payung ke muka. Sebetulnya air hujan itu tetap jatuh tegak lurus, tetapi karena kita bergerak relatif ke depan, maka efek yang terjadi adalah seolah-olah membelok dan menciprat ke muka kita.

Demikian juga dengan fenomena aberasi bintang, sebetulnya posisi bintang selalu tetap pada suatu titik di langit, tetapi dari pengamatan astronomi, ditemukan bahwa posisi bintang mengalami pergeseran dari titik awalnya, pergeseran-nya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menunjukkan bawha memang sebenar-nya lah bumi yang bergerak.

Mari kita tinjau Gb.1.

Efek Aberasi Bintang

Aberasi terjadi jika pengamat adalah orang yang berdiri ditengah hujan, dan arah cahaya bintang adalah arah jatuhnya air hujan. Kemudian pengamat bergerak tegak ke muka, tegak lurus arah jatuhnya hujan. S menyatakan posisi bintang, E posisi pengamat di Bumi. Arah sebenarnya bintang relatif terhadap pengamat adalah ES, jaraknya tergantung pada laju cahaya. Kemudian Bumi BERGERAK pada arah EE’ dengan arah garis merepresentasikan lajunya. Ternyata pengamatan menunjukkan bahwa bintang berada pada garis ES’ alih-alih ES, dengan SS’ paralel & sama dengan EE’. Maka posisi tampak binang bergeser dari posisi sebenarnya dengan sudut yang dibentuk antara SES’.Jika memang Bumi tidak bergerak, maka untuk setiap waktu, sudut SES’ adalah 0, tetapi ternyata sudut SES’ tidak nol. Ini adalah bukti yang pertama yang menyatakan bahwa memang Bumi bergerak.

Bukti kedua adalah paralaks bintang. Bukti ini diukur pertama kali oleh Bessel (1838). Paralaks bisa terjadi jika posisi suatu bintang yang jauh, seolah-olah tampak ‘bergerak’ terhadap suatu bintang yang lebih dekat. (Gb.2). Fenomena ini hanya bisa terjadi, karena adanya perubahan posisi dari Bintang akibat pergerakan Bumi terhadap Matahari. Perubahan posisi ini membentuk sudut p, jika kita ambil posisi ujung-ujung saat Bumi mengitari Matahari. Sudut paralaks dinyatakan dengan (p), merupakan setengah pergeseran paralaktik bilamana bintang diamati dari dua posisi paling ekstrim.

Paralaks Bintang

Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena ini? Ini hanya bisa dijelaskan jika Bumi mengitari Matahari, dan bukan kebalikannya.Bukti ketiga adalah adanya efek Doppler.

Sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Newton, bahwa ternyata cahaya bisa dipecah menjadi komponen mejikuhibiniu, maka pengetahuan tentang cahaya bintang menjadi sumber informasi yang sahih tentang bagaimana sidik jari bintang (baca tulisan saya tentang ‘fingerprint of the star’) . Ternyata pengamatan-pengamatan astronomi menunjukkan bahwa banyak perilaku bintang menunjukkan banyak obyek-obyek langit mempunyai sidik jari yang tidak berada pada tempat-nya. Bagaimana mungkin? Penjelasannya diberikan oleh Bpk. Doppler (1842), bahwa jika suatu sumber informasi ‘bergerak’ (informasi ini bisa suara, atau sumber optis), maka terjadi ‘perubahan’ informasi. Kenapa bergeraknya harus tanda petik? Ini bisa terjadi karena pergerakannya dalah pergerakan relatif, apakah karena pengamatnya yang bergerak? Atau sumber-nya yang bergerak?

Demikian pada sumber cahaya, jika sumber cahaya mendekat maka gelombang cahaya yang teramati menjadi lebih biru, kebalikannya akan menjadi lebih merah. Ketika Bumi bergerak mendekati bintang, maka bintang menjadi lebih biru, dan ketika menjauhi menjadi lebih merah.

Disuatu ketika, pengamatan bintang menunjukkan adanya pergeseran merah, tetapi di saat yang lain, bintang tersebut mengalami pergeseran Biru. Jadi bagaimana menjelaskannya? Ini menjadi bukti yang tidak bisa dibantah, bahwa ternyata Bumi bergerak (bolak-balik – karena mengitari Matahari), mempunyai kecepatan, relatif terhadap bintang dan tidak diam saja.

Dengan demikian ada tiga bukti yang mendukung bahwa memang Bumi bergerak mengitari matahari, dari aberasi (perubahan kecil pada posisi bintang karena laju Bumi), paralaks (perubahan posisi bintang karena perubahan posisi Bumi) dan efek Doppler (perubahan warna bintang karena laju Bumi).

Tentu saja bukti-bukti ini adalah bukti-bukti ILMIAH, dimana semua pemaknaan, pemahaman dan perumusannya mempergunakan semua kaidah-kaidah ilmiah, masuk akal dan ber-bobot kebenaran ilmiah. Apakah memang demikian adanya? Seperti yang ungkapkan, sampai detik ini belum ada teknologi yang bisa membuat kita bisa terbang jauh-jauh ke luar angkasa, sedemikian jauhnya sehingga bisa melihat memang begitulah yang sebenarnya. Tetapi, pembuktian metode ilmiah selama ini cukup sahih untuk menjawab banyak ketidak-pahaman manusia tentang posisi-nya di alam. Dan bukti-bukti yang telah disebutkan tersebut cukup untuk menjadi landasan untuk menjawab bahwa memang Bumi mengitari Matahari; dari pengetahuan Bumi mengitari Matahari, banyak hal-hal yang telah diungkap tentang alam semesta ini, sekaligus menjadi landasan untuk mencari jawab atas banyak hal yang belum bisa dijawab pada saat ini.

http://simplyvie.wordpress.com/profile/ benarkah bumi mengelilingi matahari

Profil Penulis

jebolan magister astronomi ITB, astronom yang nyambi jadi jurnalis & penulis. Punya hobi dari fotografi sampe bikin komik, pokoknya semua yang berhubungan dengan warna, sampai-sampai pekerjaan utamanya adalah seperti dokter bedah forensik, tapi alih-alih ngevisum korban, yang di visum adalah cahaya, seperti juga cahaya matahari bisa diurai jadi warna cahaya pelangi. Maka oleh nggieng, cahaya bintang (termasuk matahari), bisa dibeleh2 dan dipelajari isinya.

Tulisan di LS : 78

Tulis komentar dan diskusi...


353 Komentar di artikel ini

  • achmad bintoro

    Saya percaya bumi berputar dan bergerak mengelilingi matahari. Hal ini sudah dijelaskan di pelajaran SD dulu. Tapi maap, bisakah sy diberi penjelasan yg sederhana atas pertanyaan2 ini:
    1. Kalau memang bumi berputar pada porosnya, knp kok kita gak merasakan apa2 ya, spt pusing begitu? Emang kecepatan putarannya brp seh? Bisakah ini disimulasikan lewat percobaan? Misalnya bola raksasa yg diputar cepat dan di permukaan bola ditaruh monyet sbg kelinci percobaan. Sya sekedar ingin tahu apa dia teler enggak diputar dlm putaran yang amat sgt cepat.

    2. Katanya, manusia dan segala isinya berpijak pada bumi yg bulat. Saya membayangkan benda di atas permukaan bola. Knp kita tidak jatuh (ke langit ya tentunya, saat di bawah permukaan bumi)? Katanya, yg membuat kita tidak jatuh krn gaya tarik gravitasi bumi. Bisakah ada penjelasan yg sederhana kpd orang awam spt saya, apa dan knp gravitasi membuat kita tetap bertahan di permukaan bumi?

    3. Masih terkait dgn pertanyaan no 2. Sy membayangkan, saat saya berdiri di depan rumah malam ini (di Samarinda), berarti di bawah bumi (kalau dibentang garis lurus tembus bumi) juga ada manusia yg sdg berdiri dgn posisi kepala jungkir ya (andai saja sy bisa melihat tembus bumi)? Sekali lagi, maaf, saya membayangkan bumi ini spt bola dgn manusia/benda berdiri di seluruh permukaannya. Tapi kenapa kita gak pusing ya dgn posisi jungkir begitu?

    4. Mungkinkah bumi yg kita huni ini dibor (dibuat terowongan) agar kita bisa tembus di permukaan di bawah kita? Dgn begitu kita gak perlu pakai pesawat utk mencapai Ameriksa misalnya, tapi naik kendaraan darat saja dgn menembus bumi? Mungkinkah itu kita lakukan? Kalau tidak kenapa?

    5. Bang pengelolan langit selatan atau teman2 yg ahli astronomi, sy minta maaf kalau pertanyaan sy mengesankan sy tdk paham astronomi. Memang begitu adanya. Sy trus terang sgt suka memandangi langit saat malam. Sy kadang bertanya2 bintang apa itu ya. Ada misalnya sebuah bintang yang bersinar paling terang habis magrib hingga larut malam di arah barat, tapi sy tidak tahu bintang apa itu? Sy jga penasaran di manakah planet mars yg katanya terlihat merah? Bisakah saya dgn mata telanjang di kota Samarinda melihat planet yg katanya menyerupai bumi itu? Ke arah mana?

    6. Sy sgt mengagumi Allah Swt yg menciptakan semesta alam begitu rumit dan luas itu. Sayang sekali ilmu sy terbatas sekali utk memahami astronomi (maklum matematika sy lemah mas). Tapi pernah saya sangat terkesan sekali ketika masih sekolah smp di Tuban (Jatim) saat terjadi Gerhana Matahari Total. Guru dan orang tua ketika itu wanti2 utk melihat lewat permukaan air. Tapi karena penasaran, sy ambil film foto bekas sy tumpuh hingga tiga lembar, lalu saya lihat permukaan matahari. Allahu Akbar! Ternyata sy melihat ada jilatan lidah (spt api) di sekeliling matahari itu. Tingginya lidah api (merah jingga warnanya, brkli krn pengaruh film ya) itu ada yg hampir mencapai separuh diameter matahari. Wow tentu panas sekali di sana.

    7. Demikian mas. terimakasih sebelumnya. Mohon jawaban segera ya Mas.

    Reply
  • achmad bintoro

    bumi mengelilingi matahari. Kan sebenarnya awak pesawat angkasa luar bisa saja menyaksikan/membuktikan bahwa bumi emang mengelilingi matahari, saat mereka mengangkasa shg melihat bumi dari jauh yg bergerak? Mungkin enggak ya?

    Reply
  • nggieng

    Pak Achmad Bintoro, untuk no.1-3, bisa dibayangkan sebagai seperti ini:

    Jika kita mengisikan air dalam ember, lalu ember itu diikat tali dan diputar2, dengan cepat, jika air itu tidak tumpah karena putaran kita, maka bisa dikatakan bahwa air berada dalam kesetimbangan antara yang menarik ke dalam lingkaran (gaya sentrifugal) dan yang menolak keluar (gaya sentripetal). Jadi sebetulnya kita berada dalam keadaan yang sangat ‘steimbag’, sehingga kita tidak merasakan bahwa kita sedang diputar. Itulah hebatnya, betapa kita diciptakan dalam keadaan yang sangat ‘pas’.

    Untuk pertanyaan no.4, mungkin terlalu rumit untuk dijelaskan secara sederhana, tapi seandainya bapak berkesempatan nonton film ‘The Core’, mudah2an bisa membantu menjelaskanaspek2 ilmiah dari ‘tembus bumi’, tidak segampang yang dibayangkan :)

    Untuk no. 5, alangkah baiknya jika bapak berkesempatan untu belajar tentang peta langit dan konstelasi, bisa menggunakan software, atau dari peta langit sederhana. Dengan pemahaman peta yang sederhana, lalu dibandingkan dengan pengamatan pribadi, maka pengalaman2 tersebut menjadi guru yang terbaik dalam memahami, mana bintang, mana planit, jangan takut untuk belajar :)

    Untuk no.6, Bumi sendiri hanyalah noktah kecil dibanding Matahari, jadi bayangkan jika lidah api itu menghantam bumi, wah seperti kelereng yang dilecut oleh pecut api raksasa. Sementara, Matahari sendiri hanyalah kerdil dalam belantara bintang di langit yang luas, jadi manusia memang harus selalu ingat, bahwa sebetulnya manusia itu tidakah ada artinya di dalam semesta ini

    Semoga bisa membantu menjawab, bila masih kurang puas, silakan di lanjutkan di forum saja :)

    Reply
  • mudjiono

    Ass wr wb,
    Sebagai orang awam tapi tertarik bacaan astronomi, ingin ikut-ikutan memberi komentar : 1) dalam membuat model tata surya kita, ada berbagai kemungkinan, dan untuk saat ini yang paling sahih adalah sistem heliosentris, 2) sistem heliosentris Keppler diperkuat dengan hukum gravitasi Newton, 3) bila bumi mengelilingi matahari dalam suatu bidang datar, maka latar belakang langit malam seharusnya mengalami perubahan yang signifikan, 4) bila latar belakang langit malam relatif sama, maka dapat disimpulkan matahari menjadi pusat semesta, karena dikelilingi bumi, planet, bintang dan bahkan seluruh galaksi,5) kemungkinan hukum gravitasi itu tidak berlaku sepenuhnya di tata surya, hanya berlaku dalam jarak terbatas seperti antara planet dengan satelitnya,6) tampaknya yang lebih pas adalah bumi dan planet-planet di tata surya ini beredar pada garis edarnya masing-masing dan matahari sebagai poros penggerak utama,7) tata surya ini kemungkinan mengapung di atas pusaran dark matter dengan matahari sebagai pusat pusaran dan ini bisa dibuktikan dengan pusaran air 8) hendaknya para astronom mencoba berbagai kemungkinan model tata surya 9) semoga bermanfaat.

    Reply
  • nggieng

    Pak Mudjiono, sepertinya masih ada kesalah-pahaman ya, masalah heliosentris itu hanya berlaku pada tatasurya (Matahari dan planet2nya), sementara Matahari itu ternyata hanyalah noktah yang kecil tidak berarti dan hanyalah katai kecil di dalam semesta yang luas tidak berujung. Matahari hanyalah bintik kecil di tepian galaksi bimasakti, dan galaksi bimasakti hanyalah salah satu anggota dari banyaaaaaakkk sekali galaksi-galaksi yang mengisi semesta ini. Jadi, apalah arti manusia? :)

    Dari teori Relativitas Umum Einstein, dan disepakati oleh pengamatan2 astronomi, alam semesta itu TIDAK ADA PUSATNYA. Semua anggota alam semesta itu patuh pada aturan yang sama, tidak ada perbedaan klas, kasta maupun status ‘sosial’ yang lain2. Aturan apa itu? Aturan keniscayaan Gravitasi. Bahwa Gravitasi itu adalah manifestasi dari geometri. Yang artinya? Semesta ini dibangun oleh gravitasi. (Coba lihat artikel sederhana saya mengenai wormhole . Dengan demikian, hukum Gravitasi itu berlaku pada semesta, semua semesta yang bisa dipahami oleh manusia. Kalau ada hukum Gravitasi yang lain? Ya mungkin pada semesta lain yang tidak dipahami dan tidak teramati oleh manusia.

    Sebetulnya pun, langit malam berubah, tapi apakah manusia menyadarinya? Butuh waktu yang sangattt lama untuk menyadari bahwa langit mengalami ‘perubahan’, sementara skala hidup manusia hanyalah sejentik kecil. Beruntung manusia diberi kelebihan untuk bisa ‘menghitung’ perubahannya.

    Lalu, satu hal yang lain adalah, mata manusia mempunyai keterbatasan, sementara langit malam itu seharusnya kaya dengan warna-warni (secara semua informasi langit dipancarkan dalam berbagai panjang gelombang, dari Sinar-X sampai Radio), sementara, mata manusia hanya bisa menangkap pada rentang optis, jadi sebetulnya informasi yang bisa diperoleh itu terbatas sekali, lalu dengan keterbatasan itu, makanya manusia selalu mencoba mempelajari hal-hal yang baru dan belum dipahami sebelumnya.

    Saya sependapat dengan yang dikatakan pak Mudjiono, memang astronomi mencoba berbagai kemungkinan, tidak hanya pada tata surya, tapi bagaimana pemahaman akan semesta ini, terus dan terus, sampai manusia tidak mendapat kesempatan lagi untuk mencoba :)

    Reply
  • Budhi MBW

    Bagi yang mengaku muslim jangan gegabah menafsirkan dan menakwilkan Al Quran. Apa anda sudah paham ada apa aja di dalam tubuh anda??? Kalo belum belajar aja terus, jangan sok pintar, salah-salah anda masuk neraka. Taubatlah sebelum terlambat.

    Reply
  • Budhi MBW

    Saya yakin ini bukan yang paling benar, tapi cobalah kita renungkan :
    1. Salah satu tanda-tanda kebesaran Alloh adalah Alloh menciptakan manusia dengan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Karena itu timbullah berbagai teori untuk memahami atau menafsirkan satu masalah yang sama. Pemahaman ilmu apapun termasuk ilmu agama sangat boleh jadi senantiasa terjadi perbedaan, yang tidak boleh terjadi adalah “mengklaim” pendapatnya atau pemahamannya yang “paling benar” padahal ada Yang Maha Benar. Tentu ini pun ada batas-batas kewajarannya termasuk masalah bumi memgelilingi matahari. Wajar-wajar saja perbedaan pendapat tentang itu, yang tidak wajar apabila anda mengatakan bahwa,”matahari itu seperti onde-onde yang permukaannya penuh biji wijen dan isinya tahu gejrot”.
    2. Dalam Al Quran ada ayat yang menyebutkan tentang “Tangan Alloh” atau “Kaki Alloh”. Beranikah kita menafsirkan atau memahami itu seperti apa??? Berhati-hatilah, kita masih terlalu bodoh untuk menafsirkan Firman Alloh.
    3. “Philosophy of Metromini”. Ini sangat mudah dipahami bagi yang mengaku jenius sampai orang kurang akal. Bagi warga Jakarta pengguna metromini anda sangat beruntung apalagi bila metromini yang anda naiki lantainya bolong. Karena untuk memahami bahwa bumilah yang mengelilingi matahari, anda tinggal berdiri diam dengan pegangan yang kokoh lalu arahkan pandangan anda kebawah. Anda akan melihat aspal berjalan sangat kencang, dan ketika ada lobang dijalan dia akan terlihat pada lantai metromini yang berlobang itu muncul dari depan dan menghilang di belakang. Tanyakan pada diri anda,”Siapakah yang bergerak, aspal dibawah andakah atau anda yang berdiri diam dengan pegangan tangan yang kokoh???”
    Salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain adalah mengingatkan ketika saudaranya tersesat, inilah kasih sayang yang sesungguhnya. Dan ingat pada saat kita masih di TK maka bagaimana cara menulis angka delapan yang benar sangatlah penting bagi kita. Apakah dengan membuat dua bulatan yang ditumpuk ataukah dengan satu tarikan pena yang meliuk. Tapi ketika kita naik kelas, hal itu tidak menjadi penting lagi. Begitu juga dengan sistem tatasurya, kalau kita punya pengetahuan bahwa di jagat raya ini ada banyak galaksi maka berdebat tentang tata surya tidak ada artinya, karena hanya sebesar debu mungkin lebih kecil lagi. Lalu siapakah diri kita hingga dengan pongah mengatakan “aku yang paling benar”??? Bertaubatlah saudaraku, mumpung masih sempat!!!

    Reply
  • mudjiono

    Terimakasih atas tanggapan dan penjelasan Sdr Nggieng. Memang matahari sebagai salah satu bintang katai di galaksi Bimasakti ini tidak mungkin menjadi pusat alam semesta. Yang sebenarnya ingin saya sampaikan adalah sistem perputaran planet di tata surya kita ini. Selain mengandalkan teori-teori yang sudah mapan, sepertinya kok masih ada kemungkinan lain. Pasalnya konon Einstein sendiri mempermasalahkan apakah kecepatan gravitasi itu bisa melebihi kecepatan cahaya yang sudah diklaim paling cepat. Kalau hukum gravitasi itu selalu berlangsung seketika tanpa memperhitungkan jarak maka benarlah hukum perputaran planet-planet dan benda-benda langit lain di sekitar matahari mengikuti hukum gravitasi tsb. Salah satu kemungkinan lain perputaran tata surya kita ini bisa berupa gerakan angin puting beliung yang relatif stabil. Matahari berada di pusat pusaran sebagai penggerak utama, sedangkan planet, asteroid dan benda langit lain ikut berputar pada posisi orbitnya masing-masing. Garis tengah puting beliung tata surya inti sangat lebar sementara memiliki ketinggiannya sangat pendek, sehingga seolah-olah planet-planet dan benda-benda langit tsb berada dalam satu bidang datar. Pendapat ini hanyalah bertolak dari penalaran logika dan mencakup garis besar, karena kalau sudah main hitung-hitungan tidak punya ilmunya. Inilah salah satu kemungkinan yang bisa benar, tapi juga bisa salah. Masih menunggu pembuktian yang benar-benar ilmiah. Terimakasih dan mohon maaf jika pendapat ini agak ngelantur.

    Reply
  • nggieng

    Betul pak Mudjiono, teori yang lain selalu ada, hanya saja, mana yang bisa diterima dan disepakati, karena teori tanpa didukung ‘fakta’, berarti hanyalah teori belaka.

    Sekedar tambahan info, gravitasi pun sudah mengatur agar cahaya patuh pada pengaruh gravitasi (geometri), jadi sudah dengan sendirinya pengaruh gravitasi Matahari menyebabkan planet-planet yang mengikuti Matahari berputar pada garis edarnya mengelilingi Matahari, tidak lepas keluar tidak masuk kedalam. Kenapa bisa begitu? Jawabnya bisa secara fisika, bisa teologis, tergantung mau menggunakan dalil yang mana yang kita pergunakan. Tetapi, kesahihan asumsi itu sudah diterima oleh dunia, apakah mempunyai kebenaran absolut? Paling tidak, semua wahana-wahana yang dikirim ke luar angkasa nun jauh membenarkan asumsi itu.

    Demikian, saya juga sependapat dengan pak Budi MBW, apalah artinya manusia, tidak ada itu menjadi paling benar, oleh karena itu, kita selalu perlu belajar dan belajar, karena toh yang kita pelajari ini masihlah hanya secuil dari misteri semesta yang begitu luasnya. Memang ada yang pernah menemukan ujung semesta? Bahkan alat yang paling canggih saat ini pun masih mencoba mencarinya.

    Reply
  • nia

    ada pertanyaan yang sering mengganggu nih, mungkin karena kurang baca aja. tapi pengen tau deh kenapa pesawat ruang angkasa bisa ke ruang angkasa? nggak meleleh tuh waktu sampe ke atmosfer?
    soalnya benda-benda angkasa yang ingin menabrak bumi kan hancur begitu memasuki atmosfer bumi, padahal mereka terbuat dari besi atau baja kan? tolong bantuannya

    Reply
  • nggieng

    Penyebabnya adalah: friksi udara, sudut entri dan kelajuan.

    Sebetulnya mau masuk atau keluar atmosfer, terjadi friksi yang menyebabkan ‘panas’, tapi karena pada saat lepas dari Bumi tidak se-parah masuk Bumi, jadi efeknya tidak terlalu ‘kerasa’.

    Pada saat tinggal-landas, wahana harus berada pada sudut entri/elevasi yang menyebabkan friksi seminim mungkin, dengan laju secukupnya (seirit bahan bakar), sehingga bisa ‘lepas’ dari gravitasi Bumi (sekitar 11 km/dtk). Friksi tetap ada, panas tetap terjadi, tapi tidak terlalu ‘signifikan’.

    Pada waktu kembali, wahana harus pada sudut entri yang menyebabkan friksi sebesar mungkin, kenapa? Supaya wahana tidak ‘jatuh bebas’. Kenapa tidak boleh jatuh bebas? Dari Fisika SMU, kita belajar, benda jatuh bebas mematuhi hubungan v=akar(2*g*ketinggian).Jadi kalau posisi tinggi sekali, laju jatuhnya besar sekalliii, laju jatuh-nya bisa mencapai 25 mach. Nah metode pengereman itu menggunakan friksi udara. Friksi udara menyebabkan wahana menjadi panas, oleh karena itu, perhatikan seperti wahan ulang-alik , dibagian bawahnya terdapat bagian yang berwarna hitam, itu adalah komponen yang berfungsi untuk meredam panas, sehingga tidak membakar langsung wahana. Dengan manuver tertentu, wahana masuk atmosfer, sehingga tidak hancur karena panas.

    Btw, mungkin pertanyaan Nia , baiknya dibahas lebih jauh di forum ya (http://langiselatan.com/forum), karena sudah OOT dari tema, tp gpp deh, senang bisa membantu. :)

    Reply
  • caroline

    Gille benerrrr, baru tau klo ada pembahasan soal ini di jaman internet begini.

    Kalo memang teori bumi mengelilingi matahari bener, maka Abdussalam fisikawan muslim asal Pakistan ga bakalan dapet Nobel Fisika. Kita juga ga bakalan bisa diskusi lewat internet kayak sekarang ini.

    Soalnya, perkembangan teknologi sekarang termasuk internet dimungkinkan oleh adanya perkembangan teori2 fisika dari mulai era klasik sampe kuantum.

    Mekanika kuantum, teori relativitas, dan teori fisika modern laennya ga bakal bisa shahih kalo dasarnya, yaitu fisika klasik masih goyah.

    Bumi mengelilingi matahari bukan lagi sebuah paham, tapi sudah teori yg ditunjang oleh eksperimen dan pengamatan yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Bahkan anak SD aja bisa kok bikin eksperimen untuk membuktikan hal ini.

    Tentang ayat2 dalam Alquran, sama sekali saya ngga melihat ada kontradiksi. Di ayat2 itu, Allah sebenernya lagi ngomongin gerak relatif.

    Kalo ga percaya gerak relatif, berarti ga percaya teori relativistik, berarti ga percaya juga teori kuantum, berarti ngga percaya juga dengan keberadaan internet (ingat loh, pencipta internet itu orang fisika).

    Memang bagus memiliki kemandirian berpikir, artinya ga gampang dipengaruhi orang lain. Tapi mbok yao punya pengetahuan juga yang menunjang untuk argumentasi ilmiah. Jangan lantas dengan pemahaman yg sempit kemudian menuduh orang mengingkari AlQuran.

    Aduhhh, kok saya jadi curiga, jangan2 ini permainan orang2 di luar Islam, tapi megatasnamakan Islam untuk membaut citra Islam makin babak belur. Soalnya, jaman Copernicus, Galileo dulu, orang2 di luar Islam lah yang sangat fanatik pada paham geosentris, bahkan sampe menghukum Galileo segala.

    Reply
  • caroline

    Sori, saking semangatnya nulis, sampe ada beberapa kalimat yg error. Salah satunya di paragraf 2, seharusnya tertulis begini:

    “Kalo memang teori bumi mengelilingi matahari SALAH, maka …”

    Thanks!

    Reply
  • ivie

    Setau saya isu ini santer lagi di indonesia gara2 ada buku “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian Al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari” Pengarang: Ahmad Sabiq bin abdul lathif abu yusuf. Penerbit: pustaka al-furqon. Kalau saya nggak salah mbak bisa baca disini.
    Benarkah Bumi Mengelilingi Matahari?
    Buku Matahari Mengelilingi Bumi
    Matahari Mengelilingi Bumi (blognya Herry Sufehmi)

    btw saya juga mau mengingatkan kalau disini diskusinya berdasarkan argumentasi ilmiah, so jangan sampai tuding menuding ya.

    Reply
  • Budhi MBW

    Mas nggieng yang tau banyak tentang astronomi, apakah para astronot yang menumpang pesawat ulang-alik itu melihat dari atas sana bahwa bumi itu berputar pada porosnya? Kalo punya rekaman ato informasi yang pasti tentang hal itu, mau dong saya dikirimi. Soalnya orang berhujjah dgn Al Quran bahwa matahari yang mengelilingi bumi beranggapan bumi itu menggegeg tidak bergerak sama sekali. Thanks.

    Reply
  • dhani

    @Budhi: Mas, anda bisa menulis comment ini, dan kemudian comment anda dibaca orang karena ada internet. Anda bisa mengakses internet karena ada satelit komunikasi, dan satelit komunkasi hanya bisa mengorbit apabila bumi berotasi. Coba lihat antena parabola yang menangkap sinyal satelit komunikasi. Antena parabola tsb selalu mengarah ke titik yang sama di angkasa. Itu karena satelit komunikasi mengorbit Bumi dengan periode yang sama dengan periode rotasi Bumi. Kalau Bumi tidak berotasi, niscaya satelit komunikasi tidak bisa mengorbit, dan anda juga tidak akan bisa mengakses internet (wa bil khusus situs web ini).

    Boleh2 saja anda berkeyakinan bahwa Bumi tidak berotasi, tapi sebelumnya putuskan dulu koneksi internet anda, berhentilah menggunakan telepon, dan matikan pesawat televisi anda, karena semua itu tidak dapat bekerja dg semestinya apabila bumi tidak berotasi.

    Reply
  • dhani

    @Budhi: Oh, ya. Supaya mas Budhi bisa memahami kaitan antara gerak rotasi bumi dengan orbit satelit komunikasi, silahkan kunjungi halaman web berikut.

    Reply
  • nggieng

    Wah mas Budi, jangan berlebih2an, kebetulan aja saya suka baca, jd tau, sedikit2, yg penting bukan sedikit atau banyak, tapi senang berbagi mas. hehe ..

    Mau tahu gambaran soal tata-surya kita berdasarkan benda yang sudah dikirimkan jauh menuju tepi tata surya kita? coba baca di artikel ini, mudah2an bisa membantu:

    http://www.nasa.gov/vision/universe/solarsystem/voyager_agu.html

    Reply
  • Budhi MBW

    Makasih banyak mas dhani dan mas nggieng atas jawabannya. Mungkin yang perlu saya luruskan dari jawaban mas dhani adalah bahwa saya pendukung teori bumi yang mengelilingi matahari termasuk bahwa bumi berputar pada porosnya atau rotasi. Saya memerlukan sanggahan atau argumen yang kuat untuk menyangkal teori yang sebaliknya yang terlalu berani mengklaim bahwa dia benar berdasarkan Al Quran. Padahal tidak ada satu ayat pun dari Al Quran yang mengatakan seperti itu melainkan hanya mereka terlalu berani menafsirkan Al Quran dan terlalu gegabah / terlalu arogan sebagai seorang muslim. Tapi terima kasih sudah memberikan informasinya.

    Reply
  • ws.dharma

    Boleh Kita mengungkap sisi lain dari Langit. Tapi perlu di ingat ada batas² tertentu yang memang masih menjadi MISTERI. Dan tentunya HANYA YANG MENCIPTAKAN YANG TAHU (TUHAN). Seandainya Tempat adna semua tiba² di Intip Orang apa sampeyan ndak MARAH ? Itu yang terjadi di masa kini. kenapa bumi tempat kita menyandarkan hidup sesaat selalu di hantam musibah. Mungkin itu marah nya TUHAN pada manusia di muka bumi. sudah di kasih lahan hidup (BUMI) masih mengintip yang ndak² apalgi sampai menanamkan semacam ayat Baru (RUMUS). Boleh kita belajar dan ingin mengetahui sesuatu tapi jangan di besar² kan. Mari kita kembali merenungkan.

    Reply
  • Agus

    Melihat diskusi topik ini, kita bisa jadi tau betapa banyak ragam type manusia, sehingga berbahgialah bagi orang-orang yang mau menggunakan otaknya (sebagai karunia Tuhan) demi tercapainya kemajuan kualitas kehidupan manusia.

    Sedih juga sih melihat masi banyak orang yang menutup diri terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dengan mendasarkan ayat-ayat kitab suci, tanpa disertai argumen lain yang mendukung.

    Beberapa point yang dapat saya ambil dari diskusi ini adalah :
    1. Ada baiknya kita tidak mencampur adukan ranah sains dan agama, sebab sains memerlukan pembuktian yang secara logika bisa diterima. Disamping itu ranah agama disini sangat sensitip, sebab disini masi banyak yang berpikiran sangat fundamentalis, yang masi berpikiran bahwa dirinya paling benar dan tidak mau menerima pandangan orang lain.

    2. Ada yang menyatakan kita gak bole melewati batas wilayah Tuhan, agar Tuhan gak marah dan gak menimpakan musibah. Yang saya kurang setuju adalah atas dasar apa mereka menyatakan ini sebagai wilayah Tuhan ato bukan ? Misteri angkasa yang belom terpecahkan bukan berarti itu adalah wilayah Tuhan yang gak bole diselikidi, sama seperti dunia kedokteran, apakah kita akan tetap menerima penyakit sebagai hukuman Tuhan dan lalu kita tidak bole mencari penyembuhan ?
    Tentang musibah/bencana sebagai hukuman Tuhan, ini tipikal pemikiran orang yang nerima. Loh kita ini hidup diplanet bumi yang masi aktip mas, sehingga kejadian seperti itu wajar-wajar saja. Coba anda bandingkan dengan planet lainnya, venus dengan hujan asamnya, mars yang air aja masi dicari-cari sampe sekarang, yupiter dengan badai seukuran beberapa kali diameter bumi (great red spot), apakah anda masi berpikiran Tuhan marah pada kita ?
    Dan lagi kekacauan cuaca yang sekarang terjadi, ini lebih diakibatkan ulah umat manusia sendiri. Terus kalo bantaran sungai diuruk terus untuk membangun rumah,(yang seharusnya malah dilebarkan dan diperdalam sungainya), hutan-hutan yang digunduli untuk diambil kayunya dan sebagai akibatnya timbul bencana banjir waktu musim hujan, apakah anda juga akan berpikir ini hukuman Tuhan ? dan tidak mencari cara penanggulangannya ? Saya pikir, Tuhan akan sedih jika dituduh demikian.

    3 ada yang menuduh ini kerjaan orang-orang yang akan mendiskreditkan agama-agama tertentu. Lah iya kan…. beginilah kalo orang-orang berdiskusi masalah agama, ujung-ujungnya mesti saling menuduh, ini itu, sepertinya perdamaian atas dasar agama masi menjadi barang yang sangat mewah, sehingga sulit/hampir mustahil dicapai karena adanya orang-orang seperti ini.
    Lah wong yang memulai masalah ini kan karena adanya buku yang diterbitkan seorang ustadz, sekarang kok dibalik ?

    4. ada yang menyitir ayat-ayat dari kitab suci untuk mendukung agumennya, saya cuma ingin mengingatkan, apakah pemahaman anda terhadap ayat-ayat tersebut sudah mutlak benar ? jangan sampai terjadi nantinya pembuktian secara ilimiah bertentangan dengan pemahaman anda, sehingga anda akan malu sendiri.
    Sama seperti isu kesetaraan gender yang lagi hangat, juga poligami, sekilas saya pernah dengar, bahwa Nabi anda dulu membolehkan poligami terhadap janda-janda akibat perang, dan bukannya terhadap perawan-perawan seperti yang banyak terjadi sekarang.

    Reply
  • Syarif

    Tidak ada kontradiksi antara sains dan agama..Islam sebagai agama paripurna sudah menunjukkan bahwa Al qur an sebagai kitab sucinya adalah sebagai bank sains….keep on Islam forever.

    Reply
  • bintoro

    Saya sependapat dengan Mas Syarif. Tidak ada kontradiksi sains dan agama (Islam). Bahwa ada orang (Islam) yg barangkali berpandangan sempit, bukan berarti karena agamanya. Justru dengan memadukan sains dan agama, kita bisa menyadari serta kemudian mengagumi san pencipta. Jadi Mas Agus, tidak perlu berkecil hati, ranah sains dan agama tidak perlu dipisahkan. Biarlah diskusi ini mengalir karena kita memang tidak bisa menutup diri dari kemungkinan adanya orang-orang spt itu.

    Untuk Mas Nggieng, trimakasih lho telah dengan sabar memberikan penjelasan kpd saya yang awam ini, dan kpd temen2 yg memberikan respon. Saya kira Anda dan temen2 yg telah dikaruniai otak encer termasuk orang yang beruntung. Sebab dgn kepinteran itu Anda akan bisa lebih mudah untuk memahami kebesaran Allah Swt.

    Saya termasuk orang yang selalu takjub dan kagum ketika memandang langit. Dgn keterbatasan otak saya, dan membaca tulisan2 di Langit Selatan ini (untungnya penulis Langit Selatan mampu menyajikan dalam bahasa yang lebih sederhana shg tidak membuat saya pening kepala he he he memahami angka2 eksak…) saya mencoba mengetahui apa yg berlaku dan terjadi dalam jagat yang sangat luas ini. Kalau bumi, matahari dan galaksi bumi sakti ini ternyata hanya noktah-noktah kecil, subahanallah…betapa maha besar Allah yang telah menciptakan ini semua. Dengan memahami ciptaannya ini.. saya makin yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar.

    Reply
  • Dani

    Menurut saya relatif, siapa memutari siapa tergantung acuannya.

    Reply
  • Boim

    Pembahasan yang menarik, saya juga sangat menyukai bintang, bumi, matahari, andromeda, bima sakti, dan semua yang berhubungan dengan angkasa,

    Reply

Log in | disclaimer | kontak kami | tanya LS © 2007 - langitselatan. All rights reserved

Scroll to top